
Si penjual sudah bengong. Dia terus mengangguk dan tidak berani melawannya.
“Berikan ponsel kepada Kak Arief,” ucap Fiesta dengan kesal.
Setelah Arief memegang ponselnya, Fiesta berkata dengan nada gemetar. “Kak Arief, aku tidak bisa menjaga orangku dengan baik. Aku akan segera ke sana dan meminta maaf kepada Nona Fransiska ….”
“Tidak … tidak perlu ….”
Fransiska sudah bengong dan berbicara cepat. Bagaimana dia bisa menerima permintaan maaf dari Fiesta?
Arief melambaikan tangannya, “Baiklah. Kamu juga tidak perlu kemari. Mulai sekarang, jaga orangmu dengan baik. Untung hari ini bertemu denganku, kalau bertemu orang lain, masalahnya akan semakin besar.”
“Baik baik, terima kasih Kak Arief,” ucap Fiesta.
Arief tidak berbicara dan memutuskan panggilannya.
Si penjual itu sudah hampir menangis, dia terus membungkuk kepada Arief. “Maaf, maaf, Kak Arief. Kalau aku tahu kamu temannya kakak sepupu, aku tidak akan berani melakukannya.”
Sambil berbicara, dia terus meminta maaf kepada Fransiska dan memberikan piring porselennya.
“Ayo pergi,” ucap Arief. Ketika ingin berjalan pergi, dia melihat sebuah bunga segar di sudut penjual itu.
Bunga ini sangat istimewa, kelopaknya kecil, tetapi mekar dengan indah, yang lebih menakjubkan lagi, daunnya setengah hijau muda dan setengah hijau tua, sekilas seperti digambar dengan krayon.
“Bunga apa ini?” tanya Arief kepada penjual itu.
Penjual itu memberikan bunga kepadanya. “Kak Arief, aku tidak sengaja bertemu dengan bunga ini di gunung. Karena merasa unik, aku pun memetiknya. Setelah pulang, aku langsung mengeceknya dan baru tahu namanya Bunga Dua Warna. Ia termasuk sebuah tanaman yang langka.”
Bunga Dua Warna?
Dia merasa nama ini cukup familier. Seperti pernah membacanya di mana.
Arief berusaha memikirkannya. Oh iya, buku “Alkimia Tak Terbatas” pernah mencatat ini. Banyak pil yang bisa dibuat dengan bahan Bunga Dua Warna ini.
Bisa dibilang kalau Bunga Dua Warna Ini merupakan bahan wajib dari berbagai pil.
“Berapa harganya?” tanya Arief.
“Kak Arief, jangan bilang begitu. Aku mana berani mengambil uangnya …” ucap penjual itu sambil tersenyum. “Aku akan memberikan Bunga Dua Warna ini kepada Kak Arief.”
Arief juga tidak sungkan. Dia mengangguk dan menerima Bunga Dua Warna. Lalu, kemudian berjalan pergi dengan Nita.
“Arief, apa hubunganmu dengan Fiesta?” tanya Nita dengan nada pelan.
Arief tersenyum dan berkata, “Hanya teman saja.”
Melihat dia tidak ingin menjelaskan, Nita juga tidak ingin bertanya. Pria ini semakin sulit dipahami ….
Selama tiga tahun menikah, dia tidak pernah memiliki apa pun di mata orang lain. Nita sendiri juga menganggap Arief tidak punya teman. Jadi, Arief selalu pergi sendiri untuk membeli sayur dan jalan-jalan. Namun belakangan ini, kenapa dia bertambah banyak teman? Bahkan semua temannya adalah orang hebat …
“Sudah mau jam makan. Ayo kalian bertiga makan di rumahku.” Saat ini, Fransiska mengikuti mereka dan berkata, “Belakangan ini, Arief sudah banyak membantuku, ayo makan ke rumahku, ya?”
Sebelum Arief menjawab, Nita pun tersenyum dan berkata, “Baik. Arief, ayo kita pergi.”
Keluarga Salim memiliki kekuatan besar di Kota Malang. Nita tentu saja ingin berkenalan dengan Fransiska lewat kesempatan ini.
Karena Nita sudah menjawab, Arief pun tidak enak menolaknya lagi.
Di dalam mobil, Arief pun melirik ke sekitar.
__ADS_1
Tiga wanita cantik di dalam mobil, Nita, Fransiska dan Shinta memiliki kecantikan yang berbeda.
Mengemudi di jalan, pria dan wanita di sisi jalan langsung melihat ke dalam mobil.
Agustus di Kota Malang panas di siang hari dan dingin di malam hari.
Perbedaan suhu antara siang dan malam terlalu besar. Arief segera menutup jendela karena bersin.
Sialan, masuk angin? Dia sudah merupakan kultivator, apakah masih bisa masuk angin?
...
Kediaman Keluarga Salim, di distrik selatan Kota Malang, adalah halaman kuno. Dikatakan sebagai bangunan di dinasti zaman kuno, didekorasi dengan elegan dan memiliki suasana kuno di mana-mana, yang sejalan dengan identitas keluarga yang berhubungan dengan barang antik.
Ketika masuk ke dalam halaman, Arief langsung tertegun melihat tata letak rumah ini.
Pekarangan ini menghadap ke selatan, dan tidak ada bangunan di sekitarnya yang menghalangi cahaya. Tata letaknya masuk akal dan fengsui luar biasa. Meskipun bukan tanah fengsui berkualitas tinggi, tempat ini termasuk kediaman yang memberi keuntungan.
Walaupun Keluarga Salim berbisnis barang antik, di rumah mereka tidak terdapat barang antik sama sekali. Karena barang antik sangat jahat, tidak boleh sembarangan diletakkan di rumah. Beberapa barang yang pernah digunakan oleh kaisar juga tidak boleh diletakkan di rumah karena takut tidak sanggup menerima tekanannya.
Beberapa barang antik yang pernah dipakai wanita dan sudah berumur akan memiliki aura Yin yang kental. Sehingga tidak bisa sembarangan diletakkan di rumah juga.
Di dalam rumah, Fransiska langsung masuk sendiri sebagai tuan rumah.
Nita dan Shinta pun pergi membantunya. Setelah sesaat, tiga wanita cantik mulai sibuk. Topik pembicaraan wanita selalu sangat banyak, mereka sudah akrab satu sama lain dan tidak tahu sedang membahas apa.
Tidak bisa dipungkiri, ketiga wanita ini benar-benar sangat cantik. Semua tubuh mereka termasuk yang paling inda.
Dari tampang dan aura, Fransiska termasuk wanita yang dingin.
Nita termasuk wanita cantik yang pintar.
Shinta termasuk yang menggoda.
Arief yang duduk di sofa suda memperhatikan mereka beberapa saat. Dia pun menyalakan televisi karena merasa bosan.
Hachi.
Arief sempat bersin beberapa kali dan ingus pun keluar dari hidungnya.
Sialan, sepertinya benar-benar masuk angin. Arief mengambil dua lembar tisu untuk mengelap ingusnya. Setelah itu, dia membuangnya ke meja teh, lalu mengambil remote untuk mengganti saluran lain.
Awalnya, dia sedang menonton saluran lokal Malang yang menayangkan artis terkenal. Karena tidak sengaja tertekan, salurannya berubah menjadi saluran orang dewasa.
Sialan!
TV ini benar-benar sangat canggih. Kenapa bisa sampai mendapatkan saluran seperti ini?
“Arief, apakah kamu ingin minum sesuatu?” Ketika Arief sedang fokus, Fransiska tiba-tiba berjalan keluar dari dapur.
Arief sebagai mengambil remote dari meja teh dengan cepat untuk mengganti saluran.
Lalu, Arief merasa sangat kesal karena tidak bisa mengganti salurannya walaupun sudah ditekan beberapa kali! Sialan!
“Arief, kenapa?”
Fransiska yang bingung melirik ke arah tv dan wajahnya memerah.
Wajah Fransiska dengan cepat memerah karena tersipu malu.
__ADS_1
Acara … acara apa ini?
Arief … Arief dia ….
“Ah ….”
Detik selanjutnya, Fransiska tiba-tiba berteriak!
“Bukan, kamu jangan berteriak. Aku … aku tidak melihatnya ….”
Sialan! Dia juga tidak berdaya.
Ketika mendengar teriakan Fransiska, Nita dan Shinta pun berjalan keluar.
Ketika berjalan masuk, mereka langsung melihat acara televisi. Kemudian ada dua lembar tisu dengan ingus di atas meja teh yang berwarna sedikit hijau.
Seketika, Nita dan Shinta langsung mengerti setelah saling menatap.
“Tidak. Kalian … tisu itu bukan seperti bayangan kalian. Aku bersin tadi ….” Arief langsung tercengang.
“Arief, kamu!” Nita menghentakkan kaki dan memelototinya.
Wajah Fransiska dan Shina sudah memerah dan berjalan pergi.
Di dalam kamar hanya tersisa Nita dan Arief berdua. Wajah Nita yang cantik sangat merah.
“Arief, apa yang kamu lakukan? Di sini rumah orang lain, kenapa kamu … kamu melakukan hal seperti ini?” tanya Nita dengan nada pelan kepada Arief sambil tersipu malu.
Nita tidak berani mengatakannya dengan vulgar.
Sangat memalukan.
Kedua pipi Nita memerah dan tampak sangat menggoda.
Arief melihatnya sampai bengong, kemudian menjelaskan sampai tersenyum. “Kalian salah paham, aku tidak melakukan apa pun. Siapa tahu televisi akan tiba-tiba menayangkan hal seperti ini? Lalu, aku juga masuk angin. Tisu itu ….”
Nita tidak percaya. Dia berkata dengan wajah yang tersipu merah. “Kamu masih berani menjelaskan. Kalau tahu dari awal, aku tidak akan datang bersamamu. Bagaimana aku bisa menghadap kepada Direktur Fransiska nanti?”
Benar-benar menyulitkan orang saja.
Semakin Nita memikirkannya, semakin dia menjadi depresi.
Arief hampir pingsan. “Aku bersumpah, sayang! Lupakan saja kalau tidak percaya. Aku benar-benar masuk angin.”
Setelah itu, Arief cepat-cepat pergi ke kamar mandi. Sialan! Lebih baik dia kabur dulu.
“Ya, sekarang kamu masih ingin di kamar mandi ….”
Melihat Arief berlari masuk ke dalam rumah sakit. Nita kembali membayangkan adegan yang memalukan itu. Wajahnya semakin memerah. Dia menghentakkan kaki dan berjalan kembali ke dapur.
Arief pun mengabaikannya. Dia membuang tisu ke tong sampah dan membilas wajahnya.
Saat ini, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Fransiska pun sadar kembali dan membuka pintunya. Awalnya, dia mengira ada tamu, karena Keluarga Salim akan selalu kedatangan tamu setiap hari. Tapi ketika pintu terbuka, dia langsung melihat sekumpulan pria berbaju hitam bergegas masuk.
Orang yang memimpin mereka adalah Luntoro.
“Ikat tiga wanita ini!” Luntoro sangat marah.
__ADS_1
Belasan pria kekar langsung mengepungnya dan mengikat ketiga wanita itu dengan tali yang sudah disiapkan sebelumnya.
“Arief! Keluar!” Luntoro langsung mendobrak pintu kamar mandi.