Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 92 Tidak Sopan


__ADS_3

Namun sekarang, mereka sudah terlambat untuk menyesalinya.



Lewat jendela bus, mereka bisa melihat jelas, Nita, Debora, Fransiska dan Ester terikat di pohon.



Pohon besar ini berumur ratusan tahun, batang pohonya berdiameter minimal sepuluh orang manusia dewasa. Daun yang rimbun seperti payung besar, akar di bawah tanah juga sangat banyak.



Melihat empat orang wanita cantik ini diikat, Tiko berdua sangat bersemangat dan diam-diam menelan ludah. Mereka merasa sangat senang dalam hati.



Pada saat ini, Tika yang berada di dalam mobil juga sangat panik.



Mereka bertiga sudah membuat rencana yang detail untuk pergerakan kali ini. Mereka bahkan sudah menghitung waktunya dengan jelas, maksimal setengah jam.



Siapa sangka, kedua kakaknya ini tiba-tiba bersikap cabul.



Sebagai adik, Tiko juga tidak berdaya. Dia berkata dengan kesal, “Kakak, kalian cepatan.”



Arief mengepalkan tangannya. Ketika mendengar Tika berbicara, dia tahu kesempatannya telah datang. Dia langsung berdiri, lalu menyerang Tika dengan kecepatan penuh.



Pada saat yang sama, Niko juga berdiri.



Bam!



Tinju yang keras mengenai tubuh Tika. Diikuti suara getaran yang besar, Tiko langsung terpental ke luar bus dalam keadaan tidak sempat merespons.



Pada saat yang sama, Niko segera berlari keluar, kemudian mengambil pistol yang dijatuhkan oleh Tika.



Pong!



Tika terjatuh ke tanah dengan keras, kemudian memuntahkan darah segar.



Dia tidak pernah menyangka bahwa ada yang berani melawan.



Setelah dipukul oleh Arief, dia merasakan sakit di bagian dada, kemudian langsung pingsan.



“Kakak, sepertinya terjadi sesuatu dengan adik!” Tiku yang panik langsung berbicara dengan lancar.



“Cepat pergi lihat!” Tiko segera berlari kemari. Ketika melihat adiknya pingsan, dia langsung marah besar.



Karena orang tua mereka telah meninggal, mereka bertiga hidup bersama. Mereka sudah saling mengandalkan sejak kecil, sehingga memiliki hubungan yang erat.



“Sialan! Hari ini, kalian harus mati semua. Kalian tidak boleh hidup!” teriak Tiko. Dia segera mengeluarkan pistol, lalu menembak ke arah Arief.



“Pong! Pong! Pong!”



Kaca jendela bus langsung pecah. Orang-orang di dalam bus sangat ketakutan, mereka segera berjongkok ke lantai.



Arief mengepalkan tangannya, lalu berlari ke luar.



Kalau tidak keluar sekarang, maka pasti ada yang mati! Dua orang itu sudah menggila, mereka tidak bisa bersembunyi lagi.



“Pong!”



Salah satu peluru menembus bahu Arief. Setelah itu, darah pun mengalir ke luar.



“Arief!”



Mata Niko langsung memerah. Dia segera berlari, lalu melayangkan kedua tinjunya.


__ADS_1


“Bam! Bam!”



Dua tinju itu mengenai kepala dua orang kakak beradik itu, kekuatan yang besar membuatmereka langsung pingsan.



Niko sangat terkenal di dunia premanisme, dia terkenal dengan kemampuan bertarung dan membunuhnya. Dia juga seorang kultivator yang berada di Tingkat Guru tahap kelima!



“Arief, kamu tidak apa-apa, ‘kan? Kamu harus bertahan!” Niko memeluk Arief dengan kedua matanya yang memerah.



Dia tidak boleh kehilangan seorang sahabat yang baru saja dikenalnya.



Wah.



Melihat adengan ini, semua orang di dalam mobil langsung bengong, mereka tidak bisa merespons untuk waktu yang lama.



Pada saat ini, Hendry segera turun dari bos, dia lalu berlari ke arah pohon besar. Sambil berlari, dia terus berteriak, “Debora, Debora, jangan takut. Aku datang menyelamatkanmu!”



Ketika sampai di depan pohon besar, Hendry merasa lega begitu melihat pakaian Debora masih rapi.



Untung saja, mereka masih belum ternoadai.



Hendry segera melepaskan ikatan mereka, dia lalu berkata sambil tersenyum, “Debora, kamu pasti ketakutan, ‘kan? Tenang saja, aku sudah datang.”



Debora sangat terkejut. Dia menatap Hendry dan bertanya, “Ke mana tiga perampok itu?”



Bagaimana Hendry bisa berlari ke sini? Musuh mereka memegang pistol di tangan.



Lalu, mereka juga mendengar suara tembakan tadi.



Hendry menepuk dada dan berkata, “Aku tentu saja harus melawan mereka begitu melihat kamu ditangkap. Arief dan Niko termasuk baik hati, mereka juga membantuku. Jadi, aku berhasil mengalahkan tiga orang itu. Debora, kamu bisa menyerahkan tiga orang perampok itu ke kantor polisi, sehingga bisa mendapatkan jasa besar.”



“Hendry, terima kasih!” ucap Debora dengan pelan. Dia merasa terharu, lalu segera memeluk Hendry. Dia menggigit bibir dan berbisik, “Hendry, kamu berani sekali!”




Nita yang berada di samping menunjukkan ekspresi masam. Tadi, Nita mengira Arief yang datang menyelamatkannya.



Namun tidak disangka, orang yang datang adalah Hendry.



Di dalam bus, bibir Arief sudah menjadi pucat.



“Arief, kamu tidak akan apa-apa, kamu harus bertahan,” ucap Niko dengan panik.



“Arief? Kamu kenapa?” Nita langsung tercengang begitu melihat situasi di depan mata.



Bukankah Hendry sudah mengalahkan tiga perampok itu?



Kenapa Arief bisa terluka?



Arief merasa bagian dadanya sangat sakit, dia bahkan kesulitan untuk bernapas ataupun berbicara. Dia hanya bisa tersenyum untuk mengisyaratkan dirinya baik-baik saja.



Namun, darah segar sudah membasahi pakaiannya dan mengalir ke lantai.



Hendry justru berkata dengan santai, “Kemampuannya cukup buruk. Dia sengaja memprovokasi para perampok itu, sehingga bisa terluka. Kalau tidak ada gangguan darinya, aku juga bisa mengalahkan ketiga perampok itu.”



Dia berkata dengan ambigu untuk menutupi kebenarannya.



Nita tidak bertanya lagi, dia hanya menghela napas dalam hati.



Niko langsung marah besar, dia menunjuk Hendry dan berteriak, “Sialan kamu! Diam kamu!”

__ADS_1



Bocah ini, dia terus bersembunyi di dalam bus ketika beberapa wanita ini ditangkap. Setelah semuanya aman, dia tiba-tiba keluar dan membual.



Apa-apaan ini?



Arief juga panik. Dia tahu kalau Hendry si bajingan ini mau berlagak hebat lagi.



Ketika Arief ingin berbicara, pandangannya menjadi gelap, dia pun pingsan.





Rumah Sakit Rakyat Kesatu Kota Malang.



Sebelumnya, ayahnya Arief terkena serangan jantung karena dibuat kesal. Setelah beberapa hari pengobatan, kondisi Ihsan sudah membaik. Namun, dia dipastikan tidak bisa keluar dari rumah sakit dulu, dia harus dirawat satu minggu lagi.



Setelah menjadi direktur rumah sakit, Lisa sangat berterima kasih kepada Arief. Lisa juga sering menjenguk orang tua Arief, dia bahkan memberikan bangsal terbaik untuk mereka. Kalau ada waktu, dia akan datang menemani mereka.



Sore ini, ketika mereka baru bangun tidur siang, terdengar suara ketukan pintu.



Sita pergi membuka pintu dengan senang, karena mengira Lisa datang. Namun ketika pintunya terbuka, dia melihat beberapa orang masuk dengan pipa baja. Orang yang memimpin mereka adalah Doni.



“Dasar tua bangka! Apakah kalian layak tinggal di kamar yang begitu mewah?” teriak Doni.



Bangsal ini mungkin adalah bangsal terbaik di seluruh rumah sakit ini. Di dalamnya bahkan terdapat televisi.



Ihsan menunjukkan ekspresi dingin. “Apa yang kamu lakukan di sini? Kalau mencari anakku, keluarlah! Dia sudah beberapa hari tidak datang ke sini.”



Bagaimanapun, dirinya masih merupakan seorang senior. Kenapa Doni tidak memanggilnya Paman? Tidak sopan sama sekali.



Doni tersenyum dan berkata, “Kenapa aku harus bertemu dengan sampah itu? Aku datang mencari kalian!”



Setelah melontarkan ucapannya, dia berkata kepada beberapa pengawal di belakangnya, “Cepat! Ikat kedua tua bangka ini!”



“Doni, kamu sudah keterlaluan!”



Wajah Ihsan menjadi sangat merah, dia batuk dua kali dan memelototinya. “Kamu tidak punya sopan santun ketika bertemu dengan senior. Kamu bahkan membawa orang-orang datang membuat kekacauan, pergi dari sini!”



Namun, beberapa pengawal itu sudah maju dan menangkap mereka berdua.



Pada saat ini, pintu bangsal tiba-tiba terbuka. Lisa yang memakai jubah putih berjalan masuk. Dia berkata dengan kesal, “Apa yang kalian lakukan? Di sini bangsal rumah sakit, bukan jalanan!”



Walaupun mengenakan jubah dokter, tubuh Lisa yang indah tetap tidak bisa tertutupi.



Doni terus menatap Lisa. “Bu Lisa … oh bukan, seharusnya aku memanggilmu Direktur Lisa! Setelah beberapa tidak bertemu, Direktur Lisa semakin memesona. Setelah menjadi direktur rumah sakit, aku tidak sempat memberikan ucapan selamat. Ayo kita makan bersama nanti!”



“Tidak mau!” jawab Lisa dengan dingin, “Cepat lepaskan mereka! Paman Ihsan tidak boleh marah dengan penyakitnya sekarang.”



Seorang direktur rumah sakit juga berani berlagak hebat?



Namun, dia tidak ingin terburu-buru, karena Doni pasti akan memiliki kesempatan untuk menanganinya.



Doni meludah ke lantai dan berkata, “Tidak mungkin melepaskan mereka. Tuan Besar inginbertemu mereka.”



Tuan Besar?



Tubuh Ihsan gemetar, dia bergumam, “Ayah … ayah sudah keluar?”



Doni menjawab dengan dingin, “Kakek sudah keluar dari pengasingan, apa hubungannya denganmu? Kalian bukanlah anggota Keluarga Burton, kakek menyuruhku menangkap kalian dan membawa kalian pulang. Dia ingin bertanya, bagaimana kalian bisa mendidik seorang binatang seperti Arief? Apakah kalian mengerti?”

__ADS_1



Setelah itu, beberapa pengawal itu segera menyeret mereka keluar.~~~~


__ADS_2