Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 70 Mau Jadi Apa!


__ADS_3

“Arief. Lepaskan ikatan kami dulu. Lalu, siapa orang-orang tadi? Kenapa mereka mencarimu?” tanya Nita.


Arief menggelengkan kepalanya, “Tidak ada. Aku juga tidak kenal mereka. Semua salah paham, mereka salah orang.”


Arief tidak mungkin menceritakan bahwa dirinya menjadi ketua sekte cabang di Sekte Minglahi.


Bagaimanapun, reputasi Sekte Minglahi juga tidak baik.


Sambil berbicara, dia juga melepaskan ikatan mereka bertiga.


Saat ini, pintu tiba-tiba terbuka dan terdengar suara teriakan!


“Arief! Apa yang kamu lakukan?”


Ketika melihat ke arah pintu masuk, Ayahnya Fransiska, Handoko, sedang berdiri di sana dengan ekspresi kesal. Kedua matanya dipenuhi emosi kesal dan dingin. Sudut bibirnya terus berkedut.


“Mau jadi apa, mau jadi apa kalian!” Handoko memegang dadanya karena sangat kesal. Dia langsung melemparkan tas kantornya ke lantai. “Aku tahu pikiran anak muda sangat terbuka, tetapi kalian juga tidak boleh seperti ini. Kalian bertiga … diikat erat-erat, mau jadi apa kalian ini?”


Handoko memegang dadanya dengan napas terengah-engah.


Sejak kecil, dia sudah mengajari anaknya untuk menjaga diri dengan baik.


Dia marah dan tidak bisa menerima bahwa putrinya yang selalu patuh juga berpartisipasi. Mau jadi apa dia? Mau jadi apa!


“Kesalahan anak adalah kesalahan orang tua.” Handoko mundur beberapa langkah, memutar bola matanya dan hampir pingsan.


“Paman Handoko.” Arief segera datang membopong Handoko dan tidak melepaskan ikatannya.


Ini … ini … apa yang Handoko pikirkan?


Arief merasa tidak berdaya.


Orang tua ini benar-benar sangat kesal ….


Saat ini, Fransiska, Nita dan Shinta tersipu malu dengan wajah memerah.


Saat ini, Handoko melihat ke arah meja teh dan hampir saja pingsan.


Tisu!


Di atasnya juga masih ada ingus berwarna putih yang sangat jelas.


“Arief, kamu!” Wajah Handoko menjadi pucat dan bibirnya terus gemetar.


Kenapa putrinya dinodai begitu saja oleh Arief?


Anaknya pintar, cantik dan sangat lembut. Orang yang ingin mengejar putrinya sangat banyak. Kenapa dia memilih Arief? Arief hanyalah seorang menantu tidak berguna.


“Itu … itu … Paman Handoko jangan marah. Paman salah paham, aku pergi dulu.” Arief sangat panik. Sialan, kalau tidak kabur sekarang, kapan lagi? Kalau tidak pergi sekarang, orang tua ini pasti akan terus membayangkan yang aneh-aneh.


Saat ini, dia segera mengambil gunting dan melepaskan ikatan tiga orang ini. Karena terburu-buru, tangannya tidak sengaja menyentuh dada Fransiska.

__ADS_1


Namun saat ini, dia tidak ada waktu untuk merasakannya. Dia segera membawa Nita dan Shinta pergi dari sini dengan cepat.


Ketika dia pergi, Handoko duduk lemas di sofa sambil memegang dadanya.


“Ayah, jangan marah. Ayah salah paham dengan Arief. Kejadian ini bukan seperti yang Ayah pikirkan.” Fransiska segera menghampirinya untuk menjelaskan.


“Kalau begitu coba ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi?”


“Tadi ada sekelompok orang menerobos masuk …” Fransiska berusaha menjelaskan kejadiannya.


Tapi, dia tidak tahu apa yang dibicarakan Luntoro dan Arief di dalam kamar.


“Segerombolan orang masuk ke rumah kita dan mengikat kalian bertiga? Kemudian mereka pergi tanpa melakukan apa pun?” Setelah mendengar cerita anaknya, Handoko semakin kesal. “Anakku, apakah kamu mengira Ayahmu sudah pikun? Apakah kamu pikir alasan yang tidak masuk akal seperti itu bisa menipuku?”


“Ayah ….”


“Fransiska, dengarkan Ayah. Ayah tahu kalian anak muda memiliki pemikiran lebih terbuka dan memiliki lebih banyak gaya. Tapi kamu jangan lupa, kamu adalah Nona Besar Keluarga Salim dan Arief sudah punya istri.”


Setelah itu, Handoko menutup mata dan menggelengkan kepalanya. “Kenapa Nita membiarkan suaminya melakukan hal seperti ini?”


“Aku ….” Wajah Fransiska memerah dan merasa sangat depresi.


Sepertinya, penjelasannya tidak akan diterima oleh Ayahnya.


Handoko juga semakin marah. “Aku juga tidak mengerti, apa hebatnya seorang Arief? Selain bisa menilai barang antik, apakah dia punya kemampuan lain?”


Fransiska memutuskan untuk diam dan mendengarkan saja.


“Tapi anakku, kalau kamu benar-benar menyukainya, Ayah akan menghormati pilihanmu. Tapi Ayah punya satu persyaratan, yaitu dia harus bercerai dengan Nita. Oh iya, wanita satu lagi bernama Shinta, bukan? Dia juga harus memutus hubungan dengannya. Ayah harus menjamin dia harus setia kepada kamu seorang.”


Walaupun berkata seperti itu, bayangan Arief terus muncul di benak Fransiska dan memunculkan riak dalam hatinya.


Tapi … Arief benar-benar sulit dipahami.


Dia seolah-olah bisa memberikan kejutan setiap saat.


Orang lain selalu mengatakan bahwa dia seperti sampah, lemah dan tidak punya apa pun. Namun, Arief yang dia kenal seperti lautan dalam yang tidak bisa ditebak. Dia selalu merasa lebih aman ketika berada di sisi Arief.


Aneh sekali. Kenapa dirinya bisa berpikir seperti itu?


Pemikiran ini membuat wajah Fransiska semakin merah.



Setelah meninggalkan kediaman Keluarga Salim, Nita turun di depan supermarket.


“Arief, kamu antar Shinta pulang dulu,” ucap Nita. “Aku akan membeli sayur dan masak untukmu.”


Masak untukku?


Setelah tiga tahun menikah, Arief yang selalu memasak. Sejak kapan dia pernah membayangkan Nita masak untuknya?

__ADS_1


“Baik baik baik.” Arief terus mengangguk dan melihat Nita masuk ke supermarket. Setelah itu, dia menyalakan mobil dan membawa Shinta pulang.


Setelah menyisakan mereka berdua, Shinta menjadi sangat canggung di dalam mobil.


Arief pun tersenyum ketika menyadarinya. “Jangan tegang. Aku tidak makan manusia.”


“Tidak … tidak tegang,” ucap Shinta sambil meletakkan kedua tangan di kakinya.


Dia memang tidak makan manusia, tapi Shinta sangat takut padanya.


Waktu berada di Bar Mediterania, dia melihat ayah angkatnya Agus, Vincent, membungkuk kepada Arief.


Hari ini, pria ini juga memarahi Fiesta di telepon.


Shinta menyesalinya. Kenapa dia tidak memperlakukan Arief dengan baik? Dia selalu menyuruhnya untuk cuci baju, meremehkannya dan mempermalukannya.


Siapa sangka, Arief ternyata begitu hebat.


“Kamu adalah teman baiknya Nita,” ucap Arief. “Aku sudah menikah dengan Nita tiga tahun, aku tahu kamu selalu baik dengannya. Kamu selalu memikirkannya kalau ada hal baik. Begini saja, aku juga akan memberi tahu satu hal baik untukmu.”


Berbicara sampai di sini, Arief pun berkata kembali. “Aku akan membuka sebuah perusahaan real estate dan merekrutmu sebagai general manajer.”


“Se … serius?” tanya Shinta yang sangat gembira.


Arief tersenyum dan mengangguk.


Belakangan ini, dia sudah mempelajari bahwa ada dua industri yang memiliki masa depan cerah.


Pertama adalah industri hiburan.


Kedua adalah industri real estate.


Kedua industri ini, dalam sepuluh tahun ke depan, pasti akan terus berkembang dan semakin baik. Saat ini, orang suka mengejar artis dan menganggap idola mereka lebih penting daripada diri mereka sendiri. Mereka juga suka menghabiskan uang untuk idola mereka. Oleh karena itu, industri hiburan memiliki prospek yang tidak terbatas. Tapi, dirinya sudah punya Perusahaan Net Media dengan acara Superstars yang sangat terkenal.


Sudah saatnya dia berinvestasi di dunia real estate.


Fiesta juga sukses besar di industri real estate bukan?


Dia mendengar bahwa Fiesta akan mengembangkan bisnisnya ke luar provinsi. Jadi, tidak ada konflik jika dia membuka perusahaan real estate sendiri.


Di sekeliling Kota Malang ada beberapa tanah dengan lokasi yang tidak buruk. Diperkirakan kereta bawah tanah akan terhubung dalam beberapa tahun, selama perusahaan real estate didirikan, dia bisa mengambil beberapa tanah dulu. Setelah itu, dia juga pasti akan untung besar.


Perusahaan real estate membutuhkan manajer yang bisa diandalkan. Walaupun Shinta seorang wanita, dia pernah bekerja di perusahaan real estate dan sekarang bekerja di perusahaan interior. Pengalaman dia dengan real estate sangat banyak.


“Aku akan memberikan gaji lima kali lipat dari gaji normal,” ucap Arief sambil melambaikan tangan.


Terkejut!


Gaji lima kali lipat! Ini ….


“Terima kasih, terima kasih Ayah” Shinta sangat terkejut dan sekaligus senang. Dia ingin mencium pria ini.

__ADS_1


“Tidak perlu terima kasih, aku punya syarat.” Arief melambaikan tangannya. “Aku memberikan gaji besar, karena kamu sering bersama Nita. Kalau terjadi sesuatu dengan Nita, kamu harus memberitahuku pada waktu pertama.”


“Anakmu berjanji!” ucap Shinta sambil tersenyum.


__ADS_2