Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 96 Menggila


__ADS_3

Tuan Besar Burton berkata dengan dingin, “Arief melakukan perbuatan seperti binatang, kamu juga tidak bisa dimaafkan sebagai ayahnya. Kalau kamu tidak mau mengakuinya, aku akan memukulmu sampai mati.”


“Plak! Plak!”


Tubuh Ihsan sudah berdarah-darah karena pukulan rotan itu.


Suara Siti juga sangat serak karena terus menangis, “Kalian jangan pukul lagi, jangan pukul lagi. Dia akan mati kalau dipukul terus ….”


“Jangan pukul lagi?” Jeslin maju ke depan, lalu berkata kepada Tuan Besar Burton, “Kakek, sepertinya Ihsan tidak akan mengakuinya kalau tidak dihukum dengan berat. Dia pasti mengira Kakek sudah tua, sehingga menjadi lebih baik dan tidak akan menghukumnya dengan berat.”


“Betul, Kakek!”


Para junior keluarga juga berkata, “Kakek, Arief sekeluarga harus dihukum dengan berat. Kalau tidak, semua orang tidak akan bisa menerimanya.”


Setelah mendengar ucapan semua orang, wajah Tuan Besar Burton langsung menjadi masam. “Pengawal, bawakan hukuman keluarga!”


Wah!


Ketika mendengar hukuman keluarga, banyak anggota Keluarga Burton yang menarik napas dalam-dalam.


Ekspresi Ihsan langsung berubah drastis, seluruh tubuhnya juga mulai gemetar.


Hukuman Keluarga Burton sangat mengerikan.


Bisa disebut hukuman yang sangat kejam.


Tiang Panas!


Betul! Tiang Panas yang digunakan raja zaman kuno.


Tiang Panas merupakan sebuah pilar tembaga yang dipanaskan, kemudian membaringkan orang di atasnya.


Seketika, seluruh ruang tamu menjadi sangat sunyi.


Puluhan anggota Keluarga Burton membawa sebuah pilar tembaga yang sangat besar. Mereka menyiramkan minyak ke dalam pilar tembaga itu dan dibakar dengan suhu tinggi.


Semua orang terdiam dan tidak ada yang berani bersuara.


“Aku tanya untuk yang terakhir kali, apakah kamu ingin mengakuinya atau tidak?” Tuan Besar terus memelototi Ihsan.


Keringat dingin mengalir turun dari keningnya.


Dia tidak mungkin tidak takut, tetapi mereka tidak salah, kenapa harus mengakuinya?


“Arief tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Tidak mungkin!” Ihsan sangat tegas.


“Lancang!” Jeslin berjalan ke depan dan menampar Ihsan dua kali. “Kamu masih berani keras kepala! Anakmu adalah binatang yang keji! Sampai saat ini, kamu masih membelanya.”


“Pengawal, tekan dia ke atas pilar tembaga itu!” teriak Tuan besar dengan keras.


Mendengar ucapan Tuan Besar, puluhan anak muda segera mengerumuni Ihsan, lalu mengikatnya dan diangkat ke samping pilar tembaga.


“Tidak!” teriak Siti dengan keras.


Pilar tembaga itu sangat panas, kalau ditekan ke sana, Ihsan pasti akan mati.

__ADS_1


“Tidak mau mengakuinya, bukan?” Tuan Besar Burton semakin kesal, “Tekan terus!”


Setelah itu, belasan pria kekar langsung mendorong Ihsan ke atas pilar tembaga itu.


“Ah ….”


Jeritan kesakitan menyebar ke seluruh ruangan.


“Anakku tidak bersalah! Anakku tidak bersalah!” teriak Ihsan dengan keras. Kulitnya sudah mulai gosong.


Anakku tidak bersalah. Anakku tidak akan melakukan hal seperti itu, tidak mungkin ….


Air mata Ihsan terus mengalir ke luar. Saat ini, dia sudah putus asa.


“Sialan! Aku akan membunuh kalian semua! Ah!”


Seketika, terdengar suara teriakan yang sangat keras dari kejauhan. Arief membawa Pedang Haus Darah dan berlari kemari dengan kedua mata yang memerah.


Di belakangnya, Niko membawa kapak seperti dewa pembunuh! Di belakang mereka, ratusan pria berjas hitam juga bergegas masuk.


“Kalian pantas mati! Kalian semua harus mati!” Arief sudah menggila. Pedang Haus Darah di tangannya terus menebas siapa pun yang menghalanginya.


Ayahnya benar-benar dibakar sampai gosong! Arief sudah kehilangan akal sehat. Dia ingin membunuh semua orang di sini.


“Binatang! Binatang!” Tuan Besar langsung berdiri dan menunjuk Arief, dia berkata dengan tubuh gemetar, “Dasar pengkhianat! Kamu masih berani datang ke sini! Cepat tangkap dia! Cepat tangkap dia!”


Setelah itu, puluhan anak muda Keluarga Burton langsung berlari ke luar.


Niko langsung melambaikan tangannya, dua ratus lebih pria di belakangnya langsung menyerang bersama.


Seluruh tubuh Ihsan sudah terluka parah. Di tubuhnya juga tercium bau gosong, pakaian dan daging sudah menempel bersama dan terlihat sangat parah.


“Anakku!” Wajah Ihsan sangat pucat, rasa sakit yang besar membuat tubuhnya terus gemetar. “Anakku, kasih tahu Ayah, apakah kamu melakukannya atau tidak?”


“Aku tidak, aku tidak melakukannya!” Arief juga menangis dengan keras.


“Baguslah kalau tidak ada!” Ihsan menggunakan seluruh tenaga terakhir untuk tersenyum. Setelah itu, dia menutup matanya dan tidak tahu apakah pingsan atau meninggal.


“Ayah!” teriak Arief seperti orang gila.


“Ayah, kamu jangan menakutiku. Jangan menakutiku!” Dia terus menggoyangkan tubuh ayahnya, tetapi tidak ada jawaban sama sekali.


“Jangan berteriak lagi. Walaupun ayahmu mati, dia juga pantas menerimanya.” Saat ini, Jeslin berjalan kemari, menunjuk Arief dan berteriak dengan keras, “Kamu tumbuh besar di Keluarga Burton, tetapi malah membawa orang luar untuk membuat masalah di kediaman keluarga. Apakah kamu tidak takut hukum karma? Apakah kamu tidak takut disambar petir?”


Wah!


Saat ini, Arief pelan-pelan berdiri. Kedua matanya sangat merah, dia berjalan ke arah Jeslin dengan perlahan.


“Kamu … apa yang ingin kamu lakukan?”


Tubuh Jeslin gemetar hebat. Dia tidak akan melupakan tatapan ini selamanya.


Tatapan yang begitu menakutkan!


“Plak!”

__ADS_1


Arief menamparnya dengan keras. Dia menggunakan seluruh tenaga untuk menamparnya. Tubuh Jeslin terpental sejauh belasan meter dan terjatuh ke lantai dengan keras.


“Pfft!”


Jeslin memuntahkan darah dari mulutnya. Sebelum dia berdiri, Arief kembali datang ke depannya, lalu menamparnya berulang kali.


“Plak! Plak! Plak!”


Suara tamparan membuat semua orang tercengang.


Tongkat Tuan Besar Burton terjatuh ke lantai. Napasnya menjadi terengah-engah, dia berusaha berdiri dengan terhuyung-huyung. Namun, tenggorokannya seperti tersedak dan tidak bisa mengeluarkan suara apa pun.


“Arief, kamu berani sekali memukul kakak iparmu!” Teriak Doni sambil memukul Arief dengan tongkat.


“Bam!


Tongkat itu mengenai tubuh Arief dengan keras, tetapi tongkatnya patah. Namun, Arief justru baik-baik saja. Dia melihat ke belakang dengan perlahan.


“Plak!”


Tamparan lagi. Kali ini, Doni terpental jauh dan menabrak dinding dengan keras.


Sebelum kakinya menyentuh lantai, dia merasakan sepasang tangan yang besar sudah mencekik lehernya. Arief menyeringai dan mencekik lehernya dengan sekuat tenaga.


Doni mulai kesulitan bernapas, wajahnya membiru.


“Tiga tahun yang lalu, kamu bilang aku menggunakan uang keluarga, lalu mengusirku keluar!” ucap Arief dengan nada dingin dan ekspresi datar. “Tapi siapa yang tahu, kalau 16 miliar yang aku pakai untuk membeli saham perusahaan minyak adalah tabunganku sendiri. 16 miliar itu semua adalah uangku sendiri, tidak ada hubungan sama sekali denganmu.”


“Kamu!” Doni sudah hampir kehabisan napas. Dia ingin melawan, tetapi tidak punya tenaga sama sekali.


“Satu bulan yang lalu, aku memberikan 6 triliun untuk membantu keluarga. Kalian justru mengatakan bahwa aku berniat jahat. Tapi siapa yang tahu, aku hanya ingin balas budi. Keluarga Burton membesarkanku, kalian memang bajingan, tetapi aku tidak boleh bersikap seperti itu.”


“Satu minggu yang lalu, istri Yanto ternodai, kalian semua memfitnahku. Aku sudah bilang bukan aku yang melakukannya, kenapa kalian tidak bisa mendengarnya?” teriak Arief dengan gila.


Semua orang menatap Arief dan tidak bisa berbicara.


“Bam!”


Arief melepaskan tangannya. Doni pun terjatuh ke lantai. Dia berusaha menarik napas dalam-dalam dan terus memegang lehernya.


Pada saat yang sama, semua anak muda Keluarga Burton sudah dikalahkan oleh anak buah Niko.


Situasi kembali menjadi hening.


Kediaman Keluarga Burton yang besar menjadi sangat hening. Walaupun satu jarum terjatuh ke lantai, semua orang juga bisa mendengarnya dengan jelas.


“Aku, Arief Buntoro, berterima kasih kepada Kakek!” Saat ini, Arief memegang Pedang Haus Darah, berbicara dengan suara yang diselimuti tenaga dalam.


“Ayahku tidak tahu hidup atau mati!” Arief mengepalkan tangannya, kukunya sudah menusuk ke dalam telapak tangan dan darah mengalir keluar. Namun, dia tidak merasakan sakit sama sekali. Arief kembali melanjutkan, “Kalau Ayahku hidup, aku akan melupakan semua ini. Kalau Ayahku mati, aku akan membunuh semua anggota Keluarga Burton!”


“Bam!”


Ucapannya seperti petir yang menyambar di langit.


Arief menggendong ayahnya, lalu berjalan keluar dari kediaman Keluarga Burton tanpa menoleh ke belakang.

__ADS_1


__ADS_2