
Wulan tertawa dan berkata, “Betul, kamu sanggup membelinya.”
Dia kemudian berdiri di samping Nita, lalu berkata, “Kak Nita, sampah ini tahu kalau Tante mengenalkan pacar baru, sehingga dia mengikutinya dan ingin meminta uang perpisahan, bukan? Apa kamu yang membayar mobilnya?”
Arief hampir tertawa karena sangat marah. Aku meminta uang perpisahan? Hanya kamu yang bisa memikirkan hal ini.
Nita yang tidak tahan segera menarik Wulan dan berkata, “Kamu jangan bicara lagi! Dia … dia tidak meminta uang kepadaku!”
“Kenapa tidak boleh? Walaupun dia tidak meminta uang kepadamu, aku juga merasa tidak tega untukmu!” ucap Wulan setelah tertegun sebentar.
Wulan pun berlagak pahlawan, dia menatap Arief dengan jijik dan berkata, “Oi, Arief, kamu memang hebat! Sebelumnya, kamu sudah menghabiskan waktu Nita selama tiga tahun dengan sia-sia, setelah kalian putus, kenapa kamu masih mengganggunya? Apa kamu masih seorang pria?”
Arief tidak mempedulikannya, dia hanya tersenyum dan melihat ke arah Steven, “Awalnya, aku ingin membeli mobil paling mewah di tempat kalian. Mobil Audi tidak terlihat mewah, sehingga cocok untuk orang rendah hati sepertiku. Sayangnya, sikap kalian terlalu mengecewakan, sehingga aku tidak ingin membelinya lagi.”
“Haha, kamu memang menarik.” Seolah mendengar ucapan yang konyol, Steven pun tertawa terbahak-bahak dan menunjuk ke Arief, “Tante Heny bilang kalau kamu tidak memiliki apa pun, sepertinya dia sudah meremehkanmu. Paling tidak, kamu masih jago membual.”
Sambil berkata, Steven menatapnya dengan senyuman sinis, “Anak muda, kalau aku adalah kamu, aku akan pergi dari sini agar tidak membuat Nita malu.”
Wulan juga menatapnya dengan sinis dan dingin.
Saat ini, Steven segera melihat jam di tangannya, lalu berkata, “Aku tidak ada waktu untuk omong kosong denganmu. Cepat pergi dari sini, aku dan Nita masih ada urusan penting.”
Arief tersenyum kepada Steven, dia lalu berkata, “Kamu tidak perlu mengusirku, aku akan pergi dari sini. Hanya saja, aku takut kamu akan menyesali kepergianku.”
Karena di dalam tasnya ada kontrak kerja sama Perusahaan Net Media dan perusahaan Audi.
Steven sepertinya tidak tahu dia sedang berbicara dengan siapa.
“Aku akan menyesal?” ucap Steven yang masih tertawa. “Apa otakmu bermasalah? Kalau aku benar-benar menyesal, seluruh keluargaku akan memanggilmu Ayah, boleh? Cepat pergi dari sini.”
“Kamu yang mengatakannya sendiri,” ucap Arief sambil berjalan pergi dari sana.
“Nita, Direktur Perusahaan Net Media akan segera datang, kita tunggu dulu di ruanganku,” ucap Steven kepada Nita.
“Astaga, Direktur Perusahaan Net Media, apakah itu perusahaan Net Media yang memiliki banyak artis terkenal?” tanya Wulan.
Melihat Steven mengangguk, Wulan lalu berkata, “Kak Nita, kamu sudah bertemu orang yang tepat. Steven memiliki koneksi yang luas, dia bahkan mengenal Direktur Perusahaan Net Media.”
Nita hanya tersenyum dan tidak menjawab.
Saat ini, dia terus memikirkan Arief.
Saat ini, Steven merasa sangat senang dan puas ketika melihat reaksi Wulan. Pada saat yang sama, dia menganggap bahwa Nita akan memiliki kesan baik, setelah dia mengusir Arief pergi.
Namun, Steven salah.
“Maaf, aku teringat harus mengerjakan sesuatu. Aku tidak bisa menemanimu untuk bertemu Direktur Perusahaan Net Media, lain kali saja.”
Setelah itu, Nita segera pergi dari sini tanpa menunggu respons Steven dan Wulan.
__ADS_1
“Nita?”
Melihat Nita pergi tanpa menoleh ke belakang, Steven merasa bingung.
Di luar showroom Audi.
“Tunggu, Arief ….”
Arief pun mendengar suara Nita ketika baru keluar dari lobi.
Arief menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Nita, dia berkata, “Bukankah kamu sedang ada urusan penting dengan Manajer Steven? Kenapa kamu keluar?”
Walaupun tahu Nita dipaksa oleh Heny untuk bertemu Steven, Arief tetap merasa tidak nyaman.
“Bukan seperti yang kamu pikirkan,” ucap Nita. Setelah ragu sejenak dia melanjutkan, “Aku tidak ingin bertemu dengan Steven sebenarnya, tapi dia bilang kalau dia akan memperkenalkan Direktur Perusahaan Net Media kepadaku, sehingga aku ikut bersamanya.”
Mendengar ucapannya, Arief tersenyum dan merasa lebih lega.
“Beberapa hari ini kamu pergi ke mana?” tanya Nita yang terlihat sedikit perhatian. Namun, dia juga sebenarnya sangat penasaran.
Arief berpikir sebentar, lalu menjawab, “Aku tidak pergi ke mana-mana, aku sudah menemukan pekerjaan yang menanggung makan dan tidur.”
“Pekerjaan apa?” tanya Nita.
Pada saat yang sama, dia juga merasa terharu. Akhirnya setelah tiga tahun, Arief sudah mulai bekerja keras.
Menebak bahwa Nita akan bertanya tentang mobil, Arief pun segera menjawabnya.
Nita mengangguk dengan ekspresi curiga, dia lalu bertanya, “Perusahaan apa?”
“Hanya perusahaan kecil,” ucap Arief.
Arief sebenarnya ingin menunjukkan identitas asli, dia ingin bilang kalau dirinya adalah Direktur Perusahaan Net Media. Namun setelah memikirkannya, dia merasa kalau ini bukan saat yang tepat, jadi dia memutuskan untuk menyembunyikannya lagi.
Melihat Arief tidak ingin menjawab, Nita juga tidak bertanya lagi. Dia menatap Arief kembali dengan raut wajah rumit, Nita lalu bertanya, “Arief, apa kamu tidak ingin pulang?”
Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Nita, waktu tinggal bersama dengan Arief, dia selalu merendahkannya, tapi setelah berpisah dengannya, dia justru terus memikirkannya.
Arief menghela napas, lalu berkata, “Aku masih sibuk belakangan ini, beberapa hari lagi, aku akan pergi mencarimu.”
“Baiklah,” ucap Nita sambil mengangguk. Nita tiba-tiba teringat sesuatu, dia kemudian menatap Arief dengan fokus sambil bertanya, “Kenapa hari itu kamu ingin menggantikanku sebagai sandera?”
Arief tersenyum, “Karena kamu adalah istriku.”
Jawaban Arief membuat tubuh Nita bergetar. Di dalam hati, dia merasakan sedikit perasaan haru dan juga tersipu malu.
Suasana di sekitar mereka menjadi sedikit unik.
Saat ini, telepon Nita tiba-tiba berdering.
__ADS_1
Melihat telepon dari kantor, Nita segera menjawabnya. Setelah itu, dia melihat ke Arief dan berkata, “Aku ada urusan, jadi pergi dulu. Kamu … kamu harus menjaga dirimu dengan baik.”
Setelah melontarkan ucapannya, Nita pun masuk ke dalam mobil dengan kedua mata yang sedikit memerah.
Saat ini, di dalam showroom mobil Audi.
Steven terpaksa memberikan potongan harga kepada Wulan, lalu menyuruh yang lain untuk menemani Wulan melihat mobil.
Setelah itu, Steven mengumpulkan beberapa resepsionis untuk menunggu di luar dalam dua baris. Mereka bersiap untuk menyambut kedatangan Direktur Perusahaan Net Media.
Setelah belasan menit, tidak terlihat satu orang pun.
“Kenapa masih belum datang?”
Steven mulai tidak sabar, dia lalu kembali ke ruangan dan menelepon sekretaris Perusahaan Net Media yang bernama Siska.
“Halo, dengan Ibu Siska? Saya adalah Steven Lunaro, perwakilan dari perusahaan mobil Audi. Tadi pagi, Anda telah menelepon saya bahwa Direktur perusahaan Anda akan datang ke sini,” ucap Steven dengan nada sopan.
Siska kemudian menjawab dengan tenang, “Iya, dia sudah ke sana!”
“Ah? Sudah sampai? Tapi saya tidak melihat orangnya,” ucap Steven yang bingung.
Dia segera bertanya kembali, “Kalau boleh tahu, Direktur pakai baju dan mobil apa?”
Sekretaris Siska lalu berpikir sebentar, dia pun menjawab, “Dia tidak memakai jas, kemudian dia pergi ke sana dengan motor listrik.”
Motor listrik?
Setelah mendengar dua kata itu, Steven langsung bengong.
Saat ini, sekretaris Siska berkata kembali, “Direktur kami yang baru sangat rendah hati.”
Setelah mendengar ucapannya, Steven pun segera menjawab, “Baik baik, aku sudah tahu.”
Setelah menutup teleponnya, Steven segera berlari keluar dari ruangannya.
Memakai motor listrik, tidak memakai jas.
Nama belakang Arief sepertinya sama dengan Direktur baru dari Perusahaan Net Media, sama-sama Burton.
Astaga, jangan-jangan dia orangnya?
“Cepat, cepat bawa kembali orang itu dengan segala cara,” teriak Steven dengan wajah panik kepada beberapa orang di depan.
Wanita yang mengusir Arief pergi tertegun mendengarnya, dia mengira kalau dirinya salah dengar, “Manajer Steven, maksudmu pria yang mengandalkan istri tadi?”
“Apa yang kamu katakan? Jangan asal bicara, cepat cari orangnya!” teriak Steven dengan kesal. “Kalau kamu tidak bisa menemukannya, kamu juga tidak perlu bekerja lagi di sini.”
Nova juga tidak berani berbicara lagi, dia segera berlari keluar dengan yang lain. Dia masih bingung kenapa harus membawa pulang pria miskin itu?
__ADS_1