Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 37 Profesional


__ADS_3

Jenny yang berada di samping juga mengerutkan keningnya.


Walaupun dia jarang berbicara dengan Arief, jika Arief yang merupakan anggota Keluarga Kimberly membuat kekonyolan, bukankah sama saja memalukan Jenny juga?


Saat ini, Handoko yang terkejut berkata, “Bukankah dia adalah menantu Keluarga Kimberly?”


Sebelum dia melanjutkan, Fransiska pun segera maju dan berkata dengan pelan, “Ayah, dia adalah Apresiator Kehormatan yang aku rekrut.”


Hah?


Semua orang berusaha menahan tawa ketika mendengar Arief adalah seorang Apresiator Kehormatan, dia hanyalah sampah tidak berguna, bahkan Keluarga Kimberly pun ingin mengusirnya karena tidak memiliki apa pun! Kenapa Fransiska merekrutnya sebagai Apresiator Kehormatan? Hahaha


Handoko pun menghela napas, setelah melihat Arief sebentar, dia pun mengangguk dan tidak mengatakan apa pun.


Beberapa tahun ini, Fransiska yang bertanggung jawab dengan bisnis Keluarga Salim dan juga mengurusnya dengan baik. Kalau anaknya bisa merekrut orang ini, apakah dia memang memiliki kemampuan? Walaupun Arief terkenal dengan nama buruknya, tapi Handoko tetap percaya dengan pilihan anak sendiri.


Setelah mendapatkan persetujuan Handoko, Arief pun maju ke depan dan mengambil porselen milik pria botak itu!


Seketika, seluruh lobi dipenuhi suara riuh.


Namun, suasana ini berbeda dengan sebelumnya.


Ketika Handoko sedang menilai, orang-orang melihatnya dengan raut wajah kagum. Namun sekarang, kebanyakan orang menatap Arief dengan sorot mata seperti melihat seorang badut.


Apresiator Kehormatan?


Arief?


Nona Fransiska terlalu muda, dia mempercayai anak muda ini hanya karena satu keberhasilan itu.


Semua orang menunggu untuk menertawakannya, termasuk beberapa bos toko barang antik juga memiliki pemikiran serupa.


Pada saat yang sama, Fransiska juga mulai merasa gugup, bukankah Arief terlalu percaya diri? Ayah dari Fransiska sudah selesai menilai porselen ini, kenapa Arief masih ingin melihatnya?


Kalau benar-benar menjadi bahan tertawaan, Handoko pasti akan menyalahkan dirinya.


Setelah melihat beberapa detik, Arief tiba-tiba mengulurkan tangan dan menggores vas porselen ini beberapa kali.


“Oi? Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sanggup membayarnya kalau rusak?” ucap pria botak yang terkejut melihatnya.


Beberapa bos toko barang antik juga menggelengkan kepala.


Anak muda ini ternyata memang tidak mengerti apa pun.


Walaupun ada beberapa cara untuk menilai sebuah porselen, seperti melihat, mendengar, membandingkan dan mencoba. Namun, mendengar adalah salah satu teknik menyentil pelan porselen dan mendengarkan suaranya. Hanya saja, Arief yang menggores porselen ini terlihat sangat tidak profesional.


Handoko yang berdiri di samping juga menyipitkan matanya.


Gerakan Arief walaupun terlihat santai dan bahkan seperti bercanda, sebenarnya gerakannya sangat unik.


Handoko sepertinya pernah melihat cara menilai yang unik ini di suatu tempat.


Huh!


Saat ini, Arief pun menghentikan gerakan dan mendekatkan porselen ke telinga untuk mendengar suaranya.

__ADS_1


Setelah melakukan semua ini, Arief meletakkan porselen dan menoleh ke arah Fransiska, dia lalu bertanya, “Dia ingin menjualnya di harga berapa?”


Tidak menunggu Fransiska menjawab, pria botak pun berkata dengan cepat, “Satu miliar, tidak boleh kurang satu perak pun.”


Hanya satu miliar?


Arief diam-diam tertawa dalam hati, dia lalu berkata kepada Fransiska dengan yakin, “Boleh dibeli!”


Saat Arief belajar dengan apresiator tingkat nasional itu, porselen adalah satu satu yang paling banyak dipelajarinya.


Glasir dan tekstur dari vas bunga ini memang berkualitas tinggi seperti yang dikatakan Handoko, hanya saja cara pembuatannya yang sedikit unik.


Awalnya, Arief pun merasa curiga, tapi setelah itu Arief menyadari beberapa bekas tanah yang tertempel di bawah vas bunga, terdapat bau jamur dari bekas tanah itu. Oleh karena itu, Arief menyimpulkan bahwa barang antik ini baru saja digali keluar.


Betul, barang antik yang baru saja digali keluar.


“Haha ….”


Setelah mendengar ucapan Arief, Fransiska yang belum sempat bereaksi sudah mendengar seorang penonton tiba-tiba tertawa, kemudian orang lain juga ikut tertawa terbahak-bahak.


“Aduh, lucu sekali. Anak muda, apa kamu benar-benar menganggap dirimu sebagai seorang apresiator?”


“Haha, kamu bahkan berani membeli dengan harga satu miliar? Barang ini paling hanya bernilai beberapa juta saja.”


“Betul, bahkan Tuan Handoko sudah mengatakan bahwa porselen ini palsu, kenapa kamu masih berlagak serius di sana?”


Suara tawa membuat raut wajah Fransiska terlihat kesulitan, Jenny yang berada di samping juga terlihat kecewa.


Awalnya, Fransiska mengira dia akan mengatakan penilaian yang berbeda dan membuat orang-orang terkejut, tapi dia langsung menyimpulkan dengan cepat.


Fransiska tidak menjawabnya, hanya saja terlihat ekspresi malu di matanya.


Dari semua orang itu, hanya pria botak yang merasa bertemu dengan sahabat sendiri. Dia tertawa terbahak-bahak sambil menepuk pundak Arief, dia lalu berkata, “Anak muda ini memang hebat dan berpengalaman!”


Arief hanya tersenyum dan tidak menjawabnya.


Saat ini, Handoko menatap Arief dengan tatapan dingin, lalu berkata, “Coba beritahu aku, kenapa barang ini dihargai senilai satu miliar?”


Bukan hanya satu miliar, bahkan sepuluh miliar juga layak dibeli! Karena kamu akan untung besar setelah membelinya.


Setelah berpikir dalam hati, Arief pun berkata dengan santai, “Paman Handoko, kamu jangan marah dulu, dengarkan pelan-pelan. Paman Handoko seharusnya tidak asing dengan nama Putri Wendia, bukan?”


Awalnya, Handoko masih merasa kesal, tapi ketika mendengar ucapan Arief, dia seperti teringat sesuatu. Handoko pun berkata dengan tubuh gemetar, “Kamu sedang membicarakan ….”


Setelah mengucapkan tiga kata, Handoko menggelengkan kepala dan melanjutkan, “Tidak mungkin, tidak akan mungkin!”


Sejarah mencatat bahwa Putri Wendia menikah dengan Raja Kerajaan Panora, tapi di dunia barang antik, ada sebuah legenda tentang Putri Wendia.


Sejak kecil, Putri Wendia sangat menyukai porselen. Sewaktu Ayahnya memerintahkan dia untuk menikah dengan Raja Kerajaan Panora, Putri Wendia pernah mendapatkan sebuah porselen dari Ayahnya. Diceritakan bahwa porselen itu adalah barang pemberian Kerajaan Panora.


Letak geografis Kerajaan Panora sedikit istimewa, mereka mendapatkan pengaruh budaya timur dan barat sekaligus, sehingga porselen yang diciptakan oleh Kerajaan Panora sangat istimewa dan juga langka.


Sekarang, porselen seperti itu sudah tidak banyak.


Putri Wendia sangat menyukai porselen itu, dia selalu membawa porselen itu kemanapun dia pergi.

__ADS_1


Pelan-pelan, vas porselen itu mulai memiliki jiwa, dikatakan bahwa jika kita mendekatkan telinga, kita akan mendengar suara aliran air. Hal itu karena setiap kali merindukan kerajaannya, Putri Wendia suka datang ke samping sungai untuk menikmati vas porselen ini.


Barang yang dicintai oleh putri dan juga sangat terkenal ini, dijuluki Vas Salju Wendia, dengan menggunakan nama Putri Wendia sendiri,


Orang yang pernah melihat Vas Salju Wendia benar-benar sangat sedikit, karena setelah Putri Wendia meninggal, Vas Salju Wendia juga ikut menghilang.


Setelah sistem kerajaan bubar, Vas Salju Wendia tiba-tiba muncul di sebuah keluarga kaya. Namun, setelah kabar itu tersebar, keluarga kaya itu pun musnah dalam beberapa hari.


Oleh karena itu, Vas Salju Wendia menghilang kembali.


Sampai hari ini, tidak ada yang tahu di mana Vas Salju Wendia berada, apakah vas itu sudah rusak atau tidak?


Jadi, ketika mendengar Arief mengungkit Putri Wendia, Handoko langsung sadar dengan hal ini.


Namun, apakah vas ini adalah Vas Salju Wendia?! Tidak mungkin!


Barang legendaris ini bisa muncul di Panca Heritage?


Bagaimana mungkin?


Orang-orang juga bingung melihat raut wajah Handoko yang terus berubah.


Arief tersenyum sambil menunjuk vas bunga, dia lalu berkata, “Paman Handoko, walaupun bentuk vas ini sangat unik, tapi milik dengan gaya kerajaan leluhur kita, di saat yang sama juga memiliki gaya barat. Hanya dengan letak geografis Kerajaan Panora yang istimewa, mereka dapat menciptakan barang seperti ini.”


“Namun, glasir di atasnya terlihat sangat indah dan dipengaruhi oleh budaya barat. Walaupun beberapa sajak kuno kerajaan leluhur kita yang menghilang, namun terdapat beberapa estetika warna-warni indah khusus budaya barat.”


“Coba lihat glasir yang mempesona ini, tampilannya terlihat seperti produk zaman modern yang masih baru. Namun, sebenarnya ketika orang Kerajaan Panora sedang mengglasirnya, mereka menambahkan unsur butiran kaca, sehingga membuat hasilnya terlihat seperti baru setiap saat.”


Nada bicara yang tidak tinggi terdengar ke seluruh sisi!


Hening!


Semua orang terlihat bingung, karena selian Handoko, tidak ada yang mengerti dengan ucapan Arief.


Apa itu Kerajaan Panora?


Ada apa dengan unsur butiran kaca?


Melihat Handoko masih curiga, Arief tersenyum dan berkata, “Karena proses pengglasiran menggunakan unsur butiran kaca, sehingga menambah kekuatan permukaan vas porselen ini. Selama ribuan tahun, tidak terdapat goresan yang merusak.”


Gluk!


Handoko tidak bisa menahan diri untuk menelan ludah, dia segera mendekatkan telinga untuk mendengar dari mulut vas bunga itu.


“Ini … ini benar-benar Vas Salju Wendia?” Setelah beberapa detik, ekspresi Handoko menjadi sangat tercengang. Dia menatap Arief dengan tatapan tidak percaya.


Apa?


Vas … Vas Salju Wendia?


Raut wajah semua bos toko barang antik pun ikut berubah.


Ketika Arief sedang menjelaskan detail porselen ini, mereka masih tidak mengerti. Tapi ketika mendengar Handoko mengucapkan tiga kata itu, semuanya langsung tercengang.


Orang yang sering berhubungan dengan barang antik, siapa yang tidak pernah mendengar legenda tentang Vas Salju Wendia?

__ADS_1


__ADS_2