Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 46 Bagaimana ini?


__ADS_3

“Kalau tidak percaya dengan Pil Dewa ini, sudahlah. Aku pamit dulu,” ucap Arief yang tidak peduli.


“Tunggu!”


Setelah Arief berjalan beberapa langkah, Guntur menghentikannya.


“Benda itu benar-benar bisa membantuku menembus Tingkat Jenderal?” tanya Guntur yang masih tidak percaya.


“Tentu saja.”


Arief juga malas menjelaskan dan hanya menjawab dua kata.


Guntur menghela napas panjang dan berkata, “Aku ingin Pil Dewa ini, berapa harganya?”


Arief tersenyum.


Guntur yang kaya ini, selalu menganggap semuanya bisa diselesaikan dengan uang.


Baik, kamu kaya, bukan? Aku akan membuatmu mengeluarkan banyak uang hari ini.


Sambil berpikir, Arief menjulurkan empat jarinya.


Arief awalnya ingin meminta 400 miliar.


Namun, Guntur salah tangkap.


“4 triliun?” tanya Guntur dengan mata berbinar. Dia menggertakkan gigi dan menjawab, “Baiklah. Aku akan membayarnya dengan 4 triliun.”


Hah?


4 triliun ….


Arief tertegun. Guntur bisa membeli Pil Dewa dengan harga 4 triliun tanpa mengedipkan mata. Bocah ini benar-benar keterlaluan sepertinya.


Arief bukan seorang kultivator, sehingga tidak mengerti perasaan Guntur yang terus berhenti di tingkatan ini.


Pada saat yang sama, Arief juga sangat senang dan semangat. Pil Dewa yang dimurnikannya ternyata sangat berharga.


Kenapa dia harus membuka perusahaan dengan susah payah?


Dia tinggal memurnikan beberapa Pil Dewa saja.


Sambil berpikir, dia mendengar ucapan Guntur dengan nada dingin. “Tapi aku beri tahu dulu, kalau Pil Dewa ini tidak memberikan efek yang seharusnya, aku akan membuatmu merasakan akibat dari menipuku.”


Ucapan Guntur terdengar sangat dingin dan dipenuhi oleh aura dingin.


Arief tersenyum dan berkata, “Tenang saja.”


Guntur bertepuk tangan untuk memanggil bagian keuangan pribadi dan membayarkan uangnya kepada Arief.


Pada saat yang sama, Arief tersenyum dan berkata, “Direktur Guntur jangan terburu-buru. Aku belum setuju untuk menjualnya dengan harga 4 triliun.”


“Apa maksudmu?”


Ekspresi Guntur menjadi suram.


Bocah ini sudah bosan hidup, bukan? Kenapa dia bimbang?


Ekspresi Arief tidak berubah, dia menunjuk cincin ibu jari di meja dan berkata, “Selain 4 triliun, aku juga menginginkan benda ini.”

__ADS_1


Guntur menarik napas dalam-dalam ketika melihat benda yang ditunjuk oleh Arief.


Guntur mencuri cincin ibu jari itu dari Sekte Gunung Langit. Dikatakan bahwa cincin ini memiliki rahasia besar, tapi Guntur tidak menemukan apa pun selama satu tahun mempelajarinya.


Cincin ini tidak memiliki kegunaan lagi, siapa tahu justru akan mendatangkan bahaya. Lebih baik dia memberikannya kepada Arief.


Sambil berpikir, Guntur pun mengangguk, “Baik. Benda ini hanya barang antik saja, ambillah.”


Hmm?


Dia menyetujuinya?


Arief terkejut karena mengira akan ditolak, tapi ternyata dia setuju dengan cepat.


Namun, Arief tidak berpikir lebih lanjut. Dia langsung mendekat dan memakaikan cincin itu.


Tidak terlalu besar atau kecil, cincin ini cocok dengan ibu jari Arief.


Arief sangat puas, tapi dia tidak memperhatikan senyuman tipis di sudut bibir Guntur, ketika dia memakai cincin itu.


Cincin ini adalah hasil curian. Namun, mulai detik ini, Arief yang mencuri benda ini.


Setelah itu, Guntur segera mengirimkan uang 4 triliun.


Satu Pil Dewa ditukar 4 triluan dan satu barang antik. Arief yang merasa untung langsung pulang dengan senang.



Pada saat ini.


Vila Keluarga Burton.


Yanto sebagai pengantin sudah mabuk sejak sore, dia masih tertidur dengan lelap di kamar tidur. Dewi mewakili Yanto untuk menemani yang lain.


Doni dan Jeslin masih berada di sana.


“Baiklah, hari ini juga sudah cukup. Ayo pulang,” ucap Jeslin yang merasa sudah larut malam.


Doni tentunya belum puas, dia melambaikan tangan dan berkata, “Hari ini Yanto menikah, kita juga jarang bisa berkumpul bersama. Kamu pulang dulu, aku ingin berbicara sebentar dengan mereka.”


“Semua orang sudah mabuk, apa yang ingin kalian bicarakan?”


Jeslin terlihat tidak senang, tapi di hadapan beberapa anggota keluarga, dia tidak ingin mempermalukan Doni, sehingga memilih untuk pulang dulu.


Setelah Jeslin pergi, tatapan Doni tertuju kepada Dewi.


Dewi terus menuangkan minuman untuk orang-orang yang masih minum. Dia terlihat seperti istri yang baik.


Adik iparnya ini walaupun cantik, tapi tubuhnya biasa saja. Karena sedikit mabuk, Doni merasa kalau Dewi semakin cantik.


Gluk!


Doni menelan ludah.


Pada saat ini, semua orang sudah hampir selesai. Doni berdiri sambil tersenyum, “Sudahlah, semuanya juga sudah senang. Yanto masih bangun, Dewi juga harus membereskan rumah. Kalian jangan mengacau lagi, ayo pulang.”


Melihat Doni berkata seperti itu, semua orang pun mengangguk dan tidak berani melawan. Bagaimanapun, Doni adalah calon pewaris keluarga.


“Dewi, kamu sudah bekerja keras hari ini,” ucap Doni kepada Dewi setelah melihat semua orang pergi.

__ADS_1


Dewi tersenyum dan menjawab, “Kakak terlalu sungkan, semua ini memang tanggung jawabku. Yanto sudah minum terlalu banyak, tidak bisa menyambut kalian. Aku harus mewakilinya.”


Doni mengangguk. “Yanto sangat beruntung bisa memiliki istri baik seperti kamu.”


Sambil berbicara, dia berjalan ke samping meja dan menuangkan segelas teh.


Pada saat itu, Doni mengeluarkan sebuah botol kecil dan menuangkan bubuk ke dalam gelas teh itu.


Setelah selesai, Doni pun memberikan teh sambil berkata, “Dewi, kamu sudah minum banyak alkohol hari ini. Minumlah teh ini agar bisa sadar, sebentar lagi kamu juga harus menjaga Yanto.”


“Terima kasih Kakak.” Dewi langsung meminumnya tanpa pikir panjang.


“Sudalah. Kamu sibuk dulu, aku akan segera pulang,” ucap Doni.


Dewi mengiyakan dan mengantarnya sampai depan. Setelah itu, dia kembali untuk membereskan meja.


Setelah beberapa menit, Dewi merasa pusing dan pingsan ke sofa.


Pada saat ini, sebuah sosok masuk melewati pintu. Doni berjalan masuk sambil tersenyum.


“Harum sekali!” Berjalan ke depan sofa, dia menggendong Dewi dan langsung menciumnya.


Dewi sudah kehilangan kesadaran diri, sehingga membiarkan Doni mempermainkannya.


Setelah belasan menit.


Sebuah mobil mewah melaju dengan cepat dan terparkir di depan vila. Jeslin langsung turun dari mobil dengan ekspresi datar.


Ketiak sampai di aula, dia langsung mendengar suara yang membuat orang tersipu malu.


Tanpa ragu, Jeslin langsung mendorong pintu dan berjalan masuk.


Doni yang sedang bersenang-senang hampir saja terkena serangan jantung. Dia langsung lemas, orang yang berada di sampingnya adalah Jeslin. Pada saat ini, Dewi masih pingsan, tapi sudah ternodai.


Melihat kondisi kamar, Jeslin sangat marah. Dia langsung menampar Doni dengan keras dan memarahinya.


“Doni, apa kamu pantas untukku? Aku tahu kamu tinggal di sini karena memiliki niat jahat.”


“Dia ini adik iparmu! Kenapa kamu melakukan hal kejam seperti ini? Kamu memang binatang! Kamu tidak pantas denganku.”


Kemarahan istri membuat Doni tercengang. Dia langsung berlutut dan menampar diri sendiri. “Istriku, istriku, aku bersalah. Aku binatang, aku tidak bisa mengendalikan diri. Maaf, maaf.”


Doni adalah suami yang takut dengan istri. Setelah melakukan hal seperti ini dan tertangkap basah, mana mungkin dia tidak takut?


Jeslin gemetar karena sangat marah. Kalau kelakuan suaminya sampai ketahuan dan tersebar, bagaimana suaminya bisa mendapatkan warisan? Pepatah mengatakan bahwa istri saudara tidak boleh disentuh, hal ini adalah pantangan besar.


Jeslin menggigit bibir bawah. “Cepat berdiri, pakai bajumu.”


Doni mana berani melawan, dia memang takut kepada istrinya. Doni pun segera memakai baju dan berkata dengan hati-hati, “Istriku, selanjutnya bagaimana?”


“Bagaimana?” Jeslin memelototinya. Dia tahu kalau Dewi adalah perawan. Setelah dinodai Doni, Dewi pasti akan tahu setelah sadar.


Jeslin menghentakkan kaki karena marah, “Doni, aku akan membereskan kamu setelah pulang nanti. Cepat ambil … ambil cermin fengsui itu dan letakkan di sampingnya.”


Cermin fengsui?


Kenapa mengambil barang itu?


Doni masih kebingungan.

__ADS_1


Jeslin berkata dengan kesal, “Kenapa masih diam saja? Cepat cari, selama ada benda itu, kamu bisa terhindar dari kecurigaan. Sekarang tidak ada cara lain lagi, kita hanya bisa memfitnah adik sampahmu itu, Arief.”


__ADS_2