
Namun, dia melihat Arief sudah mulai melepaskan baju dan berbaring di sofa.
“Kamu ….” Debora memelototinya. Sudahlah, lagi pula dia juga tidur di sofa.
Arief yang tidur di sofa pun mengeluarkan ponsel. Sebenarnya dia tidur di sini karena ada alasan lain.
Kalau dia pulang semalam ini, Nita pasti akan susah tidur. Lalu, dia harus diomeli Heny kalau mengganggunya.
Setelah sesaat, Debora berjalan keluar dan menunjuk ke sofa, “Malam ini kamu tidur di sofa dan jangan ke mana-mana.”
Setelah melontarkan ucapannya, Debora segera berjalan ke kamar tidurnya.
Setelah sesaat, dia mengambil pakaiannya dan berjalan ke kamar mandi.
Ketika ingin mengunci pintunya, Debora yang khawatir kembali melihat ke arah Arief.
Tidak menunggu Debora berbicara, Arief pun tersenyum dan berkata, “Tenang saja. Aku tidak akan mengintip.”
Wajah Debora pun memerah. Dia menutup pintu dan detak jantungnya menjadi lebih cepat.
Lalu, suara air pun terdengar dari kamar mandi.
Dekorasi rumahnya bergaya Eropa, dan pintu kamar mandinya terbuat dari kaca buram. Meskipun tidak bisa melihat apa yang ada di dalamnya, dari sudut pandang Arief, dia bisa melihat lekukan samar Debora di dalamnya.
Arief bisa melihat jelas lekukan tubuh Debora serta aliran air di dalam kamar mandi.
Gluk!
Dia pun menelan ludah karena imajinasinya sendiri.
Dia tidak menyangka akan mendapatkan keuntungan seperti ini. Ketika sedang terharu, tiba-tiba ponselnya berdering kembali.
Fransiska mengirimkan pesan singkat lagi.
Arief tertegun ketika membuka ponselnyal.
Total ada tujuh sampai delapan pesan yang dikirimkan Fransiska.
Dari sore sampai sekarang, dia mengirimkan satu pesan singkat setiap setengah jam. Isi pesan singkatnya hampir sama, seperti, “Arief, lagi apa? Arief, lagi sibuk apa?”
Apakah ada masalah penting?
Arief langsung meneleponnya.
Saat ini.
Kediaman Keluarga Salim.
Fransiska yang sedang memakai baju tidur pun tersenyum dan detak jantung juga menjadi lebih cepat ketika melihat teleponnya berdering.
Akhirnya Arief balas.
Sebenarnya, Fransiska juga tidak ada urusan mendadak.
Sejak ayahnya salah paham, dia akan selalu teringat Arief ketika lagi santai. Fransiska akan merasa malu ketika teringat adegan dirinya diikat.
Hari ini, dia tiba-tiba ingin berbicara dengannya. Siapa sangka, Arief membalasnya pada malam hari.
__ADS_1
Namun, Fransiska sama sekali tidak marah dan justru merasa semangat.
Setelah mengangkat teleponnya, dia mendengar Arief berkata, “Kenapa? Ada urusan penting?”
Apakah Arief sedang mengkhawatirkan dirinya? Fransiska menggigit bibirnya dan merasa senang dalam hati. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu kamu lagi apa.”
Tidak apa-apa?
Arief tertegun ketika mendengarnya.
Dia mengirimkan pesan singkat sebanyak 7-8 kali sejak sore sampai sekarang, apakah terlihat seperti tidak apa-apa?
Arief berkata, “Eh? Jangan-jangan kamu rindu padaku, ‘kan?”
Ssh!
Wajah Fransiska langsung memerah. Nada bicaranya menjadi tidak alami, “Ke … kenapa aku harus merindukanmu?”
Arief langsung merasa senang ketika menyadari Fransiska yang tersipu malu. Namun, dia tiba-tiba teringat hal yang penting. “Oh iya, keluarga kalian adalah keluarga barang antik. Apakah kalian punya koleksi buku tentang senjata kuno?”
Pedang Haus Darah tiba-tiba naik tingkat, hal ini membuat Arief kebingungan. Pedang Haus Darah ini sebenarnya sampah atau senjata yang bagus.
“Di ruang kerja Ayahku seharusnya ada,” ucap Fransiska. “Aku akan mencarikannya.”
Sambil berbicara, Fransiska pun turun ke lantai bawah.
Tidak sampai dua menit, Fransiska kembali berkata, “Aku menemukan satu buku. Apakah kamu mau datang sekarang?”
Suaranya terdengar tegang dan panik.
Setelah itu, wajahnya kembali memerah.
Arief melambaikan tangan dan berkata, “Tidak perlu. Aku akan datang mencarimu besok.”
Setelah itu, Fransiska terdengar sedikit kecewa. Dia pun menjawab, “Baiklah, aku akan menunggumu besok.”
Setelah memutuskan panggilannya, Debora juga keluar dari kamar mandi.
Walaupun dia memakai pakaian tidur yang terlihat biasa saja, lekukan tubuhnya yang seksi juga tidak bisa tertutupi.
Rambut panjangnya yang basah tergerai di bahunya. Karena baru mandi, wajahnya terlihat sedikit memerah dan sangat memesona.
Arief terus menatapnya dan akhirnya mengerti peribahasa bahwa kecantikan dapat membuat orang kehilangan rasa lapar.
Debora tersipu malu karena ditatap oleh Arief. Dia memelototinya dan berkata, “Kenapa belum tidur?”
Arief tersenyum. “Aku masih menunggumu untuk memeriksa pedang ini.”
Sambil berkata, Arief mengeluarkan Pedang Haus Darahnya.
Di bawah cahaya redup ruang tamu, Pedang Haus Darah memancarkan cahaya berwarna darah yang aneh. Naga panjang yang diukir pada pedang itu sangat mendominasi.
Melihat senjata itu, Debora pun segera mendekat.
Sebagai kapten polisi, murid senior Sekte Bulan Sabit, Debora bisa memastikan bahwa pedang ini bukan senjata tingkat merah. Pedang dengan panjang 1 meter dan ukiran naga yang terlihat hidup.
Ini pasti pedang bagus!
__ADS_1
Debora pun melangkah ke depan. Saat ini, dia kebetulan melihat tatapan Arief yang sedang memperhatikan tubuhnya.
Wajah Debora langsung memerah, “Besok saja. Aku sudah capek.”
Arief sialan ini, dia tahu aku memakai baju tidur, jadi sengaja menyuruhku ke sana.
Benar-benar tidak bisa serius.
Setelah memikirkannya, Debora semakin tersipu malu. Dia berlari masuk ke kamar tidur dan mengunci pintunya dari dalam.
Mendengar Debora mengunci pintu, Arief terlihat kecewa dan juga merasa lucu.
Seperti yang diharapkan dari kapten tim investigasi kriminal, dia masih sangat waspada di saat-saat kritis.
Setelah itu, rasa kantuk pun menyerang. Arief menguap, berbaring di sofa dan kemudian tertidur.
…
Belakangan ini, terjadi banyak hal besar di Kota Malang.
Hal yang paling heboh adalah berdirinya Perusahaan Angin Real Estate.
Tidak ada yang tahu siapa pemilik dari Perusahaan Angin Real Estat. Semua orang hanya tahu direktur perusahaan ini memiliki hubungan erat dengan Perusahaan Net Media. Bukan hanya begitu, perusahaan ini juga memiliki hubungan erat dengan Perusahaan Fiesta dan Esteria.
Orang bodoh juga tahu kalau Perusahaan Angin Real Estat sangat berpotensi.
Hari ini adalah peresmian Perusahaan Angin Real Estat, alun-alun di depan penuh dengan balon dan segala macam mobil mewah. Peresmian perusahaan hari ini dihadiri oleh berbagai selebriti dan berbagai orang penting di Kota Malang.
Lagi pula, semua orang ingin berkenalan dengan direktur perusahaan baru. Bertambah satu teman akan membuat jalan yang baru. Ungkapan ini berlaku untuk kalangan atas di masyarakat. Dilihat dari kejauhan, berbagai orang memakai jas rapi. Mereka berasal dari kalangan keluarga teratas, dunia bawah dan pebisnis.
Bahkan media juga banyak yang datang meliput.
Hari ini yang paling menarik perhatian tentunya adalah Direktur Shinta.
Shinta memakai gaun panjang berwarna merah gelap yang seksi, tetapi juga tidak kehilangan elegannya.
Tidak bisa dipungkiri, wanita cantik akan selalu menjadi pusat perhatian. Banyak orang yang terus memperhatikan tubuh Shinta. Bukan hanya cantik, dia juga jago berkomunikasi dan memiliki kepintaran yang bisa menghadapi orang dari berbagai kalangan atas.
Tidak sampai satu jam, Perusahaan Angin Real Estat sudah mengumumkan bahwa mereka telah membeli beberapa tanah bagus di sekitar Kota Malang untuk dikembangkan. Total investasi mencapai beberapa triliun.
Seketika, liputan media langsung menghebohkan seluruh Kota Malang.
Baru saja didirikan, perusahaan ini sudah memiliki sumber daya yang sangat hebat di industri real estate Kota Malang.
Jadi, Perusahaan Angin Real Estate langsung menjadi pemimpin industri real estat di Kota Malang.
Direktur Shinta juga menjadi orang populer.
Wartawan dari stasiun TV Kota Malang juga datang mewawancarai Shinta.
Wanita ini pasti sangat hebat, karena bisa mendapatkan begitu banyak sumber daya.
Semua orang yang bertemu dengan Shinta langsung berpikir seperti itu.
Namun, siapa yang tahu kalau Arief yang membeli beberapa tanah itu.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa Arief adalah bos dari perusahaan ini. Semua orang hanya ingin menyanjung Shinta. Dalam seketika, nama Shinta menjadi terkenal di seluruh Kota Malang.
__ADS_1
Bukan hanya dianggap sebagai wanita cantik, dia juga dijuluki wanita terhebat nomor satu di Kota Malang. Banyak tuan muda keluarga kalangan atas ingin mengejarnya.