Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 32 Konyol Sekali


__ADS_3

“Nona Fransiska, aku akan membayar sepuluh miliar untuk Giok Air Mata Darah, lebih baik kamu simpan tiga miliar,” ucap Lutfi yang merasa tidak senang.


Fransiska seolah tidak mendengarnya, dia terus melihat Anto dan berkata, “Tuan Anto, aku sudah membeli giok ini. walaupun hargaku lebih rendah, tapi kamu harus menjualnya kepadaku! Kita harus menepati janji, bukan?”


Beberapa bos toko barang antik juga ikut mengiyakan.


“Betul, semua hal pasti ada yang pertama.”


“Kawan, kamu harus punya prinsip.”


“Kamu dan Nona Fransiska belum selesai bertransaksi, bukankah tidak baik untuk menjualnya ke yang lain?”


Semua bos toko barang antik yang datang ke sini membela Fransiska, bagaimanapun, Keluarga Salim memiliki reputasi yang sangat tinggi di dunia barang antik, sehingga orang-orang yang berbisnis ini di industri ini harus bersikap baik kepada mereka.


“Baiklah.”


Setelah menghela napas, Anto berkata kepada Lutfi dengan raut wajah yang kesulitan, “Maaf Tuan, aku tidak bisa menjualnya kepadamu walaupun kamu ingin membeli dengan harga sepuluh miliar. Aku harus menjual kepada Nona Fransiska.”


Dia kemudian mengangguk kepada Fransiska, “Aku bukan orang yang rakus, kalau kamu ingin membelinya dengan harga tiga miliar, maka aku akan menjualnya kepadamu. Kita harus memegang janji, bukan?”


“Wah, aku tidak menyangka kamu begitu jujur, bahkan kamu tidak ingin menjual kepadaku dengan harga sepuluh miliar,” ucap Lutfi dengan ekspresi yang kesulitan, “Batu ini minimal berharga dua puluh miliar! Nona Fransiska, kamu sangat beruntung!”


Sambil berbicara, Lutfi terus menggelengkan kepalanya.


Saat ini, Fransiska terlihat sangat senang. Dia segera menyuruh Hidayat yang berada di samping, “Cepat, berikan uangnya kepada Anto.”


Hidayat pun mengiyakan, setelah itu dia menanyakan nomor rekening Anto dan bersiap untuk mengirimkan uangnya.


“Hahaha, konyol sekali.”


Pada saat ini, Arief yang terus diam tiba-tiba tertawa.


Haha, akting Lutfi dan Anto terlalu konyol.


“Apa yang kamu tertawakan?” tanya Anto dengan nada menyindir.


Saat ini, Fransiska juga mengerutkan kening dan menatapnya dengan bingung.


Arief melirik ke gantungan giok di dalam kotak, dia pun berkata sambil tersenyum, “Melihat sebuah barang palsu yang diperebutkan, apakah tidak lucu?”


Sambil berbicara, Arief diam-diam mengirimkan sebuah pesan singkat keluar.


Dia mengirimkan pesan ini kepada Debora, kapten kepolisian kota Malang.


Saat Budiman ditangkap, Debora menyuruh Arief untuk pergi ke kantor polisi dan membuat laporan. Namun, saat itu Arief ada urusan lain sehingga tidak pergi, mereka berdua kemudian saling meninggalkan nomor kontak.


Anto dan Lutfi ingin menipu Fransiska di depan Arief, dia tentu tidak akan membiarkannya.


Namun, tidak bisa dipungkiri kalau akting dua orang ini terlalu hebat, bukan hanya menipu beberapa bos barang antik, mereka bahkan berhasil menipu Fransiska.

__ADS_1


Tapi saat ini, semua orang di toko barang antik tertegun. Anak muda ini mengatakan bahwa Giok Air Mata Darah palsu?


Apa anak muda ini gila? Semua orang di sini adalah bos toko barang antik, mereka sudah mengetahui bahwa giok ini asli, tapi kenapa anak muda ini mengatakan bahwa giok ini palsu?


Anto yang lebih dulu memberi respons, dia tersenyum dingin dan berkata, “Menarik juga, kamu mengatakan bahwa warisan leluhur kami selama beberapa generasi ini palsu? Siapa kamu?”


Saat ini, salah satu bos toko barang antik pun sadar, dia memperhatikan Arief dan berkata dengan nada terkejut, “Ei? Bukankah dia adalah menantu Keluarga Kimberly?”


Hahaha!


Ucapannya itu membuat semua orang heboh.


Beberapa bos barang antik pun mengenali Arief.


“Aduh, ternyata.”


“Aku mendengar bahwa anak muda ini selalu di rumah saja dan tidak memiliki pekerjaan.”


Setelah beberapa orang terus membicarakannya, bos toko sebelah berkata kepada Arief, “Oi, menantu Keluarga Kimberly, kenapa kamu mengatakan bahwa Giok Air Mata Darah ini palsu? Apa kamu bisa menilainya?”


Ucapannya membuat orang-orang tertawa terbahak-bahak.


Hahaha, sampah yang terkenal di kota Malang bisa menilai barang antik?


“Sepertinya dia hanya ingin memamerkan dirinya.”


Beberapa bos toko barang antik terus tertawa, Fransiska juga hanya terdiam menatap Arief.


Warna dan kerajinan ukiran pada Giok Air Mata Darah di depannya ini sama seperti yang Fransiska baca di dokumen, kenapa Arief bisa bilang palsu?


Awalnya, Fransiska mengira kalau Arief tidak seperti yang dibicarakan orang-orang, tapi setelah hari ini, Fransiska pun menganggap kalau Arief adalah sampah. Pantas saja semua orang merendahkannya, dia berlagak tahu barang antik padahal tidak bisa apa-apa.


Pada saat ini, Anto dan Lutfi saling bertatapan dan tersenyum.


Mereka mengira kalau anak muda ini memiliki latar belakang yang hebat, tapi ternyata hanya seorang menantu yang tidak berguna.


Sialan, mengagetkan saja.


Detik selanjutnya, Anto yang seperti dihina segera berkata sambil menatap Arief, “Nona Muda dari Panca Heritage beserta beberapa bos toko barang antik sudah melihat bahwa ini barang asli, mereka adalah para pebisnis barang antik yang terkenal, hanya kamu yang mengatakan bahwa barang ini palsu. Hari ini kalau kamu tidak memberikan penjelasan yang masuk akal, aku akan lapor polisi karena kamu mengganggu transaksi bisnis.”


Oh?


Maling teriak maling? Kenapa aktingnya semakin semangat?


Melihat raut wajah Anto yang serius, Arief sekali lagi tertawa. Dia mengambil Giok Air Mata Darah dan memperhatikannya, kemudian mulai berkata dengan pelan, “Giok ini dinamakan Giok Air Mata Darah karena ada darah manusia yang masuk ke dalamnya dan membentuk air mata, sehingga dijuluki seperti itu.”


“Kemudian, tekstur batu giok, faktor lingkungan dan beberapa kebetulan lain membuat kondisi pembentukan Giok Air Mata Darah sangat sulit, sehingga sangat jarang ditemui. Giok milikmu ini walaupun memiliki garis air mata di dalamnya, tapi ini bukan terbentuk secara alami, melainkan buatan tangan manusia dengan cara khusus.”


“Selain ukiran warna darah, kualitas giok ini memang termasuk bagus, ukiran di atasnya juga sangat detail. Namun, giok ini bukan berasal dari 1500 yang lalu, melainkan produk zaman modern.”

__ADS_1


Berbicara sampai di sini, Arief kembali mengambil gantungan giok dan memperhatikannya lebih seksama, dia lalu mengangguk dan berkata, “Iya, giok ini juga tercium aroma bau tanah basah. Kalau aku tidak salah, kamu sudah menanamnya selama satu tahun di dalam tanah untuk membuatnya terasa kuno, teknik imitasinya tidak buruk.”


Setelah itu, Arief melemparkan kembali gantungan giok ke dalam kotak dan berkata, “Jadi, giok itu adalah produk palsu dari zaman modern, kamu berbohong kalau mengatakan bahwa giok ini berasal dari 1500 tahun yang lalu.”


Walaupun suara Arief tidak besar, seluruh orang di dalam ruangan tetap bisa mendengarnya dengan jelas.


Seketika, beberapa bos toko barang antik tertegun.


Anak muda ini menjelaskan dengan detail.


Apa Giok Air Mata Darah ini benar-benar palsu?


Apa mereka telah salah menilainya?


Namun, beberapa bos toko barang antik ini hanya pernah mendengar tentang Giok Air Mata Darah yang langka ini, mereka tidak pernah melihat barang asli. Jadi, mereka hanya bisa terdiam dengan ekspresi kesulitan.


Tatapan Fransiska kepada Arief dipenuhi kejutan.


Pengetahuan yang dibicarakan oleh Arief, dia juga tahu. Namun, sepertinya dia tidak tahu dengan jelas seperti Arief.


Di mana Arief belajar hal ini?


Saat ini, Anto yang merasa malu pun tersenyum dingin dan berkata, “Kamu berkata seolah itu benar, tapi aku ingin tanya, apa kamu punya bukti setelah bicara panjang lebar?”


Betul.


Walaupun Arief menjelaskan panjang lebar, dia tetap harus menunjukkan bukti.


Semua orang termasuk Fransiska terus menatap Arief.


Terutama Fransiska, tatapannya terlihat gugup dan juga bersemangat.


Dia bersemangat karena jika Arief bisa mengeluarkan bukti, pengetahuan Fransiska akan bertambah.


Lalu dia gugup karena jika Arief bisa membuktikan bahwa Giok Air Mata Darah ini palsu, maka hal itu membuktikan bahwa Fransiska tertipu dan akan membuat keluarganya malu. Perlu diketahui, Keluarga Salim sudah berbisnis barang antik selama beberapa generasi! Walaupun Fransiska masih muda, kemampuan penilaian barang antiknya sangat hebat di seluruh kota Malang.


“Apa kamu ingin bukti?”


Arief tersenyum menatap Anto, dia lalu berkata: “Mudah, darah di dalam Giok Air Mata Darah yang terbentuk secara alami akan terlihat seringan kabut, karena telah melalui proses presipitasi dan penguapan dalam waktu lama. Namun, giok yang dibentuk oleh tangan manusia walaupun memiliki garis air mata, tapi karena waktu yang singkat, kita masih bisa menemukan butiran pasir yang halus di dalamnya dengan menggunakan kaca pembesar. Hal itu karena darah belum menyebar sepenuhnya.”


Ketika Arief sedang berbicara, Hidayat sudah mengeluarkan kaca pembesar khusus untuk menilai barang antik.


“Di dalamnya ternyata memang ada butiran pasir yang halus,” ucap Hidayat yang terkejut.


Seketika, semua bos toko barang antik segera mengerumuninya! Bahkan Fransiska juga ikut mendekat untuk melihat lebih jelas.


“Kamu ….”


Karena bukti sudah ada, Anto hanya bisa memelototi Arief dan tidak bisa berkata-kata.!

__ADS_1


__ADS_2