Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 62 Kartu Hitam?


__ADS_3

Mendengar ucapan perawat muda itu, orang-orang kembali menghela napas.


“Mau berobat tetapi tidak sanggup bayar, dasar miskin.”


Mendengar ucapan yang lain, Lisa menatap Arief dengan penuh arti dan berkata, “Tidak apa-apa. Selamatkan dulu pasiennya, aku percaya padanya.”


Ketika menghadiri acara pernikahan, Lisa juga mendengar bahwa Arief adalah Tuan Muda Kedua yang mengeluarkan 6 triliun untuk membantu keluarganya.


Bagaimana mungkin dia tidak sanggup membayar biaya rumah sakit sebesar 1,4 miliar lebih ini?


Perawat muda itu mulai panik. Orang di depannya ini tidak terlihat seperti orang berduit, bagaimana Dokter Lisa bisa mengenalnya? Dokter Lisa terlalu baik hati, kalau menyelamatkan pasien lebih dulu, bukankah Dokter Lisa harus membayar biaya 1,4 miliar lebih kalau pria ini tidak sanggup bayar?


Namun, Dokter Lisa sudah memutuskan untuk melakukan operasi, para dokter dan perawat lainnya juga tidak bisa menolaknya. Mereka terpaksa mendorong Ihsan ke dalam ruangan operasi.


“Tenang saja. Aku akan berusaha sekuat tenaga,” ucap Lisa kepada Arief dan kemudian bergegas masuk ke dalam.


Huh!


Arief pun menghela napas panjang dan duduk di samping Ibunya.


“Ibu, apa yang terjadi? Bukankah kalian pergi ke kediaman Keluarga Burton?” tanya Arief.


Tubuh Ayahnya selalu sangat sehat, kenapa tiba-tiba pingsan?


Siti menghela napas dan tidak menjawabnya. Dia melihat ke Arief dan bertanya kembali, “Arief, kamu jujur kepada Ibu, apa yang kamu lakukan di hari pernikahan Yanto?”


Arief tertegun. “Aku tidak melakukan apa pun.”


Walaupun berkata begitu, Arief tiba-tiba teringat dengan cermin fengsui itu.


Apakah ayahnya pingsan karena cermin fengsui itu? Tidak mungkin. Walaupun ayahnya sudah tua, tetapi dia memiliki energi Yang di dalam tubuhnya. Dalam kondisi normal, dia tidak mungkin terserang Yin Jahat.


Setelah berpikir, dia tiba-tiba mendengar Siti berbicara, “Mereka bilang kamu menodai istri Yanto. Aku dan Ayahmu berdebat dengan mereka, sehingga Ayahmu pingsan.”


Apa?


Dari mana asal cerita ini?


Seketika, Arief langsung bengong dan pikirannya kosong.


“Ibu, mereka pasti salah paham. Aku sudah pulang sebelum malam pada hari pernikahan itu.”


Siti berkata dengan ekspresi senang. “Aku dan Ayahmu pasti memercayaimu. Tapi mereka terus menuduhmu yang melakukannya, bahkan Yanto juga berkata seperti itu.”


Arief mengepalkan tangannya. Ketika ingin berbicara, dia melihat seorang pria paruh baya berjalan kemari.


“Kenapa ramai sekali? Apa yang terjadi?”


Orang yang datang adalah Lukman, direktur rumah sakit.


Tenaga medis yang berada di samping segera menyambutnya dan berbisik.


“Apa? Lisa sudah melakukan operasi tetapi belum dibayar? Bukankah dia sedang mengacau?” Lukman mengerutkan keningnya dan berteriak, “Cepat! Panggil Lisa keluar dari sana. Siapa yang memberinya keberanian untuk melanggar peraturan rumah sakit.”


Tenaga medis melihat jam dan ragu sejenak. “Pak Direktur, Dokter Lisa seharusnya sudah mulai melakukan operasi. Kalau kita masuk sekarang, mungkin ….”


Sebelum orang ini selesai bicara, direktur itu langsung melotot. “Kenapa kalau sudah mulai operasi? Cepat hentikan dia! Setelah operasi selesai, apakah kamu akan membayar biaya 1,4 miliar itu?”


“Aku ingin melihat siapa yang berani masuk.”


Pada saat ini, Arief berdiri dengan ekspresi dingin.


“Siapa kamu?” Lukman terlihat tidak senang.


“Orang yang sedang diselamatkan adalah Ayahku.”

__ADS_1


Lukman memperhatikan Arief sebentar, kemudian melirik ke Siti. Dia pun berkata sambil mendengus dingin, “Kalian adalah saudara Lisa, bukan? Kalian ingin menggunakan jalur orang dalam? Operasi tanpa perlu bayar? Mimpi kalian!”


“Apakah kamu pantas memakai jubah dokter ini?” Arief maju ke depan dengan tatapan berbinar.


“Total biayanya 1,4 miliar, bukan?”


“Plak!”


Arief melemparkan satu kartu bank ke badan Lukman.


Hm?


Ini … Bank Permata? Kartu … kartu hitam?


Bulu kuduk Lukman langsung berdiri! Perawat dan dokter di sekitarnya bingung. Mereka tidak mengenal kartu hitam ini, tetapi bagaimana mungkin Lukman tidak tahu?


Namun … apakah orang seperti dia bisa punya kartu hitam?


“Kamu ingin menipu siapa dengan kartu hitam Bank Permata palsu ini?” Setelah tertegun sejenak, Lukman mendengus dingin.


Kemudian, dia berkata kepada tenaga medis di sampingnya, “Cepat bawa dan periksa apakah bisa digesek atau tidak.”


Setelah membawa pergi kartunya, Lukman memanggil dua orang satpam rumah sakit. “Jaga baik-baik. Jangan sampai kabur.”


Pada saat ini, Lukman berasumsi bahwa Arief sedang menipunya.


Dia sudah memutuskannya.


Setelah memastikan kartu hitam Bank Permata ini palsu, dia akan segera lapor polisi.


Setelah sesaat, tenaga medis membawa kembali kartu bank itu.


“Halo Tuan, ini kartu bank Anda beserta tanda terima,” ucap tenaga medis itu dengan sikap yang sangat sopan.


Apa?


Seketika, ekspresi Lukman langsung tegang. Dia melihat Arief dengan tatapan tercengang. Kartu itu benar-benar .., asli?


Sialan! Dirinya bekerja seumur hidup hanya bisa mendapatkan kartu emas Bank Permata.


Bisa dibilang kalau Kartu Hitam di Kota Malang hanya ada tiga.


“Maaf, kami salah paham, Tuan. Kami minta maaf.” Suara Lukman terdengar bergetar. Dia tahu anak muda di depannya ini tidak bisa disinggung.


Wah!


Pada saat yang sama, orang-orang yang menertawakan mereka pun menganga.


1,4 Miliar.


Anak muda ini benar-benar membayarnya.


Bukankah dia hanya seorang menantu yang tidak berguna? Kenapa dia bisa punya uang sebanyak itu?


Beberapa perawat yang berdiri di sana pun tertegun dan tidak berani menghela napas.


“Tidak perlu minta maaf, aku hanya ingin Ayahku selamat,” ucap Arief dengan dingin.


“Baik baik. Jangan khawatir, Tuan. Saya pasti akan memberikan kamar terbaik untuk Ayah Anda.” Lukman terus mengangguk.


Satu jam kemudian, Ihsan didorong keluar dari ruang operasi.


“Dokter Lisa, bagaimana dengan kondisi Ayahku?” Arief segera berlari menghampirinya.


“Kali ini, Ayahmu beruntung dan berhasil diselamatkan,” ucap Lisa. “Ayahmu pingsan karena terlalu kesal. Apa yang membuat Ayahmu marah seperti itu?” tanya Lisa.

__ADS_1


Arief menghela napas dan tidak menjawab. Setelah berbicara sebentar, dia pun menemani Ayahnya di bangsal.


Di dalam bangsal, Siti menuangkan segelas air dan bertanya, “Anakku, Dokter Lisa sangat cantik dan baik. Apa hubungan kalian?”


“Ibu, aku dan Dokter Lisa hanya teman, tidak ada yang istimewa. Ibu jangan berpikir yang aneh-aneh,” ucap Arief yang tidak berdaya ketika melihat Ibunya ingin bergosip.


Pada saat ini, rasa kantuk pun menyerang karena sudah tengah malam.


Ketika Arief kembali membuka matanya, langit sudah pagi.


Ayahnya masih tertidur, tetapi wajahnya sudah lebih cerah dan lebih baik dari kemarin.


“Arief, kamu harus berterima kasih kepada Dokter Lisa. Kalau dia tidak menyelamatkan Ayahmu tepat waktu, mungkin Ayahmu …” ucap Siti dengan serius setelah selesai sarapan.


Arief pun mengangguk.


Ucapan ibunya benar, dia harus berterima kasih kepada Lisa. Sambil berpikir, dia pun berjalan ke arah ruangan kantor.


Ruangan direktur rumah sakit.


“Pak Direktur, kenapa Bapak mencariku?” tanya Lisa dengan ekspresi tenang.


Di hadapannya, Lukman duduk di sofa sambil tersenyum. Dia terus memperhatikan Lisa dari atas ke bawah.


Tidak bisa dipungkiri, walaupun Lisa sudah hampir 30 tahun, dia memiliki perawatan yang baik. Walaupun memakai jubah dokter, bagian tubuhnya yang seksi juga tidak bisa tertutupi.


Semua pria pasti akan tergerak hatinya oleh wanita cantik seperti dia.


Lukman juga sama.


“Lisa, apa yang terjadi kemarin? Kenapa kamu langsung melakukan operasi sebelum pasien bayar? Apa kamu kenal?” Saat ini, Lukman berlagak seperti bos dan mengintrogasinya.


Lisa mengangguk dan berkata dengan jujur, “Kenal. Anaknya pasien adalah Tuan Muda Keluarga Burton.”


Apa?


Semalam, Lukman terus memikirkan identitas Arief. Dia langsung tertegun ketika mendengar penjelasan Lisa.


Keluarga Burton adalah  keluarga yang terkenal di Kota Malang. Untung saja dia langsung minta maaf kemarin.


“Setahuku, dia juga menantu Keluarga Kimberly,” ucap Lisa setelah berpikir.


Menantu Keluarga Kimberly?


Lukman hampir tidak bisa menahan tawanya. Ternyata anak muda itu adalah menantu Keluarga Kimberly yang sering dirumorkan itu.


Kalau begitu, semuanya bisa dijelaskan.


Menurut rumor, anak ini tidak memiliki apa pun dan terus mengandalkan istrinya. Sepertinya, kartu hitam Bank Permata itu adalah milik Keluarga Kimberly, bukan? Setelah mengambil 1,4 Miliar dari kartu bank itu, anak muda ini pasti akan dihukum setelah pulang.


Kemarin, anggota Keluarga Burton juga tidak ada yang datang. Sepertinya mereka tidak ingin memiliki hubungan dengan orang ini.


Awalnya, Lukman masih sedikit waspada, tetapi sepertinya kekhawatirannya terlalu berlebihan.


Lukman sambil berpikir sambil melihat Lisa. Dia pun menunjukkan senyuman jahat.


Cantik sekali. Celana jins biru dan kemeja putih. Kaki yang menggoda itu samar-samar muncul dari jubah dokternya. Lukman sudah lama menyukai Lisa, tetapi dia tidak memiliki kesempatan.


“Lisa.” Setelah berdeham, Lukman berkata dengan ekspresi serius, “Walaupun kamu kenal dengan Arief, kamu juga tidak boleh melanggar peraturan rumah sakit. Aku sangat mengagumimu sebagai dokter genius Kota Malang. Perbuatanmu sekarang justru membuatku kesulitan ….”


Ekspresi Lisa sedikit berubah dan menjadi panik. “Pak Direktur, aku menyelamatkan pasien darurat. Tapi setelah itu, bukankah Arief sudah bayar?”


Lukman berdiri dan mendekat ke arah Lisa. Dia menggelengkan kepala sambil tersenyum, “Bagaimanapun, sebelum pasien bayar, kamu sudah melakukan tindakan operasi. Hal ini sudah melanggar peraturan rumah sakit.”


Lisa gemetar. “Pak Direktur, silakan berikan hukumannya.”

__ADS_1


__ADS_2