Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 77 Tidak Sanggup Menerimanya


__ADS_3

Cuaca Kota Malang sangat aneh. Pagi hari panas dan malam hari dingin.


Namun, ada satu tempat yang walaupun panas, tetap sangat ramai pengunjung.


Panca Heritage.


Betul, di depan Panca Heritage terdapat banyak penjual barang antik pinggir jalan. Banyak pecinta barang antik berkumpul di sini untuk mendapatkan barang bagus harga murah. Kalau mereka bisa mendapatkan satu saja, kehidupan mereka akan lebih baik.


Para pembeli dan penjual saling tawar menawar harga.


Terdengar suara mesin mobil yang terparkir. Arief turun dari mobil dan melihat sekeliling. Setelah memastikan tidak ada barang bagus, dia langsung naik ke atas. Ketika sampai di lantai atas Panca Heritage, Fransiska sudah menunggunya dari tadi.


Melihat dia datang, Fransiska segera menyambutnya dengan senyuman dan bertanya, “Kenapa kamu tiba-tiba ingin membaca buku tentang senjata?”


Fransiska merasa aneh. Di industri barang antik, senjata kuno termasuk lebih kurang peminat. Kenapa Arief mau meneliti tentang senjata?


Arief tersenyum dan berkata, “Tidak ada yang penting. Hanya saja belakangan ini aku tertarik dengan senjata zaman kuno.”


Fransiska mengiyakan, lalu menggigit bibir bawah dan berkata, “Hari itu, Ayahku sedikit berlebihan. Jangan masukkan ke hati.”


Setelah selesai bicara, wajah Fransiska sudah tersipu malu.


Dia pasti akan tersipu malu ketika mengungkit hal ini. Tiga wanita diikat dan Arief berada di hadapan mereka. Siapa pun akan salah paham ketika melihat pemandangan ini.


Arief menunjukkan ekspresi santai. “Tenang saja, aku sama sekali tidak masukkan ke dalam hati.”


Selanjutnya, Arief pun bertanya, “Apakah Paman masih salah paham sampai sekarang?”


Fransiska membuka sedikit mulutnya, kemudian mulai merasa tidak tenang ketika teringat ucapan ayahnya.


Ayahnya bilang dia boleh bersama Arief, tapi Arief harus cerai dengan Nita. Arief tidak boleh memiliki hubungan dengan wanita lain ….


Fransiska langsung merasa malu dan jantung berdetak cepat ketika membayangkan kembali ucapan ayahnya.


Apakah dirinya … jatuh cinta kepada Arief?


Menahan pemikiran yang kacau, Fransiska berkata, “Ayahku tidak salah paham lagi, karena sudah dijelaskan.”


Arief bertanya sambil tersenyum, “Bagaimana kamu menjelaskannya?”


“Aku … aku menjelaskannya dengan jujur.”


Saat ini, Fransiska terlihat sangat tegang dan tampak seperti wanita yang malu. Dia benar-benar sangat memesona.


Haha. Ternyata Fransiska begitu cantik ketika sedang tersipu malu.


Arief tersenyum dan ingin melanjutkan candaannya. Namun, ketika menyadari orang-orang di sekitar, dia pun terdiam kembali.


Apa yang terjadi?


Apa yang terjadi antara Nona dengan Arief? Kenapa Nona seperti menjadi orang lain?


Saat ini, penanggung jawab Panca Heritage, Hidayat, melihat ke sini dengan bengong.

__ADS_1


Perlu diketahui, Fransiska selalu bersikap dingin dan tidak tersenyum ketika berada di hadapan para karyawan.


Namun, dia terlihat sangat pemalu di depan Arief.


Apakah nona jatuh cinta kepada pria ini?


“Kalau tidak ada urusan lain di toko, aku akan pergi dulu.” Saat ini, Arief juga menyadari ada yang salah dan segera berpamitan dengan Fransiska.


Fransiska pun mengangguk. “Baik.”


Arief mengangguk dan berjalan keluar dari Panca Heritage.


Sampai di luar, teleponnya tiba-tiba berdering ketika dia ingin menyalakan mobil.


Arief mengerutkan kening ketika melihat nomor asing yang meneleponnya.


“Kak Arief, ini aku, Luntoro.” Setelah tersambung, Luntoro berkata dengan antusias, “Kak Arief, teman-teman semua sudah mengumpulkan banyak Bunga Dua Warna, bagaimana aku bisa menyerahkannya kepadamu?” Luntoro berkata dengan sopan dan sedikit panik.


Oh oh, ternyata membuat penawar.


Arief pun mengangguk dan menyuruhnya datang ke Perusahaan Net Media. Bunga Dua Warna adalah barang bagus. Selama punya bahan ini, dia bisa menciptakan banyak pil lain. Seperti Pil Berjalan Cepat dan Pil Penidur yang membutuhkan Bunga Dua Warna.


Di ruangan presiden direktur, Arief tersenyum lebar di depan mejanya.


Hebat. Mereka membawa puluhan Bunga Dua Warna.


Sepertinya Luntoro tidak membual. Ternyata ada tempat yang menghasilkan Bunga Dua Warna.


Arief segera mulai sibuk.


Arief menyimpan puluhan pil yang telah selesai dimurnikan sambil mengelap keringatnya.


“Kak Arief, kamu adalah penyelamat kami!” Setelah mendapatkan penawar dari Arief, Luntoro hampir saja menangis saking semangatnya.


Lalu, dia mengeluarkan sebuah plakat giok kecil. “Kak Arief, ini adalah plakat giok milik ketua sekte cabang di Sekte Minglahi. Ini merupakan bukti identitas ketua sekte cabang. Aku lupa memberikannya kepada Kak Arief saat terakhir kali bertemu. Kak Arief harus menyimpannya dengan baik. Kalau bertemu orang dari Sekte Minglahi, Kak Arief bisa mengeluarkan plakat giok ini agar tidak terjadi salah paham.”


Arief mengangguk dan menyimpannya. Dia kemudian menepuk pundak Luntoro dan berkata, “Cepat pergi selamatkan teman-teman lain.”


Luntoro mengangguk dan segera pergi dari sini.


Arief segera membuka buku “Alkimia Tak Terbatas” ketika Luntoro pergi. Sekarang dia sudah punya bahannya, dia ingin mencari tahu Bunga Dua Warna bisa membuat pil apa saja.


Petang hari, Keluarga Kimberly.


Nita dan Shinta duduk di sofa.


Karena cuaca yang panas, mereka memakai rok pendek dan sedang makan es krim.


Nita berkata, “Shinta, aku tidak menyangka kamu tiba-tiba menjadi bos dari perusahaan real estat. Kamu kenal orang hebat dari mana yang memberimu investasi?”


Nita sangat memahami kondisi Shinta.


Walaupun kondisi keluarganya tidak buruk dan memiliki koneksi di Kota Malang, Nita tetap tidak bisa percaya Shinta bisa mendirikan perusahaan real estat sebesar ini secara tiba-tiba.

__ADS_1


Kedua mata Shinta terlihat rumit, dia pun tersenyum dan berkata, “Seorang teman yang baru kenal.”


Dia juga tidak berani bilang kalau orang hebat itu adalah Arief.


“Kalau ada kesempatan, jangan lupa kenalkan kepadaku,” ucap Nita yang tidak memperhatikan ekspresi Shinta.


Shinta langsung merasa canggung. Dia berusaha tersenyum dan menjawab, “Ba … baik.”


Saat ini, Heny juga menghampiri mereka, dia memakai celana jins yang terlihat dewasa dan seksi. Dibandingkan dengan Shinta dan Nina, dia sama sekali tidak kalah. “Shinta, ayo makan buahnya. Masa depanmu sangat cerah sekarang, kamu langsung menjadi bos Perusahaan Angin.”


“Bibi jangan bercanda. Aku juga hanya pekerja saja. Bosnya orang lain,” ucap Shinta.


Heny juga tidak peduli dan berkata, “Sama saja, Nita juga sama, bukan? Walaupun dia mengendalikan bisnis Keluarga Kimberly, dia tetap bekerja untuk keluarganya sendiri.”


Walaupun berkata begitu, ekspresi Heny tetap saja bangga.


Shinta tersenyum. Ketika ingin menjawab, Arief sudah pulang dan masuk ke dalam.


Setelah membaca buku sepanjang sore, matanya pun buram. Namun, dia sangat senang karena Bunga Dua Warna benar-benar barang bagus. Bunga ini merupakan bahan untuk membuat puluhan jenis pil.


Nita terlihat senang. “Arief, kamu sudah pulang.”


Arief mengangguk dan berkata, “Shinta datang, kalian lanjut ngobrol saja.” Setelah itu, dia langsung naik ke atas.


Shinta menghela napas diam-diam dan duduk kembali.


Justru Heny yang merasa tidak senang. Setelah melihat Arief naik ke atas, dia langsung cemberut, “Kenapa dengan Arief? Kenapa dia berbicara dengan Shinta seperti itu? Tidak tahu sopan santun. Kenapa dia tidak menuangkan minum untuk Shinta? Benar-benar sudah dimanjakan.”


Sejak mendapatkan kalung seharga puluhan miliar dari Arief, sikap Heny terhadap Arief sedikit berubah. Namun, dia tidak sepenuhnya berubah.


Arief benar-benar tidak tahu diri. Melihat Shinta berkembang dengan baik, kenapa dia tidak menuangkan minuman untuk melayaninya.


“Bibi, tidak apa-apa. Aku tidak mau minum,” ucap Shinta.


Menyuruh Arief melayani dirinya? Bercanda!


Sampai di kamar tidur, Arief segera mengeluarkan buku catatan tentang senjata yang diberikan oleh Fransiska.


Buku ini sudah tua dengan kertasnya yang sudah menguning. Di atasnya tertulis dua kata, “Senjata Kuno.”


Ketika membuka buku dan ingin mencari tentang Pedang Haus Darah, dia langsung mendengar suara pintu terbuka.


Heny yang seksi masuk ke dalam dan memelototi Arief, “Arief, besok pergi beli dua buah baju baru. Jangan selalu berpakaian lusuh seperti ini. Nita sekarang adalah Direktur Utama dari perusahaan Keluarga Kimberly. Jangan mempermalukannya.”


“Oh.” Arief pun mengangguk.


Setelah melihat ekspresinya, Heny terlihat tidak senang, “Keluarga Sutopo mengadakan acara tamasya. Puluhan keluarga akan ikut turut serta. Lebih baik kamu berpakaian yang rapi dan jangan mempermalukan Nita. Ini peringatan terakhir kali


 dariku.”


Keluarga Sutopo?


Arief pun teringat tunangannya Debora, Hendry Sutopo.

__ADS_1


Keluarga mereka mengadakan acara tamasya?


“Dengar tidak?” Heny mulai kesal, “Lihat pakaianmu ini! Tidak ada yang benar! Kamu hanya tahu mempermalukan Nita.”


__ADS_2