
Akhirnya Kia keluar dari rumah Daniel dengan sedikit terburu-buru, rupanya Kaila sudah menunggu kedatangannya sedari tadi.
"Kakak kemana saja, sih? Dari tadi Kaila nungguin!"
"Iya ... maafkan Kakak ya! Tadi Kakak ke kamar mandi sebentar." ungkap Kia berbohong, kemudian Kia menghampiri Dio yang saat itu sedang berdiri di sebelah mobil memperhatikan dirinya yang akan segera pergi dari rumah itu.
"Dio! Mama pulang dulu, ya! Kamu baik-baik saja bersama Papa, Dio nggak boleh nakal, harus nurut sama Papa, ya!" Kiara terlihat memeluk Dio sembari mengusap pipi bocah itu, hingga tiba-tiba Dio mengucapkan kata yang membuat Kiara bingung dan gugup.
"Iya, Ma! Eh ... kok Mama bau minyak wanginya Papa, sih! Beneran deh ini bau Papa banget." celetuk sang bocah kepada Kiara yang terlihat cengar-cengir.
"Oh ... masa sih! Hmm mungkin parfum Mama baunya mirip parfumnya Papa nya Dio, jadi ya gitu, sama ... ya sudah Mama berangkat dulu, ya! Daaa Dio! Nanti kalau kamu kangen bisa telepon Mama, oke!" kemudian Kia masuk ke dalam mobil, mobil mulai melaju ke luar halaman rumah, Dio melambaikan tangan kepada Kia dan Kaila, tentu saja Kiara pun membalasnya dengan senyuman kepada Dio, hingga tak sengaja Kia melihat Daniel yang sedang berdiri di atas balkon sembari menatapnya dengan tajam. Seolah-olah dirinya tidak rela jika harus berpisah dengan istrinya.
Kiara pun tersenyum kepada Daniel sembari melambaikan tangannya kepada pria itu.
"Maaf, Aku harus pergi. Demi mendapatkan restu dari Daddy, Aku harus meninggalkan mu, Sayang! Semoga saja Daddy mau mengerti." batin Kiara sembari menyandarkan kepalanya pada jok mobil.
"Kakak kenapa?" tanya Kaila yang melihat Kia tampak memikirkan sesuatu.
"Tidak! Kakak tidak apa-apa, Kakak cuma rindu sama Daddy Rico dan Mama Cynthia, sudah hampir dua minggu Kakak tidak bertemu dengan mereka, kakak kangen banget." ucapnya sembari memeluk sang adik.
Setelah beberapa menit, mereka tiba di rumah Ibra, tentu saja Ibra sudah menunggu kedatangan dua putrinya.
"Daddy ...!" Kaila berlari menghampiri Ibra yang sudah menunggunya.
"Kaila Sayang! Daddy sangat merindukan! Hmm kamu kok tambah cubby aja sih!" kata Ibra saat melihat Kaila yang semakin gemuk.
"Iya dong Dad! Di rumah Om Daniel kita tuh makan apa saja yang kita mau, di sana makanan nya enak-enak, Kaila betah berlama-lama tinggal di sana, Dad!" ucap gadis itu dengan polosnya.
"Oh ya! Pantesan anak Daddy ini sekarang terlihat gemukan, dasar kamu ya!" ucap Ibra sembari mencubit pipi Kaila.
__ADS_1
"Oh ya, Om! Sepertinya Kia harus pulang hari ini, Kia udah kangen sama Daddy dan Mama Cynthia, nggak apa-apa kan, Om?" sejenak Ibra memperhatikan wajah Kiara yang sedikit berubah menurutnya, Ibra tampak mengerutkan keningnya melihat putri tirinya yang kini tampak berbeda.
"Kia! Kamu sedikit berbeda sekarang?" ucap Ibra.
"Berbeda? Masa sih, Om? Kia tetap sama kok kayak dulu, apanya yang beda?" jawab gadis itu sembari memperhatikan dirinya sendiri.
"Pucat! Kamu sedikit terlihat pucat. Apa kamu kurang tidur di sana?" pertanyaan Ibra membuat Kia menghela nafasnya. Ia memang setiap malam begadang, tentu saja begadangnya bersama Daniel, bercinta setiap malam menghabiskan waktu bersama. Karena Kia merasa jika Daniel adalah pria yang tepat untuk menemani hidupnya. Kia bertekad akan memperjuangkan Daniel, meskipun sang Daddy tidak menyetujuinya, karena bagaimanapun juga Daniel adalah orang pertama yang menyentuh dirinya.
"Hmm ... bisa jadi, Om! Kia jarang tidur Om, ya ... mungkin saja karena itu bukan rumah kita, jadi Kia seperti nggak nyaman di sana, hehehe gitu, Om!" ucapnya basa-basi.
"Kia berbohong, ada yang disembunyikan oleh nya, atau jangan-jangan Daniel ...! Ah jika itu benar, Aku tidak akan biarkan Daniel mempermainkan putriku." batin Ibra.
*
*
*
"Selamat jalan, Nak! Semoga perjalanan mu menyenangkan, oh ya! salam untuk Daddy dan Mama Cynthia." Ibra tampak mengusap lembut pipi Kia sebelum putri tirinya itu pulang ke rumahnya.
"Iya, Om! Akan Saya sampaikan. Kalau begitu Kia pulang dulu!"
Kia mulai masuk ke dalam mobil, perlahan mobil mewah itu keluar dari pagar rumah Ibra. Sejenak Kia menghela nafasnya, akhirnya Ia pun harus meninggalkan kota bersejarah, kota yang mempertemukan dirinya dengan Daniel.
"Semoga Daddy mau mendengarkan ku, oh ya Tuhan! Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpanya." batin Kiara sembari memejamkan kedua matanya, mengingat bagaimana kenangan dirinya bersama Duda itu.
Setelah hampir tiga jam, akhirnya Kia sampai di rumah nya, Ia turun dari mobil disambut oleh Cynthia yang saat itu sedang berada di teras rumah.
"Kia, Sayang! Kamu sudah pulang, Nak!" Cynthia memeluk Kiara penuh kerinduan, begitupun Kia juga memeluk Cynthia penuh kerinduan.
__ADS_1
"Kia kangen banget sama Mama."
"Mama juga kangen banget sama kamu, gimana? Kamu betah tinggal di sana? Gimana keadaan Kaila, Om Ibra?" Cynthia berkata sembari mengajak putrinya masuk ke dalam rumah.
"Mereka berdua baik-baik saja, Ma! Oh ya Om Ibra kirim salam untuk Mama dan Daddy."
"Oh iya!"
Saat keduanya sedang berbincang dan jumpa kangen, tiba-tiba Rico datang dan menghampiri keduanya.
"Kiara!" mendengar sang Daddy menyebut namanya, Kiara langsung memeluk Rico penuh kerinduan.
"Daddy! Kia kangen banget sama Daddy!"
"Daddy juga kangen banget sama kamu, gimana? Kamu suka tinggal di rumah Om Ibra?" Kia tampak gugup saat Rico menanyakan hal itu kepadanya. Kiara bukan tinggal di rumah Ibra, tapi di rumah Daniel.
"Emm ... iya Dadd! Kia suka banget tinggal di sana!" jawabnya gugup. Tentu saja Rico dan Cynthia saling menatap, mereka pasti sudah tahu apa yang sudah terjadi pada putri mereka.
"Oh ya Kia! Daddy mau mengatakan sesuatu kepadamu, Minggu depan Daddy akan mempertemukan mu dengan calon suamimu, Daddy berharap kamu bersiap-siap untuk bertemu dengannya, karena Daddy yakin kamu pasti suka kepadanya." mendengar ucapan dari sang Daddy, Kia tampak tidak senang, tentu saja dirinya merasa sudah mempunyai tambatan hati dan Ia berharap Rico tidak meneruskan perjodohan ini.
"Daddy! Bolehkah Kia mengatakan sesuatu?" Rico menatap tajam ke arah sang putri.
"Katakan! Tapi jangan bilang jika kamu menolak bertemu dengannya." seru Rico dengan wajah seriusnya. Tentu saja itu membuat Kiara was-was, bagaimana Sang Daddy bisa menerima kenyataan jika dirinya mencintai pria lain. Tapi, Kia bertekad saat itu juga untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Daddy! Sebelumnya Kia minta maaf, sebenarnya ... sebenarnya, Kia sudah mencintai pria lain."
"Apa?"
Sontak Kia sangat terkejut mendengar suara sang Daddy dengan nada yang sedikit tinggi.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...