Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 72 Cepat Kembali!


__ADS_3

Arief menggelengkan kepalanya. Sialan! Apakah dirinya harus membeli baju bagus? Kenapa dia selalu harus diremehkan ke mana pun dirinya pergi?


Namun, selain murah, pakaian pinggir jalan ini juga longgar dan nyaman.


“Baik baik, aku tidak usah masuk.” Arief juga malas basa basi dengannya. Dia langsung mengeluarkan ponsel untuk menelepon Debora dan memberi tahu bahwa dia akan menunggu di depan.


Sebelum dia sempat menelepon, Tina kembali menghampirinya. Tina yang memakai sepatu hak tinggi memiliki tinggi hampir sama dengan Arief. Dia berkata dengan tatapan merendahkan, “Kalau mau telepon, keluar sana! Jangan mengganggu nasabah lain.”


“Aku telepon saja tidak boleh?” tanya Arief yang tak berdaya.


“Tidak boleh!” Tina menunjukkan ke arah luar. “Kamu tidak boleh berdiri di depan pintu area VIP. Keluar sana!”


Pada saat yang sama, satpam bank juga mendekat, mengerutkan kening dan berkata, “Pak, ini area VIP. Silakan pergi dari sini agar tidak mengganggu orang lain.”


Saat satpam berbicara, orang-orang sekitar yang mendengarnya langsung menoleh ke sini.


“Anak miskin dari mana itu? Bagaimana dia mau masuk ke area VIP?”


“Mungkin saja tidak ingin antri di luar, sehingga ingin masuk ke area VIP.”


Suara kritikan terus terdengar di mana-mana. Tiba-tiba seseorang berkata, “Coba kalian lihat, bukankah dia adalah menantu tidak berguna dari Keluarga Kimberly?”


Haha. Benar juga!


Setelah mendengar omongan yang lain, Tina semakin meremehkannya. Awalnya, dia merasa pria ini hanyalah orang kantoran, ternyata dia seorang menantu tidak berguna dan hanya bisa mengandalkan istri. Dia bahkan lebih buruk dari orang kantoran.


“Satpam, usir dia dari sini,” ucap Tina dengan dingin sambil menunjuk ke Arief.


Arief menghela napas. “Aku ingin menarik uang! Aku ingin menarik uang di Area VIP.”


Apakah orang ini gila?


Tina pun tersenyum dan berkata dengan nada sinis. “Mau tarik berapa? 20 juta atau 40 juta? Konter di depan bisa menerima penarikan 100 juta per hari, aku rasa sudah cukup untukmu, bukan? Area VIP hanya menerima tamu dengan nilai tabungan 2 miliar ke atas.”


“Baik, aku akan mengambil 10 miliar. Tunai!” Arief mengeluarkan kartu dan diberikan kepada Tina.


Suara tidak besar, tetapi sudah cukup didengar semua orang.


“Hahaha! Lucu sekali! Anak muda ini mau tarik 10 miliar?”


“Sepertinya sudah gila karena tersiksa di Keluarga Kimberly, bukan?”


Ketika semua orang masih terus menertawakannya, Tina sudah merasa lemas. Kedua kakinya tidak bisa berdiri dengan tegak lagi.


Kar … kartu ini adalah kartu hitam Bank Permata.


Saat ini, manajer bank juga berjalan keluar. Dia tercengang ketika melihat kartu hitam di tangan Tina.


Kartu hitam ini hanya adalah tiga di Kota Malang.


“Pak, saya adalah manajer di cabang ini. Apa yang Anda perlukan? Biarkan saya membantu Anda,” ucap manajer sambil tersenyum kepada Arief.


Saat ini, orang-orang sekitar langsung tertegun. Bagaimana mungkin mereka bisa mengenali kartu hitam?


Apa yang terjadi? Kenapa manajer bank begitu sopan dengannya?


Oh, pantas saja bisa jadi manajer, sikapnya memang sangat baik. Dia juga bisa bersikap baik kepada orang yang mengacau.

__ADS_1


Manajer bank memegang kartu hitam dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Sejak datang ke cabang ini, nasabah tertinggi yang pernah dilayaninya adalah pemegang kartu platinum. Lalu orang di depannya ini adalah pemegang kartu hitam!


Orang seperti ini bukan hanya tidak sanggup disinggung olehnya, bahkan pimpinan dari kantor pusat juga tidak berani bergerak lambat.


Manajer bank memberikan isyarat kepada Tina untuk menyuruhnya minggir.


Tina yang ketakutan terus gemetar dengan kedua kaki yang lemas.


Habislah.


Dia menyinggung seorang nasabah pemegang kartu hitam.


Kartu Hitam!


“Tidak perlu, aku hanya menarik uang saja. Suruh dia yang mengerjakannya,” ucap Arief sambil melihat ke arah Tina.


Manajer bank pun segera mengangguk dan memelototi Lina. “Kenapa diam saja? Cepat pergi tarik uangnya.”


Tina mengiyakan dan segera berjalan ke arah konter.


Setelah Arief duduk di sofa, manajer bank segera menyeduhkan teh dan membawakan ke hadapan Arief.


Sikap pelayanan ini, dibandingkan dengan yang sebelumnya, benar-benar sangat berbeda.


Heboh.


Orang-orang di luar area VIP yang terus menertawakannya tadi langsung menarik napas dalam-dalam dan tercengang.


Arief tidak peduli dan menikmati tehnya dengan perlahan.


Setelah sesaat, Tina yang basah oleh keringat berjalan keluar dengan dua tas yang penuh dengan uang tunai.


“Pak, ini 10 miliar yang Anda tarik.” Tina mendekat dengan perlahan dan berbicara tanpa berani melihat ke Arief.


“Setor semuanya, kemudian tarik dua juta,” ucap Arief dengan tenang.


Dia tidak membutuhkan uang tunai sebanyak ini, dua juta saja sudah cukup. Tina juga tidak berani lamban dan segera pergi mengurusnya. Setelah sesaat, dia langsung datang dengan uang dua juta.


Saat ini, Debora juga keluar dengan sepatu hak tinggi. “Arief, kenapa kamu bisa menarik dua juta di area VIP?”


Ada yang salah. Debora tahu pelayanan di area VIP harus di atas 2 miliar.


Sejak kapan ada kelonggaran dari peraturan bank? Menarik 2 juta saja bisa dilakukan di area VIP.


Debora tidak memakai seragam polisi hari ini. Dia mengenakan kemeja putih dan rok ketat. Lekuk tubuhnya benar-benar sangat menggoda.


Wanita cantik akan selalu menjadi perhatian semua orang. Orang-orang di bank juga terus memperhatikannya.


“Pelayanan bank memang baik. Mereka sudah menganggapku sebagai nasabah VIP karena menarik dua juta,” kata Arief sambil tersenyum. “Tidak seperti beberapa orang yang meremehkanku karena tidak punya uang, seperti tunanganmu itu. Dia mengira dirinya adalah orang penting karena punya uang.”


Debora mengerutkan keningnya, “Arief, sebenarnya Hendry ….”


Sebelum Debora selesai bicara, tiba-tiba terdengar seruan kaget!


“Cepat lari!”


Lewat kaca, terlihat beberapa pria dengan lengan besar dan pinggang bundar, dengan tas kain hitam di kepala mereka, menerobos masuk melalui pintu bank.

__ADS_1


“Apa yang kalian lakukan?”


Satpam memberanikan diri untuk menghampiri mereka. Namun, sebelum mendekat, kepalanya sudah dipukul dan langsung pingsan.


“Ah ….”


Melihat orang-orang ini menyerang, seluruh lobi langsung dipenuhi jeritan dan kekacauan.


“Jongkok semuanya! Letakkan ponsel kalian di lantai.” Pemimpinnya mengenakan singlet militer dengan tato di lengannya. Dia berteriak sambil memegang sebuah pistol di tangannya.


Orang-orang yang panik langsung gemetar dan jongkok di lantai.


Debora segera mengepalkan tangan dengan erat. Sebagai polisi, dia tentu saja tidak bisa menerima semua ini. Namun, dia tidak boleh menyerang karena lawan sekitar belasan orang.


Saat ini, dia terpaksa menggigit bibirnya dan meletakkan ponsel di lantai.


“Orang-orang ini benar-benar sampah masyarakat!” Debora sangat marah.


“Apakah kita harus menghalang mereka?” tanya Arief sambil tersenyum.


“Apa kamu gila?” Debora memelototinya. “Kecuali kamu sudah bosan hidup. Aku kenal beberapa dari orang-orang ini. Semuanya pernah melakukan kriminal, bahkan ada beberapa pelaku pemerkosaan. Dasar binatang!”


Arief mengangkat bahunya. Sepertinya Debora tidak bodoh, Arief takut Debora tiba-tiba berdiri dan ingin menangkap mereka semua.


Melihat semua orang berjongkok, pria singlet militer mengangguk puas dan berjalan ke depan.


Beberapa orang ini cukup terlatih. Dua orang berjaga di depan pintu. Yang lain segera memberikan tas hitam dan mengancam petugas konter untuk memasukkan uang ke dalamnya sampai penuh. Mereka juga bilang meminta nomor seri uangnya tidak boleh berurutan.


Sepertinya mereka sering melakukannya.


Nomor seri uang yang tidak berurutan. Dengan begitu, mereka tidak akan takut ditangkap polisi setelah mendapatkan uangnya.


Para petugas bank tercengang. Mereka tidak berani berbicara di hadapan senjata api, sehingga segera memasukkan uang ke dalam tas.


Pada saat ini, pria singlet hitam berjalan ke salah satu konter dan berteriak, “Sialan! Berengsek! Apakah kamu ingin mati?”


Dia melihat tangan seorang wanita petugas bank sedang berada di alarm. Ketika petugas bank itu mengangkat kepalanya, dia langsung gemetar hebat dan ketakutan.


“Aku salah, Maaf. Jangan … jangan bunuh aku.” Karena ketakutan, ucapannya pun menjadi tidak jelas.


Pria singlet militer itu tersenyum jahat. "Sialan! Kamu pikir aku sedang bermain denganmu? Berani lapor polisi, pergilah ke neraka."


Untuk sesaat, seluruh lobi bank sunyi senyap, kecuali suara gemeretak gigi petugas bank.


Pria singlet militer itu memiliki aura membunuh di wajahnya, dan kemudian dia membidik dahinya! Pada saat ini, semua orang mengira petugas bank itu akan mati.


Karena mereka berani datang merampok bank, mereka pasti sudah sering membunuh, sehingga tidak peduli dengan nyawa satu orang lagi.


Beberapa orang tua yang jongkok di tanah, langsung pingsan ketika melihat pemandangan ini.


Petugas wanita itu langsung bengong. Dia berjongkok di lantai dan terus meminta pengampunan. Namun, pria singlet militer mendengus dingin dan bersiap menarik pelatuknya.


Di saat genting, tiba-tiba terdengar suara yang dingin.


“Kalian berani merampok bank di siang hari? Lancang!”


Debora berdiri dengan perlahan dan mendekat dengan sepatu hak tingginya.

__ADS_1


“Sialan! Cepat kembali!”


Arief benar-benar tak berdaya. Orang-orang selalu bilang kalau tubuh bagus pasti otaknya bodoh. Ungkapan itu benar adanya. Walaupun tubuh Debora sangat bagus, dia benar-benar bodoh. Kenapa dia berani berdiri dalam kondisi ini? Apakah dia tidak tahu menggunakan otaknya?


__ADS_2