Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 31 Aku Akan Membelinya!


__ADS_3

Ketika terbangun, Arief menyadari bahwa dia sedang berbaring di lantai ruangan kantor, bajunya telah basah oleh keringat.


Kemudian, perasaan sakit yang menjalar di tubuhnya sudah menghilang.


Sialan, Vincent pasti membohonginya.


Sudah dua jam, efek obat ini pasti sudah menghilang.


Arief masih saja percaya dan menelannya. Tapi, untungnya tidak terjadi sesuatu. Ketika sedang bersyukur, dia mendengar suara dering ponsel.


Melihat nomor asing, Arief mengerutkan kening dan menjawabnya.


“Halo, dengan Arief?”


Setelah tersambung, terdengar sebuah suara yang lembut dan enak didengar, suara ini bahkan dapat menarik hati pendengar.


Kenapa Arief merasa kalau suara ini sedikit familier?


Arief mengeluarkan keningnya dan bertanya, “Kamu ….”


“Oh iya lupa, aku Fransiska Salim,” ucap wanita ini memperkenalkan dirinya.


Fransiska Salim?


Gluk!


Arief tidak bisa menahan diri untuk menelan ludah, di benaknya muncul sosok yang cantik dan juga lembut itu.


“Ada apa kamu mencariku?” tanya Arief sambil tersenyum.


Fransiska sepertinya merasa tidak enak, dia lalu berkata, “Jadi begini, ketika perayaan ulang tahun Nenek Keluarga Kimberly, kamu memberikan Kipas Tak Terbatas, bukan? Apa … apa aku boleh mengambil fotonya?”


Arief tertegun, dia lalu berkata, “Oh barang itu, Keluarga Kimberly menganggapnya sebagai sampah, kenapa Nona Fransiska tertarik dengan itu?”


Fransiska berkata tanpa pikir panjang, “Itu karena mereka tidak mengenalnya. Aku tahu bahwa kipas itu adalah kipas yang digunakan raja di zaman kuno, kipas itu pasti barang asli.”


Arief berkata, “Baiklah, bagaimana kamu ingin mengambil foto?”


“Kamu sudah setuju? Baguslah!”


Fransiska sangat senang, karena awalnya dia mengira Arief akan menolak. Bagaimanapun, kipas itu hanya ada satu di dunia, pasti memiliki harga yang sangat mahal!


“Kalau kamu ada waktu luang, bagaimana kalau kita bertemu di toko barang antik milik keluargaku? Di sana ada ruangan khusus untuk mengambil foto barang antik.”


Fransiska segera memberikan alamat kepada Arief.


Toko barang antik yang disebut Fransiska bernama Panca Heritage, toko barang antik yang paling besar di kota Malang. Arief sering mendengar orang menyebutnya, tapi dia tidak pernah pergi ke sana.


Setengah jam kemudian, Arief membawa barang dan datang ke Panca Heritage.


Ketika masuk ke lobi, dia melihat Fransiska sedang menunggu di sana. Hari ini dia memakai gaun panjang warna gelap, dibandingkan dengan hari ulang tahun nenek, dia terlihat lebih cantik dan misterius hari ini.


“Arief, kamu sudah datang.”


Fransiska segera menyambut Arief sambil tersenyum, kedua matanya terus berbinar ketika melihat kotak di tangan Arief.


Penanggung jawab Panca Heritage bernama Hidayat, ekspresinya terlihat bingung.


Nona selalu bersikap serius dan jarang tersenyum, kenapa dia terlihat senang hari ini? Lalu, siapa anak muda miskin ini?


Merasakan tatapan Hidayat yang curiga, Fransiska segera memperkenalkan dengan singkat, “Orang ini adalah Arief Burton dari Keluarga Kimberly, kami ingin membicarakan sesuatu. Jaga toko dengan baik, kalau ada apa-apa, panggil aku nanti.”


Sambil berkata, dia mempersilahkan Arief ke sebuah ruangan rahasia.


Hidayat terkejut mendengarnya.


Arief dari Keluarga Kimberly? Bukankah dia hanya seorang menantu yang tidak berguna?


Apa yang dibicarakan orang seperti dia dengan Nona?


Walaupun bingung, Hidayat juga tidak berpikir lagi dan fokus menjaga toko.

__ADS_1


Setelah Arief dan Fransiska masuk ke dalam ruangan rahasia, Arief mengeluarkan kipas dan diletakkan di atas meja.


Fransiska segera mengambil kamera, kemudian sambil mengambil foto, dia terus memujinya.


Namun, fokus Arief tertuju kepada Fransiska.


Tidak bisa dipungkiri, Fransiska terlalu cantik. Selain wajah yang sangat sempurna, tubuhnya juga sangat mempesona.


Ketika sedang menatapnya dengan fokus, Fransiska sudah selesai mengambil foto, dia lalu berkata sambil tersenyum, “Terima kasih!”


Arief menyimpan kipas dan berkata, “Urusan kecil saja. Mulai sekarang, kalau Nona Fransiska ingin melihat kipas ini, kamu boleh mencariku setiap saat.”


Melihat Arief berkata seperti itu, Fransiska pun mengangguk dengan senang. Kemudian dia yang penasaran pun bertanya, “Bagaimana kamu mendapatkan kipas ini?”


Sebenarnya, ketika berada di acara ulang tahun nenek Keluarga Kimberly, Fransiska sudah ingin menanyakan hal ini, tapi Arief tidak memberikan kesempatan kepadanya.


Seorang menantu yang diremehkan orang-orang, dia tidak ada pekerjaan dan tidak mendapatkan sumber penghasilan selama tiga tahun, bagaimana Arief bisa memiliki Kipas Tak Terbatas?


Walaupun Fransiska yang berpikir secara logis, dia juga tidak bisa menahan rasa penasaran.


Arief hanya tersenyum dan berkata, “Dari seorang teman.”


Mendengar Arief yang tidak ingin menjawab dengan serius, Fransiska hanya tersenyum dan tidak ingin bertanya kembali.


Saat ini, Hidayat tiba-tiba datang mengetuk pintu.


“Ada apa?” tanya Fransiska.


“Nona, coba Anda keluar sebentar, ada orang yang ingin menjual sebuah giok kuno, tapi saya tidak bisa mengambil keputusan,” ucap Hidayat dengan nada yang merasa bersalah.


Hidayat termasuk seorang ahli penilai senior di toko, dia sudah sering melihat barang antik selama belasan tahun. Kalau Hidayat tidak sanggup mengambil keputusan, berarti itu pasti bukan barang biasa.


Sambil berpikir, Fransiska pun mendorong pintu dan berjalan keluar.


Arief menyimpan kipasnya dan mengikutinya dari belakang.


Ketika sampai di lobi depan, terlihat seorang anak muda yang sedang berada di depan meja dengan sebuah kotak kecil di sana.


Pada saat yang sama, beberapa bos dari toko sebelah pun datang ke sini.


Setelah menjelaskan kepada Fransiska, Hidayat kemudian memperkenalkan, “Ini adalah Nona Muda kami, Nona Fransiska.”


Anto mengangguk dengan raut wajah polos, “Kalau Nona Muda ini tidak bisa mengambil keputusan, aku akan ganti ke toko lain.”


Sambil berbicara, dia membuka kotaknya.


Di dalamnya terdapat sebuah gantungan giok berwarna merah darah.


Terdapat ukiran kuno yang memiliki permukaan yang lembut dan licin, bahkan yang ajaib dari gantungan ini adalah beberapa garis berwarna merah darah yang mirip dengan air mata.


“Giok Air Mata Darah?” ucap Fransiska dengan kedua mata yang berbinar.


Beberapa bos toko barang antik juga menarik napas dingin dan mengeluarkan suara heboh.


“Wah! Ternyata itu adalah Giok Air Mata Darah!”


“Melihat warnanya, sepertinya itu barang langka!”


Anto tersenyum bangga melihat beberapa bos toko barang antik terus berbicara, dia pun memuji Fransiska dan berkata, “Bisa mengenali Giok Air Mata Darah dalam pandangan pertama, kamu memang hebat! Apa kamu melihat tulisan yang terukir di atas? Ini merupakan giok dari 1500 tahun yang lalu.”


Giok Air Mata Darah merupakan jenis giok zaman kuno, giok ini telah bercampur dengan darah dari manusia kemudian membentuk sebuah giok yang bernama giok darah. Lalu, jenis darah yang berbentuk seperti air mata disebut Giok Air Mata Darah.


Sehingga Giok Air Mata Darah sangat langka.


Ketika mendengar ucapan Anto, semua bos pemilik toko barang antik pun sangat heboh!


“Ternyata berasal dari 1500 tahun lalu!”


“Betul, melihat ukiran di atasnya, memang berada pada zaman itu.”


“Berapa yang kamu inginkan?” ucap Fransiska setelah menikmatinya sebentar.

__ADS_1


Walaupun Fransiska pertama kali melihat Giok Air Mata Darah, dia sudah pernah membaca banyak dokumen tentang Giok Air Mata Darah. Giok milik Anto ini sama seperti yang Fransiska pelajari, sehingga dia memastikan kalau ini adalah giok asli.


Mendengar beberapa kesimpulan dari bos toko barang antik, Fransiska merasa lebih yakin lagi.


Namun saat ini, Arief justru menggelengkan kepala ketika mendengar Fransiska menanyakan harga kepada ANto.


Orang lain mungkin tidak mengenali Giok Air Mata Darah, namun Arief sangat mengenalnya. Kakek Arief memiliki satu Giok Air Mata Darah yang asli, Arief juga sering memainkannya saat kecil. Sehingga Arief langsung mengetahui kalau milik Anto ini palsu.


Nyali orang ini hebat juga, dia sampai berani menipu Keluarga Salim.


Fransiska masih muda sehingga tidak memiliki pengalaman yang banyak, wajar saja kalau dia tidak menyadari penipuan ini. Namun, beberapa bos toko barang antik juga tidak tahu, mereka benar-benar konyol sekali.


Walaupun berpikir seperti itu, Arief tidak ingin mengeksposnya sekarang, dia ingin memperhatikan lebih lanjut.


Pada saat ini, Anto berkata, “Tiga miliar.”


Fransiska mengangguk diam-diam.


Setengah tahun yang lalu, di sebuah acara lelang, Giok Air Mata Darah yang berasal dari 1500 tahun lalu juga dilelang seharga tiga miliar. Sepertinya, Anto sudah mempelajari dengan baik sebelum datang ke sini.


Namun, lelang tidak sama dengan transaksi jual beli.


“Mahal!” ucap Fransiska sambil menatap Anto.


Anto berkata dengan tegas, “Harganya sudah tetap! Kalau bukan karena membutuhkan uang untuk mengobati keluarga yang sakit, aku juga tidak akan menjual barang peninggalan leluhur.”


Setelah mendengarnya, Fransiska mulai ragu.


Beberapa bos toko barang antik menunjukkan ekspresi yang rumit.


Fransiska masih terlalu muda.


Giok Air Mata Darah ini hanya bisa mengandalkan jodoh untuk bertemu, kita akan untung besar jika membelinya. Apakah Keluarga Salim bisa kekurangan tiga miliar?


Saat ini, kalau bukan karena keuangan yang tidak mengizinkan dan tidak sehebat Keluarga Salim, beberapa bos toko barang antik sudah berebut untuk bertransaksi dengan Anto.


Pada saat itu, seorang pria berkacamata emas berjalan masuk.


Hidayat segera menyambutnya, “Tuan, apa yang Anda butuhkan?”


Pria paruh baya itu tersenyum dan berkata, “Namaku Lutfi, aku datang ke kota Malang untuk urusan bisnis. Aku adalah orang yang suka mengoleksi barang antik, aku ke Panca Heritage karena mendengar bahwa di sini sangat terkenal.”


Kemudian dia berkata dengan percaya diri, “Selama ada barang bagus, aku akan membayar beberapa pun selama aku suka.”


Setelah melihat Giok Air Mata Darah di tangan Anto, Lutfi pun berkata, “Wah, apakah itu adalah Giok Air Mata Darah yang legendaris itu?”


“Betul,” ucap Anto.


Lutfi yang melihatnya langsung mengambil giok itu, Anto pun berkata, “Hati-hati, jangan sampai pecah!”


Lutfi tertawa terbahak-bahak, “Tenang saja, kalau rusak aku akan menggantinya.”


Kemudian, dia pun bertanya, “Kawan, giok ini milikmu? Kamu ingin menjual di harga berapa?”


Kedua mata Anto berputar, dia pun berkata, “Sepuluh miliar.”


Sebelum dia selesai bicara, Lutfi langsung memukul paha dan berkata, “Baik, aku akan membelinya.”


Saat itu, Anto menatap Fransiska dengan wajah bangga! Seolah sedang berkata, aku menawarkan harga tiga miliar dan masih ditawar olehmu, sekarang ada seorang bos besar yang ingin membelinya dengan harga tinggi, kamu pasti akan menyesal.


Ternyata, Fransiska juga mulai panik. Dia segera menghampirinya dan berkata, “Tuan Anto, kamu sudah setuju untuk menjualnya kepadaku. Ada aturan sendiri di dunia barang antik, tapi kamu sudah menjualnya kepada orang lain walaupun kita belum selesai bicara, bukankah ini tidak baik?”


Fransiska benar-benar panik, dia tidak menyangka Lutfi akan membeli giok ini seharga sepuluh miliar tanpa pikir panjang.


“Aku akan membayar tiga miliar,” ucap Fransiska, “Tuan Anto, bukankah kamu sudah berjanji untuk menjual seharga tiga miliar kepadaku? Aku akan membelinya.”


Arief hanya bisa tersenyum dalam hati melihat semua ini.


Haha, Anto dan Lutfi adalah komplotan, mereka sedang berakting.


Tidak disangka Fransiska mempercayainya. Apakah orang yang cantik selalu memiliki kecerdasan yang rendah.

__ADS_1


__ADS_2