Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 66 Berlagak Hebat di Depan Ahli


__ADS_3

“Katakan sekali lagi?” Pelayan itu juga marah. “Kamu benar-benar tidak tahu malu. Kalau tidak sanggup beli, jangan datang ke mall mewah seperti ini. Memakai pakaian murahan juga berani datang ke sini? Bagaimana kalau bajunya kotor setelah dicoba? Walaupun tidak kotor, kalian juga akan pergi setelah mencobanya, sehingga hanya menyia-nyiakan waktu kami yang berharga.”


“Betul. Gadis ini tidak salah!” Pada saat ini, wanita yang tampak kaya itu berkata sambil tersenyum, “Mereka juga tidak mudah menjadi pelayan di sini. Kalau tidak ingin beli, jangan mencobanya. Di bawah sana ada pasar barang lokal. Pakaian di sana lebih cocok untuk kalian.”


“Arief, ayo kita pergi,” bisik Nita sambil menarik Arief.


Sebenarnya, Nita hanya bercanda dengan Arief. Dia tidak benar-benar ingin menyuruh Arief membelinya.


Arief menyuruh Nita diam dulu. Dia kemudian berkata sambil tersenyum. “Aku bukan hanya ingin beli yang ini. Semua jenis pakaian yang bisa dipakai oleh istri ku di toko ini, aku akan membeli semuanya.”


Setelah itu, dia langsung melemparkan kartu banknya.


Pelayan itu menahan tawa dan menerima kartu banknya. “Baik! Tadi pagi, kami baru saja menghitung pakaiannya. Total ada 80 buah dengan model yang berbeda, semuanya 3,96 miliar. Kalau uang di rekeningmu tidak cukup, aku akan lapor polisi.”


Sambil berkata, pelayan itu berjalan ke kasir. Dia tentu saja tidak mengenali kartu Bank Permata.


Diikuti oleh suara mesin, saldo kartu ini ternyata cukup?


3,96 miliar berhasil digesek dari kartu ini?


Semua orang bengong!


Kartu biasa akan mengeluarkan tanda terima setelah digesek. Namun, kartu Bank Permata ini akan menunjukkan saldo di komputer kasir setelah digesek.


Dari sudut ini, hanya beberapa pelayan yang bisa melihatnya.


Ini … ini … 11,6 triliun?


Jumlah angka nol yang panjang di belakang membuat kaki beberapa pelayan lemas dan berjongkok di lantai.


“Maaf, maaf, Tuan! Maaf ….” Pelayan itu sudah mulai menangis dan terus meminta maaf. Manajer toko juga ikut keluar dan membungkus semua pakaian itu.


“Tidak perlu minta maaf.” Arief tersenyum dan menunjuk ke pelayan lain di toko. “Semua komisinya berikan ke pelayan ini. Kemudian, bawa semua pakaian ini dan antar ke kediaman Keluarga Kimberly.”


Setelah itu, Arief menarik Nita keluar dari sana.


Meninggalkan orang-orang yang saling bertatapan satu sama lain.


Keluarga Kimberly? Pantas saja memiliki banyak uang, ternyata mereka dari Keluarga Kimberly ….


“Kenapa kamu membeli sebanyak itu?” tanya Nita setelah keluar.


Arief tersenyum sambil melihatnya. “Karena ini pertama kali aku membeli baju untuk istri. Aku ingin istriku memakai pakaian baru setiap hari.”


“Dasar!” Nita memelototinya, tetapi merasa sangat senang dalam hati. “Oh iya, kenapa kamu punya banyak uang? Jangan bilang kalau kamu pinjam dari teman?”


Lalu saat ini, tiba-tiba terdengar suara keributan tidak jauh dari sini.


Di belokan sana berkumpul banyak orang,


Di antara kerumunan itu, berdiri sesosok wanita cantik yang sangat menarik perhatian. Siapa lagi kalau bukan Fransiska?


“Direktur Fransiska, kenapa dia berada di sini?” tanya Nita ketika melihat Fransiska. “Ayo kita lihat ke sana.”

__ADS_1


Ketika memasuki kerumunan, mereka melihat seorang penjual barang antik sedang memegang sebuah pedang berkarat. Dia berkata, “Aku kasih tahu, pedang ini adalah pedang warisan leluhurku yang sudah beberapa generasi. Berdasarkan ucapan Kakekku, pedang ini adalah barang antik dari zaman dinasti kuno. Coba lihat karat di atasnya ….”


Semua orang pun menertawainya.


“Zaman dinasti kuno? Jangan membual.”


“Betul! Pedang itu pasti palsu.”


Wajah penjual langsung memerah dan mulai berdebat dengan beberapa orang.


Arief memperhatikan sekitar, selain Fransiska, beberapa pemilik toko barang antik di sekitar Panca Heritage juga ada di sini. Dia juga melihat beberapa orang yang tidak pernah ditemuinya, sepertinya mereka adalah orang-orang yang berbisnis barang antik.


Saat ini, Fransiska juga melihat Arief. Dia tersenyum sambil mengangguk.


Dia tidak menyangka bisa bertemu Arief di sini. Hanya saja … Nita tidak pernah berjalan bersama Arief, kenapa hari ini mereka bisa keluar bersama?


Arief tersenyum kepada Fransiska. Lalu, dia kembali menatap pedang kuno di tangan penjual itu.


Hmm?


Garis-garis pada pedang kuno ini agak istimewa. Lalu, bagian yang tidak tertutup karat juga memiliki lingkaran cahaya aneh yang mengalir samar.


Ada yang menarik dari pedang ini.


“Bos, berapa harga pedang ini?” tanya Arief setelah memperhatikannya sebentar.


Penjual itu pun berkata, “1,6 miliar. Tidak bisa kurang lagi.”


Sambil berbicara, kedua mata penjual itu berbinar dan terlihat sedikit licik.


Wah!


“Gila ya?”


“1,6 Miliar? Kenapa kamu tidak merampok saja?”


“Sepertinya tidak pernah punya uang banyak, bukan? Semua barang jualan ditotal juga tidak lebih dari 16 juta.”


Fransiska dan beberapa bos barang antik juga menggelengkan kepala dan tersenyum.


Penjual ini benar-benar sangat jahat. Dia mau menjual pedang rusak ini seharga 1,6 miliar?


Lalu, masih ada yang mengejutkan mereka di belakang.


“1,6 miliar? Baik, aku akan membelinya,” ucap Arief setelah berpikir sebentar.


Wah!


Semua orang langsung heboh.


Dia benar-benar membelinya?


Membeli pedang rusak seharga 1,6 miliar? Apa orang ini gila?

__ADS_1


Saat ini, beberapa bos toko barang antik juga menggelengkan kepalanya.


Mereka semua sudah memperhatikannya sedari tadi. Pedang kuno ini tidak ada hubungannya dengan barang antik. Jadi, sama saja seperti besi tidak berguna.


Hanya Fransiska yang mengerutkan kening dan memikirkannya dengan serius.


Nita benar-benar amatir dalam hal barang antik, tetapi melihat reaksi orang-orang di sekitarnya, dia ingin membujuk Arief.


Namun, memikirkan kemampuan Arief untuk menilai barang antik, dia menahan diri. Namun ... orang juga bisa melakukan kesalahan, bahkan jika Arief memiliki kemampuan, dia tidak boleh begitu percaya diri. Pedang ini jelas palsu! Bahkan jika asli, pedang ini sudah penuh karat dan tidak berharga.


“Kalian lihat sendiri. Kawan kita ini lebih mengerti barang.” Orang yang paling senang adalah penjualnya. Setelah Arief bayar, penjual langsung memberikan pedang kuno itu kepada Arief dan tidak lupa mengacungkan jempol kepadanya.


Faktanya, pedang kuno ini ditemukan oleh penjual di lumpur di tepi sungai. Awalnya, dia asal sebut harga, tetapi ternyata benar-benar ada yang membelinya.


Di tengah kehebohan orang-orang, Arief membungkus pedang kuno itu.


Saat ini, Fransiska melihat sebuah piring porselen bunga dengan glasir celadon, dia pun berkata, “Bos, berapa harga yang ini?”


Arief kemudian menyadari beberapa bos barang antik langsung bersemangat ketika melihat Fransiska berbicara.


Fransiska dan beberapa bos barang antik muncul di sini bukan datang untuk jalan-jalan. Mereka mendengar dari orang lain bahwa ada sebuah piring dari Dinasti Songia yang dijual di sini.


Ada banyak hal khusus dalam jual beli barang antik, termasuk pengamatan dan cara menawar.


Lalu, Fransiska bertanya ketika penjual baru saja menjual sesuatu dan menemukan momen yang tepat.


“Nona memiliki mata yang bagus. Aku mendapatkan piring ini dari temanku. Dia bilang kalau ini barang bagus. Kalau kamu suka, aku akan menjualnya dengan harga 400 juta,” ucap penjual kepada Fransiska sambil tersenyum.


Fransiska tidak menjawab, tapi merenung.


Beberapa pemilik toko barang antik di sebelahnya mulai berbicara.


“Bos, apakah kamu tahu siapa Nona yang berdiri di depanmu sekarang? Kamu bahkan berani menjualnya dengan harga 400 juta?”


“Iya, aku sudah melihat piring porselen ini beberapa saat. Warna glasirnya bagus, polanya sangat indah, tetapi tidak memiliki aura sajak kuno.”


"Ya, benda milikmu ini terlihat seperti pengerjaan dan lukisan itu adalah teknik Dinasti Songia. Tetapi ini termasuk barang palsu, hanya bisa dibilang barang palsu berkualitas tinggi."


“Tidak berharga senilai 400 juta.”


Mendengar ucapan beberapa bos barang antik, ekspresi penjual tetap santai. “Pokoknya barang ini memang seharga itu, terserah kalian mau beli atau tidak.”


Ucapannya membuat beberapa bos antik menggelengkan kepalanya.


Fransiska juga kehilangan minatnya. Walaupun palsu, barang ini juga berharga sekitar 100 juta. Kalau 400 juta … orang bodoh yang akan membelinya.


“Bos, coba aku lihat.” Saat ini, Arief tiba-tiba berbicara.


Karena mendapatkan 1,6 miliar dari Arief, penjual yang antusias langsung memberikan piring porselen itu kepada Arief.


Beberapa bos barang antik juga terus memperhatikan Arief.


Arief mengambil piring porselen, melihatnya dengan seksama, lalu mengulurkan tangannya untuk menyentilnya dan berkata perlahan, “Piring porselen palsu jenis ini akan mengeluarkan suara renyah ketika disentil, tapi suara ini sangat jernih. Lalu, melihat porselen yang sangat baru bukan karena baru diproduksi, tetapi karena pemilik sebelumnya sangat menghargainya. Pemilik sebelumnya juga tahu beberapa pengetahuan tentang perawatan barang antik, sehingga terlihat seperti baru.”

__ADS_1


Setelah itu, Arief memberikan piring porselen kepada Fransiska dan berbisik, “Menurut pengalamanku, barang asli ini pasti berharga 400 juta.”


Mendengar ucapan Arief, Nita langsung panik dan berbisik, “Arief, jangan asal bicara. Direktur Fransiska bisa menilai asli atau tidak. Kamu jangan berlagak hebat di depan ahlinya.”


__ADS_2