
David!
Dia memakai pakaian santai dan diikuti oleh seorang sekretaris wanita yang cantik di belakangnya. Sepertinya, mereka sedang jalan-jalan.
Di tangan sekretaris wanita itu terdapat beberapa kantong belanja.
Nita mewakili Keluarga Kimberly untuk bekerja sama dengan Perusahaan Net Media, kemudian dia juga harus bekerja keras. Namun, David justru menggunakan uang perusahaan dan membawa sekretaris untuk jalan-jalan.
Arief hanya mendengus dingin dalam hati, dia tidak ingin memperdulikan David dan ingin pergi dari sini.
Namun, orang-orang di depannya sangat banyak, sehingga dia tidak bisa berjalan dengan cepat.
Melihat Arief tidak mempedulikannya, David tersenyum dingin dan menghinanya, “Arief hebat juga, kamu bahkan membawa mobil R8.”
Sambil berbicara, dia melihat melirik ke arah Shinta yang duduk di samping pengemudi.
David sempat tertegun karena terpesona dengan kecantikan Nita, dia lalu berkata sambil tersenyum, “Nona ini terlihat asing, siapa namanya?”
Walaupun Shinta adalah sahabat baik Nita, David juga tidak pernah bertemu dengannya, sehingga tidak mengenalnya.
Shinta tentu saja tidak mengenal David, karena tidak mengerti situasinya, dia tidak berani berbicara dan pura-pura tidak mendengarnya.
Arief menatap David dengan ekspresi datar, “Apa hubungannya denganmu?”
Ekspresi David menjadi suram, nada bicaranya menjadi lebih tinggi, “Arief, kamu seorang menantu yang mengandalkan istri, kenapa harus berlagak di depanku? Kenapa kalau kamu mengemudikan Audi R8? Ini pasti bukan mobilmu, bukan?”
Sambil berbicara, David melihat lagi ke Shinta.
Pada saat itu, David sudah menganggap kalau mobil ini milik Shinta.
Lalu, dia juga tidak perlu menebak lagi hubungan Arief dan Shinta.
Melihat Arief hanya tersenyum dan tidak berbicara, David melanjutkan penghinaannya, “Arief, kamu hebat juga. Selain hidup gratis dan mengandalkan istri selama tiga tahun di Keluarga Kimberly, kamu bahkan mencari tante kaya sekarang? Hehe, kamu benar-benar mempermalukan Keluarga Kimberly ….”
Saat ini, orang-orang mulai berkumpul untuk menyaksikan kerumunan.
Mendengar ucapan David, semua orang langsung heboh.
“Haha, ternyata anak muda ini adalah menantu Keluarga Kimberly itu? Aku masih mengira kalau dia adalah generasi kedua yang kaya.”
“Orang ini benar-benar tidak tahu malu, hebat!”
“Menarik, selain mengandalkan istri di rumah, dia juga mendapatkan tante kaya. Semua ini memang membutuhkan kemampuan.”
“Pada saat itu, pernikahan Nita dan sampah ini menjadi bahan tertawaan seluruh kota Malang. Haha, sekarang ternyata aku bisa bertemu dengan sampah ini.”
Satu per satu sindiran mulai memasuki telinga Arief, dia pun mulai kesal.
Sialan, setiap kali bertemu, David pasti merasa tidak nyaman kalau tidak menyindir Arief.
Pada saat ini, Shinta juga mulai marah dan wajahnya yang cantik menunjukkan aura dingin.
Shinta pertama kali difitnah oleh orang lain.
Walaupun dia membutuhkan seorang pria, Shinta juga tidak akan mencari Arief.
Ketika David ingin melanjutkan, Shinta sudah turun dari mobil.
__ADS_1
Seketika, perhatian semua orang berfokus kepada Shinta.
Banyak orang yang terpesona dengan keindahan tubuh Shinta, mereka juga curiga dengan apa yang akan dilakukan oleh Shinta.
Apa yang ingin dilakukannya?
Kebanyakan dari mereka juga berpikir seperti itu.
Di hadapan semua orang, Shinta berjalan ke hadapan David dengan sepatu hak tinggi.
“Cantik, apa kamu baru tahu anak muda ini ternyata menantu yang mengandalkan istri? Tidak apa-apa, kamu tidak perlu berterima kasih kepadaku …” ucap David dengan nada sombong ketika melihat Shinta berjalan ke depannya.
Phak!
Setelah mendengarnya, Shinta langsung menampar David dengan keras.
Wah!
Tamparan yang keras itu membuat setengah dari jumlah orang yang berada di jalan terdiam, orang-orang itu tertegun melihatnya.
“Kamu … wanita jalang, kamu berani memukulku?” teriak David dengan marah sambil memelototi Shinta.
Sekretaris wanita yang berada di samping juga terkejut, dia segera membopong David dan bertanya dengan nada lembut, “Kak David, kamu tidak apa-apa, ‘kan?”
Setelah itu, dia memelototi Shinta, “Kenapa kamu memukulnya?”
Shinta juga tidak melihat sekretaris itu, dia terus memelototi David dan berkata dengan nada dingin, “Emang kenapa kalau aku memukulmu? Apa orang yang suka memfitnah sepertimu tidak pantas dipukul?”
Saat ini, Shinta kembali menunjukkan sikap galaknya, David dan sekretaris pun tercengang melihatnya.
“Wah, wanita cantik ini galak juga.”
“Dia benar-benar sedang panas!”
Tidak sedikit orang yang terus membicarakannya, tapi mereka tidak berani berbicara dengan nada tinggi karena takut kedengaran oleh Shinta. Mereka tidak berani menyinggung wanita cantik yang galak ini.
Orang-orang tidak memperhatikan ketika Shinta sedang memarahi David, dia berusaha melirik ke arah Arief.
Melihat sudut bibir Arief yang terangkat, Shinta semakin berani.
“Dasar anjing yang suka merendahkan orang, apakah Kak Arief masih perlu mencari wanita kaya? Matamu benar-benar buta!”
Kak Arief?
Mendengar panggilan Shinta kepada Arief, semua orang tertegun termasuk David.
Setelah memarahinya, Shinta kembali ke samping mobil, dia tersenyum manis dan berkata dengan sopan, “Kak Arief, aku tidak melakukan kesalahan, bukan?”
“Kamu sudah melakukannya dengan baik,” ucap Arief sambil tersenyum.
Shinta sangat senang setelah mendapatkan pengakuan dari Arief, dia lalu berkata, “Mobilku di servis di depan sana, kalau tidak, Kak Arief tidak perlu mengantarku lagi?”
“Baik, pergilah!” ucap Arief sambil mengangguk.
Shinta pun mengiyakan dan berpamitan dengan Arief. Di hadapan tatapan orang yang curiga, dia berjalan pergi dari sini.
Ketika wanita cantik ini pergi, orang-orang yang tidak tertarik lagi segera membubarkan diri.
__ADS_1
Pada saat ini, David baru sadar dan merasa sakit di wajahnya. Kedua matanya terlihat berapi-api, dia memelototi Arief dan berkata, “Bagus kamu Arief, ternyata bukan wanita kaya, kamu sudah sanggup memelihara selingkuhan, bukan?”
“Cepat jujur, ada apa dengan mobil ini? Apakah Nita menggunakan uang dari perusahaan?”
Mendengar David yang mulai heboh kembali, Arief hanya tersenyum dan berkata, “Tidak perlu memperdulikan mobil ini, pokoknya tidak ada hubungan sama sekali dengan perusahaan Keluarga Kimberly.”
Setelah itu, Arief segera menancap gas dan pergi dari sini.
“Sialan! Tunggu kamu, kita masih belum selesai.”
David menatap kepergian Arief dengan kesal, kedua matanya dipenuhi oleh kebencian. Dia kemudian membawa sekretaris pergi dari sini.
Perusahaan Net Media.
Setelah pergi dari sana, Arief kembali ke kantornya. Dia kemudian memberitahu Nita bahwa ada urusan lain, sehingga dia tidak pulang malam ini.
Nita juga tidak bertanya, dia hanya membalas, “Mengerti.”
Suasana hati Arief tetap tidak berubah walaupun bertemu David.
Walaupun David memiliki posisi tinggi di Keluarga Kimberly dan sangat dicintai Nenek, di hadapan Arief, dia hanyalah seekor badut yang konyol.
Setelah bertanya kepada Siska dan mengetahui bahwa tidak ada urusan penting, Arief masuk ke ruangan istirahat untuk tidur sebentar.
Ketika bangun, dia melihat kotak yang diberikan Vincent sebagai hadiah ulang tahun, Arief pun mengambil dan dibuka.
Ketika kotak kayu itu terbuka, tercium aroma wangi dari dalam kotak itu. Detik selanjutnya, Arief pun tercengang.
Ternyata di dalamnya sebuah pil obat yang berwarna hitam.
Mengobati ginjal? Obat pembesar? Obat penguat?
Seketika, di benak Arief muncul banyak nama obat yang berhubungan dengan kesehatan pria. Tentu saja, dia mengetahui obat-obat itu dari TV.
Pada saat yang sama, dia merasa kesal dan juga konyol.
Apa yang dilakukan Vincent? Apa dia sedang mempermainkannya? Seharusnya Vincent tidak berani.
Karena bingung, Arief pun menelepon Vincent.
“Tuan Burton, ada yang bisa saya bantu?” ucap Vincent dengan sopan setelah teleponnya tersambung.
Arief menarik napas dalam-dalam, “Kenapa kamu memberikan pil obat kepadaku?”
“Hehe, Tuan Burton, Anda jangan marah dulu, saya mendapatkan pil ini dari seorang guru besar dua tahun lalu. Pil obat bisa menguatkan tubuh kita, Anda mungkin tidak tahu nama besar guru ini, tapi orang awam tidak bisa mendapatkannya. Waktu itu saya ….” Mendengar Arief bertanya tentang pil ini, Vincent segera menjelaskan dengan panjang lebar.
Arief yang merasa pusing segera menghentikannya, “Sudah sudah, tidak apa-apa, kamu sibuk dulu.”
Setelah mematikan teleponnya, Arief pun menatap pil itu dengan ragu.
Makan atau tidak?
Setelah menganggap bahwa Vincent tidak akan mencelakakan dirinya, Arief pun menelannya.
Arief langsung menyesal setelah menelan pil itu, karena dia merasakan sebuah aliran panas yang mengalir ke seluruh tubuh dari perutnya. Pada saat yang sama, sebuah rasa sakit yang tidak bisa diungkapkan menyerang seluruh saraf Arief.
Arief pun berguling di lantai karena kesakitan, setelah sesaat dia pun pingsan.
__ADS_1