
Pong!
Tubuh Lukman menabrak meja kantor dan terjatuh ke belakang. Menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, dia tidak berani berteriak, dan menatap Novanto dengan ekspresi ketakutan. “Direk … Direktur Novanto, saya ….”
“Diam kamu!”
Novanto berteriak dan melanjutkan, “Lukman. Awalnya, aku masih berharap kepadamu, tetapi kamu justru mengecewakanku. Kamu juga tidak perlu duduk di jabatan direktur rumah sakit lagi.”
“Direktur Novanto ….”
Setelah mendengarnya, Lukman yang gemetar langsung terjatuh ke lantai.
Saat ini, Novanto pun melirik ke arah Lisa. “Sebagai dokter, kita harus selalu mengutamakan keselamatan pasien. Kamu sudah melakukan hal yang tepat. Mulai sekarang, kamu akan menjadi direktur rumah sakit ini.”
Ah?
Lisa tertegun dan merasa kedua kakinya menjadi lemas.
Awalnya, dia sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk. Siapa sangka situasinya berubah secepat ini.
Selain tidak kehilangan pekerjaan, dia justru menjadi direktur rumah sakit?
Kebahagiaan datang terlalu tiba-tiba dan membuatnya tidak sempat merespon.
Novanto menoleh ke arah Arief, dia lalu berkata sambil sambil tersenyum, “Masalahnya sudah diselesaikan. Apakah Tuan Arief puas?”
Arief mengangguk dan berkata sambil tersenyum, “Direktur Novanto memang sangat adil. Masalah ini diselesaikan dengan tepat.”
Walaupun baru kenal, tetapi Arief cukup mengagumi cara penyelesaian masalah Novanto. Sekarang, kesannya semakin membaik.
Novanto tersenyum. Setelah melirik sekeliling, dia berkata dengan sopan, “Kita tidak bisa berbicara di sini. Silakan Tuan Arief ikut ke rumah saya.”
Arief tidak ragu dan langsung mengangguk. “Baik.”
Dia pun berdiri dan berjalan keluar dari ruangan dengan Novanto.
Walaupun ayahnya masih berada di bangsal, Arief tidak perlu khawatir karena ada ibunya serta Lisa yang sudah menjadi direktur rumah sakit ini.
Seketika, Lisa merasa kedua kakinya lemas ketika menatap punggung Arief. Dia sangat kagum dengan pria ini dan hampir saja ingin berlutut.
…
Pinggiran barat Kota Malang. Dalam sebuah kompleks mewah, di tepi danau yang berkilauan, berdiri sebuah rumah antik tiga lantai.
Walaupun tidak berada di pinggir pantai, pemandangannya tetap sangat indah.
Bangunan ini adalah tempat tinggal Novanto.
Pada saat ini, Arief datang bersama dengan Novanto.
Di ruangan lantai tiga, Arief langsung duduk di sofa. Dia mengeluarkan sebuah Pil Dewa dari sakunya dan diletakkan di meja.
Kedua mata Novanto berbinar, dia kemudian mengambil Pil Dewa dan memperhatikannya, “Inikah yang dinamakan Pil Dewa?”
“Betul! Setelah menelannya, Guntur berhasil menembus hambatannya,” ucap Arief sambil tersenyum.
__ADS_1
Novanto tersenyum dan berkata, “Aku masih tidak percaya ketika mendengar cerita Guntur. Anak muda seperti kamu bisa menciptakan pil yang begitu ajaib. Tetapi setelah dilihat, Tuan Arief sepertinya bukan orang biasa.”
Setelah itu, Novanto melambaikan tangan dan menyuruh asistennya untuk mentransfer uang kepada Arief. Dia pun berkata, “Huh, sudah lima tahun! Kultivasiku tidak bisa berkembang selama lima tahun. Hari ini akhirnya bisa terbayarkan.”
Arief tersenyum tanpa mengatakan sepatah kata pun, sambil mengagumi dekorasi ruangan yang sangat indah, dan pada saat yang sama mengamati tata letak seluruh rumah ini.
Arief mengerutkan kening saat melihat akuarium di dekat tangga di lantai tiga.
“Direktur Novanto, apakah kamu biasanya berkultivasi di sini?” tanya Arief.
Novanto mengangguk. “Betul. Lingkungan di sekitar sini sangat baik dan tenang.”
Arief mengangguk dan berkata, “Mungkin saja, aku tahu kenapa Direktur Novanto tidak bisa menembus hambatannya.”
Novanto pun tertegun. Dia segera bertanya, “Oh iya? Coba jelaskan.”
Arief menunjukkan ke akuarium dan berkata, “Seluruh fengsui di bangunan ini sangat bagus, tata letaknya juga sangat baik, tetapi ada sebuah masalah utama.”
Akuarium?
Novanto terlihat kaget. “Tuan Arief mengerti fengsui juga?”
Walaupun terkejut, Novanto tetap setengah percaya.
Walaupun Novanto tidak mengerti fengsui, dia memang mengundang ahli fengsui terbaik ketika membangun bangunan ini.
Seluruh tata letak dan bangunan dibangun berdasarkan arahan ahli fengsui itu.
Karena itulah bisnis Novanto semakin besar dan statusnya juga semakin meningkat. Dia bahkan berhasil menjadi pejabat pemerintahan.
“Betul!” Novanto mengangguk.
Arief melanjutkan, “Akuarium ini baru diletakkan kemudian, benar?”
Novanto terkejut. Dia kembali mengangguk, “Betul, Tiga tahun lalu, seorang rekan bisnis memberikannya kepadaku.”
“Betul! Akuarium ini yang merusak seluruh tata letak dan mengacaukan fengsui bangunan ini. Hal ini menyebabkan aura di dalam rumah menipis, sehingga Direktur Novanto tidak akan berhasil jika berkultivasi di sini.”
Arief tersenyum dan berkata dengan perlahan.
Saat ini, Novanto menganga dan terlihat kaget.
Anak muda ini bahkan tahu kalau akuarium diletakkan kemudian hari, dia benar-benar luar biasa.
Arief tentu saja tidak asal bicara. Setelah beberapa waktu, semua isi buku “Fengsui Langit dan Bumi” telah melekat di benak Arief.
“Kalau begitu, apakah aku hanya perlu membuang akuarium ini?” tanya Novanto yang baru sadar kembali.
Arief mengangguk. “Betul. Setelah membuang akuariumnya, Direktur Novanto bisa mencoba untuk berkultivasi dan merasakan apakah lebih lancar atau tidak.”
Setelah mendengarnya, Novanto segera menyuruh orang untuk membawa akuarium ini pergi. Kemudian dia segera duduk bersila.
Setelah mulai mengolah energi dalam tubuhnya, Novanto sangat terkejut karena sama seperti yang diucapkan oleh Arief.
“Baguslah! Awalnya, aku mengira ada masalah dengan kultivasiku sendiri. Ternyata setelah Tuan Arief datang, langsung bisa melihat sumber masalahnya.”
__ADS_1
Setelah memujinya beberapa kali, Novanto segera masuk ke kamar di samping dan mengeluarkan sebuah kitab rahasia.
“Tuan Arief, aku sangat bangga bisa berkenalan denganmu. Buku Tebasan Api ini, aku dapatkan secara tidak sengaja beberapa tahun lalu. Aku akan memberikannya kepadamu sebagai tanda terima kasih,” ucap Novanto sambil memberikan bukunya kepada Arief.
Saat ini, asisten Novanto juga sudah mentransfer uangnya.
Melihat pesan singkat di ponsel, Arief pun tersenyum dan menerima kitab rahasia itu. Dia pun berkata kepada Novanto, “Aku juga senang bisa kenal dengan Direktur Novanto. Tapi aku ada urusan lain, jadi aku undur pamit diri dulu.”
Siang hari.
Cuaca yang semakin panas. Di jalan Kota Malang, para muda mudi sedang berdiskusi ke mana mereka akan main air.
Arief mengemudikan mobil dan membuat banyak gadis mengeluarkan ponsel untuk memotretnya.
Kediaman Keluarga Burton.
Setelah memarkirkan mobilnya, Arief berjalan masuk.
Hari ini ada acara keluarga, sehingga suasana sangat ramai. Namun, detik ini, seluruh ruangan menjadi sunyi.
Semua orang melihat ke arah pintu masuk dan melihat Arief berdiri di sana tanpa ekspresi.
“Binatang! Kamu masih berani pulang! Ayahmu benar-benar tidak mengajarimu dengan baik!” Entah siapa yang berteriak, sehingga suasana vila menjadi sangat heboh.
Jeslin meletakkan alat makan dan berjalan kemari dengan sepatu hak tingginya. “Arief, dasar binatang kamu! Kamu bahkan berani melakukan hal tidak senonoh, Keluarga Burton kami tidak menerimamu, pergi!”
“Betul. Cepat pergi!”
“Keluarga Burton benar-benar sangat malu memiliki orang sepertimu.”
Arief mengepalkan tangannya dan melihat ke arah Jeslin. Setelah itu, dia melihat ke yang lain dan berkata dengan nada dingin, “Aku hanya ingin bertanya, kenapa orang tuaku bisa pingsan? Lalu bagaimana mereka bisa ke rumah sakit?”
Jeslin tidak bisa menahan tawanya. “Kamu masih berani bertanya? Semua karena perbuatan anak baik seperti kamu! Kamu harus bersyukur karena kami telah membawa mereka ke rumah sakit.”
Sangat marah!
Kedua mata Arief memerah. “Kalian membiarkan mereka begitu saja di rumah sakit? Mereka adalah orang tuaku! Kalian bisa menyerangku, apa hubungannya dengan orang tuaku?”
Jeslin berkata dengan dingin, “Arief. Kenapa kamu berteriak? Apakah kamu masih berani membicarakan hal ini? Apakah perbuatanmu itu masih perbuatan manusia? Yanto menganggapmu sebagai Kakak sendiri, bagaimana kamu memperlakukannya? Menodai adik ipar sendiri, kamu lebih jahat dari binatang!”
“Baik. Kalian bilang aku menodai Dewi, apa buktinya?”
“Bukti?”
Jeslin tersenyum dingin.
Pada saat ini, Doni berkata dengan ekspresi dingin. “Arief, kamu tidak perlu berpura-pura lagi. Saat Dewi ternodai, kami menemukan cermin fengsui di dalam kamarnya.”
Ucapan Doni membuat semua orang heboh kembali.
“Saat berada di pernikahan Yanto, kamu bilang Novia pingsan karena cermin fengsui itu.”
“Seluruh Keluarga Burton hanya kamu seorang yang tahu cara penggunaan cermin fengsui. Kalau bukan kamu yang menggunakan cermin fengsui untuk membuat Dewi pingsan, siapa lagi?”
“Arief. Kamu jangan berpura-pura lagi. Jijik!”
__ADS_1