Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 98 Apakah Kamu Layak?


__ADS_3

Chandra yang berada di dalam ruangan rahasia tertegun.


Seluruh anggota keluarga berkultivasi? Ini bukan hal yang mudah.


“Tapi, kalau ingin menjadi seorang kultivator, kita memerlukan Pil Pembangunan Jiwa ataupun Rumpu Jiwa untuk mengubah kualitas fisik agar bisa menjadi kultivator. Pil Pembangunan Jiwa dan Rumput Jiwa sangat langka, kita tidak bisa membelinya tanpa punya koneksi walaupun memiliki uang.”


Rumput Jiwa adalah tanaman spiritual yang dikonsumsi Arief sebelumnya. Waktu itu, Guntur dan kakaknya memberikannya sebagai hadiah kepada Arief.


Setelah mengonsumsi Rumput Jiwa, seseorang bisa menjadi kultivator.


Lalu, Pil Pembangunan Jiwa dimurnikan dari Rumput Jiwa. Ramuan yang berhasil diciptakan memiliki efek yang lebih murni.


Tuan Besar Burton melambaikan tangannya, dia menyuruh Chandra tidak perlu khawatir. “Kamu tidak perlu khawatir. Ikuti saja perintahku, segera buatkan daftar orang-orang yang pintar dan memiliki bakat di keluarga kita.”


Setelah berhenti sejenak, Tuan Besar Burton melanjutkan, “Pendeta Dusik dari Sekte Bulu Ilahi adalah teman baikku. Selama aku meminta kepadanya, dia pasti dapat memberikan Pil Pembangunan Jiwa kepadaku.”


Teknik Perubahan Tendon yang dipelajari oleh Tuan Besar Burton adalah pemberian Pendeta Dusik. Orang ini memiliki posisi yang tinggi di Sekte Bulu Ilahi. Pil Pembangunan Jiwa bukan hal sulit baginya.


Chandra yang senang segera mengangguk, “Saya mengerti, Ayah. Saya akan segera menyiapkannya.”


Saat ini, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Jeslin berjalan masuk dengan sepatu hak tingginya.


“Kakek, kami sudah menghitung jumlah korban.” Wajah Jeslin masih merah dan bengkak. Dia lalu berkata dengan kesal, “Total ada tujuh orang yang sedang diselamatkan di rumah sakit dan belasan yang terluka parah.”


Setelah itu, Jeslin menggertakkan gigi dan menambahkan, “Kakek, sejak kapan Keluarga Burton kita harus menerima penghinaan seperti ini? Kita tidak boleh bersabar.”


Plak!


Mendengar ucapan Jeslin, Tuan Besar Burton memukul meja dengan keras. Kedua matanya dipenuhi oleh api marah. “Masalah ini belum selesai. Arief dan Keluarga Tomoro, aku akan mengingat utang ini selamanya.”



Rumah Sakit Rakyat Kesatu Kota Malang.


Nita membawa satu keranjang buah dan datang ke rumah sakit dengan terburu-buru.


Di belakangnya, Heny ikut dengan ekspresi kesal.


Kemunculan ibu dan anak ini menarik perhatian banyak pria lain di rumah sakit.


Walaupun sudah berusia 30-an, Heny melakukan perawatan dengan baik, tubuhnya juga sangat seksi.


Nita lebih lembut dan memesona. Dia mengenak rok pendeka hari ini dengn tubuh yang lebih indah.


Gluk.


Banyak pria yang terus menatap mereka dan diam-diam menelan ludah.

__ADS_1


Siapa yang bisa menikahi wanita seperti ini, benar-benar sangat beruntung.


Nita tidak memperhatikan tatapan disekitarnya, karena suasana hatinya sedang kacau.


Kemarin, mereka sedang berada di rumah Niko, tetapi setelah menerima panggilan telepon, Arief langsung pergi terburu-buru dengan Niko.


Nita tidak tahu dengan kejadian Keluarga Burton kemarin. Pagi ini, dia baru tahu kalau ayahnya Arief masuk rumah sakit. Dia segera datang menjenguknya begitu mendengar kondisinya parah.


Sebenarnya, setelah menikah tiga tahun, Nita tidak pernah bertemu dengan orang tua Arief. Belakangan ini, dia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi dia selalu merasa sangat aman ketika bersama Arief. Jadi, Nita memutuskan untuk melakukan tugas seorang menantu hari ini.


“Nita, kenapa kita harus datang melihat orang tuanya Arief. Mereka masih belum mati,” ucap Heny dengan kesal ketika masuk ke lobi. “Kamu bisa datang sendiri, bukan? Kenapa harus membawaku datang? Aku sudah berjanji dengan teman untuk bertemu dokter kecantikan.”


Orang tua Arief adalah orang kampungan, Heny merasa statusnya tercoreng ketika harus datang menjenguk mereka di rumah sakit.


Nita lalu berkata dengan pelan, “Ibu, kecilkan suaramu. Belakangan ini, Arief sudah bekerja keras dan menunjukkan penampilan yang tidak buruk. Ibu jangan mengkritiknya lagi.”


Setelah itu, Nita kembali melanjutkan, “Lagi pula, kami sudah menikah tiga tahun lebih, tetapi tidak pernah bertemu dengan orang tuanya Arief. Sekarang ayahnya dirawat inap, kita juga harus datang menjenguknya.”


Ucapan Nita membuat Heny tidak bisa menyangkalnya. Namun, dia tetap merasa kesal. “Baiklah, baiklah. Aku akan mengikuti kemauanmu. Setelah berbicara sebentar, aku akan segera pergi. Kamu juga tahu kalau aku tidak suka datang ke rumah sakit, virus di mana-mana ….”


Setelah sampai di depan pintu bangsal, terdengar suara tawa dari dalam.


Nita dan Heny saling bertatapan, lalu menghentikan langkah kakinya.


“Kenapa ada suara wanita muda dari dalam?” ucap Heny dengan bingung. “Bukankah kamu bilang hanya Arief dan ibunya yang berjaga di dalam?”


Nita mengerutkan keningnya dan tidak berbicara.


Kenapa ada wanita lain?


Apakah Arief ….


Sambil berpikir seperti itu, Nita langsung merasa tidak senang.


Melalui jendela bangsal, dapat dengan jelas melihat bahwa Ihsan dibalut perban, dengan darah mengalir dari perban. Ada infus yang tergantung di lengannya dan ada beberapa botol infus di sebelahnya. Ihsan tampak menyedihkan.


Untungnya, Ihsan berhasil diselamatkan.


Saat itu, Ihsan mengira dirinya akan segera mati. Di bawah siksaan semacam ini, bahkan seorang anak muda yang kuat mungkin tidak dapat bertahan hidup.


Siti yang duduk di samping ranjang juga tersenyum.


Ketika sampai di rumah sakit, seluruh tubuh Ihsan penuh dengan darah dan nyawanya berada di ujung tanduk. Untung saja anaknya memiliki hubungan yang baik dengan Direktur Lisa.


Kali ini, mereka harus berterima kasih kepada Lisa. Kalau Lisa tidak memberikan pertolongan dengan cepat, mungkin ayahnya akan meninggal.


Hari ini, Lisa tidak memakai jas dokter, karena sudah pulang kerja. Dia memakai gaun panjang, lalu duduk di dalam bangsal dan berbicara dengan Ihsan.

__ADS_1


Sebenarnya, Ihsan termasuk orang yang tegas. Setelah menjadi direktur rumah sakit, ekspresinya juga semakin tegas. Namun, dia sendiri juga tidak tahu kenapa selalu ingin menghibur dua orang tua ini. Jadi, dia juga sering bercanda dengan mereka.


“Haha!”


Dari dalam kamar terdengar suara tawa mereka berempat. Suasana hati Ihsan juga membaik. Setelah beberapa hari ini, dia semakin menyukai Lisa. Gadis ini bisa menjadi direktur rumah sakit dengan usia yang masih muda, dia juga memiliki keterampilan medis yang baik. Yang paling penting, Lisa juga memiliki sikap yang baik dan sering membuat mereka berdua tertawa.


“Krak!”


Saat ini, pintu bangsal didorong terbuka.


Nita dan Heny berjalan masuk dengan ekspresi kesal.


Setelah mendengar sebentar dari luar, Nita tidak bisa menahan diri lagi. Apalagi ketika mendengar suasana ceria di dalam bangsal, dia merasa sangat kesal.


“Siapa wanita ini?” tanya Nita dengan suara kecil sambil menatap Lisa.


Seketika, empat orang di dalam bangsal langsung tertegun.


“Nita, kamu sudah datang.” Arief yang sadar pertama. Dia segera menyambutnya dan menerima keranjang buah dari Nita.


Kemudian dia memperkenalkan kepada orang tuanya, "Ayah, Ibu, ini menantu kalian, Nita. Di sebelahnya ada ibu mertuaku, Heny."


Meski ekspresi Nita dan Heny tidak senang, Arief tetap senang mereka bisa datang.


Dia memanggil orang tua Arief dengan ekspresi dingin, “Ayah, Ibu.”


Setelah menyapa mereka, Nita kembali menatap Lisa dengan penuh pertanyaan.


“Nita, dia adalah direktur rumah sakit, Lisa,” ucaa Arief sambil tersenyum.


“Direktur Lisa?” Saat ini, Heny segera mendekat dan bertanya, “Arief, kenapa aku tidak tahu kamu kenal dengan seorang direktur rumah sakit? Apa hubungan kalian? Sepertinya kalian terlihat mesra.”


“Bibi, Anda jangan salah paham. Saya dan Kak Arief hanya teman,” ucap Lisa dengan terburu-buru.


Orang bodoh juga tahu kalau mereka berdua salah paham.


“Ckck. Kamu bahkan memanggilnya Kak Arief,” ucap Heny dengan cemberut. “Kamu masih berani bilang tidak ada hubungan apa-apa. Aku saja merasa jijik dengan panggilan seperti itu.”


Setelah mengatakan ini, dia memandang Arief dengan acuh tak acuh. “Arief, kamu hebat juga. Kamu bisa mencari wanita lain di belakang Nita. Apakah kamu tidak merasa malu? Apakah kamu pantas untuk Nita?”


Wajah Lisa memerah, tubuhnya sedikit gemetar karena marah.


Kenapa ucapan ibu mertua Kak Ariet begitu tidak enak didengar?


Ihsan memaksakan senyuman dan berkata, “Ibu mertua, jangan marah dulu. Kamu sudah salah paham. Direktur Lisa ini adalah teman anakku. Kamu lihat saja, aku sedang terluka, bukan? Dia sudah banyak membantuku dan juga anak yang baik.”


“Oh? Kamu bahkan membelanya?” ucap Heny dengan nada dingin, “Sepertinya wanita jalang ini memiliki jodoh dengan keluarga kalian. Kalau kamu begitu menyukainya, biarkan saja anakmu menikah dengannya. Kebetulan sekali, aku bisa meminta Nita untuk mencari suami yang lebih baik.”

__ADS_1


Lagi pula, Heny selalu tidak puas dengan Arief, jadi dia memutuskan untuk berterus terang.


“Kamu ….” Ihsan merasa kesal, tetapi tidak tahu bagaimana membantahnya.


__ADS_2