Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 87 Berniat Jahat


__ADS_3

Bu Sari benar-benar sangat cantik. Pada saat yang sama, dia juga sangat tegas.


Belasan foto ini terdiri dari berbagai sudut, benar-benar menonjolkan tubuh yang begitu memesona.


Astaga!


Kenapa Cindy mengirimkan begitu banyak foto Sari?


Sialan! Ketika membuka foto-foto ini, semua orang di sampingnya sudah melihatnya. Hendry langsung berteriak, “Cepat lihat! Arief sedang melihat foto wanita cantik. Haha. Menjijikkan! Kenapa dia berani melihat foto seperti ini di depan umum?”


Setelah Hendry selesai bicara, banyak wanita yang menatap Arief dengan tatapan jijik. Semua wanita sangat membenci pria yang cabul.


Arief juga sangat canggung. Dia segera menutup ponselnya, lalu melihat sekeliling untuk menghilangkan kecanggungan.


Namun, setelah melihat sekeliling, Arief tiba-tiba berdiri dan mengerutkan keningnya.


“Kenapa kamu tiba-tiba berdiri? Gila, ya?” teriak Hendry.


Arief tidak berbicara. Dia melihat ke arah dinding, lalu pindah ke arah mulut gua. Setelah itu, dia menarik napas dalam-dalam, menggelengkan kepala dan berkata, “Gua ini bermasalah.”


Nita dan Niko terlihat sedikit bingung.


Apa yang dikatakan Arief? Kenapa dengan gua ini?


Arief menunjuk terusan air yang berjarak beberapa ratus meter dari mulut gua. Dia lalu berkata dengan perlahan, “Berdiri di sini, coba perhatikan tempat lomba renang sebelumnya. Apakah tampak seperti naga air yang berkelok-kelok?”


Niko dan Nita melihat ke arah yang ditunjuk Arief. Seperti yang dikatakan Arief, terusan air yang jauh itu, tampak seperti naga yang bersembunyi di sana pada malam hari.


Arief melanjutkan, “Dalam ilmu fengsui, tempat itu dinamakan naga berenang di air dangkal, merupakan pertanda yang sangat buruk. Jadi, kita bisa bertemu hiu tadi pagi, bukan hanya karena dipancing oleh darah binatang.”


Niko menunjukkan ekspresi kaget, “Arief, kamu juga mengerti fengsui?”


“Mana mungkin dia tahu?” David memelototinya, “Kalau bocah ini tahu tentang fengsui, kenapa dia mau menjadi seorang menantu tidak berguna?”


Haha!


Semua orang tertawa terbahak-bahak.


Niko sedikit bingung. Dia merasa Arief tidak sedang bercanda, dia lalu bertanya, “Arief, kalau terusan air itu adalah naga berenang di air dangkal, apakah ada hubungannya dengan gua ini?”


Arief tidak memedulikan tatapan orang lain. Dia melihat Niko dan berkata dengan tegas, “Tentu saja. Di atas gua ini ada tebing, tren keseluruhan tebing seperti harimau lapar turun gunung. Lalu, gua yang kita masuki adalah lokasi mulut harimau.”


Sambil berkata, Arief menunjuk ke arah terusan air, “Naga air dangkal bertemu dengan harimau turun gunung, ini adalah pertarungan naga harimau. Menurutmu, apakah tempat ini bisa bagus? Kalau ada orang yang masuk ke tempat seperti ini, pasti akan terjadi masalah.”


Wah!


Ketika mendengar penjelasan Arief, semua orang langsung kaget.


David juga tidak bisa menahan diri lagi. “Arief, apa yang ingin kamu lakukan? Apanya naga berenang di air dangkal? Apanya pertarungan naga dan harimau? Semuanya sudah bersiap untuk istirahat, jangan omong kosong lagi.”


Bocah ini benar-benar gila. Sebentar memurnikan ramuan, sebentar bisa lihat fengsui, dia seorang dukun, bukan?


Hendry pun tertawa dan berkata, “David, menantu Keluarga Kimberly kenapa bisa percaya hal-hal mistis?”

__ADS_1


“Siapa yang tahu? Sepertinya dia terlalu depresi setelah menjadi menantu tidak berguna, sehingga mentalnya terganggu,” ucap David dengan kesal.


Arief tidak memedulikan ucapan Hendry dan David.


Setelah melihat sekeliling, dia tetap menggeleng. “Aku juga tidak tahu apakah tempat ini berbahaya atau tidak. Menurutku, tempat ini tidak baik untuk dijadikan tempat tidur. Demi keamanan, aku tidak akan tidur di sini. Niko, apakah kamu ingin keluar bersamaku?”


“Aku ….”


Niko sedikit ragu, dia menundukkan kepala untuk melihat Ester yang masih pingsan. Niko lalu berkata dengan senyum masam. “Aku tidak bisa pergi, di luar masih hujan. Aku takut istriku tidak bisa tahan ….”


Dia juga ingin keluar dengan Arief, tetapi istrinya masih belum sadar, sehingga tidak bisa.


Arief mengangguk, kemudian melihat ke sekeliling. “Apakah ada yang bersedia keluar denganku?”


Walaupun dia tidak memiliki kesan baik dengan para generasi kedua yang kaya, dia tetap harus bertanya kepada mereka supaya tidak merasa bersalah.


Namun sangat jelas, semua orang menatapnya seperti melihat seorang idiot.


Di luar sana sedang hujan deras, siapa yang ingin keluar? Bocah ini pasti gila. Haha!


“Arief, jangan mengacau!” kata Nita sambil menarik lengan Arief dengan wajah memerah.


Dia hampir saja percaya dengan penjelasan Arief tentang fengsui, tetapi dia segera sadar.


Setelah semua kejadian hari ini, hubungan di antara Nita dan Arief menjadi lebih dekat. Arief pasti berbohong tentang pertarungan naga dan harimau.


Arief hanya ingin mencari alasan untuk tidur berduaan dengan Nita, lalu ….


Sambil berpikir seperti itu, wajah Nita semakin memerah. Dia merasa sedikit malu dan juga marah. Di luar sana masih hujan deras, bagaimana kalau dia kehujanan dan masuk angin?


Kenapa dengan istrinya sendiri? Kenapa wajahnya tampak memerah.


“Aku … aku akan pergi denganmu.” Saat ini, sosok indah berjalan ke luar dari kerumunan. Orang itu adalah Fransiska.


Ketika Arief sedang memurnikan ramuan, ucapan Fransiska membuat orang-orang menertawakannya. Kalau dirinya tidak mendukungnya kali ini, Fransiska pasti akan merasa bersalah.


Apa?


Fransiska akan pergi bersama Arief?


Kenapa? Kenapa idola semua orang harus pergi dengan Arief?


Saat ini, anggota Keluarga Salim juga tidak bisa menahan diri.


Arief adalah seorang menantu tidak berguna, tetapi Fransiska sendiri bahkan tidak pernah berpacaran. Kenapa dia mau keluar berduaan dengan Arief?


“Nona Fransiska, kenapa kamu percaya dengan omong kosongnya?”


“Betul. Siapa tahu apa yang dia pikirkan? Bocah ini berlagak hebat terus dari tadi. Dia bilang bisa memurnikan ramuan, tetapi sampai sekarang, Ester masih belum sadar. Jangan tertipu olehnya.”


Setelah mendengarnya, Hendry langsung berjalan keluar. “Bu Fransiska, aku sudah tahu. Bocah ini pasti ingin mencari alasan untuk kabur, karena dia tahu efek ramuannya tidak berhasil. Kamu jangan tertipu olehnya.”


Sambil berkata, Hendry menunjukkan ekspresi bangga.

__ADS_1


Arief ini ingin menipu, ‘kan? Untungnya saja dirinya pintar.


“Betul betul. Betul kata Hendry.”


“Dia pasti ingin kabur. Dia tahu tidak ada orang yang akan pergi dengannya, sehingga sengaja membuat alasan seperti ini.”


Lalu, Niko sama sekali tidak memedulikan mereka.


Arief yang mendengarnya langsung marah besar.


Sialan! Orang-orang ini semakin tidak ada habisnya begitu melihat Arief mengabaikan mereka.


Namun, Arief juga malas menjelaskannya. “Terserah kalian ingin percaya atau tidak. Tapi, kalau terjadi sesuatu, kalian jangan menangis dan memohon kepadaku!”


Haha ….


Bocah ini benar-benar jago berbohong.


Setelah mendengarnya, semua orang tertawa terbahak-bahak dan menunjukkan ekspresi sinis.


Hendry mendengkus dingin dan berkata, “Apakah kami akan meminta tolong kepadamu? Jangan bermimpi! Aku beri tahu, kalau benar-benar ada saat seperti itu, aku akan berlutut dan memanggilmu Bos.”


Bocah ini menganggap dirinya sebagai juru selamat? Benar-benar konyol.


Arief tersenyum, lalu berkata dengan pelan, “Baiklah, hari ini aku akan menjadi bos. Ingat ucapanmu, jangan sampai mengelak nantinya.”


“Dasar bodoh! Kalau berani, coba katakan sekali lagi!” Hendry langsung marah besar. Dia yang ingin bergegas langsung dihentikan oleh Debora.


“Debora, kamu juga percaya dengan ucapannya?”


Debora menjawab dengan nada tidak senang. “Aku bukan percaya padanya. Aku menahanmu supaya kamu bisa menenangkan diri. Kali ini, keluarga kalian yang mengadakan piknik ini, apakah kamu bisa lebih tenang?”


Sebenarnya, Debora juga ingin keluar bersama Arief. Namun, setelah berpikir lebih panjang, dia akhirnya memutuskan percaya kepada yang lain.


Bagaimanapun, ucapan Arief sedikit berlebihan. Bagaimana mungkin terjadi bencana kalau mereka tinggal di gua ini?


“Kawan, aku pergi dulu,” ucap Arief berpamitan dengan Niko. Dia juga malas meladeni orang-orang ini.


Dia juga tahu kalau Niko ingin keluar dengannya, tetapi kondisi istrinya tidak memungkinkan.


Niko lalu mengangguk. “Baik.”


Beberapa puluh meter dari gua, Arief membangun pondok jerami sederhana dengan dahan dan daun kelapa.


Nita dan Fransiska yang berdiri di samping tampak malu


Namun sebagai perbandingan, Nita sedikit lebih tenang.


Arief sengaja berpisah dari semua orang, karena ingin berduaan dengan Nita. Namun, karena Fransiska sudah ikut, Arief tidak akan macam-macam.


“Walaupun sederhana, tetapi masih cukup. Eh? Kenapa dengan kalian berdua?” tanya Arief sambil tersenyum. Setelah selesai membangun pondok ini, Arief tertegun melihat dua orang wanita cantik ini.


“Kenapa kamu hanya membuat satu tempat tidur?” tanya Nita dengan nada kesal.

__ADS_1


Tempat ini juga tidak besar. Ternyata, Arief memang berniat jahat.


Fransiska yang berada di samping juga sangat malu. Dia ingin segera kembali ke gua, tetapi tidak berani karena kondisi yang sangat gelap.


__ADS_2