Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 26 Manajer Steven


__ADS_3

Pria di samping Nita memakai seragam rapi dan terlihat santun.


Nita memaksakan senyuman di wajah dan terlihat tidak senang. Namun, dia tetap menemani pria itu di samping.


Nama pria ini adalah Steven Lunaro, dia adalah menantu idaman Heny.


Dari semua orang yang mengejar Nita, Heny paling menyukai Steven. Selain terlihat rupawan, Steven juga merupakan petinggi perusahaan Audi, dia bertanggung jawab sebagai manajer area kota Malang, sehingga sangat cocok dengan anaknya, tidak seperti Arief yang miskin itu.


“Manajer Steven.”


Saat ini, wanita di depan Arief segear menyambutnya dengan ramah dan wajah penuh senyuman.


Ketika melihat Arief, wanita ini hanya menunjukkan ekspresi kesal. Dibandingkan dengan sekarang, perubahan sikapnya berubah 180 derajat.


Steven mengangguk dan berkata, “Apa Direktur Perusahaan Media telah datang?”


Wanita itu segera menjawab, “Belum, aku terus menunggu di depan lobi dan tidak melihat ada mobil yang datang.”


Steven tidak bertanya lagi, dia lalu melihat ke Nita dan berkata, “Kita tunggu di dalam ruangan saja.”


Nita terlihat tidak fokus, dia hanya mengiyakan dan tidak menjawab lagi. Walaupun Heny ingin menyuruh Steven menjadi menantunya, Nita tetap tidak ingin pacaran dengan Steven. Dia juga bukan datang untuk kencan.


Hanya saja, Steven berkata bahwa dia mengenal Direktur Perusahaan Net Media.


Nita sangat penasaran dengan Direktur Perusahaan Net Media ini, bagaimanapun Direktur ini hanya mengakui Nita dari seluruh Keluarga Kimberly.


Namun, Nita tidak tahu kalau Steven tidak kenal dengan Direktur Perusahaan Net Media!


Hanya saja belakangan ini, Perusahaan Net Media bekerja sama dengan perusahaan Audi dan menjadi sponsor perusahaan Superstars. Perusahaan pusat telah memberitahu Steven untuk bertanggung jawab dengan proses tanda tangan kontrak dengan Perusahaan Net Media. Setelah itu, Steven tentu akan mengenalnya. Di depan Nita, Steven selalu membual dengan koneksinya yang luas, dia sengaja melakukannya untuk meninggikan statusnya sendiri.


Saat ini, Arief pun tersenyum dingin dan menghampiri mereka.


Manajer Steven? Perusahaan Audi memberitahu Arief bahwa penanggung jawab kali ini adalah Manajer Steven.


“Ei? Kenapa kamu belum pergi?” Melihat Arief menghampiri mereka, wanita tadi pun berkata dengan kesal sambil mengerutkan keningnya.


Steven hanya melirik Arief sebentar, kemudian dia pun tidak menganggapnya setelah memastikan bahwa dia adalah orang miskin. Dia berkata kepada wanita tadi, “Sebentar lagi Direktur Perusahaan Net Media akan datang ke sini, jangan biarkan orang yang tidak penting masuk ke dalam, bagaimana kalau dia mengotori mobil di dalam sini?”


“Iya iya, Manajer Steven, aku akan segera mengusirnya keluar.” Wanita itu segera berkata kasar kepada Arief, “Tuan, silahkan pergi dari sini.”


Arief tidak memedulikannya dan terus menatap Nita.


“Arief?”


Saat ini, Nita akhirnya juga menyadari kehadiran Arief. Tubuhnya gemetar karena terkejut dan juga senang, tapi raut wajahnya terlihat canggung.


Nita juga tidak mengerti kenapa dia merasa canggung, seharusnya dia merasa senang dengan kepergian Arief setelah beberapa hari ini, karena dia akhirnya bisa meninggalkan sampah tidak berguna ini. Namun, setiap kali melihat kamar yang kosong itu, hati Nita juga terasa kosong.

__ADS_1


Arief tidak berbicara, dia hanya melihat Steven dengan tatapan bertanya.


Nita kemudian melangkah ke depan dan menjelaskan, “Arief, kamu jangan salah paham, dia dikenalkan oleh ibu ….”


Arief segera mengerti setelah mendengar ucapan Nita, dia langsung mengangguk tanpa menunggu Nita selesai bicara, lalu berkata, “Aku tahu.”


Ibu mertuanya memang sangat terburu-buru, Arief baru saja pergi beberapa hari dan belum bercerai dengan Nita, tapi dia sudah mencari menantu baru.


“Nita, siapa orang ini?” tanya Steven. Nita adalah seorang wanita cantik, kenapa dia bisa kenal dengan orang des aini?


Nita hanya membuka mulutnya dan tidak menjawab. Arief kemudian tersenyum dan berkata kepada Steven, “Aku adalah suami dari Nita, Arief Burton. Kamu juga tidak boleh memanggilnya Nita, silahkan jaga ucapanmu!”


Steven tertegun.


Dia kemudian menatap Arief dengan ekspresi merendahkan sembari berkata, “Oh, ternyata kamu adalah pria yang mengandalkan wanita, aku kira siapa?”


“Hehe, Tante Heny sudah memberitahuku tentang situasimu, kamu masuk ke Keluarga Kimberly dan tidak pernah menyumbang apa pun. Kamu hanya tahu mengandalkan istrimu, dasar sampah tidak berguna!”


Steven melanjutkan, “Aku sangat penasaran, apa kamu menghilang dari Keluarga Kimberly karena merasa malu? Tapi kenapa kamu masih berani muncul di depan Nita? Hal yang paling konyol adalah kamu masih berani mengaku sebagai suami Nita, apa kamu layak? Hahaha, kenapa kamu tidak berkaca dulu? Tante Heny akan menyuruhmu bercerai dengan Nita, betul kan Nita?”


Steven menatap Arief dengan tatapan merendahkan dan terus menyindirnya.


Nita menggigit bibir dan berkata, “Steven, kamu jangan bicara lagi.”


Mendengar ucapan Nita, Steven menatap Arief sambil tersenyum, “Aku tidak akan berbicara lagi karena menghargai Nita.”


Wanita itu menjawab, “Dia bilang ingin beli mobil.”


Sambil berbicara, wanita itu menunjukkan ekspresi yang menyebalkan.


Awalnya, dia mengira pria ini adalah buruh pabrik di sekitar sini, tapi ternyata dia adalah seorang pria yang mengandalkan istri.


“Haha, beli mobil?”


Steven langsung merasa senang, dia berkata, “Mobil di tempat kami tidak murah, apa kamu sanggup membelinya?”


Ketika berbicara, Nita terkejut melihat seorang wanita berjalan masuk, dia adalah Wulan, sahabat baik Nita.


“Kak Nita?” Wulan segera menghampirinya dengan cepat, dia tidak menyangka akan bertemu Nita di sini.


Nita tersenyum dan berkata, “Wulan, kebetulan sekali, kenapa kamu datang ke sini?”


Wulan memainkan poni sambil berkata, “Belakangan ini bisnis suamiku sedang baik, dia ingin membeli mobil baru untukku, aku datang untuk mengambil mobil.”


Suami Wulan memiliki bisnis hotel, sehingga wajar saja kalau dia membeli mobil baru untuk Wulan.


Sambil berkata, Wulan terkejut melihat Arief, dia lalu berkata, “Bukankah dia adalah suami sampahmu itu? Apa kamu membawanya untuk melihat mobil ….”

__ADS_1


Wulan segera menghentikan ucapannya ketika melihat ekspresi Nita yang canggung, dia juga menebak sesuatu ketika melihat Steven yang berdiri di belakang Nita.


“Siapa ini?” tanya Wulan sambil tersenyum.


Tidak menunggu Nita menjawab, Steven pun mengulurkan tangannya, “Halo, namaku Steven, aku adalah manajer area kota Malang perusahaan Audi. Aku dikenalkan Tante Heny kepada Nita.”


Mendengarkan sampai di sini, Wulan pun mengerti apa yang terjadi. Dia menjabat tangan Steven dan berkata, “Wah, manajer area, kalau begitu, apa mobil yang ingin aku beli bisa dapat harga lebih murah lagi? Aku adalah sahabat baik Nita.”


“Tentu saja,” ucap Steven sambil tersenyum. Dia juga tidak lupa melirik ke arah Arief dengan ekspresi tersenyum.


Lihat tidak?


Bahkan sahabat baik Nita juga berada di pihakku.


Bagaimana kamu bisa melawanku?


“Terima kasih kakak ipar!” ucap Wulan sambil tersenyum. “Oh iya, kapan kamu akan menikah dengan Nita? Jangan lupa untuk mengundang, ya?” ucap Wulan yang merasa senang mendapatkan potongan untuk mobilnya.


Wajah Arief langsung menjadi suram.


Sialan, aku bahkan belum bercerai dengan Nita, kenapa kamu sudah ingin menghadiri pernikahannya yang lain?


Kamu bahkan memanggil kakak ipar dengan baik.


Nita juga sangat canggung, dia segera menarik Wulan ke samping dan berkata, “Aku bahkan belum sempat berkencan dengannya, apa yang kamu katakan?”


Wulan tertawa karena mengira Nita sedang tersipu malu, dia lalu berkata, “Hanya masalah cepat atau lambat saja.”


Sambil berkata, Wulan melirik ke Arief dengan tatapan merendahkan, “Tidak seperti seseorang yang tidak tahu malu, kenapa dia masih berada di Keluarga Kimberly dan tidak ingin pergi? Kenapa kamu datang mengganggu kencan Kak Nita?”


Arief hanya tersenyum dan malas untuk meladeninya.


Steven tentu tidak akan melewatkan kesempatan ini, dia menatap Arief dengan tatapan puas, kemudian berkata kepada Wulan, “Kamu salah, kami hanya kebetulan bertemu di sini saja. Lalu, dia juga bilang kalau ingin membeli mobil di sini.”


“Dia beli mobil? Hahaha! Jangan membuatku tertawa.”


Wulan tertawa terbahak-bahak, dia lalu berkata, “Arief, apa kamu punya uang? Oh iya, aku lupa! Sebelumnya, Nita selalu memberikan uang saku empat ratus ribu per hari, jadi tabunganmu selama tiga tahun juga tidak sedikit, bukan? Tapi kalau kamu mau beli audi, paling kamu cuma bisa membeli empat rodanya saja.”


Haha.


Para penjual dan karyawan audi lainnya tidak bisa menahan tawa dan terus membicarakan Arief.


Selain harus mengandalkan istrinya, dia bahkan meminta uang saku kepada istrinya, kenapa ada orang seperti ini? Dia benar-benar memalukan.


Senyuman di wajah Steven semakin lebar.


“Siapa bilang aku tidak sanggup beli?”

__ADS_1


Saat ini, Arief tiba-tiba berkata dengan nada tenang.


__ADS_2