
Doni tiba-tiba sadar dengan maksud istrinya. Dia segera mengambil cermin fengsui.
“Istriku, kamu memang sangat pintar,” puji Doni sambil memberikan cermin fengsui kepada Jeslin.
Jeslin tidak memedulikannya, dia meletakkan cermin fengsui di samping ranjang, kemudian berjalan ke dekat jendela dan membuka jendelanya. Dia membuat seolah-olah ada yang kabur lewat jendela.
Dengan begitu, semua ini akan cukup memfitnah Arief.
Ucapan Arief tentang fengsui telah mengejutkan banyak orang, dia juga bilang kalau Novia pingsan karena cermin fengsui ini.
Walaupun Jeslin tidak percaya, dia tahu kalau banyak orang yang percaya termasuk Dewi.
Kalau Arief sangat mahir dengan ilmu fengsui, maka dia pasti memiliki cara untuk menggunakan cermin fengsui dan membuat Dewi pingsan.
Ketika Dewi bangun dan menyadari dirinya ternodai, lalu melihat cermin fengsui di sampingnya, dia pasti akan mencurigai Arief.
Setelah merapikan semuanya, Jeslin langsung marah ketika melihat Doni masih menatap Dewi. “Masih belum cukup? Masih tidak mau pergi?”
Setelah itu, Jeslin berjalan keluar dari kamar.
Doni segera mengikutinya dengan detak jantung yang cepat, dia lalu berkata, “Apa cara ini bisa berhasil? Bagaimana kalau Dewi pergi ke rumah sakit ….”
Sebelum dia menyelesaikan ucapannya, Jeslin langsung marah. “Kamu kira semua orang tidak tahu malu seperti kamu? Apa dia tidak mau harga diri lagi?”
Setelah mendengarnya, Doni merasa benar juga. Dia pun meninggalkan tempat ini tanpa mengatakan apa pun lagi.
…
Pada saat ini, di sisi Arief.
Pernikahan Yanto membuat Arief merasa terharu. Di acara pesta, Arief terus teringat istrinya, Nita.
Jadi hari ini Arief tidak pergi ke kantor, melainkan pulang ke rumah.
Walaupun menikah dan tinggal di Keluarga Kimberly selama tiga tahun, semua anggota Keluarga Kimberly merendahkannya, termasuk Nita, Arief tahu bahwa Nita tetap memiliki perasaan kepadanya.
Setelah sampai di rumah, Arief menyadari ayah dan ibu mertuanya tidak ada di rumah.
Nita sedang duduk di sofa sambil menyilangkan kaki. Tubuhnya terlihat sangat seksi, tetapi raut wajahnya terlihat sedikit panik.
Melihat Arief pulang, ekspresi senang terlintas di wajah Nita, tetapi segera menghilang. Dia berkata, “Kamu sudah pulang?”
Arief mengiyakan.
“Bagus. Mobilku dipinjam teman, kamu temani aku ke suatu tempat.”
Arief tidak bertanya dan segera mengikuti Nita keluar.
Di perjalanan, Arief baru tahu kalau Heny sedang berkumpul dengan teman sekolahnya dulu. Melihat teman-temannya membawa anak mereka, Heny pun menyuruh Nita untuk pergi menemaninya.
“Lalu, kenapa aku harus ikut?” tanya Arief yang tidak mengerti.
Nita memelototinya. “Kalau kamu tidak mau pergi, setelah sampai sana, kamu boleh langsung pulang. Aku tidak memaksamu.”
Melihat sikap cemburunya, Arief hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa pun.
Mereka akhirnya sampai di tempat Heny makan.
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam ruangan, mereka melihat Heny sedang berbicara dengan beberapa temannya. Beberapa teman Heny memiliki perawatan yang baik, tapi masih jauh kalau dibandingkan dengan Heny. Beberapa anak dari teman Heny juga berada di sini.
Ketika Nita masuk, Heny langsung tersenyum. Lalu, ketika melihat Arief, ekspresi Heny langsung berubah.
Dia menyuruh Nita ke sini untuk menaikkan harga dirinya, tetapi kenapa sampah ini juga ikut ke sini?
Walaupun merasa tidak senang, Heny tidak berani mengusir Arief di depan semua orang.
“Wow, ini anakmu, Nita. Cantik sekali!”
“Aku dengar kalau anakmu mewakili Keluarga Kimberly dan berhasil mendapatkan kerja sama dengan Perusahaan Net Media. Artis bernama Cindy yang sangat terkenal itu, juga dipasarkan oleh anakmu, bukan? Anakmu memang cantik dan juga hebat.”
Setelah mendengar ucapan itu, orang-orang di dalam ruangan pun mulai memuji dan terlihat iri.
Heny sangat senang.
Bagaimana mungkin dia tidak merasa senang dengan anak seperti ini?
Arief duduk di samping dengan ekspresi tenang.
Setelah itu, teman-teman Heny mulai memperkenalkan anak serta menantu mereka.
Beberapa dari mereka berprofesi sebagai petinggi perusahaan, ada yang memiliki bisnis sendiri dan yang paling rendah juga dokter spesialis.
Setelah saling berkenalan, seorang wanita paruh baya menunjuk kepada Arief dan bertanya, “Dia ini ....”
Wanita ini bernama Marisa. Ketika masa sekolah, dia suka membandingkan diri dengan Heny. Melihat anak perempuan Heny yang hebat, dia sangat tidak rela.
Sebenarnya, Marisa sudah menebak identitas Arief. Semua juga mengenali menantu tidak berguna ini.
Dia sengaja bertanya untuk mempermalukan Heny.
Senyuman di wajah Heny langsung membeku, ekspresinya menjadi sedikit jijik dan canggung.
Nita justru lebih terbuka, dia berdiri dan memperkenalkan sambil tersenyum. “Namanya Arief. Aku sudah menikah dengannya.”
“Oh ….” Marisa sengaja mengucapkan dengan nada panjang, dia kembali bertanya, “Ternyata menantu Heny. Sepertinya dia terlihat sangat berbakat, apa yang dikerjakannya?”
“Aku bekerja di sebuah perusahaan,” ucap Arief.
Arief tentu saja mengerti niat Marisa, hanya saja dia tidak ingin berdebat dengannya.
“Perusahaan apa? Apa jabatanmu?” tanya Marisa sambil tersenyum.
Arief menjawab dengan tenang, “Hanya staf biasa saja.”
Hehe.
Ternyata staf biasa saja.
Mendengar ucapannya, orang-orang menatap Arief dengan tatapan merendahkan.
Melihat reaksi orang lain, Maris tersenyum puas. “Staf biasa juga tidak buruk. Walaupun kamu tidak bekerja, Nita yang hebat ini juga sanggup memberimu makan.”
Ucapannya terdengar sinis.
Ekspresi Heny juga semakin jelek.
__ADS_1
Semua karena Arief yang tidak tahu malu ini. Kenapa dia datang ke sini untuk mempermalukannya?
Tatapan Nita berbinar dan terlihat tidak nyaman. Pada saat yang sama, dia juga sedikit menyesal.
Kalau tahu dari awal, dia tidak akan membawa Arief datang.
Pada saat ini, Marisa mengangkat gelas dan berkata sambil tersenyum, “Kita jarang bisa berkumpul bersama. Hari ini, aku akan mengumumkan bahwa anak perempuanku akan segera menikah. Ini adalah menantuku, Halim.”
Setelah Marisa melontarkan ucapannya, seorang anak muda yang duduk di samping Arief pun berdiri. Dia berkata dengan sopan, “Halo Bibi, namaku Halim. Aku adalah Direktur di anak perusahaan Grup Seribu.”
Wah!
Seketika, semua orang pun terkejut mendengar ucapan itu.
“Grup Seribu? Grup Seribu yang khusus melakukan perdagangan luar negeri itu? Perusahaan itu sangat besar.”
“Iya, aku dengar kalau perusahaan ini akan segera masuk bursa saham. Grup Seribu juga sangat besar, mereka memiliki banyak anak perusahaan di berbagai kota. Orang yang bisa menjadi direktur perusahaan Grup Seribu pasti bukan orang biasa.”
“Marisa juga sempat bilang kalau Halim adalah lulusan luar negeri, bukan?”
“Kak Marisa, kamu beruntung sekali bisa mendapatkan menantu seperti ini.”
Seketika, semua orang memuji dan menatap Halim dengan kagum.
Marisa merasa sangat senang dan puas.
Pada saat yang sama, dia juga menatap ke arah Heny.
Kenapa kalau anakmu hebat? Walaupun anak perempuanku tidak bisa melawan anakmu, dia tetap menemukan seorang suami yang hebat.
Setelah mendengar pujian dari orang-orang, Halim langsung bersikap rendah hati dan berkata, “Sebenarnya menjadi seorang direktur bukan pekerjaan mudah. Semakin tinggi posisi, semakin besar tanggung jawabnya. Aku harus memimpin seribu lebih bawahan, sehingga tidak memiliki waktu sama sekali. Untung saja gajinya cukup tinggi, satu bulan gaji bisa mencapai ratusan juta.”
Berbicara sampai di sini, Halim berkata kepada Marisa sambil tersenyum. “Ibu, pernikahan akan segera diadakan dalam satu minggu lagi. Aku sudah memesan mobil Mercedes seri S untuk mobil pernikahan nanti.”
Mercedes seri S?
Semua orang yang mendengarnya kembali tercengang.
Ke mana mereka bisa mencari menantu yang begitu hebat.
Marisa juga tersenyum lebar sambil mengangguk. “Baik. Kalian atur saja pernikahan kalian sendiri.”
Halim juga mengangguk dan berkata, “Sebenarnya, mobil hanyalah alat transportasi, tidak perlu membeli yang terlalu mahal. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau semakin mahal mobilnya, kenyamanan juga akan semakin meningkat.”
Sambil berbicara, Halim menoleh ke arah Arief dan tersenyum. “Arief, benar bukan?”
Sebelum datang, Marisa sudah memberi tahu Halim untuk membantunya memberi tekanan kepada Heny.
Demi mendapatkan restu dari ibu mertua, Halim tentu saja tidak akan melepaskan kesempatan untuk merendahkan Arief.
Arief tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil mengangguk.
Lalu, Halim tidak ingin membiarkan Arief begitu saja. Dia tersenyum lembut sambil berkata, “Mobil apa yang dipakai Arief?”
Pada saat ini, semua orang menatap Arief dan memperlihatkan senyuman sinis.
Heny yang duduk di samping juga terlihat suram.
__ADS_1
Sampah ini datang untuk mempermalukannya.
Bagaimana mungkin dia menyebutkan motor listriknya itu?