Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 56 Luntoro


__ADS_3

Debora menahan kepanikan di hatinya dan menatap anak muda yang duduk di depan, “Siapa kalian, dan ke mana kalian akan membawa kami?”


Anak muda itu jelas adalah pemimpin dari beberapa pria kekar ini. Dia terlihat memiliki aura jahat.


Anak muda itu menoleh ke belakang, dengan sedikit kejahatan di matanya, dia berkata sambil tersenyum, “Kapten Debora, kamu telah menangkap begitu banyak bawahanku, aku harus melakukan sesuatu.”


“Kamu … kamu dari Sekte Minglahi?”


Debora gemetar, dia pun langsung mengerti apa yang sedang terjadi.


“Sekte … Sekte Minglahi?” mendengar kata-kata itu, Hendry langsung tercengang dan terlihat ketakutan.


Arief juga mengerutkan keningnya.


Sekte Minglahi?


Kekuatan apa lagi itu?


Kenapa dia tidak pernah mendengarnya?


“Seperti yang diharapkan dari kapten tim investigasi kriminal, kamu langsung menebaknya, tidak buruk.” Tepat ketika Arief memikirkannya, pria muda itu tersenyum dan mengangguk, “Aku tidak suka berbohong, namuku Luntoro, ketua cabang Sekte Minglahi di Kota Malang. Kapten Debora, kamu menangkap puluhan anak buahku dalam waktu satu bulan. Kita harus mulai memperhitungkannya.”


Debora menggigit erat bibirnya. Semua orang tahu kalau di dunia ini ada enam sekte baik, mereka adalah Shaolin, Bulu Ilahi, Bulan Sabit, Gunung Langit, Alam Liar dan Delapan Diagram.


Namun, ada juga dua sekte jahat. Sekte Minglahi adalah salah satunya. Sekte Minglahi memiliki jumlah murid yang mencapai ratusan ribu dan selalu melakukan kejahatan.


Omong-omong, Sekte Minglahi tidak berdiri lama seperti enam sekte utama, tetapi dengan sejarah ratusan tahun, mereka telah mencapai titik di mana mereka telah mengimbangi enam sekte utama dalam waktu singkat.


Seratus tahun yang lalu, enam sekte besar bersama-sama menekan dan membuat Sekte Minglahi terdiam, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, dengan perubahan zaman, Sekte Minglahi telah bangkit kembali.


Kali ini, Sekte Minglahi berkembang lebih pesat, dan dalam waktu kurang dari dua tahun, mereka berkembang menjadi kekuatan terbesar di dunia kultivasi.


Sekte Minglahi memiliki hierarki yang ketat, dan status tertinggi secara alami adalah Raja Sekte Minglahi, istri raja. Di bawah mereka adalah Dua Utusan Yin Yang dan Empat Pengawal Raja.


Empat Pengawal Raja adalah Pengawal Naga Biru, Pengawal Harimau Putih, Pengawal Burung Merah, dan Pengawal Kura-kura Hitam.


Di bawah Empat Pengawal Raja, ada ketua cabang. Lalu yang terakhir adalah murid sekte.


Sekte Minglahi berada di banyak kota dan memiliki banyak cabang. Murid sekte juga tersebar di penjuru dunia! Bisa dikatakan, bahwa Sekte Minglahi memiliki kemampuan yang mengerikan.


Bukan hanya begitu! Salah satu sekte utama, Sekte Gunung Langit ternyata memiliki komunikasi dengan Sekte Minglahi.


Baru-baru ini sekelompok murid Sekte Minglahi mendirikan cabang di Kota Malang. Bagaimana mungkin Debora tidak menangkap mereka? Tanpa diduga, Sekte Minglahi berani balas dendam pada dirinya sendiri secara terang-terangan.


Saat mobil berhenti, Luntoro menutupi wajah Arief bertiga dengan kain hitam.


Selanjutnya, mereka harus melewati setengah jam pendakian.


Meski tidak bisa melihat dengan jelas, Arief tetap memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya.


Mendengar suara deburan ombak tak jauh dari sana, Arief menyimpulkan mereka bertiga dibawa ke tepi laut Kota Malang oleh Luntoro, sedangkan untuk lokasi tepatnya belum tahu.


Setengah jam kemudian, kain hitam di wajah mereka pun terangkat.


Melihat lingkungan sekitar, orang-orang akan merasa panik.

__ADS_1


Ini adalah ruang bawah tanah yang sangat besar.


Ada aula di depan mereka, semuanya terbuat dari batu, tidak ada listrik, dan penerangan hanya dengan obor, aula itu memiliki empat arah dan empat lorong.


Di lorong, setiap beberapa meter, ada dua orang yang berjaga.


Keamanannya sangat tinggi.


Ini ….


Tempat ini seperti istana bawah tanah.


Melihat itu, Arief hanya bisa menghela napas.


Dengan perintah Luntoro, beberapa anak buahnya mengikat Arief bertiga ke bangku batu.


Setelah itu, Luntoro duduk di sana dan menatap Debora dengan setengah tersenyum, “Kapten Debora, mari kita bicara tentang bagaimana menyelesaikan masalah kita.”


Saat dia berbicara, dia melihat ke arah Debora.


Meskipun Debora diikat, dia bahkan lebih menarik dengan jins ketatnya.


Nada bicara Luntoro pelan dan santai, tapi aura yang menyelimuti tubuhnya adalah sesuatu yang tidak bisa diremehkan.


Debora tidak menjawab secara langsung, tetapi menggigit bibirnya dan ragu-ragu, “Ketua Luntoro, aku yang menangkap bawahanmu. Ini tidak ada hubungannya dengan mereka berdua. Biarkan mereka pergi dulu.”


“Ya, masalah ini tidak ada hubungannya denganku sama sekali.”


Begitu Debora selesai berkata, Hendry buru-buru mengangguk setuju.


Luntoro tertawa dengan tatapan mempermainkan di matanya. “Kapten Debora, apakah kamu bercanda? Aku telah menghabiskan banyak energi untuk menangkap kalian bertiga, dan kamu meminta kami melepaskannya begitu saja?"


Setelah mengatakan ini, Luntoro melirik Hendry, “Aku kenal kamu, generasi kedua kaya yang terkenal di Kota Malang, Hendry, ‘kan?”


Hendry mengangguk seolah mematuk nasi, dan berkata untuk menyenangkannya. “Ya, selama kamu rela melepaskanku, aku akan memberimu sebanyak yang kamu mau.”


Luntoro tersenyum acuh tak acuh, “Apa kamu takut mati? Aku mendengar bahwa kamu dan Kapten Debora bertunangan, ‘kan? Sebagai seorang pria, tidakkah kamu ingin menyelamatkan tunanganmu?”


Hendry membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi menelan ludah karena merasa tidak tepat.


Sepertinya dia sudah terkejut.


Luntoro terkekeh pelan, mengabaikannya, dan menoleh ke arah Arief, “Sepertinya, orang yang bisa makan dengan Tuan Muda Hendry, pasti juga orang kaya, bukan?”


Tidak mengerti apa yang dimaksud Luntoro dengan kalimat ini, Arief diam-diam mengerutkan kening dan tidak menanggapinya.


Pada saat ini, Luntoro kembali menunjukkan senyuman menghina. “Oke, kalian berdua tidak memiliki dendam dengan Sekte Minglahi. Aku juga bukan orang yang tidak masuk akal, aku bisa membiarkan kalian pergi, tapi aku hanya bisa membiarkan satu orang pergi.”


Hendry langsung tercengang.


Tatapan Arief berbinar, dia berkata dengan tenang, “Apa maksudmu?”


Luntoro tersenyum dan berkata, “Mudah. Kita akan menggunakan cara berbisnis kalian. Kalian berdua bisa mulai memberikan harga untuk membeli nyawa kalian. Siapa yang paling tinggi, aku akan melepaskan orang itu.”


“Lalu, orang dengan harga terendah ….”

__ADS_1


Luntoro sengaja berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “Aku akan memotong satu jarinya, kemudian dimasukkan ke dalam penjara.”


Ekspresi Arief menjadi serius ketika mendengarnya.


Sialan. Bocah ini jago juga.


Pada saat yang sama, Hendry yang gemetar langsung berteriak dengan senang. “Aku dulu! Aku akan memberikan 60 miliar.”


Setelah berbicara, Hendry melirik ke Arief dengan tatapan sombong.


Haha. Bocah ini hanyalah menantu tidak berguna.


Jangankan 60 miliar, dia mungkin tidak punya 6 miliar pun.


Aku sudah menang. Hahaha! Setelah kabur dari sini, semua akan lebih mudah. Setelah kabur, dia akan mencari orang untuk menyelamatkan Debora. Pada saat itu, Debora yang terharu mungkin saja akan bermalam dengannya. Haha!


Melihat ekspresi Hendry yang bersemangat, Arief merasa konyol.


Bocah ini benar-benar tega memberikan uang demi nyawa sendiri.


Dia langsung memberikan 60 miliar.


Bagaimana dengan Arief?


Apa dia harus memberikan 100 miliar?


Ketika sedang berpikir, Arief tiba-tiba sadar ketika melihat senyuman Luntoro.


TIdak!


Orang ini membawa mereka ke tempat ini, yang pasti merupakan tempat sekte mereka. Tidak mungkin mereka membiarkan orang lain tahu tempat ini. Sialan! Berapa pun yang mereka bayar, Luntoro tidak akan melepaskan mereka.


Tawaran macam apa yang dibuat, itu semua omong kosong. Pada akhirnya, tidak peduli siapa yang menawar paling banyak, dia akan mati.


Kalau begitu, apa gunanya menawar? Apa untuk memuaskan Luntoro yang sedang mempermainkan mereka?


Sambil berpikir, Arief menatap Luntoro dengan tegas dan tersenyum, “60 miliar? Aku tidak sanggup memberikannya.”


Begitu Arief berkata, Hendry yang berada di samping langsung senang dan hampir kencing di celana. Dia merasa lega dan berkata, “Haha. Aku menang. Aku menang.”


Luntoro tidak mengatakan apa pun dan melambaikan tangannya.


Tiba-tiba, dua orang pria berpakaian hitam mengangkat Arief dan menekannya ke meja batu. Mereka akan segera memotong jari Arief.


Pada saat ini, Debora yang panik pun berteriak, “Kalian tidak boleh bersikap seperti itu. Masalah ini tidak ada hubungan dengannya. Kalau kalian ingin balas dendam, kalian boleh menyerangku.”


Luntoro mengabaikan teriakan Debora.


Hendry yang tidak senang segera berbisik kepada Debora. “Kenapa kamu memedulikan sampah itu? Dia tidak punya uang untuk membeli nyawanya, itu karena dia tidak mampu. Tenang saja, setelah keluar dari sini, aku akan menyelamatkanmu.”


Debora tidak menjawab. Dia terus menatap Arief dengan panik.


Pada saat ini, Arief juga mulai panik.


Sialan! Kalau satu jarinya hilang, bukankah dia akan menjadi cacat?

__ADS_1


__ADS_2