
Beberapa menit kemudian, Nova menemukan Arief di tempat makan pinggir jalan.
“Tuan, Manajer kami ingin mempersilahkan Anda kembali,” ucap Nova kepada Arief dengan kening yang penuh keringat.
Dia tidak mengerti, kenapa Steven bisa mencari orang ini dengan panik?
Arief sedang makan bakso dengan santai, dia pun berkata, “Bukankah kalian mengusirku dengan senang tadi? Kenapa sekarang ingin membawaku kembali lagi? Kalian menganggapku seperti apa?”
Nova panik, dia berkata dengan air mata yang tertahan, “Tuan, aku bersalah karena tidak menunjukkan sikap baik sebelumnya. Namun, kalau kamu tidak pulang bersamaku, aku akan kehilangan pekerjaanku.”
Nova menggigit bibir karena kesal. Sebelumnya, dia terus meremehkan Arief, tapi sekarang dia harus memohon kepadanya.
Melihat Nova akan menangis, Arief menghela napas dan berkata, “Baiklah.”
Setelah beberapa menit, mereka kembali ke showroom mobil Audi, Nova lalu mempersilahkan Arief dengan sopan ke dalam ruangan.
“Tuan Burton!”
Melihat Arief masuk, Steven segera menyambutnya sambil tersenyum.
Arief langsung duduk di sofa, dia melirik ke Steven dan berkata, “Orang-orang selalu berkata kalau ekspresi seseorang bisa berubah dengan cepat, hari ini akhirnya aku bisa melihatnya. Bahkan ekspresi anjing bisa berubah lebih cepat dari manusia, kenapa? Apa kamu ingin menyindirku lagi?”
Ekspresi Steven sedikit berubah dan kedua matanya dipenuhi amarah, dia pun berkata dengan hati-hati, “Apa … apa Tuan Burton datang untuk membahas kerja sama?”
Arief tidak menjawabnya, dia kemudian mengeluarkan beberapa dokumen dari tas dan dilemparkan ke atas meja.
Setelah melihatnya, Steven pun tercengang, dia segera tersenyum dan meminta maaf, “Direktur Burton, Anda ini … sebelumnya saya …”
Tidak menunggu Steven selesai bicara, Arief melambaikan tangan dan berkata, “Tidak perlu begitu, sebelum aku pergi, apa yang kamu katakan? Kamu mengusirku, kemudian kamu juga bilang kalau kamu menyesal, seluruh keluargamu akan memanggilku ….”
Ekspresi Steven menjadi kaku, dia memaksakan senyuman yang sangat pahit dan berkata, “Direktur Burton, sebelumnya saya tidak mengenali Anda dengan baik.”
Melihat Arief tidak menjawab, Steven pun membungkuk, dia menggertakkan gigi dan berkata, “Ayah!”
Walaupun kerjasama kali ini, perusahaan Audi memberikan sponsor sebesar 2 triliun kepada Perusahaan Net Media, iklan di dalam acara itu dapat memberikan keuntungan yang sangat besar kepada perusahaan Audi.
Perlu diketahui, acara Superstars terlalu populer.
Jadi, walaupun Steven tidak rela, dia juga harus menundukkan kepalanya. Kalau tidak, dia akan kehilangan jabatan manajer area jika kontrak ini tidak berhasil.
Arief mengangguk dengan puas, dia pun berkata, “Bagus, sikapmu sudah tulus!”
Saat ini, Wulan sudah menyelesaikan prosedur pembelian mobil baru, dia ingin menghampiri Steven untuk berpamitan.
Sebelum masuk, dia tercengang melihat pemandangan di dalam ruangan lewat jendela.
Apa matanya buram?
Orang yang sedang duduk di sofa itu adalah Arief si sampah?
__ADS_1
Lalu, Steven sedang membungkuk dan meminta maaf kepadanya?
Bahkan … Steven memanggilnya Ayah?
Apa dia tidak salah dengar?
“…”
Menyadari Wulan berdiri di depan pintu, wajah Steven memerah karena malu. Dia ingin sekali mencari lubang untuk bersembunyi.
“Anda tunggu sebentar, saya keluar dulu.”
“Tunggu,” ucap Arief sambil melambaikan tangan. “Aku tidak suka menyombongkan diri, sehingga aku juga tidak ingin orang lain mengetahui identitasku. Kamu sendiri tahu bagaimana harus berbicara dengannya.”
“Saya mengerti!”
Steven bukan orang bodoh, dia langsung mengerti maksud Arief dan mengangguk dengan cepat.
Setelah keluar, Steven kembali bersikap seperti seorang manajer area. Dia tersenyum kepada Wulan dan berkata, “Sudah selesai semuanya?”
“Iya, terima kasih!” jawab Wulan sambil tersenyum. Dia yang penasaran pun melirik ke dalam dan bertanya kembali, “Apa yang terjadi? Apa kamu sedang minta maaf kepadanya? Lalu, kenapa dia kembali? Apa dia ingin beli mobil?”
“Uh … itu …” ucap Steven yang merasa bingung. Setelah berpikir sebentar, dia lalu berkata, “Mana mungkin dia punya uang untuk beli mobil? Dia sedang mencari barangnya yang hilang di toko, aku juga sedang menjelaskannya tadi ….”
“Oh!”
Wulan yang mengerti pun berkata dengan nada menghina, “Barang berharga seperti apa yang bisa hilang dari seorang sampah seperti dia? Menurutku, dia sengaja kembali untuk memalak”
Steven segera menahannya, “Tidak perlu, tidak perlu, aku sedang mengurusnya.”
Pada saat yang sama, keringat dingin terus bercucuran dari kening Steven.
Orang itu adalah Direktur Perusahaan Net Media, kamu sebagai sahabat baik Nita justru tidak tahu? Kamu bahkan terus menghinanya.
“Baiklah, aku tidak ikut campur. Kalau kamu dan Nita sudah jadi, jangan lupa traktir aku nanti,” ucap Wulan. Dia lalu berpamitan dengan Steven dan pergi dari sini.
Wulan tidak menyadari senyuman di wajah Steven sangat terpaksa.
“Direktur Burton, bagaimana dengan kontraknya ini?” ucap Steven sambil tersenyum setelah kembali ke dalam ruangan.
“Tanda tangan!”
Arief menjawab dengan tenang, kemudian dia melanjutkan, “Tapi sebelum tanda tangan, kamu harus mengerti satu hal. Aku tidak peduli bagaimana kamu bisa kenal dengan Nita, tapi kamu seharusnya tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.”
“Mengerti mengerti, aku berjanji akan menjaga jarak dengan Ni … Nona Nita mulai sekarang,” jawab Steven dengan cepat.
Arief mengiyakan dan berkata, “Tidak ada hal lain lagi, tapi aku juga ingin menasehatimu, mulai sekarang lebih baik kamu menjaga sikapmu. Jangan terlalu sombong, kalau tidak, itu akan sangat memalukan!”
“Iya iya!” ucap Steven dengan panik.
__ADS_1
Steven kemudian mengingat sikapnya tadi, dia lalu berkata, “Direktur Burton ingin beli mobil, bukan? Demi menunjukkan ketulusan dan keikhlasan, aku akan memberikan satu mobil gratis kepada Direktur Burton, bagaimana?”
“Oh iya? Kalau begitu, aku tidak akan sungkan.”
Dia tidak mungkin menolak barang gratis.
Steven kemudian berkata, “Direktur Burton tidak perlu sungkan! Karena kita sudah bekerja sama, tidak masalah dengan satu mobil. Setelah tanda tangan kontrak, Direktur Burton boleh memilih seri yang Anda sukai.”
Arief tersenyum sambil mengangguk.
Setelah selesai tanda tangan kontrak, Arief berjalan keluar ruangan kantor. Dia kemudian menunjuk ke mobil Audi seri R8 warna putih yang berada di tengah, “Aku akan memilih yang itu.”
Seketika, Steven pun menjadi pucat.
Audi R8 seharga dua milyar lebih!
“Kenapa? Apa kamu menyesal?” ucap Arief ketika melihat ekspresi Steven yang sangat kesulitan itu.
Steven segera menggelengkan kepala, lalu berkata, “Tidak tidak … saya sedang berpikir bahwa mata Direktur Burton memang hebat, R8 ini cocok dengan aura Anda.”
Sambil berbicara, Steven kemudian menyuruh karyawan mengurus dokumen untuk Arief. Walaupun dia tersenyum, hatinya terasa sangat sakit.
Setengah jam kemudian, Arief membawa R8 dan pergi dari showroom Audi dengan senang.
Pada saat itu, semua karyawan di dalam toko kebingungan, mereka tidak mengerti dengan sikap Steven yang menjadi sopan dan bahkan memberikan satu mobil Audi seri R8 kepadanya.
Terutama Nova, dia bahkan tidak bisa berkata-kata karena terkejut.
Apa manajer Steven sudah gila?
Namun, dia juga tidak berani bertanya ketika melihat ekspresi Steven yang tidak jelas.
Setelah menyelesaikan kontrak dengan perusahaan Audi, Arief tidak sibuk lagi. Keesokan harinya, dia menelepon Nita di pagi hari.
Setelah mengetahui Arief akan pulang, suasana hati Nita menjadi lebih baik. Dia sengaja menunggunya di rumah dan tidak pergi ke kantor.
Di ruang tamu, Heny sedang duduk di sofa dengan rambut basah, dia baru selesai mandi dan masih memakai baju tidur.
Sebenarnya, tubuhnya terlihat lebih lembut dan mempesona ketika selesai mandi.
“Kenapa kamu membiarkan sampah itu pulang? Kemarin, aku menanyakan bagaimana hasil pertemuan kamu dengan Steven, tapi kamu tidak ingin menjawabnya. Sebenarnya, apa yang kamu pikirkan?” tanya Heny.
Nita lalu berkata, “Ibu, aku tidak ingin bercerai dengannya dulu.”
“Untuk apa kamu mempertahankan sampah itu? Apa kamu terharu karena dia menggantikan dirimu menjadi tersangka?” ucap Heny yang marah sambil memukul meja. “Nita, kamu jangan merasa terharu karena hal kecil itu. Coba kamu pikirkan, apa kamu merasa bahagia selama tiga tahun menikah? Pokoknya, aku tidak menyukai Arief! Menantu keluarga lain paling tidak memiliki harta puluhan miliar, coba kamu lihat sampah itu!”
Setelah melontarkan ucapannya, Heny melihat keluar jendela ketika mendengar suara. Seketika, dia pun gemetar!
Sebuah mobil Audi warna putih berjalan pelan dan berhenti di bawah.
__ADS_1
Heny tercengang dengan orang yang turun dari dalam mobil.
Dia tidak bisa melupakan sosok ini, orang yang selalu memakai baju pinggir jalan. Kena … kenapa Arief?