
Saat ini, terdengar suara sirine polisi.
Ada yang lapor polisi? Keringat dingin Anto pun bercucuran, dia bangkit dan ingin kabur dari sini.
“Mau kabur?”
“Tahan dia?”
Teriak beberapa bos toko barang antik setelah sadar kembali.
Para karyawan toko sebelah yang mendengar teriakan itu segera menahan Anto, beberapa orang pun berhasil menahan Anto ke lantai.
“Sialan! Ternyata barang palsu, bajingan ini hampir saja mencuri sepuluh miliar dariku,” ucap Lufti yang berpura-pura menjadi korban. Setelah meludahi Anto, dia pun ingin pergi dari sini.
Ketika dia berbalik dan ingin pergi dari Panca Heritage, tiba-tiba sebuah bayangan muncul di depannya.
Orang itu adalah Arief!
“Sialan, apa kamu gila? Kenapa kamu menghalangiku?” ucap Lutfi yang merasa tidak senang.
Beberapa orang di samping pun melihat ke arah sini.
Arief tersenyum menatap Lutfi, dia lalu berkata, “Apa kamu tega meninggalkan rekanmu dan membiarkannya ditangkap oleh polisi?”
Ekspresi Lufit langsung berubah, “Apa maksudmu?”
“Sudahlah, tidak usah berpura-pura lagi, kenapa kamu tidak pergi menjadi aktor dengan akting yang bagus ini? Kenapa harus menipu orang?” ucap Arief sambil menghela napas ketika menyadari Lutfi tidak ingin mengakuinya.
Lutfi juga malas berdebat dengannya, dia bersiap melewati Arief dan ingin pergi dari sini. Namun, dia menyadari tangannya telah ditangkap oleh Arief.
Pada saat ini, Lutfi merasakan tangan Arief sekuat tang yang tidak bisa dilepaskan.
“Apa kamu gila? Dia memang menipu kalian, tapi apa hubungannya denganku? Aku juga hampir saja tertipu,” ucap Lutfi dengan kesal. Kedua bola matanya terus berputar, dia jelas terlihat panik.
Semua ini terjadi terlalu cepat, bahkan Fransiska tidak sempat bereaksi dan hanya terdiam di sana.
Pada saat ini, Debora membawa beberapa polisi dan sudah datang ke sini.
Debora tidak memakai seragam polisi, tapi dia tetap tidak bisa menutupi pesona tubuh indahnya. Balutan celana jins membuat kakinya semakin indah dan sangat mempesona.
Dia pun berjalan ke hadapan Arief dan bertanya, “Apa orang ini juga penipu?”
Tidak menunggu Arief menjawab, Lutfi segera berkata dengan ekspresi sedih, “Ibu polisi, kamu harus membelaku, aku datang untuk membeli barang antik dan aku juga adalah korban. Anak muda ini menahanku tanpa alasan yang jelas, kamu harus membantuku.”
Beberapa bos barang antik yang sudah masuk ke dalam mulai berbicara.
“Betul, Tuan Lutfi datang untuk membeli barang antik.”
“Kami bisa membuktikannya.”
“Oi, menantu Keluarga Kimberly, apa yang kamu lakukan? Kamu hanya beruntung bisa mengenali baru giok palsu itu, tapi kamu juga tidak boleh memfitnah orang lain.”
Arief tersenyum melihat orang-orang bodoh ini.
Anto dan Lutfi sudah jelas adalah rekan dalam penipuan ini, setelah identitas Anto bocor, mereka bahkan tidak menyadari bahwa Lutfi ini juga bermasalah.
__ADS_1
Lalu yang membuat Arief tidak berdaya, yaitu Debora ternyata juga percaya dengan ucapan Lutfi dan beberapa bos barang antik ini.
Debora mengerutkan kening dan berkata kepada Arief, “Arief, kamu tidak boleh memfitnah orang, cepat lepaskan dia.”
“Dengar tidak, aku masih ada bisnis yang harus diurus besok, apa kamu sanggup bertanggung jawab kalau merusak urusanku?” ucap Lutfi yang mulai merasa senang.
Huh!
Arief hanya bisa menghela napas mendengar ucapan Debora.
Jika membiarkan Lutfi pergi, dia pasti akan mencari cara untuk mengeluarkan Anto, sehingga mereka akan lanjut untuk melakukan penipuan di tempat lain.
Sudahlah, lebih baik dia tidak ikut campur. Ketika Arief yang kesal ingin melepaskan tangannya, tiba-tiba dia pun mengerutkan kening.
Tunggu, wajah Lutfi ini ….
Shh!
Detik selanjutnya, Arief dengan cepat melepaskan sebuah benda dari wajah Lutfi.
Ternyata itu adalah sebuah topeng yang bagus.
Wah!
Semua orang menarik napas dingin ketika melihat wajah asli Lutfi.
Bukan karena tampang Lutfi yang menakutkan, melainkan tampangnya sangat cabul, perbandingan dengan sebelumnya benar-benar sangat jauh.
“Ternyata kamu?” Debora pun segera mengangkat Lutfi!
Dia mengenal orang ini! Tidak, bisa dibilang kalau seluruh kepolisian juga mengenal Lutfi! Dia adalah tersangka kasus penipuan barang antik satu tahun yang lalu.
Beberapa polisi segera berlari kemari, mereka pun melepaskan topeng yang menempel di wajah Anto.
Satu tahun yang lalu, mereka berdua berhasil menipu sebuah lukisan tua seharga puluhan miliar dari seorang investor kaya yang datang ke kota Malang. Hal ini mendapatkan perhatian khusus dari atasan, mereka memerintahkan Debora untuk segera menyelesaikan tugas ini.
Tapi karena dua orang ini yang terlalu licik, Debora tidak bisa menemukan keberadaan mereka dalam satu tahun ini.
Dia tidak menyangka akan menangkap mereka hari ini.
Tubuh Debora pun gemetar dengan hebat, ini adalah sebuah jasa yang besar!
Beberapa bos barang antik yang masih membela Lutfi hanya bisa tercengang di sana.
Mereka tentu saja tahu dengan kasus penipuan barang antik satu tahun yang lalu. Mereka hanya tidak menyangka dua orang itu adalah pelaku utama, lalu kedua orang ini bahkan berani datang menipu Keluarga Salim.
Pada saat yang sama, beberapa bos barang antik menatap Arief dengan tatapan aneh.
Topeng yang digunakan kedua orang ini sangat bagus, dalam kondisi normal tidak ada yang menyadarinya, bagaimana anak muda ini bisa menyadarinya?
Tapi karena ada Debora di sini, mereka juga tidak berani bertanya.
Pada saat ini, Debora menyuruh para bawahan untuk membawa dua orang ini ke mobil, dia lalu berjalan ke dekat Arief.
“Arief, aku minta maaf karena kata-kataku tadi, aku hampir saja kehilangan sebuah kesempatan untuk memecahkan kasus besar. Kali ini aku harus berterima kasih kepadamu,” ucap Debora yang merasa bersalah.
__ADS_1
Arief tersenyum dan melambaikan tangannya, “Tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin penjahatnya kabur.”
Debora pun mengangguk, dia lalu bertanya dengan penasaran, “Bagaimana kamu bisa menyadari Lutfi memakai topeng?”
Arief berpikir sebentar dan segera menjawabnya, “Sebenarnya tidak aneh juga, ketika dia sedang memberontak, lapisan topeng yang berada di wajahnya terlepas sedikit dan kebetulan aku melihatnya.”
Sebenarnya, Arief juga merasa bingung dengan hal ini.
Lutfi menyamar dengan baik, hanya sambungan di wajah dan leher yang terlihat cacat sedikit, orang biasa tidak akan menyadari cacat kecil ini. Tapi kenapa Arief sendiri bisa menyadarinya?
Sejak kapan penglihatanku menjadi begitu baik?
Arief berpikir sendiri dalam hati.
Debora juga tidak curiga, dia tersenyum dan berkata, “Bagaimanapun, aku harus berterima kasih kepadamu. Kalau ada kesempatan, aku akan mentraktirmu makan.”
Setelah melontarkan ucapannya, Debora pun pamit pergi dari sini.
Lutfi dan Anto yang berada di mobil polisi merasa sangat kesal dan tidak rela, mereka sudah merencanakan penipuan ini dalam waktu lama, bisa disebut bahwa rencana ini sangat sempurna. Tapi ternyata pada titik terakhir, Arief muncul dan mengacaukan semuanya.
“Bocah itu bernama Arief, bukan?” ucap Lutfi dengan pelan kepada Anto.
Anto mengangguk, “Tadi beberapa bos barang antik mengatakan bahwa dia adalah menantu Keluarga Kimberly.”
“Sialan, aku akan membunuhnya setelah keluar nanti,” ucap Lutfi sambil menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya.
Panca Heritage.
Melihat orang-orang yang membubarkan diri, Fransiska pun mendekat ke Arief, “Arief, bagaimana kamu bisa tahu kedua orang itu adalah penipu?”
Arief pun tersenyum dan berkata dengan santai, “Sebenarnya, aku sering membaca cerita detektif di internet, lalu akting kedua orang itu juga sangat buruk.”
Melihat dia berkata dengan mudah, Fransiska pun tersenyum dan berkata, “Dari mana kamu mempelajari pengetahuan tentang Giok Air Mata Darah?”
Sepertinya, dia tidak bisa menjawabnya.
Arief berpikir sebentar, kemudian berkata, “Ini … dulu aku pernah belajar beberapa pengetahuan dengan seorang Tuan besar, jadi ….”
Setelah itu, Arief pun mengangkat bahu dengan santai.
Artinya sangat jelas, menilai Giok Air Mata Darah adalah hal kecil.
Fransiska yang semakin bersemangat lanjut bertanya, “Siapa nama Tuan besar itu? Dia tinggal di mana?”
Arief bisa mengenali Giok Air Mata Darah yang palsu hanya dalam sekali lihat, bahkan dia bisa mengatakan pengetahuan yang tidak diketahui oleh Fransiska.
Kalau begitu, bukankah Tuan besar yang mengajari Arief juga lebih hebat?
Dia harus bertemu dengan orang seperti itu.
Jawaban Arief selanjutnya membuat Fransiska kecewa.
“Aku sudah beberapa tahun tidak bertemu dengannya, aku juga tidak tahu dia tinggal di mana,” ucap Arief.
Mendengar ucapannya, Fransiska menghela napas dan tidak ingin melanjutkan topik ini lagi. Dia lalu melihat Arief dengan tatapan rumit, kemudian bertanya, “Arief, apakah kamu bisa berjanji satu hal kepadaku?”
__ADS_1
“Hal apa?”
“Aku ingin mengundang kamu menjadi Apresiator Kehormatan di toko kami, kamu tidak perlu datang setiap hari ke toko. Kamu hanya perlu datang ketika dibutuhkan, bagaimana dengan gaji 100 juta per bulan?” tanya Fransiska dengan nada pelan.