Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 54 Pasti Palsu


__ADS_3

“Ayo, Arief. Silahkan duduk.”


Debora tidak memedulikan tatapan yang lain, dia menarik kursi dan berkata sambil tersenyum kepada Arief.


Awalnya, Arief ingin segera pergi dari sini, tapi ketika melihat ketulusan Debora, dia pun duduk.


“Debora, kenapa kamu berteman dengannya?”


Hendry yang bingung pun bertanya kepada Debora.


Debora menghela napas dan menjelaskan dengan sabar, “Hendry, mulai sekarang, apakah kamu bisa tidak merendahkan orang lain? Di hadapanku, semua orang sama rata. Kenapa kalau Arief adalah menantu dari Keluarga Kimberly? Apa aku tidak boleh berteman dengannya?”


Hendry terdiam.


Debora menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan Pil Dewa dari tasnya. “Hendry, bukankah kamu sudah berhenti di Tingkat Guru kelima dalam waktu lama? Pil Dewa ini bisa membantumu menembusnya! Arief yang memberikannya.”


Wah!


Ucapan Debora kembali membuat satu ruangan heboh.


Beberapa generasi kedua yang kaya di sini juga kultivator, tetapi mereka hanya dapat dianggap sebagai pemula, yang baru saja memasuki dunia kultivator. Bagaimanapun, keluarga mereka memiliki uang, dan para tetua dalam keluarga bersedia menghabiskan banyak uang untuk menjadikan mereka kultivator. Mereka juga tahu betapa sulitnya bagi kultivator untuk menembus sebuah tingkatan.


Aku mendengar bahwa Pil Dewa dapat membuat orang menerobos tingkatan, dan semua orang sangat tertarik. Namun, Debora mengatakan bahwa Pil Dewa ini diberikan oleh Arief. Semua orang tidak lagi tertarik pada pil ini lagi.


Seorang menantu tidak berguna bisa memberikan pil hebat itu?


Haha, kalau benar-benar ada pil seperti itu, tidak tahu ada berapa orang yang ingin membelinya dengan harga tinggi.


Mereka tidak berani menertawakan Debora, sehingga hanya berani menertawakan Arief.


Hendry juga tercengang, dia mendengar bahwa Pil Dewa luar biasa. Namun, saat mendengar itu diberikan oleh Arief, dia tertawa terbahak-bahak. Mengambil Pil Dewa yang diserahkan oleh Debora, dia melihat Pil Dewa dan berkata, “Apa Pil busuk ini bisa membantuku menembus tingkatan? Bercanda, ‘kan?"


Setelah mengatakan itu, Hendry berkata dengan serius kepada Debora, “Debora, kamu jujur dan mudah ditipu. Menurutku, alasan mengapa kamu bisa menembus Tingkat Jenderal bukan karena pil busuk ini, tetapi karena pondasi kultivasimu sangat dalam, sehingga kamu menembus dengan sendirinya. Bagaimana bisa ada obat seperti itu di dunia ini? Kalau tidak, semua orang bisa mencapai Tingkat Jenderal dengan mudah.


Setelah berbicara, Hendry dengan santai melemparkan pil itu ke atas meja.


Debora langsung panik, “Aku tidak berbohong. Aku bisa menembus Tingkat Jenderal karena bantuan Pil Dewa ini.”


Hendry kembali tertawa. “Debora, bocah ini pasti sedang menipumu. Kamu sudah berhenti di Tingkat Guru kelima selama beberapa tahun, kamu bisa menembus karena pencerahan dan usaha sendiri. Tidak ada hubungan sama sekali dengan pil obat itu, semua hanya kebetulan saja.”


Setelah mengatakan itu, Hendry memandang Arief, matanya berangsur-angsur menjadi dingin, “Sampah, aku tidak peduli apa tujuan kamu mendekati Debora, tapi aku ingatkan, menjauhlah darinya, mengerti? Kalau tidak, aku tidak akan membiarkanmu bisa tinggal di Kota Malang.”


Beberapa teman Hendry di sebelahnya juga mencibir setuju.


“Apakah kamu mendengarnya? Ada beberapa orang yang tidak sanggup kamu lawan.”


“Tahu diri sedikit, jangan menipu lagi, dan jangan mendekati Kakak ipar lagi.”


Sialan! Hendry ini mungkin tidak tahu bagaimana Debora memohonnya ketika ingin meminta Pil Dewa.


Kalau bukan karena Debora, aku juga tidak akan duduk di sini.

__ADS_1


Guntur membeli Pil Dewa seharga 4 triliun dan satu cincin ibu jari.


Aku memberikannya secara gratis kepadamu, selain tidak menerimanya, kamu justru menertawakanku?


Sambil berpikir, Arief tersenyum dingin dan berdiri. “Kalau kamu merasa bahwa ini palsu, kembalikan kepadaku.”


Hendry tidak melihat pil di atas meja, dia hanya tersenyum tipis. “Ambilah sendiri! Apa kamu ingin aku memberikannya? Aku takut mengotori tanganku.”


Setelah itu, seluruh ruangan dipenuhi oleh suara tawa.


Arief mengulurkan tangan untuk mengambil kembali Pil Dewa itu.


Pada saat ini, Debora akhirnya tidak bisa menahan diri. Dia segera merebut Pil Dewa itu dan memberikannya kepada Hendry, “Hendry, percayalah padaku! Cepat makan Pil Dewa ini, kalau kamu tidak percaya, aku akan pergi dengan Arief.”


Saat mengatakan ini, Debora menoleh untuk melihat Arief, dengan rasa malu dan permintaan maaf di matanya.


Untuk sesaat, orang-orang di dalam ruangan kembali tercengang ketika melihat tindakan Debora.


Obat macam apa yang diberikan oleh menantu tidak berguna ini kepada Debora, sehingga membuatnya sangat memercayainya?


Di sisi lain, Hendry merasa canggung.


Namun, melihat Debora sangat marah, Hendry pun menelan pil itu.


"Oke, demi Debora, aku tidak akan mempersulitmu." setelah minum Pil Dewa, Hendry menatap Arief dengan senyuman tipis dan berkata, “Aku mendengar bahwa kamu baru saja mendapatkan pekerjaan. Apa pekerjaanmu? Kalau ada waktu, mungkin saja kami bisa pergi mendukungmu."


“Bekerja untuk orang lain,” jawab Arief dengan ekspresi tenang.


Segera setelah pelayan mulai menyajikan makanan, kemarahan Debora membuat Hendry lebih tahu diri. Namun, dia terus mencari cara untuk mempermalukan Arief.


Beberapa generasi kedua kaya lainnya juga bekerja sama untuk mempermalukannya.


Debora yang tidak bisa membujuknya pun merasa sakit kepala, jadi dia membuat alasan untuk pergi ke toilet.


Hendry langsung bangun ketika Debora keluar.


“Wah, kalau aku jadi kamu, aku akan segera pergi dari sini. Apa kamu merasa lucu untuk terus berada di sini? Apa kamu tahu tempat ini? Hotel Royal, hotel paling mewah di Kota Malang. Apa kamu pantas makan di sini dengan identitasmu?”


Beberapa generasi kedua yang kaya di sebelah mereka juga menepuk meja. Pacar mereka juga terus menertawakan Arief.


“Itu benar, kami menjaga harga dirimu ketika ada Kakak ipar di sini. Apakah kamu benar-benar berpikir kamu bisa berteman dengan kami?”


“Pergilah! Kami sudah cukup menghargaimu untuk membiarkan kamu berada di sini.”


“Seorang menantu tidak berguna benar-benar menganggap dirinya penting? Apa kamu sanggup makan di sini?”


Arief tidak berbicara, dia hanya tersenyum dan berkata, “Hendry, bukan? Kamu memang sangat menjijikan.”


Hendry menepuk meja. “Sialan! Katakan sekali lagi kalau berani.”


Arief melambaikan tangan dan berkata, “Kalian bersikap sombong karena keluarga yang kaya? Kenapa makan di Hotel Royel menjadi sangat mewah? Kalau bukan jijik, apa lagi sebutan untukmu?”

__ADS_1


Ekspresi Hendry menjadi canggung dan galak.


Beberapa generasi kedua yang kaya pun tertegun dan mulai memperhatikan Arif.


Apa bocah ini gila?


Dia berani berbicara seperti itu kepada Hendry?


Sepertinya dia sudah tertindas lama di Keluarga Kimberly, sehingga ingin mencari tempat untuk melampiaskannya.


Namun, dia salah memilih target. Melampiaskan kepada Hendry? Bukankah dia sama saja cari mati?


Hendry menggertakkan gigi dan berkata, “Oh? Menarik juga! Seorang sampah seperti dia justru merendahkan kita?”


Sambil berbicara, Hendry menatap langsung ke mata Arief dan berkata dengan nada provokasi, “Wah, kamu tidak bermaksud memberi tahuku bahwa kamu yang memiliki Hotel Royal ini, ‘kan? Aku sangat takut.”


Ucapan Hendry membuat semua orang tertawa.


Arief tersenyum ringan, mengabaikannya, dan mengeluarkan ponselnya. Arief pun menghubungi nomor Austin.


“Tuan Burton.” Austin sedikit tersanjung ketika tiba-tiba mendapat telepon dari Arief.


Arief tidak berbicara omong kosong, dan langsung berkata, “Aku ada di Hotel Royal. Ke sinilah. Aku ada di ruangan nomor 666.”


Ucapan itu kembali membuat semua orang tertawa.


Hendry mengejeknya, “Wah, siapa yang kamu panggil? Itu bukan istrimu, ‘kan? Atau siapa orang hebat di Keluarga Kimberly? Hahaha!”


“Orang-orang seperti dia, pasti akan menghubungi istrinya kalau terjadi sesuatu.”


“Haha!”


Tidak tahu siapa yang berbicara, tetapi semua orang kembali menertawakan Arief.


Arief masih menyesap tehnya seolah tidak mendengarnya.


Sikap Arief membuat Hendry sangat tidak senang, dan dia terus mencibirnya. Pada saat ini, pintu ruangan tiba-tiba terbuka.


Austin segera melangkah masuk dengan pakaian hitamnya.


Begitu Austin muncul, seluruh ruangan langsung hening. Beberapa generasi kedua yang kaya juga menjadi waspada. Austin juga merupakan sosok yang cukup terkenal di Kota Malang.


Bagaimana dia bisa datang ke ruangan pribadi ini?


Beberapa generasi kedua yang kaya melihat ke arah Hendry.


Betul, pasti karena Hendry. Semua orang di sini, hanya Keluarga Hendry yang pantas berbisnis dengan Austin.


Hendry pun tersenyum. Dua hari lalu, ayahnya sempat membicarakan proyek dengan Austin. Sepertinya proyek itu telah berhasil. Haha


Beberapa wanita di sana juga menatap Hendry dengan kagum walaupun mereka sudah punya pacar.

__ADS_1


__ADS_2