
“Jangan panik, tenang saja, itu bukan racun. Pil itu dinamakan Pil Pelemas Otot, kamu tidak akan bisa bergerak setelah menelannya,” ucap pria berjenggot dengan raut wajah cabul.
Debora terkejut dan tidak bisa berkata-kata.
Pil Pelemas Otot?
Apa itu?
Arief juga mengerutkan kening ketika mendengar ucapan gila dari pria berjenggot itu, dia menganggap kalau orang ini adalah pasien rumah sakit jiwa.
“Anak muda, kenapa kamu mengikutiku? Apa tujuanmu? Aku menjual vas bunga dan kalian membelinya, kenapa harus mengikutiku?”
Saat ini, pria botak dan yang lain pun mengepung Arief dan bertanya dengan nada kesal.
“Hanya aku yang bisa mengenali vas bunga kamu itu, kenapa kamu tidak berterima kasih kepadaku?” ucap Arief yang berpura-pura menghela napas dan berjalan mendekat.
Saat ini, Arief pun merasa sedikit panik. Karena dia hanya pernah belajar satu tahun Tinju Wing Chun dengan pewarisnya, Arief tidak yakin bisa menghadapi pria berjenggot dan yang lain.
Jadi, Arief harus menurunkan kewaspadaan musuh.
“Berterima kasih?” Ternyata pria botak langsung bingung ketika mendengar ucapan Arief.
Pada saat yang sama, orang-orang yang terus mengepung Arief segera menghentikan langkah mereka.
Arief pelan-pelan mendekati mereka dan mulai berbohong, “Vas bunga kamu itu palsu, kalau bukan aku, bagaimana kamu bisa menjualnya?”
Palsu?
Setelah mendengarnya, pria botak menggaruk kepala dan terlihat bingung.
Lalu saat ini, Arief langsung bergerak.
Pong.
Pria botak tidak sempat bereaksi, sehingga Arief berhasil menerbangkannya dengan tinjunya.
Setelah mengalahkan pria botak, Arief segera menyerang yang lain tanpa keraguan.
“Sialan, bunuh dia!” teriak pria berjenggot yang kaget dan juga marah. Dia tidak menyangka serangan Arief sangat cepat dan kuat. Dia mengalahkan setiap orang hanya dalam sekali tinju, belasan rekannya sudah terjatuh dalam waktu kurang dari setengah menit.
“Sia … siapa sebenarnya kamu?” tanya pria berjenggot yang panik ketika menyadari hanya tersisa dia seorang.
Arief tersenyum dan berkata, “Apresiator dari Panca Heritage.”
Setelah melontarkan ucapannya, Arief segera menendangnya dan tubuh pria berjenggot terpental sejauh belasan meter diikuti suara jeritannya. Sesaat setelah terjatuh ke tanah, pria berjenggot langsung pingsan.
Debora menatap Arief tanpa mengedipkan mata.
“Kamu ….”
Ketika Debora ingin mengatakan sesuatu, efek obat dari Pil Pelemas Otot sudah mulai bekerja ke seluruh tubuh. Debora merasakan seluruh tenaganya telah hilang, dia bahkan sulit untuk berbicara.
“Apa kamu bisa jalan?” tanya Arief sambil melepaskan ikatan di tubuh Debora.
Debora menggelengkan kepala dengan wajah canggung.
Apa Pil Pelemas Otot yang aneh itu begitu ajaib?
Arief mengerutkan kening setelah memperhatikan kondisi Debora.
__ADS_1
“Biar aku cari apakah ada penawar di badan mereka,” ucap Arief sambil mencarinya.
Setelah sesaat, dia tidak menemukan obat penawarnya.
Hmm?
Apa ini?
Di saat ini, Arief melihat sebuah benda hitam yang terdapat di makam yang sudah digali oleh pria berjenggot.
Arief segera mendekat dan melihat sebuah kotak hitam.
Kotak ini sudah sangat kuno, tapi tetap menyebarkan sebuah aura yang aneh. Ukiran di atas kotaknya sudah tidak terlihat jelas.
Karena berada di dalam lubang, Debora juga tidak bisa melihatnya, sehingga Arief yang penasaran pun segera membukanya.
Arief tertegun setelah membukanya.
Di dalam kotak itu terdapat dua buah buku yang sudah menguning, satu buku yang berjudul “Fengsui Langit dan Bumi” dan satu lagi adalah “Alkimia Tak Terbatas.”
Apa ini? Dari nama kedua buku ini, satu buku mengajari tentang fengsui, satu lagi mengajari cara membuat pil obat. Bukankah orang zaman kuno senang membuat pil obat?
Sambil berpikir, Arief membuka buku Fengsui Langit dan Bumi.
Sesuai judulnya, buku ini mengajarkan bagaimana untuk melihat fengsui. Orang-orang yang sangat percaya dengan fengsui, mereka akan memilih fengsui yang bagus dalam rumah. Sehingga banyak ahli fengsui yang mendapatkan keuntungan besar.
Ketika membuka bukunya, dia melihat sebuah tulisan, “Fengsui memiliki sejarah panjang yang terbagi menjadi rahasia kematian dan rahasia kehidupan.”
Arief yang ikut membacanya merasa sangat unik, tapi dia juga tidak terlalu mengerti.
Karena merasa tertarik, Arief pun melanjutkan untuk membacanya.
Bagian awal dari buku “Fengsui Langit dan Bumi” ini menjelaskan tentang rahasia kematian, rahasia kematian adalah tempat tinggal setelah kita meninggal, yaitu makam. Bagaimana tempat makam dan hal yang berhubungan dengan fengsui.
Kedua rahasia ini dijelaskan dengan seksama di dalam buku, bahkan ada penjelasan yang berbentuk gambar.
“Astaga, bukankah rumah ini mirip dengan rumahku sekarang?” Arief terkejut ketika melihat sebuah gambar.
Dia kemudian membaca penjelasan yang bertuliskan, “Tata letak ini kekurangan tempat berkumpul aliran air, sehingga kita tinggal di dalam, penghuninya akan bertemu banyak halangan.”
Membaca sampai di sini, Arief pun terkejut.
Pantas Nita selalu tertekan oleh anggota Keluarga Kimberly yang lain, keuangan perusahaan Nita juga bermasalah, ternyata semua ini tidak berhubungan dengan manusia, melainkan karena tata letak fengsui.
Sambil berpikir, Arief ingin lanjut membaca solusinya. Tapi saat ini, dia mendengar suara Debora yang lemah itu, “Arief, apa kamu menemukan penawar Pil Pelemas Otot ini?”
Arief pun terkejut, dia segera menyimpan kedua buku itu dan berjalan keluar dari makam kuno ini. Dia berkata kepada Debora, “Aku sudah mencari di badan mereka dan tidak menemukan apa pun.”
Debora mengerutkan kening dan terlihat putus asa.
Arief bertanya, “Kamu tidak apa-apa? Mau aku antar ke rumah sakit?”
“Tidak perlu, rumah sakit tidak dapat menyembuhkannya. Efek Pil Pelemas Otot akan bertahan 12 jam, setelah itu, aku akan pulih sendiri. Namun, selama jangka waktu 12 jam, semua tenagaku akan menghilang,” ucap Debora menggelengkan kepalanya.
Arief pun tertegun.
Kenapa Debora bisa mengetahui tentang Pil Pelemas Otot ini?
Namun, Debora tidak memberikan Arief kesempatan untuk berpikir, dia mengangkat tangan dan berkata, “Ambil ponsel dari tubuhku dan lapor polisi!”
__ADS_1
Arief mengiyakan, kemudian dia jongkok untuk mengambil ponselnya. Saat ini, Arief menelan ludah dengan cepat.
Debora yang sedang duduk lemas di tanah terlihat sangat indah. Lalu, karena sempat bertarung dengan pria berjenggot mereka, tubuh Debora dipenuhi keringat. Jadi, ketika Arief mendekatinya, dia bisa mencium aroma wangi yang samar dari tubuh Debora.
Gluk.
Arief pun menelan ludah dengan cepat, dia berusaha menenangkan dirinya dan mengeluarkan ponsel dari saku Debora.
Setelah tersambung, Arief pun memberikan ponsel kepada Debora.
Setelah selesai, Arief memasukkan ponsel kembali ke saku Debora, dia lalu tersenyum dan berkata, “Baiklah, bawahanmu akan segera datang.”
Debora tidak memedulikan hal itu, dia terus menatap Arief dan bertanya, “Aku belum sempat tanya, kenapa kamu bisa berada di sini?”
Arief tersenyum dan berkata, “Aku tidak sengaja melihat beberapa orang yang mencurigakan ini naik ke atas gunung, kemudian aku pun mengikuti mereka karena penasaran, siapa sangka mereka ternyata adalah perampok makam.”
Melihat Arief berkata dengan santai, Debora pun tidak curiga dan mengangguk pelan.
Saat ini, suara sirine polisi terdengar dari kaki gunung.
Arief menepuk tanah di tubuhnya, dia lalu berkata, “Rekanmu sudah datang, seharusnya tidak ada urusanku lagi, aku pergi dulu.”
Sambil berkata, Arief pun bersiap untuk pergi.
“Eh, tunggu sebentar ….”
Setelah melangkah sebentar, dia mendengar suara Debora yang lemas itu dan bercampur dengan emosi cemas.
“Kamu sudah jelas dengan seluruh kejadian ini, jadi aku tidak perlu mengikuti pulang untuk membuat laporan, bukan?” tanya Arief sambil menoleh ke arah Debora.
“Arief!” Debora menggigit bibir dan terlihat sudah mengucapkannya. Setelah melihat Arief, dia menundukkan kepala dan berkata, “Apa … apa kamu bisa membopongku turun ke bawah?”
Arief tertegun, “Kenapa?”
Debora mulai panik, “Kamu jangan tanya dulu, anggap saja membantuku.”
Sebagai seorang kapten kepolisian kriminal, bawahannya selalu bersikap hormat kepadanya. Namun, Debora hampir saja dilecehkan oleh perampok makan, bahkan seluruh tubuhnya terlihat lemas dan berantakan. Kalau sampai bawahannya melihat ini, bagaimana dia bisa menjaga harga dirinya? Bagaimana dia bisa mengajari mereka setelah ini?
Arief mengangguk, “Tapi, apa kamu punya tenaga untuk turun?”
“Kalau tidak …” ucap Debora yang ragu. “Kalau tidak … apa kamu bisa menggendongku?”
Setelah melontarkan ucapannya, wajah Debora langsung menjadi merah.
“Baiklah,” ucap Arief sembari mengangguk. Dia pun jongkok dan menggendong Debora ke punggung. Saat tubuh Debora menyentuhnya, Arief hanya bisa menelan ludah dengan berat.
Suasana canggung ini hanya bertahan beberapa menit. Setelah sampai di tempat parkir mobil tadi, Arief segera mengemudikan mobil untuk membawa Debora pulang.
Debora tinggal di sebuah kompleks mewah.
Ruangannya sangat bersih dan tidak ada debu sama sekali, bahkan ada aroma yang wangi. Hanya saja, di dalam kamar tidur terdapat jeans dan rok pendek milik Debora.
Setelah meletakkan Debora di atas ranjang, Arief sudah basah kuyup oleh keringat. Walaupun Debora tidak berat, tapi perjalanan cukup jauh.
Saat ini, dia mendengar Debora bertanya, “Arief, jujur, kamu berasal dari sekte mana?”
Arief pun bingung mendengar pertanyaan Debora yang tiba-tiba itu.
Sekte?
__ADS_1
Sekte apa?
Arief menatap Debora dengan raut wajah bingung, “Apa yang kamu katakan? Sekte apa?”