Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 24 Kekacauan!


__ADS_3

“Ibu!” teriak Nita. “Kita tidak boleh melibatkan Arief.”


“Tidak boleh melibatkan?” Heny tertawa dan berkata, “Arief menikah denganmu dan Keluarga Kimberly telah menghidupinya selama tiga tahun, dia sudah membebani kita selama tiga tahun! Cepat biarkan dia masuk!”


Budiman tersenyum dan menggenggam erat pisau di tangannya. Sekarang dia sudah kehilangan semuanya, sehingga dia sudah memperkirakan semuanya.


Ganti sandera? Tidak mungkin!


“Budiman, Kenapa kamu begitu tidak berguna?” ucap Arief mendekat ke jendela dan berkata kepada Budiman, “Kamu menyukai istriku, tapi istriku tidak menyukaimu. Sekarang kamu bertingkah seperti ini karena malu, bukan? Apa kamu masih seorang pria?”


“Diam kamu!”


Budiman sangat emosional! Arief adalah sampah yang terkenal tidak berguna, tapi dia tetap suami dari wanita cantik ini!


Hal ini membuat Budiman merasa sangat sedih!


“Aku diam?” ucap Arief sambil tersenyum, “Budiman, kamu benar-benar sangat menyedihkan. Kamu sudah kehilangan semuanya, bahkan perusahaanmu juga sudah hilang. Wanita cantik yang kamu sukai adalah istriku. Kamu benar-benar sangat gagal.”


“Sialan kamu, diam!” teriak Budiman dengan kedua mata yang semakin memerah!


Saat ini, Nita menatap Arief dengan perasaan terharu.


Dia tentu saja mengerti bahwa Arief sedang membuat Budiman marah dan membencinya, kemudian menggantikan posisinya.


Ternyata, Budiman mengepalkan tangan dan tersenyum kepada Arief, “Bagus, bagus, kamu sangat hebat, bukan? Kamu ada suami dari wanita cantik ini, bukan? Sini sini sini, kamu ingin menjadi sandera, ‘kan? Ayo sini!”


Arief tersenyum dan berjalan masuk ke dalam.


Debora yang berada sepuluh meter dari sana terus menatap Arief.


Dia pertama kali melihat orang ingin dijadikan sandera dalam kehidupan nyata, karena kondisi seperti ini hanya bisa terlihat di dalam sinetron.


“Kak Debora, bagaimana sekarang?” ucap seorang polisi yang mendekat dengan nada pelan.


Debora mengayunkan tangannya, “Segera bawa ahli negosiasi. Jangan sampai sanderanya terluka, jangan sampai! Oh iya, tahan Arief itu, jangan biarkan dia masuk! Aku melihat tersangka sangat emosional.”


“Iya!” ucap polisi itu.


Saat ini, seluruh Keluarga Kimberly telah tiba. Awalnya, mereka masih berada di acara ulang tahun nenek, tapi polisi tiba-tiba menelepon mereka dan berkata bahwa Heny dan Nita telah diculik. Tentu saja, mereka tidak bisa melanjutkan acara ulang tahun itu lagi!


Nenek Keluarga Kimberly dan ratusan anggota Keluarga Kimberly melihat ke arah kediaman itu. Ketika mengetahui Budiman yang menculik mereka, Nenek sangat tercengang.


“Ibu polisi,” ucap Nenek sambil berjalan ke samping Debora dengan panik. “Ibu polisi, apakah ada salah paham di sini? Aku mengenal Budiman, dia seharusnya tidak akan bertingkah seperti itu.”


Debora melihatnya sebentar lalu berkata, “Sekarang kejadian ini sudah terjadi, tidak ada yang bisa menyangkal hal ini. Fakta membuktikan bahwa dia adalah pelakunya.”

__ADS_1


“Ibu Polisi, kamu harus menjamin keselamatan dua orang itu,” ucap Ricky yang baru datang dengan kening penuh keringat.


“Kami akan berusaha sekuat tenaga, tenang saja,” ucap Debora. “Pria bernama Arief itu ingin menggantikan mereka untuk menjadi sandera.”


“Serius?” tanya beberapa anggota Keluarga Kimberly yang mengerumuni di sini.


Debora mengangguk, tapi dia tidak menyangka akan mendengar suara dengan nada senang.


“Cepat biarkan dia masuk!”


Ricky berkata, “Ibu Polisi, tidak masalah kalau Arief menjadi sandera, tapi kita tidak boleh membiarkan sesuatu terjadi kepada mereka.”


Siapa orang ini? Debora menatapnya sebentar.


Nyawa istri dan anak memang penting, tapi nyawa orang lain menjadi tidak berarti?


“Tidak bisa,” ucap Debora melambaikan tangannya, “Sekarang tersangka sedang dalam kondisi emosional, tidak boleh ganti sandera.”


“Ini ….” Ricky terlihat sedikit kecewa.


Nenek lalu mendekat dengan tongkat di tangannya, dia berkata sambil menghela napas, “Ibu polisi, kamu tidak tahu. Walaupun Keluarga Kimberly bukan keluarga besar, kami juga bukan keluarga kecil. Nita dan Heny tidak pernah menderita sejak kecil dan juga tidak pernah bertemu hal seperti ini. Mereka pasti tidak akan tahan dengan penculikan ini.”


Setelah itu, Nenek berhenti sebentar dan melanjutkan, “Tapi Arief berbeda, dia adalah orang desa dan pasti tidak akan takut. Biarkan dia yang menggantikan mereka.”


Apa maksudnya?! Sebagai orang luar, Debora juga marah ketika mendengarnya!


Ini …


Bagaimanapun Arief yang menginginkannya, Debora juga tidak boleh mengganggu.


“Ibu polisi, apa kamu mendengar?” ucap nenek dengan cepat. “Arief sendiri yang mau, cepat biarkan dia masuk!”


Debora juga tidak berdaya, dia kemudian mengangguk ke Arief.


Melihat polisi yang lain tidak menahannya, Arief segera berjalan ke depan pintu.


“Lepaskan mereka,” ucap Arief dengan nada dingin.


Budiman mengepakan tangan melihat Arief berjalan masuk. Dia melepaskan tali yang mengikat Heny dan Nita, kemudian segera menangkap Arief!


“Kalian pergi dulu,” ucap Arief sambil menatap Nita.


Nita merasa sangat terharu. Pria ini bahkan rela mengganti dirinya menjadi sandera!


“Cepat pergi!” saat ini, Heny juga sadar dan segera menarik Nita keluar dari ruangan.

__ADS_1


Di luar sana, polisi dan anggota Keluarga Kimberly segera melangkah maju ketika melihat Nita dan Heny berjalan keluar. Ricky pun tidak bisa menahan air mata ketika melihat istri dan anaknya.


“Nita, Heny, kalian tidak apa-apa, ‘kan?” ucap Ricky dengan tangan yang gemetar.


Dia selalu fokus pada pekerjaan dan tidak pernah bertemu masalah seperti ini. Sehingga tadi dia sempat panik, tapi ketika melihat istri dan anak keluar dengan selamat, dia pun merasa lebih tenang.


“Ayah, aku tidak apa-apa, tapi Arief dia …” ucap Nita sambil melihat ke dalam. Pisau ditangan Budiman sedang berada di leher Arief.


Namun wajahnya tidak terlihat takut, malah tersenyum melihat ke arah Nita!


“Kamu ini, kenapa kamu masih memikirkannya?” ucap Heny dengan marah. “Hidup dan mati Arief tidak ada hubungan dengan kita, bukan? Dia hanya menantu yang tidak berguna, kalian bahkan tidak pernah berpegangan tangan selama lima tahun, kenapa kamu mengkhawatirkannya?”


“Betul, kamu ini benar-benar tidak bisa membuat orang lain tenang,” ucap Nenek kepada Nita. “Cepat, ayo kita pulang.”


“Iya, ayo pulang,” ucap Ricky sambil menarik Nita pergi.


“Tidak, aku tidak ingin pergi, Arief masih berada di sana!” ucap Nita kepada orang-orang. Namun, tidak ada yang memedulikannya, entah berapa banyak orang yang menariknya keluar dari kompleks ini.


“Ibu polisi, kami tidak ada urusan lagi, ‘kan?” ucap Nenek dan dua orang pengikut yang belum pergi. Dia lalu mendekat ke Debora dan berkata, “Kalau tidak ada urusan lain lagi, kami pulang dulu.”


Debora melihatnya dan berkata, “Sekarang Arief masih berada di dalam, bukankah kalian keluarganya?”


“Bukan,” ucap Nenek dengan tegas.


Setelah itu, Nenek pun beranjak pergi sini.


Arief tidak menunjukkan ekspresi apa pun ketika melihat anggota Keluarga Kimberly pergi.


“Ckck, Arief, ternyata statusmu hanya begini?” tanya Budiman menertawakannya.


“Aku tidak peduli dengan statusku, aku hanya tahu bahwa aku dan Nita sudah memiliki surat nikah. Bagaimana dengan kamu? Kenapa kondisimu begitu parah?” ucap Arief yang tersenyum. “Budiman, aku ingin bertanya kepadamu, apa Keluarga Burton tiba-tiba menarik modal dan mengeluarkan kamu dari perusahaan?”


“Kenapa kamu bisa tahu?” teriak Budiman.


Hanya sedikit yang mengetahui hal ini, Budiman juga baru saja memberitahu Nita dan Heny. Bagaimana sampah ini bisa tahu dengan jelas?


“Apa Keluarga Burton memberitahumu bahwa kamu telah menyinggung seseorang?” tanya Arief kembali.


“Kenapa kamu bisa tahu sialan?” teriak Budiman yang sudah kehilangan akal sehat.


Di luar pintu, seorang polisi tiba-tiba berlari ke arah Debora.


“Kak Debora, Arief yang sepertinya sedang berbicara dengan penculik itu. Dia bahkan membuat penculik itu semakin emosional.”


“Orang ini!” ucap Debora yang kesal. “Dia hanya menambah kekacauan untuk kita! Apa dia ingin mati sampai membuat penculik itu marah?”

__ADS_1


“Kak Debora!” Saat ini, polisi itu berkata dengan ekspresi kaget! Dia bahkan tertegun cukup lama sebelum melanjutkan ucapannya.


“Kak Debora, coba lihat! Pen … penculik itu sedang berlutut kepada Arief …”


__ADS_2