
Melihat Arief mengangguk, Cindy lalu berkata kepada Nenek, “Baiklah.”
Melihat Cindy menerimanya, Nenek pun merasa lebih lega.
Selama Cindy tidak terus menyalahkan hal ini, semua akan lebih baik.
Saat ini, Cindy tiba-tiba berkata, “Kita bisa menyudahi masalah ini, tapi aku punya satu syarat.”
“Apa syaratnya Nona Cindy?” ucap Nenek tanpa berpikir.
Cindy berjalan ke samping Nita, setelah memperhatikan orang-orang di dalam ruangan, dia pun berkata, “Mulai hari ini, semua pemasaran dan hal yang berhubungan denganku akan menjadi tanggung jawab Nita. Anggota Keluarga Kimberly yang lain tidak perlu ikut campur, aku hanya percaya dia seorang, apa kalian mengerti?”
Hah? Semua orang terkejut mendengar ucapan ini.
Ucapan Cindy mengartikan bahwa dia menyerahkan semua kuasa kepada Nita, jika tidak ada urusan lain, bahkan Nenek Keluarga Kimberly juga tidak boleh ikut campur.
“Baik baik, kami Keluarga Kimberly akan mendukung keputusan Nona Cindy.” Walaupun Nenek merasa tidak senang, tapi dia terpaksa menahan diri dan mengangguk sambil tersenyum.
Setelah melihat nenek setuju, para anak muda anggota Keluarga Kimberly pun menatap Nita dengan sorotan iri.
Walaupun sementara ini citra Cindy memburuk, tapi Perusahaan Net Media memiliki kemampuan untuk terus mendukungnya. Setelah mendapatkan keyakinan dari calon artis masa depan, bukankah Cindy akan mendapatkan banyak keuntungan darinya?
David merasa tidak berdaya dan ingin menangis.
Saat ini, Cindy tersenyum dan beranjak pergi dari sini.
Tubuh Cindy benar-benar sangat indah, banyak pria yang terus menatapnya sepanjang jalan. Tapi ternyata Cindy tiba-tiba berhenti di samping Arief, dia lalu berkata dengan nada sopan dan sedikit membungkuk, “Kak Arief, kalau tidak ada urusan lain, aku pergi dulu.”
Hah?!
Kak Arief?!
Cindy memanggil sampah itu Kak Arief?
Semua orang bengong dan tidak bisa berkata-kata.
Bahkan Nenek juga hampir saja terjatuh dari kursi.
Mengabaikan semua sorot mata anggota Keluarga Kimberly, Arief mengangguk dan berkata, “Iya, kamu sibuk saja dulu.”
Mendengar ucapannya, Cindy yang seperti menerima titah kaisar pun beranjak pergi dengan sepatu hak tingginya.
Setelah Cindy pergi, Arief pun berdiri dan meregangkan tubuhnya. Dia lalu berkata, “Masalah yang terjadi di internal keluarga justru dibongkar oleh orang luar, benar-benar memalukan.”
Ucapannya terdengar dipenuhi nada sindiran.
Raut wajah Nenek terlihat cukup canggung, beberapa anggota keluarga yang lain juga tidak berdaya.
Setelah melontarkan ucapannya, Arief pun berjalan keluar dari sana dengan santai.
Ketika sampai di luar, Nita tiba-tiba memanggilnya dari belakang, “Tunggu, Arief.”
Arief menghentikan langkahnya, kemudian tersenyum dan menoleh ke belakang, “Sayang, ada apa?”
Mendengar Arief memanggilnya seperti itu, Nita pun menggigit pelan bibirnya. Kalau sebelumnya, Nita pasti akan marah besar, tapi sekarang, dia justru bertanya, “Sebelum kamu datang, apa kamu sudah tahu kebenarannya? Lalu … apa hubungan kamu dengan Cindy?”
__ADS_1
Hmm?
Merasakan nada bicara Nita yang terdengar aneh, Arief pun tersenyum dan bercanda, “Apa … apa kamu sedang cemburu?”
Raut wajah Nita terlihat tidak alami.
Iya, ada apa dengan dirinya? Kenapa dia memedulikan hubungan Arief dan Cindy?
“Aku adalah teman sekolah Cindy, aku juga baru tahu setelah meneleponnya,” ucap Arief sambil tertawa tipis ketika melihat Nita tersipu malu.
Walaupun sudah tahu, Nita masih merasa bingung, “Kalau kalian adalah teman sekolah, kenapa dia harus bersikap sopan kepadamu?”
“Ini ….”
Arief pun bingung bagaimana menjelaskannya, tiba-tiba teleponnya pun berdering.
“Aduh, Bos pasti menyadari kalau aku kabur, aku harus pulang kerja dulu.”
Setelah mendengar dering telepon, Arief segera berpamitan dengan Nita dan berjalan pergi dari sini.
Ketika mengeluarkan ponselnya, dia melihat panggilan dari Fransiska.
“Arief, apa kamu ada waktu? Aku butuh bantuanmu sekarang,” ucap Fransiska dengan nada terburu-buru.
“Baik, aku akan segera datang.”
Arief mengangguk, karena sepertinya Fransiska cukup terburu-buru dari nada bicaranya. Walaupun tidak tahu apa yang terjadi, Arief tetap memiliki kesan baik kepada Fransiska.
Setelah mematikan teleponnya, Arief segera mengemudikan mobil dan pergi ke Panca Heritage.
Arief pun berjalan masuk, dia melihat beberapa bos barang antik dari toko sebelah sedang berdiskusi dengan heboh.
“Barang ini pasti palsu!”
“Betul, barang ini terlihat sangat palsu!”
Arief menerobos kerumunan untuk masuk ke dalam, dia lalu melihat seorang pria botak yang sedang memeluk sebuah vas porselen berwarna-warni di depan meja resepsionis. Sepertinya pria botak itu ingin menjual vas bunga itu, tapi orang-orang di sekelilingnya sedang membahas apakah vas bunga ini asli atau palsu.
Di depan pria botak, selain ada Fransiska dan Hidayat, terlihat seorang pria paruh baya.
Pria botak paruh baya ini memakai pakaian tradisional dan kacamata, dia terlihat seperti seorang guru besar. Orang ini adalah Ayah dari Fransiska yang bernama Handoko Salim, dia juga merupakan kepala keluarga Salim dan pebisnis barang antik yang paling terkenal di kota Malang. Saat ini, Handoko sedang menatap vas bunga itu dengan seksama.
Namun, di kerumunan itu juga terlihat sosok yang familier.
Orang itu adalah Jenny!
Kenapa dia bisa berada di sini?
Arief yang bingung pun menyadari sesuatu, Keluarga Kimberly memiliki hubungan yang baik dengan Keluarga Salim, seharusnya Jenny datang untuk mencari Fransiska.
Sambil berpikir, Arief tidak bisa menahan diri untuk menatap Jenny lebih lama.
Tidak bisa dipungkiri, Jenny juga sangat cantik.
Tidak peduli bagaimana mereka berdandan, orang cantik akan selalu terlihat cantik. Hari ini, Jenny memakai gaun panjang warna merah tua yang dibalut sutra biru, dia pun terlihat seksi dan menawan, tapi juga tidak kehilangan keanggunannya.
__ADS_1
Jenny juga terkejut melihat Arief.
Kenapa dia bisa datang?
Apa dia juga datang melihat keramaian?
Sambil berpikir, Jenny teringat Arief yang menilai hadiah giok yang diberikannya kepada Nenek. Ucapan Arief yang saat itu membuat Jenny curiga.
Namun, mereka berdua jarang bertemu, sehingga walaupun penasaran, Jenny juga tidak pernah menyapa Arief.
Saat ini, Handoko sedang menilai vas bunga di tangannya. Orang-orang di samping hanya bisa memanjangkan leher untuk melihatnya, mereka bahkan tidak berani bersuara.
Beberapa bos barang antik juga terlihat fokus.
Sebagai kepala Keluarga Salim, Handoko sudah berada di tingkat master dalam dunia barang antik. Siapa yang berani berbicara di depannya?
“Porselen ini walaupun terlihat indah dan juga memiliki kualitas yang tinggi, tapi aku tidak bisa mengetahui zaman produksi porselen ini dari bentuknya,” ucap Handoko sambil menggelengkan kepala setelah melihatnya.
Sorot mata pria botak terlihat berbinar, dia tersenyum dan berkata, “Keluarga Salim memiliki reputasi tinggi di dunia barang antik, Tuan Handoko tidak bisa mengenali vas bunga kecil ini? Jangan bercanda denganku.”
Handoko tersenyum tipis dan menjawab, “Porselen berasal dari beberapa kerajaan di zaman dulu, dari kerajaan paling awal sampai kerajaan terakhir, proses pembuatan porselen semakin matang setelah melewati beberapa kerajaan. Pada kerajaan terakhir, porselen yang diciptakan terlihat lebih indah, namun sebelum itu, semua porselen yang tercipta terlihat kasar dan juga sederhana.”
“Porselen kamu ini terlihat tebal dan kasar, sepertinya berasal dari kerajaan ketiga, namun ukiran di atasnya sepertinya berasal dari kerajaan keempat dan kelima, tapi bentuk dari porselen ini juga sepertinya berasal dari gaya barat ….”
Membicarakan sampai di sini, Handoko pun menatap pria botak dan tersenyum tipis, “Walaupun barang ini sangat indah, tapi porselen ini tidak berasal dari kerajaan mana pun. Kalau aku tidak salah, seharusnya ini produk zaman modern, hanya saja pengrajin memiliki teknik yang terampil.”
Ucapan Handoko membuat semua orang kagum dan terus memujinya.
“Ternyata Tuan Handoko memang sangat hebat.”
“Betul, aku juga tidak bisa mengambil keputusan tadi, tapi setelah mendengar ucapan Tuan Handoko, semuanya pun terdengar jelas.”
“Jarang bisa bertemu dengan Tuan Handoko, apalagi bisa mempelajari sesuatu darinya seperti hari ini.”
Pujian dari beberapa bos barang antik membuat Fransiska bangga dan senang.
Ketika pria botak membawa porselen ke Panca Heritage, Fransiska tidak bisa mengenalnya dengan baik. Bahkan beberapa bos barang antik juga tidak bisa menilai keaslian vas bunga ini.
Jadi, Fransiska pun menelepon Arief dan Ayahnya di saat yang bersamaan.
Setelah mendengar Handoko berkata dengan tegas, sorot mata pria botak terlihat rumit, dia lalu berkata sambil tersenyum, “Kalau Tuan Handoko mengatakan bahwa barang ini adalah produk zaman sekarang, siapa keluarga porselen terkenal yang sanggup membuat porselen seindah ini?”
“Ini …” Handoko mengerutkan kening dan tidak bisa mengatakannya.
Saat ini, Arief pun melangkah maju dan berkata, “Kalau tidak, biarkan aku yang melihatnya?”
Ucapan ini membuat semua orang tertegun.
“Anak muda, waktu itu kamu berhasil menebaknya karena beruntung, apa sekarang kamu ingin berlagak hebat lagi?”
“Sekarang, Tuan Handoko sudah menjelaskan dengan detail, kenapa kamu masih ingin melihatnya lagi?”
“Cepat pergi sana, memalukan.”
Beberapa bos toko barang antik pun terus membicarakannya.
__ADS_1
Apa anak muda ini gila? Tuan Handoko sudah mengambil keputusan, kenapa dia masih ingin melihatnya? Apa dia sedang mencurigai keputusan Tuan Handoko?