Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 73 Bagaimana Mungkin!


__ADS_3

Melihat Debora berdiri, beberapa pria itu tertegun.


Mereka terus memperhatikan Debora dari atas ke bawah.


Sepatu hak tinggi, kemeja putih dan rok ketat. Wajahnya bahkan tidak kalah dengan artis.


“Aku polisi. Cepat letakkan senjata kalian!” ucap Debora dengan dingin.


Polisi?


Setelah itu, ekspresi pria singlet militer dan rekannya langsung berubah. Mereka segera saling bertukar tatapan dan mengepung Debora.


Sialan!


Arief merasa sakit kepala. Wanita ini benar-benar sangat hebat. Dia berani berdiri dengan tangan kosong.


Setelah menepuk keningnya, Arief pun berdiri dengan hati-hati dan diam-diam mengikutinya.


“Teman-teman, ikat dia!” teriak pria singlet militer itu. Haha, dia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan lain. Wanita ini benar-benar sangat cantik.


Seketika, beberapa perampok itu pun tersenyum jahat. Mereka segera mengambil tali dan bergerak ke arah Debora.


Wanita ini benar-benar membuat orang pusing.


Arief menghela napas dan bergegas maju.


“Debora, jaga orang-orang ini dan serahkan para perampok padaku.” Setelah itu, Arief langsung mengayunkan tinjunya.


Pong!


Perampok yang berlari paling depan tidak sempat merespon dan sudah terkena tinju Arief. Tubuhnya langsung terpental ke belakang dan kemudian terjatuh tak sadarkan diri.


Apa?


Dia pingsan hanya karena ditinju sekali?


Melihat situasi ini, orang-orang yang jongkok di lantai menarik napas dalam-dalam karena terkejut.


Bukankah dia adalah menantu tidak berguna dari Keluarga Kimberly?


Kenapa bisa sehebat itu?


Para perampok juga kebingungan.


Satu tinju bisa membuat orang pingsan?


Siapa sebenarnya anak muda ini?


Karena takut, beberapa perampok terlihat menelan ludah dan menunjukkan ekspresi waspada.


“Bos, kita ketemu orang kuat.”


Salah satu perampok berteriak kepada pria singlet militer itu.


Pria singlet militer itu langsung berteriak, “Sialan! Dia hanya sendirian, kenapa kalian harus takut? Cepat bunuh dia! Kita tidak punya waktu lagi dan harus segera membawa uang kabur dari sini.”


Berdasarkan rencana awal, seluruh proses hanya memakan waktu lima menit. Mereka sudah menunggu terlalu lama.


Kalau sampai polisi datang, mereka semua akan tertangkap.

__ADS_1


Setelah mendengarnya, beberapa perampok kembali percaya diri dan menyerang ke arah Arief. Arief hanya tersenyum dan tidak panik sama sekali.


Dengan tenaga dalam yang telah dilatih selama ini, ditambah Tinju Wing Chun yang sudah terlatih. Dia langsung mundur selangkah dan menendang ke depan.


“Ah!”


Salah satu perampok berteriak karena terkena tendangan ke arah perut. Dia meringkuk di lantai seperti seekor udang.


Arief langsung melayangkan kedua tinjunya lagi sebelum yang lain sempat bereaksi. Setiap tinjunya pasti akan menjatuhkan satu orang. Arief bisa mengalahkan para perampok ini dengan mudah.


Tidak sampai waktu satu menit, beberapa perampok sudah terjatuh di lantai dengan raut wajah menderita.


Apa?


Mereka semua tidak bisa mengalahkan seorang anak muda?


Pada saat yang sama, pria singlet militer juga sangat terkejut.


Pria singlet militer sangat mengerti kemampuan anak buahnya. Satu dari mereka bisa melawan dua sampai tiga orang preman jalanan. Apalagi kalau mereka bekerja sama, kekuatannya pasti akan meningkat drastis. Mereka hanya membawa satu pistol hari ini dan tidak akan digunakan kalau bukan saat-saat genting. Karena setelah menggunakan pistol, semuanya akan berbeda.


“Sialan! Berengsek, cari mati kamu!” teriak pria singlet militer itu. Sekarang, dia terpaksa menggunakannya.


Seketika, pria singlet militer mengangkat tangannya dan mengarahkan pistol ke arah Arief.


“Hati-hati!”


Debora yang sudah berkeringat dingin langsung berteriak.


Namun, Debora tahu Arief bisa menghindar dengan jarak seperti itu.


Seketika, Arief ingin segera menghindar karena tidak sulit. Namun, Arief pun menggertakkan gigi ketika melihat ke arah belakang. Dalam jarak dua meter, seorang perempuan sedang jongkok di sana, dia sepertinya seorang mahasiswa dan sedang gemetar di dekat konter.


Kalau Arief menghindar, maka peluru pasti akan mengenainya.


Dalam pertimbangan selama 0,01 detik, Arief memutuskan tidak menghindar.


Pada saat yang sama, Debora juga menyadari perempuan itu. Dia pun ikut gemetar dan panik.


Pria ini … menahan peluru demi seseorang yang tidak dikenalnya?


Seketika, Debora pun melihat ke arah Arief dengan tatapan yang berbinar.


Ketika Debora sedang berpikir, pria singlet militer menarik pelatuknya.


Pong!


Diikuti suara tembakan, Arief terhuyung ke belakang dan darah segar mengalir keluar dari bahu kirinya.


Rasa sakit ini membuat Arief menarik napas dalam-dalam. Namun, dia tetap menggertakkan gigi dan tidak mengeluarkan seluruh sakitnya. Setelah mundur beberapa langkah, dia menatap lurus pria singlet militer itu dan tersenyum. “Tembakanmu sepertinya tidak akurat.”


Sambil berkata, Arief merobek bajunya dan membalut lukanya.


Saat ini, seluruh lobi bank sangat sunyi.


Semua orang yang berjongkok di lantai menganga dan terlihat tidak percaya.


Para perampok yang sudah dikalahkan oleh Arief juga menganga.


Ini ….

__ADS_1


Pria ini sudah tertembak tetapi masih bisa tertawa?


“Kamu!” Debora menghentakkan kaki karena kesal. Kenapa dia masih mencoba memprovokasi pelakunya?


Sebenarnya, Arief kesakitan dan hanya berusaha menahan diri.


Namun, karena dia menelan Pil Kunlun dan menjadi seorang kultivator, daya tahan Arief lebih kuat dari orang awam. Dia memprovokasi pria singlet militer karena sedang memegang satu emas batangan.


Di depan konter bank terdapat banyak emas dan perak batangan. Para nasabah membelinya untuk investasi.


Dia melemparkan emas batangan itu dan mengenai tangan pria singlet militer, sehingga pistolnya pun terjatuh ke lantai.


“Kamu … kamu ….”


Pria singlet hitam juga membelalakkan matanya karena panik. Detik selanjutnya, dia langsung bergerak cepat dan menangkap seorang anak perempuan untuk dijadikan sandera. Dia juga mengeluarkan sebuah pisau untuk menahan leher wanita itu.


“Sialan! Mundur semuanya!”


Pria singlet militer berteriak dengan kedua mata yang memerah.


Anak kecil itu mulai menangis dengan keras.


Dia baru berumur 4-5 tahun dan sangat kecil. Saat ini, dia menangis dengan keras karena ketakutan dan tidak pernah bertemu hal seperti ini.


Sialan!


Setelah melihatnya, Arief langsung marah besar dan bergegas ke arahnya.


Dasar gila! Sialan! Kenapa mereka menggunakan seorang anak kecil sebagai sandera? Walaupun anak ini baik-baik saja, hal ini juga akan membuatnya trauma.


“Jangan mendekat atau aku akan membunuhnya! Mundur, mundur semuanya!” teriak pria singlet militer itu. Pada saat yang sama, pisaunya juga terus berada di leher anak kecil itu.


Saat ini, udara di sekitar mereka tampak mencekam. Selain para perampok, semuanya sangat tegang.


Mereka tidak pernah menyangka pimpinan para perampok ini bisa menggunakan seorang anak kecil sebagai sandera.


Arief menghentikan langkahnya dan mengepalkan tangannya.


“Haha, anak muda, bukannya kamu sangat hebat? Sangat jago? Kenapa takut sekarang?” tanya pria singlet militer dengan dingin. Dia melihat ke arah Debora, “Kamu juga! Ayo sini, coba maju selangkah lagi!”


Melihat semua orang terdiam, pria singlet militer tertawa terbahak-bahak.


“Cepat, cepat masukkan uangnya ke dalam mobil. Kita pergi dari sini.”


Anak buahnya segera mengambil uang dan bergegas keluar dari sini. Pria singlet militer terus menahan anak kecil itu dan menatap lurus ke Arief.


Sampai di luar, gerombolan perampok langsung masuk ke dalam mobil dan pergi ke arah pinggiran kota.


Ketika perampok pergi, semua orang di lobi bank menghela napas lega.


Debora langsung mengikutinya pergi tanpa ragu.


Ketika hampir sampai depan pintu, Debora kembali lagi. Dia berkata kepada Arief dengan panik, “Arief, apakah kamu bisa mengantarku untuk mengejar mereka?”


Ah?


Arief tak berdaya. Bahunya sampai sekarang masih berdarah.


“Cepat telepon kantor polisi sekarang. Kita berdua saja tidak cukup,” ucap Arief.

__ADS_1


Dia juga ingin menyelamatkan anak kecilnya, tetapi masalah ini tidak sesederhana itu. Sekarang mereka membutuhkan akal sehat, supaya tidak membahayakan nyawa mereka sendiri.


“Tidak bisa. Kita harus segera mengikuti mereka.” Debora menghentakkan kaki karena panik. “Kalau tidak, kita akan kesulitan untuk mencari mereka lagi. Tempat persembunyian mereka sangat sulit ditemukan. Anak kecil itu juga akan berada dalam bahaya. Orang-orang itu menganggap nyawa anak kecil sebagai mainan. Arief. Tolong bawa aku ke sana.”


__ADS_2