
Membeli baju baru hanya untuk acara tamasya?
“Apa aku harus pergi?” tanya Arief.
Hendry pasti akan hadir di acara yang diadakan oleh keluarganya. Arief tidak ingin bertemu dengannya.
Heny memelototinya. “Awalnya, acara seperti ini tidak mungkin mengajakmu pergi. Tapi, karena Nita sudah memiliki posisi yang lebih tinggi di keluarga, maka sebagai suami sahnya, kamu harus ikut pergi.”
“Oh.” Arief berkata, “Aku mengerti. Aku akan pergi membeli baju baru.”
“Baguslah,” ucap Heny dengan nada dingin. “Lebih baik beli baju yang lebih bagus. Kalau tidak punya uang, mintalah ke Nita. Jangan selalu terlihat miskin, memalukan sekali.”
Arief terus mengangguk.
Setelah berbicara beberapa kata, Heny pun keluar.
Setelah dia pergi, Arief segera mengeluarkan buku Senjata Kuno itu lagi.
Sampul buku ini sudah usang dan tulisan di atasnya hampir tidak terlihat.
Bukan hanya itu, bahkan ada sedikit bekas noda warna coklat di atasnya yang mirip dengan darah. Buku ini sudah pasti melewati tahun yang mendebarkan.
Keluarga Salim benar-benar keluarga barang antik, mereka bahkan memiliki buku seperti ini.
Setelah bergumam dalam hati, Arief lanjut membacanya.
Halaman pertama terdapat senjata bernama Palu Thor yang bisa mendatangkan guntur. Tingkat biru tahap keempat.
Arief terus membaca tanpa berkedip, dia sudah lama tidak membaca buku dengan serius seperti ini.
“Lingkaran Sakti. Senjata ini sudah menyerap banyak aura dari Gunung Delapan Diagram. Senjata ini sangat kuat dan tidak dapat dihancurkan! Tingkat biru tahap kelima! Kemampuan senjata ini adalah aura sakti tanpa batas. Pemilik senjata adalah Nacha!”
Setelah berpikir sesaat, dia lanjut membacanya.
“Golok Bunga Naga Biru dengan panjang tiga meter. Senjata ini sangat tajam dan dapat memotong batu apa pun. Tingkat biru tahap ketiga. Kemampuan senjata ini adalah membelah langit dan bumi. Pemilik senjata ini adalah kultivator Tingkat Raja, Guan Gong.”
Setelah melihat satu per satu senjata yang tertera, Arief semakin tertarik. Pada akhirnya, dia akhirnya menemukan Pedang Haus Darah.
Melihat isi pada buku ini, Arief pun terkejut.
“Pedang Haus Darah. Seperti giok tapi bukan giok, seperti besi tapi bukan besi, sangat keras, sangat tajam! Menyerap energi spiritual langit dan bumi! Tingkat merah tahap pertama. Kemampuan senjata ini adalah menyerap darah. (Ketika menyerap darah manusia, tingkat senjata akan meningkat. Darah yang diserap harus darah manusia hidup. Darah hewan tidak akan berguna!) Pemilik senjata belum diketahui.”
Melihat sampai akhir, Arief semakin bersemangat.
Haha. Ternyata dirinya mendapatkan sebuah harta karun.
Hahaha. Senjata ini bisa naik tingkat? Selama menyentuh darah manusia, pedang ini akan terus naik tingkat! Pantas saja disebut Pedang Haus Darah.
Di dalam buku ini juga tertulis bahwa setelah Pedang Haus Darah berhasil mengenali pemiliknya, pedang ini dapat bergabung dengan darah pemiliknya ketika tidak digunakan. Ketika ingin menggunakannya, pemiliknya dapat mengeluarkannya dengan fokus pikiran.
Arief menarik napas dalam-dalam, dia memfokuskan pikiran sambil memegang Pedang Haus Darah. Setelah itu, dia melihat Pedang Haus Darah menghilang.
Arief tahu pedangnya sudah bergabung dengan darahnya.
“Keluar!” Arief bergumam. Sebuah cahaya merah terpancar dan Pedang Haus Darah pun keluar.
__ADS_1
Haha! Harta karun! Ini benar-benar harta karun. Haha!
Ketika sedang bersemangat, dia mendengar suara Heny yang kesal dari bawah.
“Arief, cepat turun.”
Arief menarik napas dalam-dalam, menyimpan buku dan pedangnya. Lalu, dia berjalan keluar dari kamar.
“Kenapa?”
“Sini duduk,” ucap Heny dengan tidak sabar. “Acara tamasya kali ini sangat penting, total ada belasan keluarga yang ikut serta. Keluarga Sutopo, Keluarga Salim, Keluarga Simton, Keluarga Wijaya, Keluarga Kimberly dan yang lain. Total sekitar ratusan orang. Semua orang yang datang cukup terkenal, jadi kamu jangan asal ngomong dan jangan mempermalukan Nita. Sekarang Nita sudah menjadi penanggung jawab Keluarga Kimberly.”
Acara kali ini dijuluki Tamasya Semi. Semua orang datang makan minum dan saling mempererat hubungan satu sama lain.
Di kalangan kelas atas, bertambah satu teman artinya bertambah satu jalan. Tamasya Semi kali ini akan diadakan beberapa hari. Walaupun tidak bisa mendapatkan proyek, mereka juga bisa mendapatkan banyak teman baru.
“Iya, aku mengerti. Aku tidak akan asal bicara nanti,” ucap Arief sambil mengangguk.
Keluarga Salim juga pergi? Sebagai Nona Besar Keluarga Salim, Fransiska pasti akan ikut.
Ketika mengingat Fransiska, Arief akan teringat wajah tersipu malu yang memesona itu.
Setelah itu, dia kembali teringat Keluarga Simton. Arief pun bertanya, “Hartono dari Keluarga Simton bukannya sudah memutus hubungan dengan kita setelah uang Keluarga Kimberly ditipu habis. Kenapa mereka bisa ikut?”
Nita tersenyum dan berkata, “Di dunia bisnis hanya ada keuntungan yang abadi dan tidak ada musuh abadi. Sebelumnya, Ayahku menyebabkan semua uang keluarga hilang. Keluarga Simton memang memutus hubungan dengan kita. Tapi setelah masalah Keluarga Kimberly berhasil diselesaikan, mereka kembali lagi mencari kita.”
Arief pun tersenyum sinis ketika mendengarkannya.
“Tamasya Semi kali ini, kita pasti akan mendapatkan banyak teman,” ucap Nita. “Nanti, kamu jangan asal bicara dan ikuti saja di belakangku.”
“Tidak tahu malu. Apa kamu masih tidak bosan mendengar orang mengataimu mengandalkan istri?” Wajah Nita menjadi merah. Setelah itu, dia baru berkata, “Maaf, aku tidak sengaja.”
Arief terlihat santai. “Tidak apa-apa. Aku tidak peduli pendapat orang lain. Aku hanya peduli pendapat istriku.”
Nita tersenyum dan membawa Arief pergi membeli baju.
Awalnya, mereka ingin membeli jas, tapi jujur saja, setelah tiga tahun menikah, Arief sudah terbiasa pakai pakaian pinggir jalan dan sangat tidak nyaman dengan jas. Arief ingin pergi ke pinggir jalan lagi, tetapi Nita tidak setuju. Akhirnya, Arief pun membeli dua pakaian olahraga yang mahal.
Setelah mencobanya dan merasa cocok, Arief pun segera ingin membayarnya. Namun, Nita langsung menahannya.
“Menikah selama tiga tahun, aku juga tidak pernah membelikan apa pun untukmu. Biarkan aku yang bayar saja. Kamu juga membelikan baju untukku kemarin, bukan?” jawab Nita sambil tersenyum,
Arief merasa terharu. Dia pun membiarkan Nita membayarnya.
Keesokan harinya, mobil keluarga Sutopo datang menjemput mereka.
Keluarga Sutopo ada di Kota Malang bisa dibilang cukup hebat. Mobil yang digunakan semuanya adalah mobil Mercedes-Benz. Puluhan mobil mewah seperti ini sangat menarik perhatian di jalan raya.
Nita hari ini luar biasa cantik. Sepasang skinny jeans biru dengan sepatu Crystal Love di bagian bawah dan kemeja putih di bagian atas. Menonjolkan kaki ramping dan badan yang memesona. Ketika masuk ke dalam mobil, supir juga tidak bisa fokus mengemudikan mobil dan terus melihat ke belakang lewat kaca belakang.
Setelah beberapa jam, mereka sampai di tempat tujuan, Danau Dewata.
Danau Dewata adalah tempat indah yang didirikan oleh investasi swasta, memiliki pemandangan yang indah, karena ini adalah tempat pribadi, orang biasa tidak bisa masuk.
Sebenarnya, ini sama sekali bukan danau, melainkan teluk. Orang-orang yang bisa datang ke sini untuk liburan adalah orang berkuasa. Duduk di pantai dengan payung besar sambil berjemur, benar-benar sangat menyenangkan.
__ADS_1
Saat sampai di area penjemputan, orang-orang dari beberapa keluarga lain sudah sampai, hampir setiap keluarga yang datang ke pesta adalah generasi muda. Bagaimanapun, bisnis keluarga akan membutuhkan orang-orang muda untuk mengurusnya di masa depan. Sehingga tentu sangat baik kalau mereka berteman satu sama lain.
Ketika turun dari mobil, terlihat segerombolan orang yang duduk di paviliun dan berbicara sambil tertawa.
David dan Jenny dari Keluarga Kimberly serta Septian dari Keluarga Simton.
Melihat Arief dan Nita datang, beberapa orang segera menghampiri mereka.
Beberapa pria membelalakkan matanya ketika melihat Nita.
Cantik sekali! Dia benar-benar seperti bidadari.
Betul. Nita hari ini benar-benar sangat cantik dan memiliki aura yang elegan.
Walaupun Keluarga Kimberly termasuk keluarga kelas dua, tetapi memiliki banyak wanita cantik. Jenny dan Nita adalah contohnya.
Hanya David yang mendengus dingin. Sekarang posisi Nita sudah berada di atas, tetapi Arief tetap sama saja, seorang menantu tidak berguna.
Ucapan pertama David dipenuhi oleh sindirian. “Pakaian Arief hari ini tidak buruk juga. Ke mana pakaian pinggir jalanmu itu?”
Haha! Ucapannya membuat orang-orang tertawa.
Walaupun David tahu Arief jago bertarung, David juga yakin bahwa Arief tidak akan memukulnya di hadapan semua orang. Jadi, dia tetap berani menyindirnya beberapa kali.
“David. Ini adalah menantu tak berguna yang kamu bicarakan itu?”
“Tapi, seharusnya seorang menantu tak berguna tidak punya posisi, kenapa dia bisa ikut datang?”
Semua orang mulai heboh dan bahkan ada yang bertanya kepada David karena penasaran.
David tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Semua karena mengandalkan istrinya, bukan? Kalau tidak, dia bukan siapa-siapa.”
Ucapannya membuat beberapa anggota keluarga yang lain tertawa.
Arief hanya mendengus dingin dan tidak peduli.
Karena sudah berjanji kepada istri untuk tidak berbicara, dia harus menahan diri dan menganggapnya angin lalu.
Nita yang berada di samping ternyata tidak menahan diri dan berkata dengan ekspresi dingin, “Arief, kita semua datang untuk bersantai. Apakah ucapanmu bisa dijaga?”
Jenny yang berada di samping juga tidak tega, dia lalu mengerutkan keningnya dan berkata, “David, kurangi bicaranya. Kita adalah satu keluarga.”
Betul. Keluarga Kimberly harus satu hati dan tidak boleh bertengkar di hadapan keluarga yang lain.
David langsung berjalan ke samping dengan mulut cemberut.
Saat ini, seorang anak muda yang memakai jas berjalan kemari sambil tersenyum. Dia mengulurkan tangan kepada Nita, “Halo, Nona Nita. Namaku Heno Wijaya. Tuan Muda kedua dari Keluarga Wijaya. Aku sudah mengagumi Nona Nita sejal lama, Hari ini akhirnya bisa bertemu langsung.”
Anak muda ini terdengar sedikit gagap.
Setelah mendengar penjelasannya, Arief yang sedang minum air langsung muncrat!
Haha!
Hewan Wijaya?
__ADS_1
Haha! Nama anak muda ini benar-benar sangat lucu. Siapa yang memberinya nama ini? Haha.