Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 10 Ternyata Hanya Berpura-pura


__ADS_3

“Haha, tidak bawa kartu bank, alasan yang bagus!” David tertawa keras dan melihat ke Heny: “Tante Heny, kamu juga tidak bawa?”


“Iya…”


“Hahaha!” Semua orang juga mulai tertawa, salah satu gadis muda berkata: “Arief juga pasti tidak bawa. Satu keluarga ini benar-benar datang makan gratis!”


Nita menggigit bibir bawah dan tidak tahu harus bagaimana. Saat ini, Arief berjalan ke depan.


“Aku bawa kartu, tapi…”


Belum selesai bicara, David langsung merebut kartu Arief dan diberikan kepada pelayan: “Sini sini sini, lihat kartunya ada 600 juta tidak!”


Nita mulai panik. Dia hanya memberikan 400.000 uang saku kepada Arief setiap hari, mana mungkin dia punya 600 juta? Bukankah dia ingin mempermalukannya di depan umum?


Nita juga bisa melihat orang-orang yang menunggu untuk menertawakan mereka.


Tapi saat ini, Fransiska pelan-pelan berdiri dan terlihat sangat kaget!


“Aku..aku tidak salah lihat? Kartu Bank Permata, Kartu Hitam?!”


Wah! Suara tawa menjadi sunyi senyap!


Ucapan Fransiska membuat semua orang terdiam!


Kartu bank ini sangat cantik, seluruhnya dibalut warna hitam, garis berwarna emas dan juga ada sebuah berlian. Di bawah kiri kartu tertulis dua kata: Arief Burton.


Kartu Hitam Bank Permata!


Apa artinya itu?! Kartu Platinum David membutuhkan tabungan 20 miliar.


Di atas kartu platinum, ada kartu diamond, dibutuhkan tabungan 200 miliar.


Di atas kartu diamond, ada kartu VIP, dibutuhkan tabungan tidak kurang dari 1 triliun!


Lalu yang paling tinggi adalah kartu hitam, minimal tabungan adalah 2 triliun!


Seluruh Kota Malang mungkin tidak lebih dari 3 kartu! Bahkan Austin dan semua orang di sini tidak punya!


Nita dan Heny juga bengong, mereka tidak bisa berkata apa-apa!


“Itu…itu pasti tempelan stiker?” Tidak tahu siapa yang tiba-tiba berkata seperti itu.


Saat ini, semuanya merasa lega. Pasti itu hanya tempelan stiker! Mana mungkin kartu hitam.


“Haha, Arief, kamu benar-benar menjijikkan.” David tertawa dengan keras: “Kalau miskin ya sudah, masih mau berlagak kaya.”


Arief tidak berbicara dan hanya tersenyum.


Saat ini, Nita juga mendekat, dia melihat pelayan membawa kartunya untuk pergi, dia bertanya: “Arief, pulang nanti kamu robek stikernya itu, malu sekali. Lalu, saldo di kartumu cukup tidak?”


“Cukup, uang saku yang kamu berikan setiap hari selalu aku simpan. Lalu aku juga punya tabungan yang dulu, sudah cukup.” Kata Arief.

__ADS_1


Hahahaha!


Walaupun suaranya sangat kecil, tapi orang-orang tetap mendengarnya, lalu diikuti suara tawa yang keras lagi.


Setelah selesai bayar, semua orang keluarga Kimberly mulai pulang. Austin diam-diam menarik Arief ke dalam mobilnya.


“Tuan Muda Kedua, akhirnya aku bertemu dengan Anda.” Austin sangat bersemangat. Sambil menyetir dia berkata kepada Arief.


“Kamu mau membawaku ke mana?”


“Membawa Anda bertemu beberapa orang, mereka ingin sekali bertemu dengan Anda!” Tangan Austin terus bergetar hebat: “Anda harus pergi denganku..”


“Iya iya iya, aku pergi, kamu nyetir dengan baik.” Sialan, bocah ini kenapa begitu bersemangat? Setirnya saja goyang terus.


Mobil melaju dengan cepat dan datang ke sebuah bar.


Bar paling mewah di kota Malang, Bar Mediterania!


Bisa dikatakan seperti ini, kalau dua orang datang ke bar, 1 malam paling tidak harus menghabiskan 20 juta!


Di depan Bar Mediterania terparkir banyak mobil mewah. Yang datang main ke sini, paling tidak memiliki sedikit kekayaan.


“Kenapa datang ke tempat seperti ini?” Setelah turun dari mobil, Arief bertanya.


Tempat seperti ini terlalu bising, dia tidak suka.


“Memberi Anda kejutan!” kata Austin sambil tersenyum: “Tuan Muda Kedua, bos Bar Mediterania juga teman lama Anda, Vincent.”


Tidak disangka Bar Mediterania miliknya. Vincent memang tidak mengecewakannya.


“Tuan Muda Kedua, anda masuk dulu, tunggu aku di ruangan nomor 888.” Kata Austin: “Aku dan Vincent akan memberikan Anda sebuah kejutan. Anda pasti akan menyukai kejutan ini!”


Tidak menunggu Arief menjawab, Austin sudah pergi.


Arief menghela nafas dan berjalan masuk.


Pantesan Bar Mediterania begitu ramai, bahkan penerima tamu di depan pintu juga begitu cantik.


Arief tersenyum dan berjalan masuk, seketika terdengar suara musik yang menggetarkan telinga.


Di dalam bar sangat ramai, banyak pria wanita yang berdansa di tengah..


Astaga, beneran sudah tua, tempat seperti ini tidak cocok untukku..


“Ei? Aku tidak salah lihat ya, bukannya ini Arief sampah?”


Saat ini, sebuah suara terdengar dari belakang. Dia menoleh ke belakang dan kaget.


Di belakangnya ada seorang wanita yang sangat cantik. Dia memakai jeans ketat yang begitu seksi, bukankah dia Shinta?


“Kamu panggil aku apa? Tidak panggil Ayah?” kata Arief sambil tersenyum.

__ADS_1


“Kamu!” Shinta menggigit bibir bawah. Hari ini dia sangat senang, karena berhasil mendapatkan satu klien besar! Kalau klien ini tanda tangan kontrak, dia minimal bisa mendapatkan komisi 2 miliar!


Jadi dia mengajak kliennya minum di sini dan tanda tangan kontrak.


Tetapi tidak disangka malah bertemu Arief!


“Tampang miskinmu itu masih berani datang ke tempat seperti ini?” Shinta menatapnya dari atas ke bawah: “Uang saku 400.000 sehari, setelah disimpan 1 tahun baru datang main, buat apa?”


“Tidak ada artinya.” Arief tertawa: “Aku hanya ingin tahu, kapan kamu akan memanggil Ayah?”


Saat ini, seorang pria kekar tiba-tiba berdiri dan berjalan ke samping Shinta, dia berkata: “Nona Shinta, siapa orang ini? Perlu aku kasih pelajaran?”


Shinta tersenyum dan berkata: “Arief, tahu siapa orang di sampingku? Dia adalah ketua satpam Bar Mediterania. Kalau aku menyuruhnya mengusir kamu keluar, kamu nangis tidak?”


Betul, pria kekar ini adalah kliennya, Agus!


Ketua satpam hanyalah sebutan saja. Orang yang mengerti pasti tahu bahwa dia adalah preman penjaga di sini.


Karena banyak yang mencari masalah di tempat seperti ini. Agus juga punya nama di kota Malang, dia membawa 20-30 anak buah untuk berjaga di sini.


“Lihat tidak? Keluar sendiri.” Agus maju kedepan sambil berkata.


Sialan, kenapa dengan penerima tahu? Mereka membiarkan tampang miskin ini masuk. Baju murahannya itu, pasti gaji sebulan tidak lebih dari 4 juta, masa berani datang ke tempat seperti ini?


Arief hanya tersenyum dan tidak mempedulikannya. Dia berjalan ke ruangan nomor 888.


Semua ruangan disini terbuat dari kaca. Ruangan 888 berada di tengah, dari luar bisa kelihatan interior di dalamnya yang sangat megah seperti istana.


“Berhenti kamu!”


Melihat dia berjalan masuk ke ruangan 888, Agus langsung berteriak. Dia memastikan bahwa bocah ini datang mencari masalah!


Ruangan 888, semua peralatan di dalam terbuat dari emas. 1 jam di sini minimal 1,6 miliar!


Saat ini Arief sudah duduk di dalam. Dia sedang mengangkat gelas teh dan ingin meminumnya


Hahaha! Kali ini Arief mampus!


Shinta sangat senang, Arief ini pasti gila ya? Ruangan seperti ini, emang boleh dimasuki oleh menantu sampah seperti dia?


Ketika berbicara dengan Agus tadi, dia mendengar cerita tentang ruangan ini. Ruangan ini sudah kosong setengah tahun!


Agus diangkat sebagai anak angkat oleh bos di sini. Tapi ruangan itu bahkan tidak boleh dimasuki olehnya.


“Kamu tuli ya? Tidak dengar ucapanku?” Teriak Agus. Dia bergegas maju dan menarik kerah baju Arief. Haha, ada wanita cantik Shinta di sini, kalau bisa menghajar bocah ini, bukankah kelihatan lebih keren lagi?


Agus sambil berpikir sambil berteriak. Terlihat 20 an lebih pria kekar masuk ke ruangan. Semuanya adalah preman penjaga tempat ini.


“Kak Agus, apa yang terjadi?” tanya kumpulan preman itu.


Agus melihat ke Shinta, sambil tersenyum dia berkata: “Nona Shinta, bagaimana dengan bocah ini?” Shinta menatap Arief, Arief masih saja terlihat tidak peduli. Shinta semakin kesal melihat tampangnya itu!

__ADS_1


Dia menghentakkan kaki dengan sepatu hak tingginya: “Suruh dia panggil aku Ibu, lalu lempar dia keluar dari sini.”


__ADS_2