Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 79 Nita Harus Berlutut Di Hadapannya


__ADS_3

“Kenapa kamu tertawa?”


Ternyata saat ini, Heno langsung menunjuk ke Arief dan berteriak dengan nada kesal.


Dia tahu pria di depannya ini adalah seorang menantu tidak berguna. Kenapa seorang wanita cantik harus menikah dengan sampah seperti pria ini? Walaupun hanya menikah di atas kertas dan tidak tidur bersama, tetap saja menguntungkannya.


Jadi, Heno meremehkan Arief dari awal. Saat melihat Arief menertawainya, dia semakin kesal. “Kalau berani tertawa lagi, aku akan merobek mulutmu. Sini sini, kasih tahu aku, apa yang kamu tertawakan?”


“Tidak, tidak. Aku hanya merasa namamu cukup bagus,” ucap Arief.


Mendengar ucapan Arief, beberapa orang mulai diam-diam melafalkan namanya. Heno Wijaya, Hewan Wijaya, Hewan Wijaya.


Haha! Lucu sekali, benar-benar lucu sekali.


Melihat orang-orang di sekelilingnya menahan tawa, Heno tidak bisa menahan diri lagi. Dia segera berlari, tetapi Nita langsung menghentikannya. Dia berbisik, “Tuan Muda Heno, kita datang untuk bersantai, jangan marah.”


“Baik baik. Betul kata Nona Nita.” Ekspresi Heno langsung berubah. Dia mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Nita. “Nona Nita, sangat senang bisa berkenalan denganmu. Aku sudah mengagumimu sejak lama.”


Arief mendengus dingin. Ketika orang-orang menertawakannya, Heno juga ikut tertawa dan yang paling keras. Kenapa sekarang dia mendekati istrinya?


Saat ini, Nita pun tersenyum dan menjabat tangannya. Setelah itu, dia segera kembali ke sisi Arief. Gerakannya terlihat cepat, tetapi tidak terlihat sombong.


Berjabat tangan dengannya, sudah cukup menghargainya. Walaupun ucapan Heno cukup sopan, tatapannya terus mengarah ke tubuh Nita dan membuatnya tidak nyaman.


Melihat wanita cantik ini menarik kembali tangannya, ekspresi Heno menjadi canggung. Pada saat ini, dia melirik ke arah lain dengan tatapan yang berbinar.


Bukan hanya dia. Bahkan hampir semua orang juga melihat ke sana dan berseru kaget.


Tidak jauh dari sini, dua sosok wanita cantik turun dari mobil.


Debora dan Fransiska.


Mereka berdua kebetulan datang pada waktu yang sama, sehingga berjalan masuk bersama dan menjadi pusat perhatian semua orang.


Satu adalah kembang polisi yang terkenal di Kota Malang dan satunya lagi adalah Nona Muda Keluarga Salim.


Hari ini, Debora mengenakan rok hip-pack, memamerkan sosoknya yang sempurna dan seksi secara maksimal. Lekukannya yang hampir sempurna membuat mata banyak pria terus menatapnya.


Kemudian melihat ke arah Fransiska, dia mengenakan gaun ungu panjang, yang luar biasa lembut, menawan dan sangat bermartabat.


Kemunculan mereka berdua membuat suasana menjadi lebih heboh. Fransiska sampai sekarang masih belum punya pacar, sehingga banyak pria dari keluarga lain yang ingin mendapatkannya.


Sebelum datang, para penggemarnya sudah berpikir bagaimana cara untuk menunjukkan kehebatan mereka di acara kali ini.


Saat ini, Fransiska justru berjalan ke hadapan Arief.


“Kalian sudah datang, pagi sekali,” ucap Fransiska sambil tersenyum.


Namun, ketika melihat Arief dan Nita berdiri dengan dekat, dia tetap saja merasa sedikit kecewa.


Saat ini, Debora juga berjalan kemari dengan sepatu hak tingginya. Dia pun tersenyum kepada Arief, “Adik yang baik, kamu sudah datang.”


Sebenarnya acara seperti ini akan diadakan setiap tahun. Namun, Arief tidak datang tahun lalu dan tidak ada yang menyangka dia akan datang tahun ini.


Adik yang baik? Sejak kapan aku menjadi adik yang baik?

__ADS_1


Arief merasa tak berdaya.


Ekspresi semua orang langsung tertegun.


Sialan! Apa yang terjadi?


Nona Muda Keluarga Salim dan kembang polisi, sejak kapan mereka berdua begitu akrab dengan sampah ini?


Tatapan para penggemar Fransiska juga dipenuhi kecemburuan.


Bahkan Hendry sendiri juga menunjukkan ekspresi jelek. Tunangannya sendiri dan Arief begitu dekat, bagaimana dengan harga dirinya?


Ketika teringat kejadiannya dengan Arief sebelumnya, Hendry pun mendengus dingin. “Debora, kenapa kamu penasaran kalau Arief bisa ikut Tamasya Semi kali ini? Dia bisa datang ke acara kalangan kelas atas karena mengandalkan posisi istrinya, apakah kamu mengira dia pantas ke sini?”


Ucapannya dipenuhi oleh sindirian.


Haha ….


Semua orang kembali tertawa terbahak-bahak. Seketika, Arief kembali menjadi pusat perhatian orang.


“Hendry, kita semua datang untuk main, jaga sikapmu …” ucap Debora dengan pelan.


Arief menyelamatkan seorang anak kecil dari gerombolan perampok itu, sehingga dia pantas dihormati.


Menghalang peluru untuk seorang mahasiswi yang tidak dikenal, dia juga pasti dihormati.


Orang-orang ini masih berani menertawakannya.


“Debora, Kenapa kamu masih membelanya?” Hendry terlihat tidak senang.


“Baik baik. Aku akan menurutimu, ok?” ucap Hendry menjadi lebih lembut.


Walaupun berkata seperti itu, tatapannya kepada Arief dipenuhi oleh kebencian.


Menantu miskin seperti kamu juga berani datang ke acara kali ini? Aku akan membuatmu malu.


“Haha. Semua sudah datang.” Saat ini, Malvin Sutopo berjalan kemari dengan sebuah mikrofon di tangannya.


Malvin adalah Ayahnya Hendry. Kepala Keluarga Sutopo dan juga orang yang mengadakan acara ini.


Setelah berdiri di hadapan semua orang, Malvin berdeham dan melihat ke sekeliling. Lalu, dia berkata sambil tersenyum, “Semua hadirin, kalian adalah generasi muda yang hebat dari setiap keluarga. Kalian juga sudah tahu aturan acara kali ini, jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi. Aku hanya ingin mengingatkan satu hal, di saat kalian bermain, jangan lupa menjaga keamanan!”


Setelah itu, Malvin melambaikan tangannya, “Selain itu, acara Tamasya Semi kali ini diadakan di Danau Dewata. Tapi, sebenarnya tempat ini adalah sebuah teluk yang berisi banyak ikan. Kami sudah menyiapkan alat pancing. Kalian harus memancing untuk mendapatkan makanan sendiri.”


Haha! Semua orang tersenyum.


Orang-orang yang hadir berasal dari kelas atas, dan memancing adalah keterampilan dasar. Setelah menangkap ikan dan memanggangnya di tempat, rasanya pasti enak.


Semua orang bersorak dan pergi untuk mengambil pancing serta berjalan ke pantai.


Beberapa wanita cantik sudah tidak sabar untuk berbaring dan berjemur.


Tentu saja, tujuan acara kali ini adalah menambah teman. Banyak yang memegang gelas anggur dan mulai bertukar kartu nama.


Tentu saja, ada beberapa orang yang tidak lupa menyindiri Arief.

__ADS_1


Seperti David, Hendry dan yang lain.


Setiap pergi ke satu tempat, mereka akan menggunakan segala kesempatan untuk menyindir Arief.


Arief terlihat santai dan tidak memedulikan mereka. Namun, dia sudah mulai kesal dalam hatinya.


Sialan! Orang-orang ini gila ya.


Terutama Hendry, dia yang paling menjijikkan.


Kalau tahu sejak awal, dia tidak seharusnya menyetujui Debora untuk menyelamatkan Hendry di Sekte Minglahi.


Saat ini, ketika di pantai, semua orang mulai lelah untuk memancing. Ada ratusan orang yang hadir, berapa banyak ikan yang harus ditangkap untuk dimakan. Para anak orang kaya ini tidak ingin memancing lagi. Lalu, mereka memutuskan untuk menahan lapar saja. Semua orang memasuki paviliun di sebelah mereka untuk beristirahat.


Pemandangan di depan mereka begitu menawan, ada pulau kecil dan pemandangan yang menyenangkan.


Saat ini adalah saat di mana matahari paling terik. Melihat air danau yang jernih, banyak pria yang ingin melompat ke danau untuk berenang.


Tiba-tiba ada yang menyaran, “Cuaca panas begini, bagaimana kalau kita berenang saja?”


Ucapan itu membuat semua orang antusias. Pada saat yang sama, beberapa tatapan pria langsung mengarah ke Debora dan wanita cantik lainnya. Tatapan mereka dipenuhi oleh antusias dan semangat.


Mereka akhirnya bisa bermain air dengan wanita cantik, bagaimana mungkin tidak senang?


Nita, Debora dan beberapa wanita lain juga kepanasan. Mereka juga ingin ikut berenang, tapi sedikit ragu.


Bagaimanapun, mereka adalah wanita. Jadi, mereka akan merasa malu ketika berenang di depan umum. Lagi pula, mereka tidak membawa pakaian renang untuk acara kali ini.


Pada saat ini, Hendry pun tersenyum dan berkata, “Kalau berenang saja pasti tidak seru. Bagaimana kalau kita berlomba?”


David yang penasaran pun bertanya, “Lomba apa?”


“Tentu saja lomba antar keluarga. Setiap keluarga memilih dua orang, pria dan wanita untuk ikut.” Hendry menunjuk ke arah pulau kecil di tengah danau dan melanjutkan, “Keluarga siapa yang berhasil naik ke pulau kecil itu akan menjadi pemenangnya.”


Bagus!


Para anak orang kaya ini langsung bersemangat ketika mendengar saran itu.


Septian dari Keluarga Simton berjalan ke depan dan berkata, “Karena ini lomba, seharusnya ada taruhannya juga.”


Hendry mengangguk, “Tentu saja ada taruhannya. Tapi, kita harus bicara jelas di awal, hanya pemenang pertama yang mendapatkan uangnya. Setiap keluarga yang kaya harus memberikan 2 triliun kepada pemenang pertama.”


Apa?


2 triliun!


Walaupun ini acara perkumpulan para keluarga kalangan atas, tetapi ada beberapa keluarga yang hanya memiliki aset 2 triliun. Mereka tidak mungkin menggunakan seluruh aset untuk bertaruh, bukan?


Para keluarga kecil di sana langsung menarik napas dalam-dalam. Awalnya, mereka juga ingin mencobanya, tetapi kondisi keuangan tidak mendukung


Hendry pun tersenyum. Dia harus memaksa Keluarga Kimberly untuk ikut serta. Kalau Keluarga Kimberly tidak berani, dia bisa mempermalukan mereka di depan umum.


Dia sudah belajar renang sejak kecil, sehingga pasti akan menang. Kalau Keluarga Kimberly ikut serta, maka keluarga mereka akan bangkrut. Keluarga Kimberly pasti tidak sanggup memberikan 2 triliun.


Saat itu, dia akan mengizinkan Keluarga Kimberly untuk berutang. Namun, Arief dan Nita harus berlutut di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2