
“Aku pulang!” ucap Arief sambil tersenyum kepada Nita.
Nita mengangguk, kemudian melirik ke arah Audi R8 yang terparkir di depan sana.
Memperhatikan tatapan curiga Nita, Arief pun tersenyum dan berkata, “Mobil itu adalah mobil milik bos yang baru dibeli kemarin. Hari ini aku istirahat, sehingga dia meminjamkan mobil itu kepadaku.”
Nita tampak terkejut, tapi dia tetap merasa penasaran dalam hati. Siapa bos Arief? Kenapa dia begitu baik sampai meminjamkan mobil baru kepada karyawannya?
Saat ini, Heny baru sadar dan tidak bisa menahan tawanya, dia lalu berkata, “Ternyata kamu memakai mobil orang lain? Aku masih mengira kalau kamu sudah bangkit dari keterpurukanmu.”
Arief hanya tersenyum dan tidak mempedulikannya.
Heny yang tiba-tiba marah langsung berkata kepada Nita, “Nita, aku tidak mengerti apa yang kamu ragukan lagi? Steven yang aku kenalin kepadamu itu sangat baik, lebih baik kamu segera bercerai dengan sampah ini. Aku semakin kesal setiap kali melihatnya.”
“Ibu!”
Nita merapatkan bibirnya, dia menggelengkan kepala dan berkata, “Kamu tidak perlu ikut campur urusanku. Paling tidak, dia sudah mendapatkan pekerjaan. Aku … aku ingin memberikan satu kesempatan lagi kepadanya. Dia sudah menemukan pekerjaan, jadi pasti sudah berubah.”
Heny tidak bisa berkata-kata karena terlalu marah. Dia tidak mengerti apa yang terjadi kepada anaknya sendiri.
Heny kemudian kembali ke kamar setelah memelototi Arief.
Arief melihat ke Nita sambil tersenyum, dia lalu berkata, “Kamu tidak akan bercerai denganku lagi?”
“Jangan senang dulu, aku masih ingin melihat penampilanmu,” ucap Nita.
Arief pun mengangguk dan tidak berbicara lagi.
Dia menghormati keputusan Nita. Bagaimanapun, selama tiga tahun di rumah ini, Nita juga menanggung banyak beban demi Arief.
“Aku sedikit capek, aku masuk ke kamar untuk istirahat dulu.” Arief kemudian masuk ke kamar setelah melontarkan ucapannya.
Nita tidak mengikutinya, dia hanya duduk di sofa sambil memikirkan sesuatu.
Saat ini, Nita merasa sangat bingung dengan keputusannya tadi, apakah sudah tepat atau tidak?
Setelah memberi Arief kesempatan, apakah Arief akan memberikan kebahagiaan untuknya?
Heny merasa kesal dan juga panik, karena anaknya masih saja keras kepala.
“Tidak bisa, aku tidak boleh membiarkan sampah itu berada di rumah ini lagi.” Heny kemudian mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.
Nomor yang sedang dihubungi Heny adalah milik Steven Lunaro.
“Tante Heny, ada apa?” Setelah teleponnya tersambung, Steven berkata dengan sopan dan sedikit canggung.
Heny segera bertanya, “Steven, bagaimana dengan pertemuan kamu dan Nita kemarin?”
Nada bicaranya terdengar lembut, seolah orang di seberang telepon adalah menantunya.
Ekspresi wajah Steven semakin canggung, dia berusaha tersenyum dan menjawab, “Tante Heny, aku merasa … aku dan Nita tidak cocok.”
“Hmm?”
“Lalu, aku merasa kalau Nita dan … dan Arief sudah cukup baik, mereka berdua sangat cocok. Aku … aku tidak ingin ikut campur,” ucap Steven dengan hati-hati.
Heny tercengang ketika mendengar ucapannya, dia pun bertanya dengan ekspresi kaget, “Steven, kamu tidak apa-apa?”
“Aku tidak apa-apa, Tante Heny. Oh iya, kalau kamu bertemu Tu … khuk khuk Arief, tolong beritahu dia bahwa aku berdoa semoga dia dan Nita bisa hidup langgeng selamanya,” ucap Steven dengan nada sopan. Karena terlalu gugup, dia hampir saja memanggil Direktur Burton.
__ADS_1
Saat itu, Steven terus mengeluarkan keringat dingin.
Untung dia sadar, kalau sampai Direktur Burton kesal, mungkin perusahaan Audi tidak akan mendapatkan kerjasama baru lagi.
“Kamu ….”
Heny merasa kikuk ketika mendengar ucapannya.
Apa yang terjadi? Bukankah Steven mengidolakan Nita?
Steven yang terlihat gugup lalu berkata, “Tante Heny, aku sedang ada urusan, jadi tidak bisa berbicara lagi denganmu.”
Setelah itu, teleponnya pun terputus.
“Tut tut ….”
Mendengar suara telepon yang terputus, Heny masih bengong.
Apa yang terjadi?
Pertama, Nita bersikap tidak seperti biasa, kemudian diikuti Steven yang awalnya berjanji akan mendapatkan Nita, kenapa hari ini dia berubah?
Heny keluar dari kamar dengan perasaan bingung.
Saat ini, dia mendengar suara ketukan pintu. Dia membuka pintu dan melihat Shinta, sahabat baik Nita.
“Halo Tante!” ucap Shinta menyapa Heny sambil tersenyum.
Heny pun tersenyum dan mengangguk, “Shinta sudah datang, sini duduk.”
Heny mengerutkan kening dan berteriak, “Arief, turun kamu! Apa kamu tidak mendengar ada tamu di rumah? Kenapa kamu tidak turun untuk melayaninya? Di mana sikapmu itu?”
Arief berjalan keluar dari kamar ketika mendengar teriakan Heny.
Sejak Vincent yang berada di Bar Mediterania memberitahu bahwa Arief adalah Tuan Muda Kedua Keluarga Burton, Shinta sudah jarang datang ke rumah untuk mencari Nita.
Karena dia tidak berani!
Lalu kemarin, dia mengetahui kalau Arief sudah tidak pulang beberapa hari, sehingga dia berani datang mencari Nita.
Namun, dia tidak menyangka akan bertemu Arief yang baru pulang.
Nita menjawab, “Hari ini baru pulang.”
Ketika Shinta ingin mengatakan sesuatu, dia segera menelan kembali ucapannya ketika melihat Arief turun dari atas. Dia menundukkan kepala dan tidak berani menatap Arief.
Arief tersenyum melihat kedatangan Shinta.
“Kenapa diam saja di sana? Cepat tuangkan teh!” ucap Heny sambil memelototi Arief.
Arief tidak bergerak, dia seperti tidak mendengarnya.
“Tidak perlu tidak perlu, aku tidak haus, aku tidak haus. Kakak ipar … tidak perlu merepotkan.”
Setelah mendengar ucapan Heny, Shinta segera berdiri dan melambaikan tangannya.
Sambil berkata, dia terus memperhatikan respons Arief dengan hati-hati.
Dia tidak mungkin membiarkan Tuan Muda Kedua Keluarga Burton untuk menuangkan teh untuknya, karena Shinta tidak akan bisa hidup dengan tenang setelah itu.
__ADS_1
“Shinta, kenapa denganmu?” ucap Nita sambil mengerutkan kening. Dia juga mulai menyadari keanehan pada Shinta.
Shinta menggelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa, mungkin aku tidak istirahat dengan baik.”
Heny pun tertegun.
Apa yang terjadi? Kenapa dia merasa kalau semua orang sepertinya takut dengan sampah ini?
Sambil merasa curiga, Heny pun sadar setelah melihat tampang Arief yang kotor ini.
Shinta menyukai kebersihan, dia pasti tidak ingin sampah yang kotor ini untuk menuangkan teh untuknya.
Sambil berpikir, Heny pun memelototi Arief.
Walaupun Arief tidak berbicara, Shinta pun tetap tidak bisa merasa tenang.
Setelah sebentar, Shinta akhirnya tidak bisa menahan aura tekanan dari Arief. Dia pun berdiri dan berkata, “Kak Nita, aku tiba-tiba teringat harus mengerjakan sesuatu. Aku pergi dulu.”
“Cepat sekali” tanya Nita sambil berdiri. “Aku tidak melihatmu bawa mobil tadi, bagaimana kamu datang ke sini?”
Shinta tersenyum, “Mobilku sedang di servis hari ini, jadi aku naik taksi ke sini. Aku juga akan memesan taksi nanti.”
Heny tersenyum dan berkata, “Kenapa harus naik taksi? Suruh dia yang antar saja.”
Heny menunjuk ke arah Arief.
Ah? Shinta yang terkejut segera menggelengkan kepala dengan sopan, “Tidak perlu, aku naik taksi saja.”
Heny berkata, “Shinta, kamu tidak perlu takut merepotkan. Bagaimanapun, sampah ini juga tidak berguna di sini, biarkan dia mengantarmu saja. Kenapa kamu harus sungkan dengan sampah ini?”
Mendengar ucapan Heny, Shinta bukan hanya ragu, tapi juga sangat tercengang dalam hati.
Tante Heny terus saja memanggil dia sampah, apa dia tidak tahu identitas Arief?
Pada saat ini, Arief bangkit berdiri dan berkata, “Ayo pergi!”
Shinta tidak berani menolaknya setelah mendengar ucapan Arief.
Setelah beberapa menit, Arief mengemudikan mobil keluar dari kompleks dengan Shinta. Ketika masuk ke jalan besar, Shinta pun berkata dengan gugup, “Kak Arief, sampai di sini saja. Aku akan pulang sendiri.”
Arief tersenyum menatapnya, “Kamu panggil aku apa tadi? Apa kamu melupakan janjimu?”
Shinta tertegun.
Dia mana mungkin melupakan kejadian di Bar Mediterania waktu itu?
Dia pun menggertakkan gigi dan berkata, “Ayah ….”
Arief mengangguk sambil tersenyum, “Begini baru betul. Kamu tidak perlu gugup, aku akan mengantarmu sampai tempat karena sudah keluar.”
“Terima kasih Kak … Terima kasih Ayah …” ucap Shinta.
Tak lama kemudian, mobil Arief memasuki jalan yang ramai.
Tidak bisa dipungkiri, mobil Audi R8 sangat keren, ditambah Shinta yang memiliki tubuh mempesona dan wajah cantik, kedua hal ini sangat menarik perhatian.
Seketika, banyak orang yang segera menoleh ke arah sini dengan ekspresi iri.
Arief mengemudikan mobil dengan ekspresi datar, tapi di dalam hatinya dia tetap menikmati semua ini.
__ADS_1
“Ohh? Bukankah ini Arief si sampah?” Saat ini, terdengar sebuah suara yang tidak nyaman dari samping.
Ekspresi Arief langsung menjadi suram ketika melihatnya.