
Iya! Arief hanya membuat satu pondok jerami, bagaimana mereka bisa tidur?
Fransiska dan Nita tampak tidak berdaya.
Arief hanya tertawa dan berkata dengan tenang, “Membuat satu saja tidak mudah. Sekarang juga sangat dingin, bukankah kita bisa merasa lebih hangat kalau berdempetan bertiga?”
Haha! Malam ini, dua wanita cantik ini bisa menemani dirinya. Arief tidak mungkin membangun pondok jerami yang kedua lagi.
Wajah Nita memerah, dia berkata dengan nada kesal, “Apakah kamu ingin tidur di tengah? Jangan harap!”
Sambil berbicara, Nita lalu menarik tangan Fransiska dan berkata, “Ayo, kita tidur dulu.”
Setelah masuk ke dalam, suara Nita tiba-tiba terdengar dari dalam. “Arief. Kamu jaga di luar saja. Kamu memang paling baik, Arief.”
Suara dia membuat bulu kuduk Arief berdiri.
Seingat Arief, Nita tidak pernah bersikap lembut kepada dirinya.
“Apa … apakah kamu tega aku sendirian di luar?” tanya Arief dengan ekspresi masam.
Nita lalu menjawab, “Apakah kamu benar-benar ingin tidur di dalam? Fransiska belum punya pacar.”
Aduh! Kesal, kesal!
Duduk di depan, Arief menyalakan sebatang rokok, lalu menutup matanya.
Setelah beberapa saat, Arief terbangun karena kedinginan.
Setelah mendengar suara napas dua orang wanita dari dalam, dia tiba-tiba menelan ludah.
Sudah tertidur? Ini merupakan kesempatan yang bagus, bagaimana kalau dirinya masuk untuk melihatnya?
Melihat sebentar saja seharusnya tidak masalah.
Arief tersenyum dalam hati, lalu bersiap untuk masuk ke dalam. Ternyata, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat besar.
“Bam!”
Suara ini sangat besar! Seperti suara ledakan bom!
Suara ini sepertinya berasal dari arah gua.
Nita dan Fransiska juga terkejut dan bangun. Mereka merangkak keluar dengan ekspresi bingung, karena belum tahu apa yang terjadi.
“Terjadi sesuatu di gua. Kalian tunggu di sini dulu, jangan pergi ke mana-mana.” Setelah itu, Arief segera berlari ke arah gua.
Melihat kepergian Arief, dua orang wanita ini saling bertatapan dan tampak terkejut.
Ternyata … ternyata ucapan Arief benar.
Gua itu benar-benar tidak aman.
Apakah … apakah dia seorang peramal?
Mereka juga ingin pergi melihatnya, tetapi menahan diri karena peringatan dari Arief.
Wah!
Ketika Arief sampai di depan gua, pemandangan di depan mata membuatnya menarik napas dalam-dalam.
Gua telah runtuh!
Pintu masuk gua diblokir oleh batu yang tingginya lebih dari sepuluh meter, hanya menyisakan celah kecil di atasnya.
Terdengar banyak teriakan dari dalam, banyak orang ketakutan dan terus meminta bantuan. Namun, mana mungkin ada orang di daerah sini.
"Tolong aku."
__ADS_1
"Aku ingin keluar, aku ingin keluar ...."
Mendengar teriakan minta tolong, Arief segera memanjat ke atas batu besar, lalu melihat ke dalam lewat celah yang tersisa.
Dia melihat gua ini sudah hampir tertutup oleh pecahan batu dan menyisakan ruang dengan luas tidak lebih dari seratus meter persegi.
Orang-orang dari belasan anggota keluarga saling berdekatan, tubuh mereka juga dipenuhi oleh debu dan terlihat berantakan. Beberapa wanita yang penakut sudah menangis.
Namun untungnya, tidak ada yang meninggal. Beberapa orang terluka parah karena pecahan batu. Kalau tidak segera dirawat, orang-orang itu akan meninggal.
Yang paling penting, tidak tahu apa yang terjadi, tetapi pecahan batu terus berjatuhan ke dalam gua. Batu kecil seukuran kepalan tangan orang dewasa, bahkan ada batu besar seukuran bola basket. Kalau sampai kena pecahan batu itu, mereka akan lumpuh walaupun tidak mati.
Menelepon untuk minta tolong?
Paling tidak membutuhkan waktu tiga jam, sampai ada yang datang. Sekarang, pecahan batu terus berjatuhan, mereka tidak bisa bertahan sampai puluhan menit. Gua ini pasti akan runtuh sepenuhnya nanti! Kepala beberapa orang sudah berdarah, karena terkena reruntuhan pecahan batu.
“Diam semua! Mana Niko?” teriak Arief.
Seketika, suasana di dalam gua menjadi hening. Semua orang melihat ke arah Arief.
Semua orang sangat panik, tetapi saat ini, mereka semua langsung teringat ucapan Arief.
Ucapan Arief benar-benar terjadi.
Arief bukan sengaja membual untuk menakuti yang lain, lalu bukan menipu orang lain untuk mendapatkan pujian.
Tempat ini benar-benar tidak aman.
“Arief, aku di sini.” Saat ini, suara Niko terdengar dari dalam gua.
“Aku akan menarikmu ke atas.” Arief mematahkan beberapa ranting pohon, kemudian menganyam tali.
Menganyam tali dari ranting adalah sebuah teknik yang diajarkan seorang nelayan tua kepada Arief di pedesaan. Tali yang dianyam panjang dan kuat, cukup untuk menyelamatkan orang-orang dari bawah.
Niko dan istrinya menarik tali itu, lalu berhasil meninggalkan gua dengan bantuan Arief.
“Arief, tolong aku!”
“Kak Arief, tolong istriku. Istriku sudah hamil dua bulan.”
Di dalam gua, beberapa pecahan batu terus berjatuhan, sepertinya sebentar lagi akan runtuh.
Dalam situasi seperti ini, semua orang ingin segera diselamatkan, karena semakin ke belakang, situasi akan semakin berbahaya.
Hendry terus berteriak dan maju ke paling depan. Dia mengangkat kepala, lalu menatap Arief dengan tatapan penuh berharap, “Kak Arief, Kak Arief, tolong aku. Tolong aku dulu.”
Saat ini, Hendry tidak peduli dengan perselisihan di antara mereka, dia hanya ingin hidup.
Arief tersenyum kepadanya, “Hendry, apakah kamu lupa dengan ucapanmu sebelumnya? Bukankah kamu harus memanggilku Bos?”
“Kamu!”
Menantu tidak berguna ini benar-benar keterlaluan.
Kalau tidak ada orang lain, Hendry mungkin akan melakukannya. Namun sekarang, ada ratusan orang yang berada di sini, termasuk Debora.
Arief mendengkus dingin dan tidak memedulikan Hendry lagi. Dia berteriak, “Semuanya tenang dulu. Aku akan menyelamatkan setiap orang. Tapi, kita akan mengutamakan yang wanita dulu.”
Setelah itu, Arief melihat ke arah Debora dan berkata, “Cepat kemari! Tunggu apa lagi?”
Arief ternyata ingin menyelamatkan dirinya.
Debora benar-benar terkejut dan juga senang. Dia segera berjalan ke depan dengan sepatu hak tingginya.
Dari sudut Arief, dia kebetulan bisa melihat jelas belahan dada Debora. Wanita ini benar-benar memiliki tubuh yang indah.
Gluk! Arief diam-diam menelan ludah, lalu menurunkan talinya ke bawah.
__ADS_1
Karena memakai sepatu hak tinggi, walaupun sudah memegang tali dengan erat, kakinya juga tergelincir dan hampir terjatuh.
Arief segera bergerak cepat untuk memeluk pinggangnya, lalu menggendongnya ke atas.
Hendry langsung marah besar ketika melihat pemandangan ini.
Sialan! Tunangannya sendiri disentuh oleh bocah ini.
Debora juga merasa sangat malu.
Kenapa Arief menggendongnya di hadapan semua orang?
Namun, semua orang hanya ingin diselamatkan, sehingga tidak ada yang memperhatikan ekspresi Debora.
Arief terus menggunakan tali untuk menyelamatkan orang-orang. Setelah belasan menit kemudian, semua orang sudah berhasil diselamatkan, kecuali Hendry.
Setelah menarik orang terakhir ke atas, Arief langsung duduk di atas batu besar itu dengan napas terengah-engah.
Sialan! Untung saja dirinya adalah kultivator, sehingga memiliki stamina dan ketahanan yang lebih kuat dari orang biasa.
Walaupun begitu, dia juga sangat kelelahan setelah menyelamatkan ratusan orang.
Hujan juga mulai berhenti. Arief lalu menunjuk ke arah hutan yang tidak jauh dari sini, lalu berkata, “Kalian istirahat di sana saja. Selama tidak mendekati gua ini, kalian tidak akan berada dalam bahaya.”
Walaupun beberapa orang sudah terluka, mereka sudah diobati setelah naik ke atas, sehingga juga sudah baik-baik saja.
Semua orang mengangguk, lalu menuruti kata Arief dan berjalan ke arah hutan.
Sebelumnya, mereka tidak percaya ucapan Arief dan malah menyindirnya. Setelah merasakan penderitaan kali ini, siapa lagi yang berani curiga dengannya?
Lalu saat ini, hanya ada seorang yang tidak bergerak.
Orang itu adalah Debora.
Arief lalu berdiri, menggerakkan pergelangan tangannya dan berkata, “Eh? Kenapa kamu tidak pergi?”
Sialan! Setelah menaik ratusan orang ke atas, tangannya hampir putus.
Debora menggigit bibir bawah, melihat Hendry yang masih berada di dalam gua, dia lalu berkata, “Arief, Hendry masih belum naik ke atas. Tolong selamatkan dia.”
Walaupun saat penyerangan hiu, Hendry mengabaikan Debora dan melarikan diri.
Bagaimanapun, Hendry adalah tunangannya, sehingga Debora tidak bisa membiarkannya.
Hendry yang berada di bawah juga sangat kesal.
Arief sialan ini! Dia jelas-jelas sedang balas dendam.
Bam! Bam!
Di dalam gua, beberapa pecahan batu kembali berjatuhan. Beberapa batu sebesar bola basket berjatuh di depannya.
Wajah Hendry langsung pucat, dia panik dan berteriak, “Kak Arief, Kak Arief, aku salah. Tolong selamatkan aku. Aku akan mengingat kebaikanmu.”
Saat ini, dia tidak boleh keras kepala, karena akan segera mati.
Hanya tali yang dipegang Arief yang bisa menyelamatkannya.
Arief tidak memeduliaknnya. Dia malah tersenyum dan melihat Debora, “Kenapa aku harus menyelamatkannya? Tunanganmu ini sangat hebat, dia bahkan bisa membunuh seekor hiu. Gua kecil ini tidak akan bisa mengurungnya.”
Setelah itu, Arief bersiap untuk pergi.
Saat ini, Hendry benar-benar ingin menangis. Dia langsung berteriak, “Hiu yang aku bunuh itu palsu. Aku hanya ingin berlagak hebat. Kak Arief, aku mohon, jangan tinggalkan aku. Tempat ini akan segera runtuh, aku tidak ingin mati di sini. Kak Arief, aku sudah menganggapmu sebagai kakak sendiri!”
Arief menahan tawa dalam hati. ‘Siapa yang tidak tahu itu hiu palsu? Apakah kamu perlu menyebutkannya? Ratusan orang yang mengikuti piknik ini juga tahu, bukan?’
Sialan! Bajingan ini selalu mencari masalah, biarkan saja dia tinggal di dalam gua.
__ADS_1
Melihat Arief akan pergi, Debora segera mengikutinya dan meraih lengan Arief. “Kakak yang baik, kakak yang baik. Tolong selamatkan dia, aku mohon padamu.”