
Nita benar-benar panik. Dia takut Arief akan ditertawakan begitu tidak bisa mengeluarkan hadiahnya.
Walaupun dia memiliki hubungan yang dekat dengan Niko, Arief juga tidak boleh berbohong.
“Haha, Arief, mana hadiahnya? Kamu hanya pintar membual, bahkan istrimu sendiri tidak percaya!” Herwanto tertawa terbahak-bahak dengan tatapan sinis.
“Sini-sini. Coba perlihatkan hadiahmu!”
“Seharusnya sudah mau datang,” ucap Arief sambil melihat jam.
“Aku menyuruh orang untuk mengantarnya.”
Menyuruh orang untuk mengantarnya?
Haha, dia benar-benar konyol!
Herwanto juga tertawa terbahak-bahak, “Haha, semuanya! Kalian mungkin tidak tahu, beberapa hari yang lalu, Arief datang ke pertemuan teman sekelas dengan motor listrik. Tidak ada yang mau memedulikannya. Dia tidak punya teman sama sekali, siapa yang akan membantunya mengantar hadiah? Jangan-jangan kamu pesan makanan, ya? Haha ….”
Setelah mendengarnya, beberapa wanita tidak bisa menahan diri dan tertawa.
“Direktur Jessica tiba!”
Saat ini, terdengar suara dari luar ruang tamu. Semua orang langsung melihat ke arah pintu.
Mereka melihat Jessica berjalan masuk dengan cepat. Dia mengenakan pakaian professional dan rok yang ketat.
Tidak bisa dipungkiri, Jessica sangat cantik.
Rok yang ketat memperlihatkan keindahan tubuhnya. Selain tampak seksi, dia juga memancarkan aura seorang ratu.
Bagaimanapun, dia adalah wanita kuat yang terkenal.
Perusahaan Esteria menjalankan bisnis kosmetik yang sangat besar.
Hanya saja, Jessica terlihat sangat terburu-buru.
“Ibu angkat! Kenapa Ibu datang ke sini?”
Herwanto langsung berdiri dengan gugup.
Apa yang terjadi?
Ibu angkat mengatakan bahwa ada urusan mendadak yang harus diurus, sehingga menyuruh Herwanto datang ke sini. Jadi, ketika melihat ibu angkatnya datang, Herwanto sangat gugup.
Lalu, Jessica sangat panik. Dia langsung mengabaikan Herwanto dan melewatinya. Lalu, dia meletakkan hadiah ulang tahun di atas meja.
Hadiah ulang tahunnya adalah teh penghormatan kelas atas.
“Itu sepertinya merek Teh Paradise? Satu set bernilai belasan miliar ….”
“Bukankah Direktur Jessica sudah menyuruh anak angkatnya membawakan hadiah? Kenapa dia membawa hadiah lain lagi?”
Semua orang tampak bingung dan saling bertatapan.
Ketika semua orang sedang bingung, mereka melihat Jessica berbalik, lalu datang ke hadapan Arief.
“Kak Arief, maaf. Saya macet di jalan. Saya sudah membawakan hadiah yang Anda minta.”
Jessica berkata dengan hati-hati dan juga sopan.
Wah!
Semua orang yang berada di ruang tamu langsung kaget! Semunya menganga dan tampak tidak percaya.
Kak … Kak Arief?
Jessica memanggil menantu tidak berguna, Kak Arief?
Bukankah dia lebih tua dari Arief?
__ADS_1
Seketika, Nita juga gemetar, kedua kakinya juga menjadi lemas.
Apa … apa yang terjadi?
Herwanto yang berada di samping juga menjadi pucat.
Ibu angkatnya memanggilnya Kak Arief?
Tiga tahun lalu, dia menjadi anak angkat Jessica. Walaupun wanita ini hanya lebih tua 5 tahun darinya, Herwanto bukan siapa-siapa tanpa Jessica.
Setelah mengikuti ibu angkatnya beberap tahun, Herwanto tidak pernah melihat ibu angkatnya bersikap sopan kepada siapa pun.
Ini … ini ….
“Tidak termasuk telat, waktunya pas.” Saat ini, Arief tiba-tiba berkata dengan pelan, “Herwanto adalah anak angkatmu?”
Jessica langsung mengangguk, “Iya.”
Jessica sudah mengenal Arief sejak lama, sehingga dia sangat tahu sikap Arief. Kalau tidak ada sesuatu, Arief tidak akan bertanya seperti itu.
Jadi, ketika sedang menjawab, Jessica juga melotot ke arah Herwanto.
“Anak angkatmu ini hebat juga. Dia berlagak hebat karena ada dukungan dari dirimu, dia bahkan merendahkan semua orang,” ucap Arief dengan santai.
Ruang tamu yang besar langsung menjadi hening.
Apa?
Ternyata bajingan ini yang membuat masalah untuk dirinya.
Wajah Jessica langsung menjadi pucat, kedua kakinya menjadi lemas. Dia segera meminta maaf, “Kak Arief … maaf, maaf. Aku tidak mendidiknya dengan baik.”
“Ibu angkat, kenapa Ibu minta maaf kepadanya?” Saat ini, Herwanto akhirnya sadar kembali dan menunjukkan ekspresi tidak senang. Dia langsung berteriak, “Dia hanya seorang menantu tidak berguna, dia ….”
“Diam kamu!”
Setelah itu, ekspresi Jessica menjadi masam. Dia lalu berjalan ke arah Herwanto.
Plak!
Tamparan ini membuat wajah Herwanto menjadi merah.
“Ibu … Ibu angkat. Kenapa Ibu memukulku?”
Herwanto tampak bingung, dia terus menutup wajahnya.
Beberapa tahun ini, ibu angkatnya sangat menyayangi dirinya, bahkan dianggap sebagai anak kandung sendiri. Tamparan yang tiba-tiba ini membuat Herwanto sedih.
“Menurutmu, kenapa aku memukulmu? Kamu hampir saja membuat kesalahan besar,” ucap Jessica yang kesal. Dia kembali menampar Herwanto dua kali.
Kenapa dia harus menyinggung Arief. Tanpa Arief, tidak ada Jessica hari ini.
“Pergi! Berlutut dan minta maaf kepada Kak Arief,” teriak Jessica dengan kesal setelah menamparnya beberapa kali.
Herwanto langsung gemetar. Dia tidak berani bertanya lagi, dia berlutut di depan Arief dan berusaha tersenyum, “Aku …Aku salah. Maaf ….”
Semua tamu undangan juga menarik napas dalam-dalam.
Jessica memiliki aura yang kuat. Aura tadi tidak kalah dari seorang pria.
Berhadapan dengan wanita kuat seperti ini, siapa yang berani melawan?
Arief yang duduk di sana tidak menunjukkan ekspresi apa pun Dia hanya menatap Herwanto dengan dingin.
Hening!
Suasana ruang tamu sangat hening.
Semua orang melihat ke arah Arief.
__ADS_1
Jessica yang berada di samping juga menggigit bibir begitu melihat Arief tidak menjawab. Dia juga tidak berani mengatakan apa pun.
Ring ring ….
Saat ini, ponsel Arief tiba-tiba berdering.
Dia mengeluarkan ponsel dan melihat ibunya meneleponnya. Beberapa hari ini dia pergi piknik, lalu juga tidak pergi menjenguk orang tuanya. Kenapa hari ini Siti tiba-tiba meneleponnya?
Ketika panggilannya tersambung, dia langsung mendengar suara Siti yang menangis.
“Arief, ce … cepat datang. Tolong ayahmu! Tolong ayahmu!”
Setelah mendengar ucapannya, bulu kuduk Arief langsung berdiri.
“Bu, jangan panik. Apa yang terjadi? Di mana ibu?”
Bukankah ayahnya sedang berada di rumah sakit?
Apa penyakitnya menjadi lebih parah?
“Di kediaman Keluarga Burton! Cepat datang! Ayahmu akan segera mati! Cepat datang!” teriak Siti di ujung telepon sambil menangis. Setelah itu, panggilannya pun terputus.
Seketika, benak Arief langsung kosong.
“Arief, kenapa?” tanya Niko kepada Arief.
Huh ….
“Terjadi sesuatu dengan orang tuaku.”
…
Hari ini matahari sangat terik, para pria dan wanita di pinggir jalan berpakaian dengan santai.
Namun, suasana di dalam kediaman Keluarga Burton justru dipenuhi aura yang dingin.
Tuan Besar Burton duduk di kursi dengan ekspresi datar. Di sampingnya berdiri hampir seribu orang. Semua anggota Keluarga Burton hadir di sini.
Di bawah panggung, Ayahnya Arief ditekan oleh pengawal dan ekspresinya sangat pucat.
Di belakang Ishan, seorang pria kekar sedang memukulnya dengan rotan.
Rotan yang sudah dilumuri minyak menjadi sangat keras dan juga berduri. Setiap pukulannya akan membuat luka baru.
“Plak!” Pria kekar itu terus memukul Ihsan dengan keras. Darah segar sudah membasahi tubuhnya.
Siti juga ditahan oleh yang lain.
Dia terus menangis dengan keras.
“Ihsan, aku tidak mengurus urusan keluarga dan pergi dalam pengasingan selama beberapa tahun, apakah ini caramu mendidik anak? Menodai adik ipar, kenapa anakmu bisa melakukan hal seperti itu? Lalu, di mana Arief sekarang?” tanya Tuan Besar Burton dengan dingin.
Walaupun orang yang berada di depannya adalah anaknya sendiri, Tuan Besar Burton juga tidak menunjukkan belas kasihan. Dia selalu sangat tegas dalam mendidik anggota keluarganya.
Ihsan menggeleng dengan ekspresi pucat. “Arief tidak mungkin melakukan hal seperti itu, tidak mungkin!”
“Kamu masih saja keras kepala!” Jeslin melangkah maju, “Maksudmu, kami semua sedang berbohong? Seluruh anggota Keluarga Burton adalah orang licik, sedangkan Arief adalah satu-satunya orang baik? Arief adalah binatang, dia menodai adik iparnya sendiri. Apakah kalian masih ingin membelanya?”
“Pfft!” Ihsan meludah ke lantai sambil menggertakkan gigi.
“Masih tidak mau mengakuinya, bukan? Pukul terus, pukul sampai dia mengakuinya!”teriak Tuan Besar Burton dengan keras.
Seketika, pria kekar di belakang Ihsan kembali mengangkat rotan di tangannya.
Plak!
Suara pukulan rotan kembali terdengar, tubuh Ihsan tiba-tiba bergetar hebat. Dia menggigit bibirnya dan tidak berteriak, tetapi keringat dingin sudah membasahi keningnya.
“Jangan pukul lagi, kalian jangan pukul lagi ….” Siti yang berada di samping terus berteriak. Dia ingin berlari untuk melindungi suaminya, tetapi beberapa orang terus menahannya, membuat dia tidak bisa
__ADS_1
bergerak.