Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Baba 91 Penyesalan yang Datang Terlambat


__ADS_3

“Kamu tidak perlu bicara omong kosong!” David memelototinya. “Arief, kami akan menyelamatkan tiga kakak beradik ini. Kalau kamu tidak suka, silakan turun dari bus.”


Dasar bodoh!


Arief juga tidak berdaya.


“Arief, aku juga merasa tiga kakak beradik ini cukup kasihan. Kita bantu mereka saja.” Saat ini, Nita yang duduk di samping Arief berbisik sambil menarik lengannya.


Nita mungkin saja mengabaikan hal lain, tetapi dia tidak mungkin mengabaikan untuk menyelamatkan orang lain.


Arief menggeleng dan diam-diam memberi isyarat kepada Nita.


Semua orang di dalam bus terus berbicara tanpa henti.


Pada akhirnya, Hendry tiba-tiba berkata dengan nada dingin, “Kenapa kita harus omong kosong dengan mereka? Piknik kali ini diadakan oleh keluargaku, bus ini juga milk keluargaku. Aku akan membiarkan mereka naik ke dalam bus.”


Setelah melontarkan ucapannya, Hendry bergerak cepat ke depan, lalu membuka pintu bus.


Saat pintu bus terbuka, Tiko langsung berlari masuk. Dia menyeringai, mengeluarkan pisau dari punggungnya dan meletakkan ke leher sopir. Setelah itu, dia langsung berteriak, “Jan … Jangan bergerak!”


Pada saat yang sama, Tiku naik ke atas sambil tersenyum dingin, dia memegang pistol di tangannya. Kedua mata julingnya terus melihat sekeliling, dia lalu berkata dengan patah-patah, “Semua … semuanya harap tenang! Ram … rampok!”


Ucapannya yang gagap terdengar sedikit konyol, tetapi tidak ada yang berani menertawakannya.


Hening!


Semua orang benar-benar merasa bingung. Melihat pistol hitam itu, beberapa orang yang penakut sudah mulai menangis. Beberapa wanita segera meringkuk di kursi dan gemetar.


Huh!


Arief diam-diam menghela napas, dia juga merasa tidak berdaya.


Akting kedua kakak beradik itu terlihat begitu kompak, mereka sepertinya sudah sering melakukannya. Namun, semua sudah terlambat.


“Haha. Ka … Kakak, orang-orang ini … benar-benar bodoh. Kita bisa … bisa membereskan mereka dengan mudah,” ucap Tiku sambil menyeringai.


Beberapa hari yang lalu, mereka mendapatkan informasi bahwa puluhan keluarga kaya di Kota Malang mengadakan piknik di wilayah ini. Jadi, mereka merencanakan perampokan ini.


Tiko mengangguk dengan puas, lalu berkata, “Aku … aku tidak ingin omong kosong! Setiap orang harus menggunakan uang untuk membeli nyawa kalian sendiri.”


“Kalau tidak, jan … jangan salahkan kami … bertindak kejam,” ucap Tiku sambil menggoyangkan pistol di tangannya.


Hendry menunjukkan ekspresi masam dan berkata, “Ka .. Kakak, kami tidak bawa uang keluar.”


Karena gugup, cara bicara Hendry juga menjadi seperti dua orang bersaudara itu.


Hendry berkata jujur. Para generasi kedua yang kaya tidak membawa uang tunai.


Tiku membelalakkan matanya, karena mengira Hendry sedang meniru cara bicaranya. Dia langsung berlari, lalu menampar Hendry sambil berteriak, “Sia … Sialan! Kamu … kamu meniru gaya bicaraku.”

__ADS_1


Setelah itu, dia mengeluarkan sebuah mesin EDC, lalu diulurkan ke depan Hendry. Pada saat yang sama, dia menodongkan pistol ke kepala Hendry dan berkata, “Siapa … siapa yang menginginkan uang tunai? Ke … Keluarkan kartu bank kalian, gesek kartunya. Mulai dari kamu! Setiap orang harus menggesek 400 miliar.”


Apa?


400 miliar?


Sialan! Apakah orang ini sudah gila karena uang? Mereka bertiga sepertinya akan pensiun setelah perampokan ini.


Semua orang menunjukkan ekspresi bingung. Walaupun anak keluarga kaya, 400 miliar juga bukan jumlah kecil.


Namun, siapa yang berani berbicara?


Hendry hampir kencing di celana karena ditodong pistol. Dia juga tidak berani omong kosong, dia segera mengeluarkan kartu bank dan menggeseknya. Pada saat yang sama, semua orang juga ikut mengeluarkan kartu bank dan tidak berani melawan.


Profesional juga.


Apakah semua perampok selalu membawa mesin EDC?


Pada saat yang sama, Arief tiba-tiba bertanya kepada Tiku karena penasaran, “Kak, kalian cukup hebat juga bisa menggunakan mesin EDC. Tapi kalau gesek kartu, pasti ada rekaman transaksinya. Apakah kamu tidak takut kami lapor polisi?”


Tiku tersenyum dengan ekspresi sombong, sambil memperlihatkan gigi kuningnya. “Kamu … kamu tidak mengerti. Mesin … mesin EDC kami sudah diubah oleh profesional, sehingga tidak … tidak bisa dilacak ….”


Berbicara sampai setengah, Tiku tiba-tiba sadar dan menggaruk kepalanya, “Eh? Kenapa … kenapa aku memberitahumu? Kamu juga jangan omong kosong! Cepat bayar uangnya!”


Haha!


Arief sangat senang dalam hati, dia mengangguk sambil menahan tawa.


“Aku ingatkan, jangan ada yang macam-macam. Siapa yang memberikan uang … uang … uangnya, dia akan baik- baik saja.” Setelah selesai bicara, Tiko segera berlari ke depan David dengan ekspresi masam.


“Jangan salah paham! Aku bukan ingin lapor polisi, tetapi tidak bawa kartu bank, jadi aku akan mentransfernya.”


David menjelaskan dengan panik dan keringat dingin yang terus bercucuran.


Tiko tidak ingin mendengar penjelasannya, dia langsung merebut ponselnya, lalu memukul kepala David dengan keras.


“Sialan kamu! Jangan bohong!” teriak Tiko sambil memukulnya.


Walaupun tidak melapor polisi, transfer lewat ponsel juga akan kelacak. Jadi, Tiko sangat marah, dia beranggapan David sengaja menjebaknya.


“Ah … jangan pukul lagi! Aku benar-benar tidak bawa kartu.”


David terus menjerit kesakitan, darah segar mengalir melewati keningnya.


Semua orang benar-benar ketakutan, beberapa wanita terus menangis begitu melihat David yang dipukul sampai berdarah.Tiko benar-benar sangat kejam.


Semua orang benar-benar sangat ketakutan, Debora juga sangat menyesal dan merasa bersalah.


Ketika berada di bank, Arief menyelamatkan seorang mahasiswa dan gadis kecil yang tidak dikenalnya. Kenapa dia masih curiga dengan rasa simpati Arief?

__ADS_1


Sekarang, semuanya sudah terlambat.


Nita menggigit bibirnya, dia menatap Arief dengan tatapan menyesal.


Kenapa dia tidak memercayai Arief tadi?


Melihat David yang terluka parah, semua orang sangat ketakutan dan terpaksa membayarnya.


Lima puluh orang lebih di dalam bus sudah selesai bayar. Tiku lalu mengangguk dengan puas. Ketika ingin pergi, kedua matanya berbinar begitu melihat Nita dan Debora.


“Ka … Kakak, aku melihat dua orang … wanita yang … yang sangat cantik.” Setelah itu, Tiku langsung mendekati Debora, menggenggam tangannya dan mulai merabanya.


Para nona muda keluarga kaya ini memang bukan orang biasa, kulitnya benar-benar sangat mulus.


Debora yang kesal ingin mencoba memberontak.


Merasakan perlawanan Debora, Tiku segera menggoyangkan pistol di tangannya. “Nona … nona cantik, jangan … jangan bergerak! Hati-hati aku menembakmu.”


“Kamu!”


Debora menggigit bibirnya dengan erat. Bagaimanapun, dia adalah murid  Sekte Bulan Sabit, kemampuannya sudah mencapai tingkat Jenderal tahap pertama. Namun, dia tidak berani melawan balik, karena musuh memiliki pistol.


Begitu panik, Debora melihat ke arah Hendry.


Lalu, Debora sangat kecewa begitu melihat Hendry ketakutan dan tidak berani bergerak.


“Hehe, aku juga menemukan seorang wanita cantik. Ckck, dia juga seksi.” Saat ini, Tiko berbicara sambil menatap lurus Ester yang berada di samping Niko.


Baju yang memperlihatkan pusar dan celana jins pendek, benar-benar sangat seksi. Tato phoenix di punggung Ester juga merangsang pria untuk menaklukkannya.


Gluk.


Dia akan mendapatkan wanita bertato ini.


Tiko menelan ludah diam-diam, lalu menunjuk Nita, Debora, Ester dan Fransiska. “Ikat semua wanita cantik ini. Hari ini, kita berdua harus bersenang-senang. Sialan! Aku belum pernah bermain dengan anak orang kaya. Tika, kamu jaga di mobil, jangan biarkan orang-orang bodoh ini bergerak. Kakak akan melakukannya dengan cepat.”


Tiku mengangguk sambil tersenyum. Dia menodongkan senjata ke arah Nita dan yang lain. “Ce … Cepat turun dari mobil. Jangan … jangan membuatku kesal.”


Haha, selain berhasil mendapatkan uang, mereka juga bisa menikmati putri dari keluarga kaya. Benar-benar hasil yang besar.


Nita dan yang lain sangat ketakutan. Wajah mereka pucat, kaki mereka menjadi lemah, tetapi mereka juga dipaksa turun dari mobil.


“Debora … Debora … kamu jangan takut. Aku pasti akan menyelamatkanmu!” teriak Hendry yang berusaha memberanikan diri. Namun, dia sebenarnya sangat takut di dalam hatinya. Suaranya bahkan terdengar gemetar dan tidak yakin sama sekali.


Debora menoleh untuk melihatnya, dia menggigit bibir dan tidak menjawab.


Tidak peduli Hendry sedang berpura-pura atau tidak, Debora tetap merasa terharu.


Setelah turun dari mobil, kelima wanita itu diikat di pohon.

__ADS_1


__ADS_2