
Sebenarnya, Fransiska juga merasa kalau 100 juta per bulan terlalu rendah, tapi itu adalah angka terbesar yang bisa diberikan olehnya.
Pada saat ini, Hidayat yang berdiri di belakang meja langsung menarik napas dalam-dalam!
Apa?
Seorang Apresiator Kehormatan mendapatkan gaji 100 juta? Hidayat hanya mendapatkan 20 juta lebih per bulan saja!
Namun, ketika mengingat teori yang diceritakan Arief saat menilai Giok Air Mata Darah, Hidayat pun merasa malu. Dia berusaha menghilangkan perasaan tidak puas dan menyisakan perasaan kagum.
“Hm … kalau tidak perlu datang ke toko setiap hari, baiklah.” Saat ini, Arief pun menyetujuinya setelah berpikir panjang.
Ekspresimu masih terlihat terpaksa walaupun dengan gaji sebesar itu?
Apa kamu menjadi bodoh karena terlalu lama menjadi menantu tidak berguna?
Saat ini, respons Arief membuat Hidayat semakin terdiam.
Fransiska berkata dengan raut wajah senang, “Baguslah, kalau begitu kita sudah memutuskannya.”
Arief pun tersenyum, dia berpamitan dengan Fransiska setelah melihat jam.
Keesokan harinya, Sisk segera datang melaporkan pekerjaan setelah melihat Arief datang ke kantor.
“Pak Arief, musim terbaru acara Superstars mulai tayang hari ini. Hari ini juga merupakan hari pertama Cindy naik ke atas panggung, apakah anda ingin pergi ke sana untuk melihatnya?” tanya sekretaris Siska dengan sopan.
Arief menggelengkan kepala, “Aku tidak pergi, aku akan menonton siaran langsung dari sini saja.”
Proses pemasaran Cindy diserahkan kepada Keluarga Kimberly, bahkan Nita sendiri yang bertanggung jawab untuk tugas ini.
Saat itu, Nita pasti akan berada di lokasi, kalau Arief pergi ke sana, maka identitasnya akan terbongkar.
“Baik, Direktur!” ucap Sekretaris Siska sambil mengangguk.
Satu jam kemudian, layar monitor di ruangan sedang menayangkan siaran langsung.
Tidak bisa dipungkiri, Cindy benar-benar memiliki bakat seorang artis. Setelah dipermak dengan baik oleh Nita, Cindy pun terlihat lebih bersemangat dan mempesona, kemunculannya membuat heboh para penonton.
Namun, terjadi sesuatu di tengah acara.
Cindy akan bernyanyi untuk menjawab permintaan para penggemar, tapi dia segera menyadari masalah pada headset yang digunakannya. Awalnya, suara Cindy terdengar sangat indah, tapi temponya mulai kacau karena masalah pada headset.
Pada akhirnya, Cindy menghentakkan kaki dna kembali ke belakang panggung setelah mendengar suara kritikan dari para penggemar.
Media pun segera memberitakan kejadian ini, ada yang mengatakan bahwa Cindy hanya melakukan sinkronisasi bibir, ada yang bilang Cindy sengaja melakukannya untuk viral.
Pokoknya, para media mulai curiga dengan kemampuan bernyanyi Cindy.
Melihat berita ini, Arief memukul meja dan memanggil Siska masuk.
“Cepat periksa apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Arief dengan raut wajah dingin.
Setelah mengiyakan, sekretaris Siska segera menghubungi beberapa orang dan mengetahui masalahnya.
“Direktur, ada tiga orang yang bertugas dengan peralatan headset Cindy, tapi mereka semua tidak mengakui dan tidak mau bertanggung jawab,” ucap Siska dengan hati-hati.
Arief hanya tersenyum dingin.
__ADS_1
Hal ini pasti berhubungan dengan tiga orang lain.
“Baiklah, panggil ketiga orang ini ke sini.”
“Baik, direktur!” Walaupun penasaran melihat Arief yang percaya diri, Siska juga tidak berani bertanya.
Setelah melihat Siska keluar, Arief pun menghubungi sebuah nomor.
“Fiesta, datang ke Perusahaan Net Media, betul sekarang.”
Belasan menit kemudian.
Tiga orang yang bertanggung jawab untuk pekerjaan di balik layar dibawa ke ruangan, raut wajah mereka terlihat sangat tenang.
Fiesta yang memakai jas hitam duduk di hadapan mereka.
Sebenarnya Arief memiliki banyak cara untuk memaksa tiga orang ini mengatakan yang sebenarnya, tapi dia merasa terlalu merepotkan.
Lalu, Arief juga tidak ingin terlalu banyak orang yang tahu dengan identitas aslinya.
Dia pun mencari Fiesta kemari.
“Di acara tadi, apa yang terjadi dengan headset yang dipakai Cindy?” tanya Fiesta dengan tatapan dingin
Arief yang duduk di samping sedang merokok dengan wajah tenang.
Mereka bertiga segera menggelengkan kepala dengan kompak dan mengatakan bahwa tidak tahu, seolah-olah mereka sudah mendiskusikannya. Mereka juga tidak memperhatikan Arief, karena mengira dia adalah pengawal Fiesta.
Fiesta tersenyum dan berkata, “Apa kalian tahu siapa aku? Namaku Fiesta.”
Apa?
Ketiga orang ini langsung gemetar ketika mendengar nama itu, bahkan kaki mereka juga mulai bergetar dengan hebat.
Siapa yang tidak kenal dengan Fiesta di kota Malang? Dia adalah orang yang sanggup mengendalikan pihak hitam dan putih.
Kenapa dia berada di sini? Apa hubungan dia dengan Perusahaan Net Media?
“Tidak masalah kalau kalian tidak ingin menceritakannya, tapi aku kasih tahu dulu, jika aku mengetahui bahwa hal ini berhubungan dengan kalian bertiga, maka kalian pikirkan sendiri akibatnya.”
Setelah mendengar ucapan Fiesta, anak muda yang berdiri di paling kiri langsung berkata dengan panik, “Aku … aku akan mengatakannya ….”
Kedua orang lainnya juga saling bertatapan dan mengangguk dengan panik.
Saat ini, Arief yang sedang duduk di sofa pun tersenyum.
Belasan menit kemudian, Fiesta pun menyuruh tiga anak muda itu pergi dari sini. Dia berdiri dan berkata kepada Arief, “Tuan Burton, masalah ini sudah jelas.”
Arief tersenyum, dia pun bangkit berdiri dan menepuk pundak Fiesta, “Bagus Fiesta, dua tahun ini bukan hanya bisnismu yang makin besar, reputasimu juga semakin terkenal.”
“Tuan Burton, anda jangan bercanda denganku. Tanpa Tuan Burton, Fiesta tidak mungkin seperti hari ini,” ucap Fiesta sambil tersenyum.
Setelah berbicara sebentar dengan Fiesta, Arief pun menyuruhnya pergi.
Ketika Fiesta pergi, Arief pun menerima telepon dari Heny.
“Kamu pergi ke mana dua hari ini? Apa kamu tahu telah terjadi hal besar? Kenapa kamu masih berada di luar sana? Cepat pulang, sampah.”
__ADS_1
Mendengar ucapan Heny, Arief pun tidak mengatakan apa pun. Dia tahu Nita pasti mendapatkan masalah karena urusan Cindy, karena dia yang bertanggung jawab untuk pemasaran Cindy.
Walaupun Nita bertemu dengan masalah, Heny sebenarnya juga tidak ingin menelepon Arief. Bagaimanapun, sampah ini tidak ada gunanya. Heny menelepon Arief karena Nenek sangat marah sehingga meminta semua anggota Keluarga Kimberly untuk hadir.
Masalah kali ini sangat serius!
Setelah memutuskan telepon, Arief pun pergi ke kediaman Keluarga Kimberly.
…
Di perjalanan, Arief pun menelepon Cindy.
Pada saat ini, Cindy sedang sedang berada di apartemen dengan suasana hati yang kesal.
“Kak Arief.” Setelah mengangkat telepon Arief, Cindy memanggilnya dengan sopan dan terdengar gugup, “Maaf, aku tidak tahu akan menjadi seperti ini.”
Masalah di acara membuat citra Cindy menjadi terpuruk, semua kerja keras sebelumnya pun menjadi sia-sia. Hal ini juga akan membuat perusahaan rugi, sehingga Cindy mengira Arief datang menyalahkannya.
Arief menghela napas, lalu berkata, “Hal ini bukan salahmu, aku sudah memeriksanya. Hal ini merupakan kesalahan internal Keluarga Kimberly.”
Mulut Cindy menganga dengan lebar, “Kenapa bisa begitu?”
Arief tersenyum dan berkata, “Kamu lakukan sesuai arahan ku nanti.”
Setelah menerima perintah Arief, Cindy segera mengangguk dan berkata, “Aku mengerti, Kak Arief.”
Ketika datang ke kediaman Keluarga Kimberly, Nenek sudah mulai mengadakan pertemuan darurat.
Raut wajah setiap orang terlihat marah dan tidak puas! Perlu diketahui, Perusahaan Net Media akan menyalahkan Keluarga Kimberly atas apa yang terjadi dengan Cindy.
Nita memakai rok ketat dengan sepatu hak tinggi, dia benar-benar sangat indah. Namun, raut wajahnya terlihat sangat jelek, karena semua orang sedang menatapnya. Bagaimanapun, pemasaran Cindy menjadi tanggung jawabnya.
Melihat Arief datang, raut wajah Keluarga Kimberly juga terlihat tidak enak.
Kenapa seorang sampah datang ke sini?
Saat ini, David bangkit berdiri, dia menunjuk Nita dan dengan senyuman dingin, “Nita, Keluarga Kimberly mendapatkan kerja sama dengan Perusahaan Net Media, tapi justru terjadi masalah di kamu, bagaimana ini?”
Nita menggigit bibir dan melihat ke nenek, “Biarkan Nenek yang mengaturnya.”
David pun tersenyum sebelum nenek sempat menjawab, dia lalu berkata, “Nita, apa kamu ingin Nenek bersimpati kepadamu? Masalah besar seperti ini tidak akan selesai walaupun kamu dihukum.”
Berbicara sampai di sini, David pun menatap Nenek dan berkata, “Nenek, kita harus memecat Nita, dia tidak boleh mencampuri urusan perusahaan mulai sekarang! Kita tidak boleh menyinggung Perusahaan Net Media karena dia!”
Orang-orang pun mengangguk setuju dengan David.
Nenek menatap Nita dan berkata, “Kalau begitu, Nita, mulai besok, kamu tidak perlu datang ke kantor lagi.”
Nita merasa sangat sedih, dia ingin membela dirinya tapi tidak tahu apa yang bisa dikatakan.
Ternyata, Arief yang duduk di samping Nita berdiri pelan-pelan, dia lalu berkata, “Aku tidak setuju.”
Huh?
Hahaha
Awalnya, suasana ruang pertemuan yang hening menjadi heboh karena suara tertawa beberapa wanita.
__ADS_1
Arief benar-benar tidak tahu malu, apa dia punya hak untuk berbicara di sini? Apa dia bodoh?