MELAMAR OM DUDA

MELAMAR OM DUDA
Nempel banget


__ADS_3

Setelah semalaman Juliet tidak sadarkan diri, akhirnya wanita itu mulai membuka kedua matanya, Ia tampak memegangi kepalanya yang masih terasa sangat berat.


"Oh ... dimana aku? Tempat apa ini?" tanyanya entah pada siapa, Ia memperhatikan sekelilingnya, betapa terkejutnya saat ia melihat seseorang yang sedang tidur di sampingnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Juliet segera menjauh dari pria yang diketahui adalah Ibra, pemuda yang baru saja Juliet kenal beberapa hari yang lalu. Ibra terbangun dan membuka kedua matanya, pria itu tampak bertelanjang dada dengan selimut yang menutupi sebagian tubuh bawahnya.


Ibra melihat jam yang menunjukkan pukul 6 pagi, pria itu tampak mengajak Juliet untuk istirahat lebih lama, mengingat semalaman mereka berdua sudah melakukan hubungan terlarang.


"Aduhhh, Sayang! Ini masih terlalu pagi, sudah tidur saja, Tante pasti sangat kelelahan. Semalam kamu sudah berkali-kali merasakan terbang melayang bersamaku." pengakuan Ibra membuat Juliet mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu!"


Ibra tersenyum dan menatap wajah Juliet yang terlihat begitu shok saat dirinya mengatakan hal itu.


"Apa Tante sudah lupa! Bahwa semalam kita sudah melakukan percintaan yang sangat menyenangkan, Aku suka cara Tante! Tante sangat menggairahkan."


"Jangan bercanda kamu, tidak mungkin Aku bercinta dengan bocah ingusan seperti mu, itu tidak mungkin!" ucapnya menyangkal.


Ibra mendekati Juliet dan berbisik di telinga wanita itu.


"Apa semua ini tidak cukup bukti jika semalam kita sudah melakukannya, semua tanda yang ada pada tubuh Tante adalah tanda buatanku, bagaimana? Apa Tante suka! Aku sangat menikmatinya!" bisik Ibra sembari menyentuh leher Juliet yang tampak merah-merah.


Ia pun merasakan ada yang aneh pada area sensitifnya, rasa seperti tidak nyaman dan terasa begitu becek.


"Apa ini? Tidak mungkin." ucapnya sembari meraba area bawah sana, tangannya menyentuh sesuatu yang sangat becek dan berair. Wanita itu segera beranjak pergi ke kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya. Sementara Ibra tampak menyunggingkan senyumnya tatkala ia melihat reaksi Juliet yang terkejut karena ulah nakalnya.


Juliet segera menyirami area sensitifnya dengan air, wanita itu terus merutuki dirinya yang sudah tak sadar sudah bercinta dengan laki-laki yang usianya jauh dibawah dirinya.


"Sial! Kenapa Aku Sampai melakukan hal itu? Bagaimana bisa Aku sebodoh ini!" kesalnya sembari menyiramkan air ke seluruh tubuhnya.


Setelah beberapa saat Juliet keluar dari kamar mandi dan dirinya segera mengenakan kembali pakaiannya yang berserakan di atas lantai. Ibra hanya memandangi Juliet yang sedang sibuk merapikan dirinya. Setelah Juliet memakai semua bajunya, kemudian wanita itu berkata kepada Ibra.


"Lupakan apa yang pernah terjadi di antara kita, anggap semua ini tidak pernah terjadi, ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku, dan jangan sekali-kali kamu mencariku lagi, ingat itu!" umpat Juliet sembari berlalu meninggalkan apartemen Ibra.

__ADS_1


Sebelum Juliet keluar dari apartemen itu, Ibra tiba-tiba berkata sesuatu yang membuat Juliet menghentikan langkahnya.


"Jika suatu saat Tante membutuhkanku, datang saja kemari, Aku akan selalu ada untuk Tante." ucap pria itu dengan tatapan yang tajam.


"Hmm jangan pernah berpikir Aku akan datang lagi ke tempat ini, itu tidak akan pernah terjadi lagi!"


Juliet keluar dan menutup pintu dengan sedikit membanting. Ibra tertawa puas, rupanya dia sudah menemukan kepuasan yang Ia cari-cari selama ini dari seorang wanita, hanya dengan Juliet, Ibra merasakan kenikmatan yang maksimal.


"Jangan sombong dulu, Tante! Aku sangat yakin Tante pasti akan datang kembali ke sini, cepat atau lambat, Tante akan mencariku lagi." ucap Ibra sangat yakin.


*


*


*


Sementara itu di kediaman keluarga Rico Arven, kedua pasangan pengantin baru itu terlihat begitu mesra, kemana pun Cynthia berada, di situ pasti ada Rico. Saat Cynthia memasak di dapur, Rico pun selalu ada di sampingnya. Hingga sedikit membuat Cynthia risih.


Rico tampak menyandarkan kepalanya pada punggung Cynthia saat istrinya itu sedang memasak. Para pelayan yang melihat sikap Tuannya tampak senyum-senyum sendiri.


"Kamu benar! Aku baru lihat Tuan Rico seperti ini, dulu pas masih ada Nyonya Juliet, Tuan Rico tidak seperti ini."


"Itu tandanya Tuan Rico benar-benar sangat mencintai istrinya,"


"Gimana nggak cinta berat, orang Non Cynthia masih muda banget, pasti Tuan Rico nggak ngebiarin Non Cynthia tidur nyenyak."


"Hihihi kamu benar, pasti Tuan pinginnya Nganu terus."


Rupanya perbicangan dua pelayan itu tak sengaja di dengar oleh Oma Nini.


"Kalian berdua ngapain di sini? Nggak kerja malah ngerumpi!"


Kedua pelayan itu terkejut dengan kedatangan Oma Nini yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Ma-maaf Nyonya! Permisi!" keduanya pun pergi dari tempat itu, sementara Oma Nini melihat putranya yang sedang menyandarkan kepalanya pada tubuh istrinya.


"Rico - Rico, pantas saja pelayan-pelayan itu pada ngerumpiin kamu, hmm dasar!" gumamnya sembari menggelengkan kepalanya.


Setelah di rasa masakannya sudah matang, Cynthia berniat untuk meletakkan masakannya dalam piring.


"Sayang! Lepasin dulu dong! Aku mau naruh masakan ini di piring, kalau kamu gini terus bagaimana Aku bisa bergerak." pinta Cynthia kepada sang Suami.


Rico pun melepaskan pelukannya dan membiarkan Cynthia mengambilkan piring, setelah Cynthia menaruh masakan itu pada piring. Kemudian Ia membawanya ke meja makan.


"Hmm sudah selesai, Sayang ayo kita sarapan! Mama dan Kiara pasti suka. Aku panggil mereka dulu, ya!" Cynthia beranjak pergi untuk memanggil Kiara dan Oma Nini. Namun, Rico tampak menahan tangan Cynthia dan menarik tangan mulus itu.


Rico membawa Cynthia dalam pelukannya, membuat Cynthia merasa tidak nyaman, jika saja ada yang melihat dirinya dan Sang suami yang sedang bermesraan.


"Sayang, lepasin! Nanti ada yang lihat!"


"Biarkan saja mereka lihat, Aku tidak perduli, kamu adalah istriku sekarang, Aku bebas melakukan apa saja terhadap mu!" Rico mulai menciumi pipi Cynthia. Sementara Cynthia tampak menahan ciuman itu dengan telapak tangannya yang Ia tutupkan pada pipinya.


"Sayang, jangan dong!"


"Kenapa? Apa Aku tidak boleh mencium pipi istriku?"


"Bukan begitu, Aku malu, Sayang!" balas Cynthia sembari menundukkan wajahnya.


"Malu? Malu kenapa?"


"Malu, Aku baru saja masak, pasti bau aroma masakan dan dapur, belum lagi bercampur keringat, pasti bau acem!"


Rico tertawa kecil, sungguh istrinya ini benar-benar membuatnya semakin gemas.


"Aku tidak perduli kamu bau asap, bau aroma dapur ataupun bau acem, bagiku aroma tubuhmu adalah candu ku, Aku ingin merasakannya setiap hari, karena itu adalah booster semangat ku," ucapan Rico membuat Cynthia tersipu malu. Gadis itu senyum-senyum sendiri saat sang suami memujinya seperti itu.


"Ya ampun! Aku seperti orang gila saja senyum-senyum sendiri mendengar ucapan Suamiku, pria ini memang istimewa sekali!"

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2