Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 65 Merasa Hebat?


__ADS_3

Cermin fengsui?


Arief tersenyum dingin, kemudian menatap Yanto yang berada di kerumunan dengan serius. “Yanto, kamu juga mencurigai aku?”


Seluruh Keluarga Burton, hanya Yanto yang memiliki hubungan paling baik dengannya.


Arief percaya Yanto tidak akan seperti orang lain yang memfitnahnya.


Lalu, jawaban Yanto membuat Arief kecewa.


“Kakak, aku juga ingin memercayaimu. Tapi aku lebih ingin tahu ada apa dengan cermin fengsui itu?” tanya Yanto dengan tatapan dingin.


Setelah itu, Yanto tiba-tiba berteriak dengan emosi kebencian yang berbinar di matanya. “Apakah kamu tahu berapa lama hubungan aku dengan Dewi dan akhirnya bisa bersatu? Kenapa kamu melakukannya? Kenapa?”


“Sampah! Keluar dari sini, keluar!”


Entah siapa yang tiba-tiba melemparkan sayur dari meja makan.


“Arief, pergi dari sini. Kami tidak menerimamu di sini!”


“Kalian sekeluarga lebih baik mati di luar sana dan jangan kembali ke Keluarga Burton! Pergi dari sini.”


Sayur dan telur terus mengenai tubuhnya. Arief menutup kedua mata dengan baju yang sudah kotor.


Suara makian terus menghujaninya. Arief merasa hatinya terus ditusuk dan berdarah.


“Haha. Bagus, bagus, bagus!” Arief mengepalkan tangannya dan melihat sekeliling. “Aku yang buta memberikan 6 triliun untuk membantu kalian! Mulai sekarang, aku tidak ada hubungan lagi dengan kalian. Anggap saja 6 triliun itu aku kasih makan ke anjing dan dituker dengan satu Perusahaan Net Media.”


Setelah itu, Arief pun berjalan pergi tanpa ragu.


“Bodoh!”


“Binatang ….”


“Masih menjaga jarak dengan kami?”


“Mulai sekarang, kamu yang harus berhenti menggunakan nama Keluarga Burton untuk menipu di luar sana.”


Keluar dari vila ini, suara makian Jeslin masih terdengar dari belakang.


Nama Keluarga Burton? Apa kalian berpikir aku menginginkannya?


Arief tertawa terbahak-bahak setelah mendengarnya. Namun, ada air mata di matanya.


Arief tidak sedih karena dikeluarkan lagi dari keluarga. Dia hanya tidak bisa menerima bahwa Yanto yang memiliki hubungan terbaik dengannya juga tidak percaya kepadanya pada saat-saat penting.


Hujan pun mulai turun.


Air mata bercampur dengan hujan, perasaan yang begitu menyayat hati.


Setelah Arief pergi, sebuah mobil hitam berhenti perlahan di depan kediaman Keluarga Burton.


Kemudian, seorang anak muda berpakaian jas hitam turun dari mobil dan diikuti oleh beberapa anak buahnya.


Ekspresi anak muda itu sangat tenang. Lalu, kedua matanya justru memperlihatkan emosi kebencian.


Kalau Arief berada di sini, maka dirinya pasti akan kaget. Orang itu adalah Luntoro, Ketua cabang Sekte Minglahi Kota Malang.


Setelah turun dari mobil, Luntoro melihat lingkungan sekitar kediaman ini dan kemudian berjalan masuk.


Merasakan aura yang dipancarkan oleh Luntoro dan beberapa anak buahnya, beberapa pembantu di luar ruangan tidak berani bertanya.


Di dalam ruangan, Jeslin, Doni dan yang lain masih terus memarahi Arief.


Melihat Luntoro dan beberapa orang yang lain masuk, anggota Keluarga Burton pun tertegun.


“Siapa kamu?” tanya Jeslin.


Luntoro melihat sekitar dan bertanya, “Di mana Arief?”

__ADS_1


Ekspresi Luntoro terlihat tenang, tetapi dia sedang memendam amarahnya.


Ketika berada di sekte, dirinya menganggap Arief adalah Raja Timur dari Sekte Gunung Langit, sehingga sangat menghormatinya. Dia pun mendengarkan ucapan Arief dan melanggar peraturan sekte agar semua anak buahnya minum minuman keras.


Pada saat pingsan, Luntoro langsung menyadari bahwa dirinya tertipu.


Setelah sadar, Luntoro segera mengutus orang untuk memeriksanya. Pada akhirnya, orang yang berpura-pura menjadi Raja Timur dari Sekte Gunung Langit, adalah Tuan Muda Kedua Keluarga Burton.


Pada saat yang sama, dia juga menantu Keluarga Kimberly.


Luntoro sudah pergi ke Keluarga Kimberly dan tidak mendapatkan orangnya. Dia pun segera datang ke Keluarga Burton.


Pada saat ini, ketika mendengar ucapan Luntoro, beberapa anggota keluarga yang lagi kebingungan pun mendengus sinis.


Datang mencari Arief?


Orang yang berteman dengan binatang, pasti juga bukan orang baik.


Beberapa anggota Keluarga Burton pun berpikir seperti itu.


“Tidak ada Arief di sini,” ucap Jeslin dengan nada kesal.


Luntoro mengerutkan keningnya. “Bukankah Arief adalah anggota Keluarga Burton kalian?”


Jeslin memelototinya. “Siapa bilang kalau dia adalah anggota Keluarga Burton? Binatang itu baru saja pergi, carilah keluar kalau mau! Jangan mengganggu waktu makan kami. Lalu, apakah kalian mengerti aturan atau tidak? Apakah kalian tahu di mana ini? Kenapa kalian berani menerobos masuk?”


Setelah mendengar ocehan Jeslin, ekspresi Luntoro langsung berubah. Sejak menjadi ketua sekte cabang, tidak ada yang berani berbicara seperti itu kepadanya. Dia bertanya kembali dengan nada dingin, “Aku tanya sekali lagi, di mana Arief?”


Jeslin juga marah. “Apa kamu tidak mengerti? Aku sudah bilang Arief tidak di sini dan juga tidak tahu ke mana dia. Cepat pergi dari sini. Kalau tidak, aku akan lapor polisi.”


Cari mati!


Luntoro akhirnya tidak bisa menahan diri. Aura membunuh langsung terlihat jelas di kedua matanya.


Seorang ketua sekte cabang Kota Malang dimarahi oleh seorang wanita. Kenapa kalau wanita ini cantik?


Huh.


Setelah mendengar ucapannya, Luntoro menarik napas dalam-dalam dan berusaha menahan amarahnya. Betul, buku “Sembilan Naga Terbang Ke Langit” yang dicuri dari Raja Sekte telah diambil oleh Arief. Awalnya, dia ingin membuat salinan terlebih dahulu, kemudian mengembalikan buku aslinya. Siapa sangka sebelum sempat membuat salinan, bukunya sudah dicuri oleh Arief. Sekarang masalah paling utama adalah mengambil kembali bukunya.


Kalau sampai Raja Sekte menyadari bukunya menghilang, dia pasti akan dihukum mati.


Luntoro menatap Jeslin dengan dingin, kemudian membawa orangnya pergi.


“Apa-apaan mereka? Walaupun berpakaian dengan sopan, mereka sebenarnya adalah preman jalanan. Arief yang bermain dengan mereka juga tidak lebih baik.”


Melihat Luntoro dan yang lain pergi, Jeslin tidak lupa menertawakan mereka.


Luntoro yang baru keluar dari gerbang langsung marah besar setelah mendengarnya.


Dia mengepalkan tangannya dan berkata sambil menggertakkan gigi. “Setelah Sekte Minglahi berhasil mengendalikan dunia bawah Kota Malang. Aku akan menghancurkan Keluarga Burton kalian.”


Di persimpangan lampu lalu lintas.


Arief menurunkan jendela mobil dan menyalakan sebatang rokok. Dia sudah jarang merokok sekarang.


Setelah mengisapnya dengan dalam, teleponnya tiba-tiba berdering.


“Arief, di mana kamu?” Terdengar suara Nita dari ujung telepon.


Setelah menjadi pemegang saham terbesar di Keluarga Kimberly, Nita akhirnya merasa bisa lebih tenang dan bahkan tidak perlu menghargai neneknya lagi. Jadi dua hari ini, suasana hatinya sangat baik.


Arief melihat jamnya. “Aku baru pulang kantor.”


“Temani aku jalan-jalan,” ucap Nita setelah ragu sejenak.


Rokok di tangan Arief langsung terjatuh ke jalan. Selama tiga tahun menikah, ini pertama kalinya Nita mengundangnya untuk jalan-jalan. Dulu, Nita selalu merasa malu untuk membawa Arief keluar.


“Baik!” Arief pun mengangguk.

__ADS_1


Setelah belasan menit, Arief bertemu dengan Nita di trotoar.


Jalan ini adalah tempat paling mewah di Kota Malang, dengan jajanan pinggir jalan dan toko-toko di mana-mana. Di tengah keramaian, Arief langusng menyadari keberadaan Nita. Setelah dua hari tidak bertemu, Nita tampak lebih cantik dan sangat menarik perhatian.


Nita berjinjit dan melambaikan tangan ke arah Arief.


Kaos putih dan celana jins ketat memamerkan sosoknya yang sempurna, yang menarik banyak pria di sekitarnya untuk menoleh kembali.


Siapa pun akan tersenyum bahagia di dalam mimpinya ketika punya istri secantik ini.


Lalu, di samping Nita juga ada wanita cantik lainnya, Shinta. Dia memakai rok pendek yang memperlihatkan kaki putihnya. Kedua wanita cantik ini memiliki pesona yang berbeda dan membuat orang terus menoleh ke belakang.


Melihat Arief, Shinta juga merasa sangat tegang.


“Sayang, aku datang,” ucap Arief tersenyum dan menerobos kerumunan.


Kalau dulu, Nita pasti marah kalau dipanggil sayang. Namun hari ini, dia hanya tersenyum sambil memberikan tas kepada Arief. “Tugasmu hari ini adalah membawa tas.”


“Siap!” ucap Arief sambil tersenyum. Dia melihat ke arah Shinta, “Aku bantu bawa juga.”


Karena dulu, Shinta sering menyuruh Arief untuk mencuci celananya, bajunya dan yang lain. Tapi sekarang, dia tidak pantas menyuruh Arief membawa tas untuknya.


Dia menggigit bibir dan memberikan tasnya. Lalu, dia pun berbisik, “Terima … terima kasih Ayah.”


Arief tidak menjawab. Mereka berjalan sambil berbicara dan datang ke sebuah toko pakaian.


Patung di toko ini memakai sebuah gaun panjang. Arief melirik ke arah harganya, 76 juta lebih.


“Kalau suka, dicoba saja,” ucap Arief sambil tersenyum.


Nita tersenyum melihatnya. “Apa kamu akan membelikannya kepadaku? Apa gajimu cukup?”


Sampai sekarang, Nita masih percaya kalau Arief bekerja dengan orang lain.


Arief mengangguk dan berkata kepada pelayan, “Halo, tolong ambilkan ini untuk dicoba istriku.”


Pelayan toko wanita itu berumur 20 tahun lebih. Dia berjalan kemari dan memperhatikan Arief. Setelah menyadari pakaian Arief yang murahan, dia langsung berkata dengan kesal, “Maaf Tuan, tidak boleh dicoba sebelum beli.”


Sambil berkata, dia juga memperhatikan Nita. Pelayan itu pun mengerti. Anak muda ini pasti ingin berlagak kaya di depan wanita cantik. Dia hanya akan mencoba dan tidak membelinya.


Anak muda ini juga pasti orang miskin. Selain murah, pakaiannya juga sangat kotor, kenapa ada telur dan sayur di bajunya? Benar-benar menjijikkan.


“Tidak boleh dicoba sebelum beli?” Arief merasa konyol. Dari mana logika seperti itu? Bagaimana orang bisa membeli tanpa mencobanya?


Nita yang berada di samping juga merasa canggung. Pelayan ini jelas merendahkan dirinya. Namun, gaun ini memang sangat cantik. Walaupun menjadi pemegang saham terbesar di Keluarga Kimberly, semua uang perusahaan tertahan oleh perputaran bisnis. Sehingga dia juga tidak sanggup membeli gaun senilai 76 juta ini.


“Arief, ayo kita pergi,” bisik Nita.


Melihat istrinya ingin pergi, Arief pun mengangguk. Pakaian yang bagus ada di mana-mana, mereka tidak perlu bersikeras untuk membeli yang ini.


Ketika akan pergi, dari belakang terdengar suara wanita lain. “Pelayan, ambilkan gaun ini. Aku ingin mencobanya.”


Seorang wanita yang terlihat kaya sedang menunjuk gaun yang disukai oleh Nita. Di samping wanita ini ada seorang pria yang memakai kalung dan cincin emas yang sangat mencolok.


Apakah orang ini tidak takut sakit leher setelah memakai kalung emas seberat itu?


“Baik, silakan tunggu sebentar!” Pelayan itu langsung mengangguk dan mengambilkan gaun yang disukai Nita itu.


Arief menghela napas melihat perubahan ekspresi pelayan yang secepat itu.


Namun, dia juga malas memedulikannya. Setelah menikah tiga tahun, dia pertama kali berkencan dengan istrinya. Dia tidak ingin merusak suasana hatinya yang baik. Kalau istrinya ingin membeli baju, mereka bisa melihat ke toko lain. Mal ini sangat mewah, walaupun baju yang dijual sedikit mahal, tetap saja sangat cantik. Jadi, mereka bisa melihat ke toko lain juga.


Ketika Arief ingin pergi, tiba-tiba pelayan itu kembali berbicara.


“Sekarang ini, semua orang ingin berpura-pura hebat. Tidak punya uang tapi datang membeli gaun. Mereka paling hanya ingin mencobanya dan memotretnya di ruang ganti, kemudian mengembalikannya tanpa dibeli. Apa hidup seperti ini berarti?”


Suara pelayan itu sangat keras, sehingga beberapa pelayan toko lain serta pembeli juga melihat ke arah sini sambil menunjuk Arief.


“Kamu merasa hebat hanya karena menjadi pelayan di toko ini?” tanya Arief dengan dingin.

__ADS_1


__ADS_2