
"Om mau ngapain, nih?" Kiara berjalan mundur karena Daniel semakin mendekatinya, hingga akhirnya tubuh gadis cantik itu kepentok dinding dan dirinya tidak bisa lari kemana-mana, karena Daniel sekarang berada tepat di depan Kiara.
"Om jangan macam-macam, ya! Atau nggak Saya teriak nih!" ucap Kia mengancam pria yang kini begitu dekat dengan dirinya.
"Berteriak lah sekencang mungkin, gedung ini adalah milikku, semua tempat di gedung ini adalah milik Daniel Mahardika, termasuk kamu yang sudah berani masuk ke tempat ini." ucap pria itu dengan hembusan nafasnya yang menyapu wajah Kia yang tampak gugup.
"Saya? Bukannya Om sendiri yang bawa Kia ke sini? Enak aja ngaku-ngaku pemilik Kia, Kia hanya milik Daddy dan Mama Cynthia, nggak boleh ada yang bisa memiliki Kia kecuali atas izin Daddy dan Mama Cynthia, termasuk si Om duda yang ngaku-ngaku, diihh PD sekali Anda!" balas gadis itu sembari mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman duda itu.
"Benarkah! Aku ingin tahu Apa yang kamu pikirkan setelah Aku melakukan ini kepadamu, karena Aku yakin kamu pasti akan merindukanku!" bisiknya pada telinga Kia.
Alih-alih Kia ingin berteriak. Daniel dengan cepat meraih bibir gadis itu, awalnya Kia berontak dan mencoba menolak perlakuan duda tampan itu. Namun, Daniel yang tentunya sudah sangat pintar dan berpengalaman, dengan mudahnya Ia membuat Kia tenang dan bak seekor kucing kecil, gadis itu justru perlahan mulai membalas ciuman Daniel yang sudah membuatnya lupa jika dirinya saat ini sedang berhadapan dengan pemilik perusahaan besar yang menjadi partner Ibra itu.
"Gila nih duda! Kenapa Aku tidak bisa menolaknya, ada sesuatu yang membuatku menolak untuk berhenti, Kiara! Apa yang kamu lakukan? Ini tidak boleh, siapa pria ini? Kamu pun baru mengenalnya. Tapi, sentuhan yang Ia berikan membuatku suka, Aku belum pernah merasakan hal seperti ini kepada pria manapun. Tapi, duda ini telah memberikannya kepadaku, sebuah rasa manis yang tentu tidak akan pernah Aku lupakan!"
Dalam ruangan yang sedikit pencahayaan itu, Daniel dan Kiara tak sengaja menikmati sentuhan masing-masing, terperangkap dalam suasana romantis, ada batasan yang hampir saja membuat keduanya hilang kendali, tanpa sengaja Duda tampan itu memberikan sebuah tanda merah pada kulit putih gadis itu. Hingga akhirnya Kia merasa jika ini tidak boleh dilanjutkan lagi.
"Lepaskan Kia, Om! Ini nggak boleh terjadi, cukup! Cukup Om!" ucapnya sembari mendorong tubuh sang duda. Daniel tidak mendengarkan permintaan Kia, pria itu hanya membalas dengan sahutan kecil yang keluar dari bibirnya.
"Aku tidak bisa! Kamu adalah penawarnya, Aku sudah lama tidak merasakan ini. Maafkan Aku!" ucapnya setelah memberikan stempel kepemilikan pada leher gadis itu. Dengan cepat Daniel menjauhkan dirinya dari tubuh Kiara.
__ADS_1
Kiara mengambil nafas banyak-banyak, setelah pria itu melepaskan dirinya dari cengkeraman nya, kemudian Ia menatap Daniel yang sedang menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya bertumpu pada sebuah meja. Pria itu tampak sedang mengatur nafasnya.
"Pergilah! Sebelum Aku berubah pikiran, cepat pergi!" titah Daniel dengan sedikit berteriak, dan Kiara pun segera pergi dari tempat itu dengan cepat. Daniel memperhatikan kepergian Kiara dengan tatapan yang tajam, benar-benar dirinya hampir saja lepas kontrol ketika berhadapan dengan gadis yang baru saja ia kenal itu.
"Shiiit ... Aku benar-benar tidak bisa menguasai diriku, gadis itu membuat hidupku bergairah kembali, oh God! Ada apa dengan diriku!" rutuknya pada dirinya sendiri.
Sementara itu Kia berjalan sedikit terburu-buru dan Ia pun kembali duduk di kursi yang sama, Ia berharap Daniel tidak datang lagi, sehingga dirinya pun tidak akan berjumpa lagi dengan pria yang sudah membuatnya hampir gila.
"Aduh ... Kia! Bodoh banget sih kamu, ngapain juga kamu balas ciuman tuh orang, nggak punya pendirian banget sih, kamu! Tapi, Aku benar-benar nggak ngerti kenapa Aku bisa seperti itu, ciuman itu terasa begitu manis dan membuat debaran dalam hati ini kian bersenandung, Aku tidak munafik. Aku menyukai caranya menyentuh bibirku." gumamnya dengan perasaan yang tampak gusar.
Hingga tiba waktunya, puncak acara pun segera dimulai, yaitu pembacaan siapa pemenang lomba membaca puisi. Tentunya Kia masih kepikiran soal tadi saat dirinya sedang bersama pria itu.
"Kok aku nggak bisa ngelupain dia sih! Ayo Kia nggak usah mikirin pria itu, dia bukan tipe kamu. Hmm iya sih dia memang bukan tipe ku. Tapi, kelembutannya itu loh. Astaga! Apa yang sedang terjadi dengan ku!" ucapnya dalam hati. Tanpa sengaja ada seseorang yang sedang menyentuh pundak Kia yang sedang melamun.
"Oh iya! Terima kasih!" jawabnya sembari menyiapkan dirinya untuk naik ke atas pentas. Tentu saja Kia disambut dengan tepuk tangan dari penonton yang memberikan apresiasi kepada Kiara selaku sang kakak yang mewakili kedua orang tua Kaila yang tidak bisa hadir dalam acara tersebut. Kaila yang sudah menjadi juara satu lomba baca puisi tingkat Sekolah dasar itu, membuat Kaila mendapatkan sorak Sorai dari para penonton.
Kiara pun berjalan menuju ke atas panggung dimana adiknya dan pemenang lainnya beserta para juri sedang menunggu kedatangannya sebagai wakil dari peserta juara satu.
Sementara disisi lain, beberapa orang penonton yang melihat penampilan Kiara yang mereka ketahui jika gadis itu terlihat akrab dengan Daniel, tiba-tiba saja mereka dibuat terkejut dengan jejak memerah pada leher putih Kiara, tentu saja itu menjadi bahan gosip bagi mereka.
__ADS_1
"Hei lihat! Bukannya itu gadis yang bersama Pak Daniel bukan, sih?"
"He em kamu benar! Memang dia. Eh ada yang aneh deh! Coba lihat lehernya, duh bukannya itu jejak cinta, ya!"
"Ya Ampun! Apa jangan-jangan itu jejak cinta Pak Daniel, perasaan tadi nggak ada deh, kok sekarang tiba-tiba ada, aneh kan!"
"Eh iya bener, ingat nggak sih jika tadi Pak Daniel mengajak gadis itu pergi dari aula, hmm Aku yakin sekali mereka sedang berduaan, apalagi ini adalah tempat milik pak Daniel. Aku yakin itu, mereka pasti punya hubungan."
"Waah bener banget kamu! Itu artinya rumor itu tidak benar, buktinya Pak Daniel bersama dengan gadis itu, apalagi tiba-tiba saja leher gadis itu tampak memerah, itu artinya Pak Daniel masih normal, pasti Pak Daniel udah menjadi vampir tadi, bisa merah gitu lehernya hihihi!"
Ibu-ibu itu tampak tertawa kecil sambil menebak-nebak apa yang sudah terjadi pada Kiara dan Daniel.
...BERSAMBUNG...
...*...
...*...
...*...
__ADS_1
mampir yuk ke karya kak Ipah yang berjudul juragan muda ... cuss kepoin yuk 🏃🏃