Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 40 Pil Dewa


__ADS_3

“Apa kamu sedang berpura-pura bodoh?”


Debora mengerutkan keningnya, setelah melihat Arief tidak menjawab, dia pun lanjut bertanya, “Kalau begitu, teknik apa yang kamu gunakan untuk mengalahkan orang-orang itu?”


Arief meraba hidung dan berkata, “Tidak ada teknik yang istimewa, aku hanya pernah berlatih Tinju Wing Chun beberapa waktu.”


“Tidak mungkin!”


Debora menggelengkan kepala dan menyangkalnya, “Tinjumu tidak mirip dengan Tinju Wing Chun.”


Arief tidak bisa berkata-kata.


Debora benar, Arief memang pernah belajar Tinju Wing Chun, tapi dia tidak sempat menggunakannya saat itu, dia hanya menggunakan teknik bertarung jalanan.


Arief menggelengkan kepala, “Sekte yang kamu bicarakan tadi, apa sebenarnya itu?”


“Kamu benar-benar tidak tahu?” tanya Debora yang curiga.


Melihat Arief tidak sedang berpura-pura, Debora menghela napas dan berkata, “Apa kamu tidak pernah mendengar enam sekte besar?”


Melihat Arief tidak merespons, Debora melanjutkan, “Di dunia ini terdapat enam sekte besar, yaitu Shaolin, Bulu Ilahi, Bulan Sabit, Delapan Diagram, Gunung Langit dan Sekte Alam Liar. Setiap sekte memiliki teknik pelatihan mereka sendiri, pelatihan yang dimaksud juga berbeda dengan teknik bela diri yang kita tahu.”


“Enam sekte ini pernah berkembang pesat, tapi karena perkembangan teknologi, banyak murid sekte yang sudah kembali ke kehidupan bermasyarakat. Di antara mereka, ada yang menjadi pedagang, pebisnis sukses dan bahkan seorang artis.”


Serius?


Arief terlihat percaya dan merasa kalau Debora sedang mempermainkannya.


Melihat Arief tidak percaya, Debora melanjutkan, “Aku tidak perlu merahasiakannya, sebenarnya aku adalah kakak senior dari Sekte Bulan Sabit.” Sambil berbicara, Debora mengeluarkan sebuah token.


Arief mendekat dan melihat tulisan Bulan Sabit di atas token itu.


Seketika, Arief pun bengong.


Dia kemudian teringat ketika Debora berhadapan sendiri dengan pria berjenggot dan yang lain, seorang wanita tidak mungkin menjatuhkan belasan pria walaupun pernah mengikuti pelatihan.


Arief pun percaya setelah memikirkannya.


“Semua murid enam sekte besar disebut kultivator, setiap kultivator dibagi menjadi Tingkat Guru, Tingkat Jenderal, Tingkat Menteri, Tingkat Raja dan Tingkat Kaisar. Setiap tingkat memiliki lima lapisan sendiri.” Saat ini, Debora terus menjelaskan tanpa memedulikan raut wajah Arief.


Huh!


Arief menarik napas dan bertanya karena penasaran, “Kalau begitu, kamu berada di tingkat apa?”


Wajah Debora menjadi suram, dia pun tersipu malu dan menjawab, “Aku baru sampai Tingkat Guru lapisan kelima, aku akan mencapai Tingkat Jenderal dalam satu langkah lagi.”


“Tingkatanmu rendah juga,” ucap Arief sambil tersenyum.


Wajah Debora memerah dan berusaha menjelaskan, “Kamu jangan mengira kultivasi adalah hal muda, ada orang yang bergabung dengan enam sekte besar dan berada di Tingkat Guru selamanya. Kemampuanku sudah termasuk tinggi karena berada di Tingkat Guru lapisan kelima.”


Setelah melontarkan ucapannya, Debora kembali bertanya, “Apa kamu tidak bergabung dengan sekte manapun?”


Debora melihat dengan jelas setiap gerakan yang dilakukan Arief, orang biasa tidak akan bisa sehebat ini.


Arief menggerakkan bahunya, “Aku juga tidak perlu menyembunyikannya darimu, bukan? Aku benar-benar bukan murid dari sekte manapun, mungkin saja karena aku terlahir dengan tenaga besar.”

__ADS_1


Debora mengerutkan kening dan menatap Arief, dia lalu berkata, “Kamu jangan memuji diri sendiri, mana mungkin karena kamu terlahir dengan tenaga besar? Jika aku tidak salah, seharusnya kamu menelan pil obat yang bisa memperkuat tubuh.”


Raut wajah Arief tertegun, pil obat?


Apa karena pil obat yang diberikan Vincent kepadanya?


Astaga, pasti karena pil obat itu! Walaupun Arief pernah berlatih Wing Chun, dia hanya bisa mengalahkan dua sampai tiga orang, tapi tidak mungkin dia bisa menjatuhkan belasan orang! Semua itu pasti berkat pil obat dari Vincent.


“Sudahlah, aku tidak ingin bicara lagi.” Melihat Arief terdiam dan berpikir, Debora mencoba menutup matanya.


Debora terlalu capek, ditambah efek Pil Pelemas Otot, dia langsung tertidur setelah itu.


Apa wanita ini tidak takut Arief memiliki niat jahat?


Melihat Debora tertidur, Arief pun tidak berdaya.


Tidak bisa dipungkiri, Debora benar-benar sangat cantik dan seksi.


Namun, Arief tetap lebih penasaran dengan pil obat itu, dia segera menghubungi Vincent.


“Tuan Burton, ada yang bisa saya bantu?” tanya Vincent dengan sopan setelah tersambung.


Arief langsung bertanya, “Pil obat yang kamu berikan itu, apa namanya?”


“Kenapa Tuan Burton bisa menanyakan hal ini? Aku coba pikir dulu … sepertinya nama pil itu adalah pil Kunlun,” jawab Vincent.


Pil Kunlun?


Arief mengerutkan kening dan mematikan telepon setelah berpamitan.


Setelah membuka beberapa halaman, Arief terlihat sangat kaget dan juga senang.


Ternyata, dia berhasil menemukan informasi tentang pil Kunlun.


“Pil Kunlun, memiliki efek melancarkan aliran pembuluh darah dan dapat meningkatkan kekuatan dan kecepatan.”


Ternyata kekuatan yang besar itu berasal dari pil Kunlun.’


Dia melanjutkan untuk membaca buku ini!


Di dalam buku ini terdapat banyak catatan tentang pil. Seperti Pil Kekuatan Dewa yang bisa memberikan efek kekuatan tak terbatas, lalu Pil Kecepatan Dewa yang bisa membuat tubuh menjadi ringan.


Arief tidak pernah mendengar nama-nama pil obat ini, bahkan efeknya juga terdengar tidak masuk akal.


Arief hanya semakin pusing setelah membacanya.


Kemudian, Arief melihat cara pembuatan pil obat membutuhkan bahan yang sangat banyak, bahkan ada bahan-bahan yang langka dan beberapa nama bahan yang tidak pernah dilihat olehnya.


Namun, Arief menemukan sebuah pengecualian, bahan-bahan yang digunakan pil ini sangat gampang dicari.


Nama pil ini adalah “Pil Dewa.”


Efek dari pil ini sangat istimewa, karena dapat membantu kultivator untuk menembus kesulitan di depan mata.


Menurut cerita Debora, banyak manusia di dunia ini yang berhenti di Tingkat Guru lapisan terakhir. Jika mereka menggunakan Pil Dewa, bukankah akan menjadi lebih gampang menembus kesulitan itu.

__ADS_1


Haha, kalau dia bisa membuat pil obat dan dijual kepada para kultivator, dia pasti akan kaya raya, bukan?


Bahan yang diperlukan untuk membuat Pil Dewa ini adalah garam, cuka putih dan yang lain. Seharusnya Arief bisa menemukannya di dapur Debora.


Lalu dia juga membutuhkan kaktus dan bunga peony, Arief pun melihat ke arah jendela dan terlihat senang.


Semua bahan akhirnya bisa terkumpul, sementara ini dia tidak perlu memikirkan tungku untuk masak obat.


Arief pun menemukan sebuah pot tanah liat setelah dari dapur, setelah semuanya terkumpul Arief mulai membuat Pil Dewa ini.


Proses pembuatan Pil Dewa membutuhkan waktu satu jam. Arief juga tidak ingin menunggunya, dia segera kembali ke ruang tamu dan mengeluarkan buku Fengsui Langit dan Bumi.


Tidak bisa dipungkiri, buku ini menceritakan fengsui dengan cara yang unik, sehingga membuat Arief semakin tertarik.


Sambil membaca buku, Arief tidak bisa menahan diri untuk mempraktekkannya. Dia kemudian mulai memperhatikan fengsui di rumah Debora.


Tata letak fengsui di rumah Debora sangat bagus.


Setelah tiga jam kemudian, Arief segera menyimpan buku dan berjalan ke arah dapur.


Dia membuka pot tanah liat dan melihat sebuah pil berwarna coklat di dalam sana.


“Kamu belum pergi?” ucap Debora mengerutkan kening ketika melihat Arief.


Arief tersenyum, “Kalau aku pergi, bagaimana jika masuk maling di tengah malam? Kondisimu juga masih belum membaik, kan?”


Debora juga tidak berbicara lagi, hanya saja raut wajahnya terlihat tidak senang. Pria dan wanita tentu saja berbeda, dia pun duduk di sofa sambil berpikir.


Arief pun membelalakkan kedua mata dan bertanya, “Kamu tidak apa-apa?”


Bukankah efek Pil Pelemas Otot akan bertahan 12 jam?


“Bagi orang awam,” ucap Debora, “Aku merupakan seorang kultivator, ketika tahu terkena Pil Pelemas Otot, aku sudah mulai mengerahkan energi untuk menghilang efeknya.


Walaupun berkata seperti itu, raut wajah Debora masih sedikit tertekan.


Dua tahun ini, dia masih saja berada di Tingkat Guru lapisan kelima, dia tidak pernah berhasil menembus Tingkat Jenderal.


Jika dia berhasil naik ke Tingkat Jenderal, Arief dapat menghilangkan efek Pil Pelemas Otot hanya dalam waktu dua jam. Lalu sekarang, dia justru menggunakan waktu enam jam lebih.


“Hebat juga, aku mengira kamu masih membutuhkan waktu beberapa jam lagi untuk bangun,” ucap Arief dengan wajah kaget.


Debora hanya tersenyum masam dan berkata, “Ini tidak ada apa-apanya, jika aku menembus Tingkat Jenderal, maka akan lebih cepat lagi.”


Arief pun berkata, “Bukankah hanya perlu menembus tingkatan lebih tinggi, apa hal ini sulit?”


Debora tertegun dan berkata, “Apa hal ini sulit? Apa kamu tahu aku sudah berhenti di tingkat ini selama dua tahun? Kultivasi tidak semudah yang kamu bayangkan, jangan asal bicara kalau tidak mengerti.”


Setelah itu, Debora melambaikan tangan dan berkata dengan kesal, “Sudahlah, sudah pagi, cepat pulang.”


Arief tersenyum melihat Debora, dia kemudian mengeluarkan Pil Dewa dan berkata, “Aku ada satu pil obat di sini, tapi tidak tahu apakah bisa membantumu atau tidak.”


Pil obat?


Debora pun tertegun dan mulai tertarik oleh Pil Dewa ini.

__ADS_1


__ADS_2