Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 75 Tidak Tahu Malu


__ADS_3

“Luka … lukamu ….”


Saat ini, Debora segera menghampirinya dan bertanya dengan perhatian.


“Tidak apa-apa.”


Arief menggelengkan kepalanya dengan ekspresi santai.


Sebenarnya Arief juga berusaha menahannya.


Ketika menghunuskan Pedang Haus Darah, lukanya kembali tertarik dan terasa sangat sakit.


Debora mengangguk dan tidak berbicara lagi. Namun, tatapannya penuh kekhawatiran dan dia pun membawa anak kecil itu masuk ke dalam mobil.


Ketika masuk ke dalam mobil, rasa sakit di bahunya kembali terasa. Arief berteriak dalam hati. Peluru ini sudah terlalu lama berada di dalam tubuhnya. Kalau tidak segera dikeluarkan, dia akan kehilangan banyak darah.


Sambil berpikir, Arief tidak menyalahkan mobil, melainkan membuka perban di bahunya. Lalu, dia mulai mengerahkan tenaga dalam dan memaksa pelurunya keluar.


Ketika pelurunya berhasil dikeluarkan, tubuh Arief gemetar dan terus berkeringat dingin. Sialan, untung dirinya sudah menjadi kultivator. Kalau tidak, dia pasti akan lumpuh karena tidak segera mengeluarkan pelurunya itu.


Debora yang berada di samping sangat khawatir, dia ingin membantunya tetapi tidak berani. Karena hari sudah malam, dia juga tidak bisa melihat dengan jelas. Dia membiarkan Arief melakukannya sendiri karena takut melukai Arief.


Setelah itu, Arief pun menyalakan mobilnya.


Lewat kaca belakang, dia menyadari anak kecil itu sedang memegang kunci mobil dan ada sebuah boneka kecil di tangan kirinya. Dia sedang mengikatkan boneka ke kuncinya.


Arief yang penasaran pun bertanya sambil tersenyum, “Adik, apa yang kamu lakukan?”


Anak kecil itu menjawab dengan serius, “Terima kasih kakak sudah menyelamatkanku. Ini adalah mainan kesukaanku. Aku selalu membawanya ke mana pun aku pergi. Sekarang, aku berikan kepada kakak. Boneka ini bisa melindungimu.”


Setelah mendengar ucapan yang begitu romantic, Debora yang berada di samping tersenyum lembut sambil mengelus pelan kepala anak itu.


Suasana di dalam mobil menjadi sangat terharu, tidak seperti baru melewati kondisi berbahaya.


Namun, Arief juga penasaran.


Kalau bertemu hal seperti ini, anak kecil biasanya pasti akan ketakutan.


Namun, anak kecil ini selain sedikit panik, dia ternyata sangat tenang.


Apakah mental semua anak kecil begitu hebat sekarang?


Setelah anak kecil itu berhasil mengikat bonekanya, Arief mengambil kuncinya dan menyalakan mobilnya.


Dia langsung putar balik dan turun ke bawah. Debora lalu bertanya dengan nada lembut, “Adik, di mana rumahmu? Apakah kamu tahu jalan? Kami antar kamu pulang, ya?”


Anak kecil itu berpikir sebentar dan menjawab, “Antar aku ke depan bank saja. Aku bisa pulang sendiri.”


“Kenapa?” tanya Arief.


Debora juga bingung.


Anak kecil itu menunjuk luka di bahu Arief dan berkata, “Luka kakak harus segera diobati di rumah sakit. Aku … aku tidak ingin menunda waktu kakak.”


Ucapan ini membuat Arief dan Debora saling bertatapan dan tersenyum.


Anak sekecil ini sudah begitu pengertian. Sebenarnya siapa orang tuanya?


Arief yang merasa terharu pun tersenyum dan berkata, “Kakak tidak apa-apa. Kami antar kamu pulang dulu.”

__ADS_1


Anak kecil itu tetap bersikeras, “Tidak, luka kakak lebih penting.”


Sambil berkata, anak kecil itu menjelaskan, “Rumahku berada di sekitar bank. Keluargaku bisa datang membawaku pulang.”


“Ikuti saja. Aku akan memberi tahu petugas bank saat sampai di sana,” ucap Debora setelah berpikir sesaat.


Arief pun mengangguk. Saat ini, dia merasakan ponselnya bergetar. Ketika melihat pesan singkat dari Fransiska, Arief langsung mengabaikannya. Kalau tidak telepon, seharusnya bukan urusan darurat.


Kediaman Keluarga Salim.


Fransiska duduk di sofa sambil memegang ponselnya.


Kenapa dia … dia tidak membalasnya?


Fransiska menggigit bibirnya. Entah kenapa, dia hanya ingin berbicara dengannya.


Namun, setelah menunggu sekian lama dan tidak mendapatkan balasannya, Fransiska ingin meneleponnya, tetapi tiba-tiba merasa tidak enak.


Di depan bank.


Ketika mengantar anak kecil itu, Debora segera masuk ke dalam mobil. “Ayo ke rumah sakit, kita harus segera mengobati lukanya.”


Arief tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa, tidak usah ke rumah sakit. Aku juga sudah mengeluarkan pelurunya.”


Debora mengerutkan keningnya. “Tidak bisa! Bagaimana kalau infeksi?”


Sebagai seorang polisi, dia sangat tahu bahwa luka seperti ini akan infeksi kalau tidak segera diobati.


Arief tetap menunjukkan ekspresi tenang. “Tidak masalah.”


“Tidak bisa. Kita tidak boleh sembarangan dengan luka seperti ini.” Debora mulai panik. “Kenapa kamu tidak peduli dengan tubuhmu sendiri?”


Apakah dirinya terlalu perhatian?


“Tidak perlu, lagi pula dokter sudah pulang semua jam segini.”


“Tapi … lukamu juga harus diobati dulu.” Debora mengerutkan keningnya, setelah berpikir beberapa saat, dia lalu berkata, “Kalau tidak … datanglah ke rumahku. Aku akan mengobati lukamu.”


Arief tersenyum dan bercanda, “Kenapa kamu begitu peduli denganku? Apa kamu takut aku mati?”


“Aku ….” Debora tiba-tiba panik sendiri. “Bagaimanapun, kamu terluka karena aku ….”


Sekarang sudah malam, Debora juga tahu kalau seorang pria tidak boleh masuk ke rumahnya.


Namun, Arief sudah terluka parah dan butuh diobati. Lagi pula, Arief terluka karena dirinya.


Arief pun mengangguk. “Baiklah, tapi kamu harus menyetujui satu syarat sebelum aku ke rumahmu.”


“Apa itu?” tanya Debora.


Arief tersenyum dan berkata, “Panggil kakak yang baik.”


Debora tertegun dengan wajah memerah. Dia menghentakkan kaki karena marah, “Kamu ….”


Saat ini, Arief masih saja bercanda dengannya.


Namun sekarang, Debora terpaksa menurutinya dan memanggilnya, “Kakak yang baik.”


Arief pun tersenyum dan menyalakan kembali mobilnya.

__ADS_1


Debora merasa kesal sekaligus lucu.


Kenapa orang yang sudah dewasa ini masih seperti anak kecil? Dia masih bisa bercanda setelah tertembak.


Sampai di rumah, Arief duduk di sofa. Debora segera pergi mengambil kotak P3K dan lupa melepaskan sepatu hak tingginya.


Setelah menyiapkan perban, alkohol dan yang lainnya, Debora segera mendekat untuk memeriksa lukanya.


Tidak bisa dipungkiri kalau Debora sangat cantik.


Dilihat dari jarak sedekat ini, sambil mencium wangi Debora, Arief tiba-tiba terpesona.


Karena sering memakai seragam polisi, Arief tidak menyadari kalau perempuan ini sangat montok.


Merasakan tatapan Arief, wajah Debora pun memerah dan tiba-tiba dia menekan dengan kuat.


Shh.


Rasa sakit membuat Arief menarik nafas dalam-dalam. Dia berkata, “Apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin membunuhku?”


Wanita ini benar-benar kejam.


“Kalau matamu ke mana-mana lagi, aku akan mencungkil bola matamu.” Debora berkata sambil memelototinya.


Arief tampak tak berdaya, “Kamu sedang mengobati Lukaku. Tentu saja aku harus melihatmu, kalau tidak, aku harus lihat ke mana?”


“Tapi matamu ke mana tadi?” ucap Debora dengan kesal.


Arief adalah kultivator, sehingga harus perlu dibersihkan saja lukanya. Debora jongkok di lantai sambil membalut perbannya, dia pun menatap Arief dan bertanya dengan serius, “Apa yang kamu pikirkan waktu itu? Kenapa kamu tidak menghindar saat mau ditembak?”


Arief berpikir sebentar dan menjawab, “Orang lain akan tertembak kalau aku menghindarinya.”


Debora juga melihat mahasiswi itu. Dia bertanya hanya karena ingin tahu apa yang dipikirkan oleh Arief waktu itu.


Setelah mendengar jawaban Arief, Debora pun tertegun.


Menghadang peluru demi seorang mahasiswi yang tak dikenal. Seberapa besar keberanian yang dimilikinya?


Arief yang berada di depannya ini justru sering disindir dan ditertawakan. Nama Arief Burton adalah lelucon di Kota Malang.


“Kenapa menatapku seperti itu?” Merasakan tatapan Debora serta perubahan ekspresinya, Arief pun berkata, “Sebenarnya aku hanya manusia biasa dan tidak ada yang spesial. Satu yang spesial mungkin karena aku seorang kultivator.”


Debora menggelengkan kepalanya, “Tidak.  Di dalam hatiku, hari ini kamu benar … benar … seorang pria sejati.”


“Oh iya? Kamu jangan terlalu mengagumiku, aku sudah punya istri,” ucap Arief sambil tertawa.


Wajah Debora langsung memerah dan dia pun memelototi Arief.


Arief benar-benar tidak tahu malu.


“Sudah malam, aku mau tidur. Aku akan pergi mandi dulu. Kalau tidak, malam ini kamu tidur di sini dulu,” ucap Debora sambil berdiri.


Awalnya dia hanya ingin basa basi dan mengusir Arief.


Tapi siapa sangka, Arief justru mengangguk. “Baiklah. Aku akan tidur di sofa saja.”


Ah?


Debora menghentakkan kaki karena marah.

__ADS_1


Tidur di sini? Seorang pria tidur di rumahnya pada malam hari. Bagaimana dia menjelaskan kepada Hendry kalau ketahuan?


__ADS_2