Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 81 Ini yang Asli


__ADS_3

Pada saat ini, “hiu” itu langsung berenang ke arah Debora.


Debora langsung panik dan tubuhnya gemetar hebat. “Hendry, cepat kemari!”


Walaupun dia memiliki pengalaman, di depannya sekarang adalah seekor hiu yang hidup.


Hendry tersenyum dan berpikir dalam hati, ‘Haha! Saatnya aku menunjukkan kehebatanku! Haha!’


Demi menunjukkan sisi pria sejati kepada Debora, Hendry sengaja membuat rencana penyerangan “hiu” ini.


Saat ini, “hiu” itu tampak sangat ganas. Dia terus berenang ke arah para wanita dan menabrak dengan liar.


Namun, hiu ini sepertinya tidak menggigit.


Ketika menyadari hal ini, Septian dan Heno juga mulai berani untuk melindungi pasangan wanita mereka masing-masing.


Lalu, Arief yang berada di samping hanya melihat semua ini dengan tenang. Nita yang melihatnya langsung merasa kecewa. Di saat-saat penting, Arief tidak datang melindunginya.


Sepertinya, Nita terlalu berharap kepada Arief.


“Hendry, cepat datang! Cepat!” Debora benar-benar ketakutan. Kenapa “hiu” ini hanya mengejar dirinya?


“Debora, jangan takut. Suamimu telah datang!” Hendry tertawa terbahak-bahak. Dia berenang ke arah Debora dengan sekuat tenaga. Setelah sampai, dia mengeluarkan pisau yang sudah disiapkan sebelumnya.


Saat ini, Hendry benar-benar sangat berani dan bersemangat. Dia segera sampai di depan Debora. Satu tangannya memeluk pinggang Debora dan satu lagi mengangkat pisau. Dia menunjuk “hiu” itu dan berteriak, “Dasar binatang! Kamu benar-benar tidak tahu diri, beraninya kamu mengincar wanitaku. Cari mati!”


Saat berbicara, Hendry memeluk Debora dengan erat. Perasaan ini benar-benar sangat indah, Hendry juga merasa sangat senang.


Debora masih tidak tahu kebenarannya, dia memeluk leher Hendry dengan erat dan sangat terharu.


Walaupun Hendry adalah tunangannya, Debora masih selalu menjaga diri dan tidak pernah disentuh Hendry, bahkan ciuman saja tidak pernah. Mereka juga sangat jarang bergandengan tangan. Namun, kondisi yang darurat ini membuat Debora sangat terharu.


Ternyata pada saat kritis, Hendry juga bisa menunjukkan keberaniannya.


Debora merasa dirinya telah salah menilai Hendry. Mulai sekarang, dia harus lebih baik kepada Hendry.


Hahaha!


Arief yang berada di samping menatap Hendry seperti orang yang memiliki gangguan mental. Sayang sekali, harusnya bocah ini pergi menjadi aktor. Haha.


Orang yang berada di atas daratan juga tidak tahu apa yang terjadi. Melihat Hendry berenang menyelamatkan tunangannya dengan berani, semua orang tercengang dan juga khawatir. Mereka juga sangat kagum! Ratusan orang yang berada di lokasi, siapa yang memiliki keberanian seperti Hendry?


“Hendry, hati-hati!” teriak orang-orang mengingatkannya. “Itu hiu asli!”


Hendry menunjukkan ekpsresi percaya diri, dia menatap “hiu” itu dan menusuknya.


Tusukan itu hanya melukai kulit “hiu” itu. “Hiu” itu juga memiliki akting yang sangat bagus, dia memecahkan kantung darah binatang di dalam air, kemudian mulai memberontak. Setelah beberapa saat, “hiu” itu tenggelam dan tidak kelihatan lagi.


Huh!


Rencananya berhasil! Hendry menarik napas dalam-dalam dan terlihat lega. Dia memeluk Debora dan menepuk bahunya dengan pelan. “Sudah, sudah! Tidak apa-apa lagi. Debora, ada suamimu di sini!”


“Terima kasih, Hendry,” ucap Debora dengan pelan sambil menggigit bibirnya.


Pada saat ini, dia baru sadar kalau tunangannya sangat berani.


Wah!


Melihat Hendry berhasil mengalahkan “hiu” itu, semua orang yang kaget langsung bertepuk tangan.

__ADS_1


“Astaga, Hendry benar-benar membunuh hiu itu.”


“Tuan Muda Hendry ternyata begitu hebat. Hebat!”


Semua orang mengira kalau Hendry adalah tuan muda yang selalu dilindungi pengawal ketika berada dalam bahaya.


Adegan tadi benar-benar memperbarui kesan orang lain terhadap Hendry.


Hebat sekali.


Dia benar-benar pria sejati.


Hanya pria seperti ini yang pantas untuk wanita cantik.


Hendry sangat menikmati perasaan seperti ini. Dia memeluk Debora dengan erat di dalam air.


“Cium! Cium!” Saat ini, entah siapa yang berteriak dan membuat semua orang ikut berteriak.


“Cium!”


“Cium!”


Hendry sedang menantikan momen ini! Haha! Setelah menunggu begitu lama untuk saat ini, akhirnya momen ini tiba.


Debora yang tersipu malu mendorong Hendry pada saat terakhir. Dia berbisik, “Apa yang kamu lakukan? Semua orang sedang melihatnya.”


Walaupun Debora sudah mulai menerima Hendry, dia tetap berusaha tenang. Dia tidak mungkin berciuman di depan publik. Sangat memalukan.


Hendry tertawa sambil mengangguk. “Debora, jangan marah! Aku tidak bisa menahan diri tadi.”


Dia merasa sudah berhasil menaklukkan Debora. Jadi, dia tidak terburu-buru. Karena dia memiliki banyak kesempatan di malam hari.


Arief tersenyum. Sialan! Kalau yang tidak tahu, bakal mengira sedang menonton drama televisi. Sampai berpikir, Arief berputar dan berenang ke arah Nita.


Ketika hampir sampai di depan Nita, Arief melihat Nita menunjukkan ekspresi kesal. Dia pun bertanya, “Nita, kenapa denganmu?”


Apakah Nita dikagetkan oleh hiu palsu itu.


Nita berkata dengan dingin dan ekspresi kecewa. “Tidak ada! Suasana hatiku sedang buruk. Jangan berbicara denganku.”


Setelah itu, dia berenang ke arah pantai dan tidak melihat Arief lagi.


Tunangan orang lain melawan hiu dengan berani, hal ini membuat Nita sangat kagum sekaligus kesal. Ketika melihat suaminya sendiri, benar-benar tidak bisa dibandingkan.


Nita merasa lucu, karena mengira Arief telah berubah setelah mendapatkan pekerjaan. Siapa sangka, watak seseorang benar-benar sulit diubah.


Nita merasa tidak seharusnya membawa Arief menghadiri acara ini.


Melihat ekspresi Nita yang kecewa, Arief pun tertegun.


Kenapa? Kenapa tiba-tiba tidak senang?


Ketika ingin mengejarnya, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari atas daratan.


“Masih ada satu ekor hiu lagi?”


“Sialan! Kenapa datang seekor lagi?”


Mendengar seruan kaget orang-orang, sebuah sirip hiu berwarna hitam muncul dipermukaan air.

__ADS_1


Namun, orang-orang hanya berseru kaget dan tidak panik seperti tadi. Bagaimanapun, Hendry berhasil mengalahkan hiu tadi dengan mudah.


Walaupun datang seekor lagi, tidak perlu takut karena ada Hendry di sini.


Walaupun mereka sangat jauh dari pantai, mereka tetap merasa aman jika berada di belakang Hendry.


“Kak Hendry. Ayo bunuh dia lagi!”


Mendengar teriakan orang-orang dari pantai, Arief langsung tertegun.


Bocah ini masih belum puas berakting? Berapa banyak aktor yang diundang olehnya?


Hendry juga bingung! Melihat hiu yang muncul kembali, dia bergumam dalam hati. ‘Apa yang teradi? Aku menyuruh bocah itu berakting sekali saja, kenapa dia datang lagi?’


Sialan! Ada yang salah!


Hiu ini lebih cepat dan lebih aktif dari sebelumnya. Lalu, bentuk tubuh hiu ini ….


Sialan! Ini hiu asli, benar-benar hiu asli! Sialan!


Hiu ini pasti datang karena kantung darah tadi.


“Cepat lari, cepar berenang ke arah pantai!” teriak Hendry seperti orang gila.


Debora berhasil mendapatkan rasa aman dari Hendry tadi. Namun sekarang, melihat Hendry begitu panik, dia juga bingung. “Hendry, kenapa kamu panik? Bukannya di tanganmu ada pisau?”


Saat ini, Hendry sudah tercengang. Dia tidak memedulikan Debora lagi dan terus berenang ke arah pantai.


“Hendry, kamu mau ke mana? Tunggu aku!” Debora menggigit bibirnya dan merasa kecewa. Kenapa Hendry tidak memedulikan dirinya?


“Cepat lari! Cepat! Itu hiu yang asli. Kalau tidak lari, kalian akan mati!” teriak Hendry dengan keras. Mulutnya bahkan kemasukan air beberapa kali.


Dia hanya ingin kembali ke pantai agar bisa selamat. Dia tidak ingin mati di sini.


Namun, di tubuh Hendry ada bau darah, karena dia yang menggunakan pisau tadi. Hiu itu sepertinya bisa merasakannya, sehingga hanya mengejar Hendry.


Kecepatan renangnya pasti kalah dari hiu itu.


“Jangan makan aku! Jangan makan aku!” Hendry hampir menangis.


“Bos hiu, aku akan memanggilmu Bos. Jangan makan aku, aku mohon!” teriak Hendry dengan keras. Saat ini, dia juga menyadari bahwa pisau di tangannya yang menarik hiu itu. Dia segera melemparkan pisau itu.


Pisau itu pun terjatuh ke tempat para wanita berkumpul.


Hiu itu langsung berenang ke arah Fransiska, Nita dan Debora


“Hendry, kamu!”


Debora menggigit bibirnya. Dia tidak menyangka Hendry akan mengarahkan hiu kepadanya.


Sampai saat ini, orang bodoh juga akan mengerti. Hendry sedang berpura-pura hebat! Hiu yang tadi adalah hiu palsu, hiu yang kedua ini adalah hiu asli.


“Ah!”


Wajah cantik Nita sudah memucat. Melihat hiu bergerak ke arahnya, Nita merasa putus asa, karena tidak sanggup menghindarinya.


Habislah.


Apakah hidupnya akan berakhir?

__ADS_1


__ADS_2