
Cindy turun dari mobil dan berjalan masuk. Ketua kelas, Herwanto, meneleponnya bahwa hari ini ada pertemuan teman sekelas.
Kejadian Ronny kemarin membuat dirinya kesal. Cindy memutuskan untuk menghadiri pertemuan ini untuk menenangkan hati.
Kemunculan Cindy langsung menjadi pusat perhatian. Semua siswa yang sudah sampai di lokasi langsung mengelilinginya.
Bagaimanapun, Cindy adalah primadona di kelar mereka. Dia juga seorang artis sekarang.
Di antara para wanita, selain Cindy yang paling menarik perhatian, orang kedua adalah Sari, wali kelas mereka. Sari akhirnya datang setelah pertemuan sebelumnya tidak datang.
Sari berusia 30 tahun, dia adalah guru tercantik ketika masih mengajar di sekolah.
Ketika sedang mengajar, kebanyakan siswa laki-laki tidak bisa fokus mendengarkan, tetapi hanya menatap tubuhnya.
Setelah beberapa tahun tidak bertemu, Sari sama sekali tidak berubah. Dia menjadi semakin dewasa dan memesona. Dia memakai rok ketat dan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah dengan sempurna. Dia benar-benar sangat seksi.
Dibandingkan dengan Cindy, tampang dan tubuh Sari sama sekali tidak kalah.
Seketika, semua mata pria di dalam ruangan terbuka lebar.
Herwanto juga memujinya, “Bu Sari, setelah beberapa tahun, kamu masih tidak berubah dan tetap cantik seperti dulu.”
Herwanto bisa menjadi ketua kelas bukan hanya karena pintar secara akademik, tetapi mulutnya juga jago berbicara.
Tentu saja, Sari terkenal sangat tegas. Saat sekolah, tidak ada yang berani mengatakan seperti itu kepadanya. Karena sudah lulus, tentu saja boleh memujinya cantik.
Sari tersenyum dan berkata, “Kalian juga tidak berubah. Herwanto masih saja jago berbicara, Cindy juga masih sangat cantik. Tapi, ibu paling ingat dengan Arief dan Julius. Mereka duduk satu meja dan sering merepotkan ibu.”
Saat itu, Arief adalah Tuan Muda Kedua Keluarga Burton. Sebagai generasi kedua yang kaya, dia tidak mau belajar dengan baik dan terus membuat masalah di mana-mana. Hal ini membuat Sari sangat pusing.
Setelah Sari melontarkan ucapannya, Julius yang berada di samping langsung menggaruk kepala dan tersenyum. “Bu Sari, ibu masih ingat, ya? Aku sudah berubah.”
Sialan! Arief yang selalu membuat ide untuk masalah, tidak disangka bu guru masih ingat.
Sambil berpikir dalam hati, Julius pun menghela napas, ‘Arief! Sayang sekali kamu tidak datang hari ini, semua wanita cantik di kelas kita berkumpul di sini.’
Sebagai teman terbaik Arief, Julius merasa sayang untuknya.
Saat ini, Sari melihat sekeliling sambil tersenyum, “Omong-omong, di mana Arief?”
Herwanto langsung maju dan berkata, “Bu Sari, Arief sudah sangat sukses sekarang. Dia menjadi menantu yang hanya mengandalkan istri dan tidak perlu bekerja lagi. Tidak seperti kami, masing-masing harus bekerja keras lagi.”
Haha!
Setelah mendengar ucapan itu, semua orang di dalam ruangan menahan tawa, bahkan beberapa wanita juga tidak sengaja tertawa.
“Iya, Bu. Sekarang, Arief sedang mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mana ada waktu keluar?”
“Bu mungkin tidak tahu, Arief yang sekarang adalah orang terkenal di Kota Malang. Orang yang terkenal tidak berguna. Haha!”
Awalnya, Julius masih dalam suasana hati yang baik. Ketika mendengar ocehan teman-temannya, dia lalu berdiri, mengerutkan kening dan berkata, “Kita semua adalah teman, kalian tidak perlu bersikap seperti itu. Lagi pula, Arief tidak datang, bukankah tidak baik membicarakannya dari belakang?”
Orang-orang ini keterlaluan juga. Walaupun Arief menjadi seorang menantu yang mengandalkan keluarga istrinya, dia juga tidak makan nasi dari keluarga orang-orang ini.
__ADS_1
Benar-benar membosankan.
Mendengar orang-orang ini menyindir sahabatnya sendiri, Julius merasa tidak senang.
Herwanto mendengkus dingin dan berkata, “Julius, kenapa kamu marah? Kami sedang berbicara dengan Bu Sari, bukan dengan kamu.”
Julius mengabaikannya dan langsung duduk kembali.
Sari yang berada di samping pun mengerutkan keningnya.
Arief menjadi menantu yang mengandalkan istri dan orang tidak berguna, semua ini seperti yang dipikirkan. Saat sekolah, Arief tidak pernah belajar dengan baik, Sari juga sering memarahinya. Ternyata, dia diusir dari keluarga dan terpuruk seperti sekarang.
Saat ini, Sari sama sekali tidak bersimpati kepada Arief. Dia berkata dengan nada dingin, “Jangan mengungkitnya lagi. Waktu berada di sekolah, dia sering membuat masalah. Aku juga merasa dia pantas terpuruk seperti sekarang, pantas menjadi orang tidak berguna.”
Mereka sudah minum beberapa putaran.
Sari juga minum tidak sedikit.
Melihat murid-muridnya rata-rata sudah berhasil, dia juga sangat senang. Ketika pergi ke toilet, dia kebetulan bertemu dengan Cindy.
“Cindy, ibu ingin minta bantuanmu,” ucap Sari dengan pelan sambil menutup pintu toilet.
Cindy tersenyum dan berkata, “Ibu, ada apa. Kalau bisa bantu, aku pasti akan membantunya.”
Waktu sekolah, Sari cukup baik dengan dirinya, sehingga Cindy juga merasa berterima kasih dengannya.
Sari berbisik, “Kamu memiliki hubungan yang baik dengan bos Perusahaan Net Media, bukan? Ibu … ibu juga ingin masuk dunia hiburan. Apakah kamu bisa merekomendasikan ibu?”
Cindy sudah terkenal sekarang, kalau dia bisa merekomendasikan dirinya, maka tentu saja lebih baik.
Cindy tertegun. Dia tanpa sadar berkata, “Sebenarnya Presiden Direktur dari Perusahaan Net Media adalah ….”
Cindy tiba-tiba berhenti di tengah-tengah.
Dia hampir saja lupa kalau Arief sangat sederhana, dia tidak ingin orang lain tahu identitasnya.
Bagaimana ini?
Dia juga tidak bisa menolak permintaan gurunya.
Sambil berpikir, Cindy lalu tersenyum. “Baiklah, aku akan bantu ibu untuk menanyakannya.”
“Baik!” Sari tampak sangat senang, dia mendekati Cindy dengan sepatu hak tingginya. “Ibu akan kirimkan beberapa foto untukmu. Kamu bantu kirimkan kepada Presiden Direktur Perusahaan Net Media.”
Sambil berbicara, Sari mengirimkan fotonya lewat Whatsapp. Dia sangat percaya diri dengan wajah dan tubuhnya, bahkan tidak kalah dengan para artis. Selama pimpinan Perusahaan Net Media melihat fotonya, pasti akan tertarik pada Sari.
Ketika mengirimkan fotonya, Sari sengaja memilih foto dari berbagai sudut dan jenis pakaian yang berbeda.
Cindy terpaksa mengirimkan semua foto itu kepada Arief.
…
Danau Dewata. Para generasi kedua yang kaya sudah memasuki gua.
__ADS_1
Saat ini, langit sudah gelap. Semua orang sangat puas dengan gua ini. Gua ini memiliki luas tiga sampai empat lapangan basket, mereka semua bisa beristirahat di dalam sini.
Namun, karena masih belum terlalu larut, mereka masih berkumpul dan mengobrol bersama.
Setelah berbicara beberapa saat, Arief dan Niko ternyata langsung akrab. Sebenarnya, mereka berdua memiliki sifat yang terus terang dan tidak suka basa basi.
Setelah berbicara sebentar di dalam gua, istrinya Niko mulai merasa bosan. Dia menyuruh Niko menemaninya pergi jalan-jalan.
Istrinya Niko benar-benar sangat cantik.
Nama istrinya adalah Ester. Dia seorang wanita cantik.
Hari ini, Ester memakai celana jins pendek dan pakaian yang menampakkan pusar. Samar-samar bisa terlihat tato burung phoenix berwarna merah di punggungnya. Tampak begitu mendominasi.
Ester benar-benar memiliki aura seorang bos yang sangat mendominasi.
Namun, semua pria di sana tidak berani mengintip Ester. Mereka tidak berani menyinggungnya.
“Aku akan menemani istriku pergi jalan-jalan dulu, kita lanjutkan nanti,” ucap Niko sambil tersenyum dan merangkul pinggang Ester.
Hubungan mereka terlihat sangat baik.
Ketika mereka pergi, Nita dan Fransiska langsung mendekatinya.
“Arief, bagaimana kamu membunuh hiu itu?” tanya Nita yang penasaran.
Nita sudah penasaran sejak awal, tetapi tidak memiliki kesempatan untuk bertanya.
Sekuat apa pun seorang pria, dia tidak akan bisa mengalahkan hiu.
Arief tersenyum dan berkata dengan santai, “Tidak ada yang hebat. Aku hanya meninju beberapa kali, hiu itu juga langsung menurut.”
Saat ini, beberapa orang yang berada tidak jauh dari mereka diam-diam menguping.
Mendengar ucapan Arief, orang-orang pun tertawa. Bocah ini benar-benar jago membual. Apakah dia tidak punya harga diri setelah menjadi menantu orang? Sehingga dia menganggap dirinya sebagai pahlawan untuk mendapatkan harga diri?
Apakah hiu akan menurut setelah ditinju beberapa kali?
Hendry meludah ke lantai dengan keras. Dia tidak ingin mendengar bualan Arief.
Arief juga tidak peduli, dia melanjutkan, “Ketika berada di dalam air, aku mendapatkan sebuah pisau. Entah siapa yang melemparkannya, aku langsung mengambil pisau itu dan menusukkannya ke tubuh hiu itu.”
Dia sengaja mengatakan ini untuk didengar oleh Hendry.
Ketika hiu muncul, Hendry melemparkan pisau ke arah wanita demi melarikan diri. Sehingga menarik perhatian hiu.
Dasar bodoh!
Ekspresi Hendry menjadi sangat masam. Dia terus menatap Arief dengan kesal. Kenapa Arief begitu berengsek?
Ketika ingin berdebat dengannya, tiba-tiba terdengar suara teriakan.
“Tidak! Tolong, tolong!”
__ADS_1