
Senyuman Lukman semakin lebar. “Coba lihat sendiri, bagaimana aku tega menghukummu? Lisa, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu. Selama kamu bersamaku, aku jamin tidak akan memperlakukanmu dengan buruk. Posisi wakil direktur rumah sakit masih kosong, orang yang bersaing juga sangat banyak ….”
Sambil berbicara, Lukman tiba-tiba menarik tangan Lisa dan memeluknya.
“Pak Direktur, jangan!” Lisa berseru dan berusaha melawan. Namun, Lukman menggenggam pergelangan tangannya dengan erat, sehingga dirinya juga tidak berdaya.
Pada saat ini, Lukman akhirnya menunjukkan sikap aslinya. Dia tersenyum jahat dan tidak peduli dengan teriakan Lisa. Dia pun langsung mendorong Lisa ke sofa.
Plak!
Pada saat ini, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Arief berjalan masuk sambil tersenyum.
Ketika pergi ke ruangan Lisa tadi, dia mengetahui Lisa dipanggil oleh direktur ke sini. Arief pun berjalan ke sini tanpa pikir panjang.
Sampai di depan pintu, dia langsung melihat teriakan Lisa.
“Kamu?”
Kemunculan Arief yang tiba-tiba mengagetkan Lukman. Dia pun berteriak dengan kesal, “Siapa yang menyuruhmu masuk? Keluar!”
Sebelumnya, dia mengira bocah ini tidak boleh disinggung, sehingga Lukman pun bersikap sopan kepadanya. Sekarang dia sudah tahu kalau bocah ini hanyalah menantu dari Keluarga Kimberly, bagaimana mungkin Lukman menghargainya?
“Pak Direktur senang sekali,” ucap Arief sambil tersenyum.
Pada saat ini, Lisa pun langsung berdiri dari sofa dan merapikan bajunya yang berantakan dengan wajah tersipu malu. Dia juga merasa aneh.
Kenapa Arief bisa datang?
Namun, bagaimanapun, Arief sudah menyelamatkannya.
Sambil memikirkannya, Lisa pun melirik ke arah Arief dengan ekspresi penuh syukur, wajah memerah dan sangat menawan.
“Siapa yang mengizinkanmu masuk?” tanya Lukman dengan dengusan dingin. “Arief, cepat pergi dari sini. Kamu hanya seorang menantu tidak berguna dari Keluarga Kimberly dan mengandalkan istri saja, bukan? Kalau kamu membuatku marah, aku akan mengusir Ayahmu dari bangsal.”
Arief mendekatinya sambil tersenyum. Dia pun menarik kerah baju Lukman dan mengangkatnya.
“Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!” Seolah-olah tidak menyangka Arief begitu kuat, Lukman pun panik dan berteriak dengan keras.
Lisa yang berada di sampingnya juga terkejut. Dia pun berkata, “Arief, jangan gegabah.”
Arief menoleh ke arah Lisa dan berkata, “Kenapa? Kamu masih memohon untuknya? Orang seperti dia adalah sampah masyarakat.”
Wajah Lisa pun memerah. Dia menggigit bibir dan tidak berbicara.
“Sialan! Aku ingatkan, kalau kamu berani menyentuhku, aku akan membuatmu masuk penjara seumur hidup,” teriak Lukman yang sangat panik.
Seorang menantu yang diremehkan semua orang berani menyerangnya. Dia memiliki ratusan cara untuk membunuhnya dalam waktu singkat.
Plak!
Detik selanjutnya, Arief pun menamparnya.
Bekas telapak tangan menempel di wajah Lukman.
__ADS_1
“Kamu … kamu berani memukulku?” Lukman sangat marah.
Lisa menggigit bibirnya. Dia mendengar dari orang lain bahwa Arief sangat lemah. Namun, ketika dilihat kembali, Arief … seperti pria sejati.
Pada saat ini, kehebohan di dalam ruangan menarik perhatian orang-orang.
“Apa yang terjadi? Kenapa semuanya berkerumun di sini?” Ketua Satpam, John, membawa orang kemari.
Setelah melihat John, Lukman pun tersenyum dan berkata kepada Arief dengan sombong. “Habislah kamu!”
Dia langsung berteriak kepada John, “Cepat! Tangkap orang ini dan bawa ke kantor polisi.”
Namun, Lukman kaget melihat John tidak bergerak.
“Kak … kak Arief, apa yang terjadi?” tanya John dengan hati-hati dan ekspresi bingung kepada Arief.
Arief menjawab, “Bukan urusan kalian.”
John mengiyakan dan keluar dari ruangan.
Lukman langsung berteriak, “John, apa kamu buta? Apa kamu tidak melihat aku dipukul? Apakah kalian masih ingin bekerja di sini atau tidak?”
John tersenyum. Perusahaan Keamanan Serigala Hitam dan rumah sakit memiliki hubungan kerja sama. Jadi, ucapan Lukman tidak bisa mengancamnya.
Pada saat ini, terdengar dering ponsel. Arief pun melemparkan Lukman ke lantai dan menjawab panggilan teleponnya. Orang yang meneleponnya adalah pembeli Pil Dewa.
“Halo, Tuan Arief, apa Anda punya waktu sekarang?” Setelah panggilannya tersambung, orang yang meneleponnya berbicara dengan sopan.
“Baik. Aku akan segera tiba,” ucap lawan bicaranya sambil tersenyum dan memutuskan teleponnya.
Lukman yang terjatuh ke lantai meludahkan darah. Dia menatap Arief dan berkata, “Bocah, kalau berani jangan kabur!”
Dia kemudian melihat kembali ke Lisa, “Kamu juga! Kamu sengaja menyuruh bocah ini, bukan? Baik, tunggu saja! Kamu juga akan dipecat dari posisi sekarang.”
Setelah itu, Lukman mengeluarkan ponsel dan bersiap menelepon seseorang.
Arief yang mendengarnya pun tersenyum. Dia kembali duduk di sofa dan menatap Lukman dengan dingin, “Mencari orang, ‘kan? Baik, aku akan menunggu di sini.”
Lisa yang berada di samping sudah sangat panik. Dia mendekati Arief dan berbisik, “Arief, cepat pergi dari sini. Lukman adalah direktur rumah sakit ini. Dia memiliki orang kuat di belakangnya. Dia juga mengenal banyak orang berkuasa dan berduit.”
Lisa sangat khawatir ketika menjelaskan semua ini. Arief akan mendapatkan masalah besar, dia tidak mungkin keluar dari rumah sakit dalam kondisi baik-baik saja. Lalu, dirinya juga tidak bisa bekerja di rumah sakit lagi.
“Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu khawatir, aku bisa menyelesaikannya,” ucap Arief dengan pelan.
Kamu bisa menyelesaikannya?
Lisa pun tidak berdaya.
Di pernikahan Yanto kemarin, Lisa sudah tahu kalau hubungan Arief dan Keluarga Burton buruk.
Apalagi di Keluarga Kimberly, dia lebih rendah lagi.
Pada saat ini, Lukman juga mengeluarkan ponsel dan bersiap menelepon. Sebelum teleponnya tersambung, sudah terdengar langkah kaki dari luar ruangan.
__ADS_1
“Tuan Arief ada di sini?” Seorang pria paruh baya berjalan masuk dengan dua orang pengawal
Dua orang pengawal ini memiliki tatapan tajam, sepertinya kemampuannya tidak biasa.
Lalu, pria paruh baya ini meskipun terlihat baik hati, dia juga memiliki aura yang menekan di sekujur tubuhnya. Orang ini bernama Novanto. Tiga tahun lalu, dia menjabat sebagai Panglima Daerah Militer Kota Malang! Setelah pensiun dari militer, dia mendirikan Perusahaan Gunung dan Air.
Perusahaan Gunung dan Air adalah perusahaan kehutanan yang terkenal di Kota Malang. Mayoritas keuntungan perusahaan digunakan untuk beramal dan menanam pohon di berbagai tempat. Mereka memiliki reputasi yang baik. Separuh kehidupan Novanto diberikan kepada militer, sehingga dia cukup bermartabat di Kota Malang.
Walaupun Lukman adalah direktur rumah sakit, dia tidak berhak mengusir pasien. Namun, satu ucapan dari Novanto dapat membuat Ayahnya Arief diusir dari sini.
Lukman meletakkan ponselnya dan seperti melihat penyelamat hidupnya. “Direktur … Direktur Novanto. Anda datang tepat waktu. Saya baru ingin menelepon Anda. Anda harus membantuku.”
Lisa menundukkan kepalanya. Habislah sudah, orang kuat itu sudah datang. Mulai sekarang, mungkin dirinya juga tidak bisa bekerja di sini lagi.
Namun siapa sangka, Novanto tidak memedulikannya dan maju ke depan. “Tuan Arief?”
“Iya.” Arief mengangguk dan tidak bermaksud untuk berdiri.
Melihat sikapnya, Lukman langsung berteriak, “Bocah sialan, cepat berdiri!”
“Arief, kamu … kamu berdiri dulu.” Lisa juga sangat panik. Dia segera berbisik kepada Arief.
Novanto tiba-tiba mendekatinya dengan sopan. “Tuan Arief, saya sudah menyiapkannya. Apakah Anda membawa barangnya?”
Arief mengangguk. “Ada, aku membawanya.”
Kemudian dia menunjuk ke arah Lukman. “Bereskan dulu masalah di depan mata, baru kita lanjutkan.”
“Baik!”
Novanto tidak ragu sama sekali, tatapannya terlihat sangat dingin. “Lukman, apa yang terjadi?”
Lukman merasakan sesuatu yang salah dari tatapan Novanto. Dia membuka mulutnya dan tidak bisa berkata-kata.
Apa yang terjadi?
Bocah ini kenal dengan Direktur Novanto?
Direktur Novanto bahkan begitu sopan kepadanya? Tidak mungkin! Walaupun Chandra datang, dia juga harus bersikap sopan ketika bertemu dengan Direktur Novanto.
Lukman juga tidak tahu kalau Arief dan Novanto pertama kali bertemu.
Namun, demi mendapatkan Pil Dewa, Novanto bisa mengorbankan apa pun. Walaupun berlutut kepada Arief pun tidak masalah. Bagaimanapun, menembus batasan dan masuk ke dalam tingkatan lebih tinggi adalah impian semua kultivator.
Pada saat ini, Lisa yang berdiri di samping langsung tercengang. Dia bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Arief tersenyum. “Sepertinya Direktur Lukman tidak berani menjelaskannya. Dokter Lisa, ceritakan apa yang terjadi.”
Tubuh Lisa sedikit gemetar. Dia menundukkan kepala dan menjelaskan semuanya. Terakhir, wajahnya sedikit memerah.
“Lukman!” ucap Novanto dengan nada dingin. “Aku mengangkatmu menjadi direktur rumah sakit ini, tetapi apa yang kamu lakukan sekarang?”
Setelah itu, dia langsung menendang perut Lukman.
__ADS_1