
Arief melihat ke Siska, kalau tidak salah, dia adalah sekretaris yang dimaksud paman.
“Pak CEO, maaf, aku bukan sengaja telat, jalanan terlalu macet.” Kata Siska dengan pelan, dia tidak berani menatap Arief.
“Siska, apa yang kamu katakan!” Saat ini, Juliana berjalan ke depan, wajah yang cantik terlihat marah: “Dia adalah satpam baru di kantor kita, kamu jangan asal panggil.”
“Satpam?” Siska mencari di tasnya dan mengeluarkan sebuah foto, dia melihat fotonya, lalu melihat ke Arief, kemudian berkata kepada Juliana: “Manajer Juliana, aku tidak salah lihat, dia adalah CEO baru kita, Pak Arief.”
“Apa?!” Semua orang menatap Arief dengan tatapan tidak percaya!
“Nona, kamu, sepertinya salah orang?” Cindy menggigit bibir bawah dan menatap Siska: “Orang ini bernama Arief, dia adalah teman sekolahku. Kamu lihat pakaiannya ini, mana mungkin CEO?”
Ini tidak mungkin! Mana ada CEO yang memakai pakaian murahan dan memakai motor? Lalu di acara reuni kemarin, bahkan tidak ada yang mempedulikan Arief!
“Salah orang?” Siska membuka ponselnya dan diperlihatkan kepada Cindy: “Kamu lihat sendiri, ini adalah kepala keluarga Burton yang langsung memberitahuku langsung, CEO baru bernama Arief Burton! Di dalam chatnya juga ada foto CEO, kamu lihat sendiri!”
“Pong!”
Sesaat, benak Cindy langsung kosong! Dia merasa kedua kakinya menjadi lemas, dia sama sekali tidak berani menatap Arief.
Juliana yang berada di samping juga menggigit bibir bawah, sebagai wakil manajer, walaupun dia berada di atas semua orang di Net Media. Tapi bagaimanapun perusahaan Net Media adalah bisnis keluarga Burton, dia bahkan ingin memecat CEO.
“Kak, kak Arief…” wajah Juliana sangat buruk, dia berjalan ke samping Arief dan memanggilnya dengan pelan.
“Salah panggil kamu.” Kata Arief dengan nada dingin: “Cindy adalah teman sekolahku, kamu adalah tantenya Cindy. Aku tidak berani dipanggil kakak olehmu.”
“Kak Arief, aku salah…aku salah, aku beneran bersalah…” Kata Juliana dengan pelan dan menunduk.
Arief melambaikan tangannya dan memotong ucapannya. Dia melirik ke ketua satpam tadi, sekarang ketua satpam sudah bengong, dia mundur beberapa langkah dan hampir terjatuh ke lantai.
“Kamu dipecat.” Setelah berkata, Arief langsung masuk ke dalam.
Semua orang mengikuti Arief dari belakang, karyawan yang di level bawah mulai menggosipkan hal ini. Lalu Cindy dan Juliana juga ikut dari belakang, tapi kali ini mereka juga tidak berani berkata apa pun. Walaupun memakai sepatu hak tinggi agak susah, mereka juga berusaha mengikutinya.
Tidak bisa dipungkiri, perusahaan Net Media sangat megah. Interior di dalamnya seperti istana. Berita kedatangan CEO baru sudah menyebar di seluruh perusahaan, sepanjang jalan semua orang menyapanya.
Ruangan CEO di lantai 11, masuk ke ruangan, Arief duduk di kursi.
Megah sekali, kata Arief dalam hati. Setelah diusir oleh keluarganya 3 tahun lalu, dia tidak pernah datang ke tempat semegah ini lagi.
__ADS_1
“Pak, Pak CEO…”
Saat ini, Cindy dan Juliana juga mengikutinya. Mereka berdiri di depan mejanya dengan sopan.
Jujur, walaupun Juliana adalah tantenya Cindy. Tapi perawatannya sangat baik, mereka terlihat seperti kakak adik.
“Kak Arief, aku minta maaf.” Kata Juliana menggigit bibir, dia melanjutkannya: “Kak Arief, Cindy masih bisa tanda tangan kontrak? Kak Arief, kalau bisa tanda tangan kontrak, aku rela melakukan apa pun.”
“Rela melakukan apa pun?” Arief tertawa karena ucapannya. Ketika ingin menjawab, Siska mengetuk pintu dan berjalan masuk.
“Pak Arief, David dari keluarga Kimberly datang untuk berbisnis.” David? Bikin marah saja.
Arief tersenyum: “Suruh dia pergi.”
“Baik.”
--
Vila keluarga Kimberly. Nenek mengadakan rapat darurat, ratusan orang keluarga berkumpul di sini.
“Nenek, perusahaan Net Media benar-benar keterlaluan!” David terlihat marah: “Aku pergi berbisnis, mereka malah mengusirku, mengusirku! Perusahaan Net Media ini pasti tidak menganggap keluarga Kimberly kita!”
“Sudahlah.” Nenek melambaikan tangannya: “Aku dengar CEO baru perusahaan Net Media baru berumur 20 an lebih. Karena masih muda, dia memiliki hak untuk sombong. Walaupun sikap mereka tidak baik, tapi keluarga Kimberly kita juga harus bekerja sama dengan mereka, kalian siapa yang ingin pergi?”
Apa?!
Semua orang saling bertatapan. Harus pergi berbisnis lagi? Mereka sudah mengusir David, sekarang kita harus pergi lagi? Siapa yang ingin pergi?!
Nenek menghela nafas. Dia tahu tidak ada yang ingin pergi lagi. Tapi jika bisa bekerja sama dengan perusahaan Net Media, maka keuntungan yang didapatkan oleh keluarga Kimberly tidak akan sedikit! Tidak boleh menyerah!
David mengepalkan tangannya, dia tiba-tiba tersenyum dingin dan berkata: “Nenek, atau suruh Nita yang mencobanya?”
“David, kamu!” Nita menggigit bibir bawah. Dia tahu David selalu suka mencari masalah, tetapi tidak disangka dia begitu menjijikkan.
“Kenapa?” David bertanya balik: “Sebagai anggota keluarga Kimberly, perusahaan yang kamu pegang sekarang sedang kekurangan 10 Miliar kan? Kalau tidak sanggup mengatur perusahaan yasudah, sekarang kamu bahkan tidak mau membantu keluarga?”
Berbicara sampai sini, David berlari ke samping nenek: “Nenek, aku saranin tugas kali ini kita serahkan kepada Nita!”
Nenek mengangguk. Di dalam keluarga, dia paling menyayangi David, sekarang dia juga mendengarkan ucapannya dan melihat ke Nita: “Nita, kamu yang kerjakan hal ini. Besok kamu pergi membicarakan kerjasama dengan perusahaan Net Media.”
__ADS_1
“Nenek, aku…”
Nita ingin berbicara, tetapi nenek sudah melambaikan tangan: “Sudah, bubarlah.”
Setelah itu, ratusan orang langsung berdiri dan berjalan pergi. Semuanya merasa tenang karena bukan mereka yang dipilih.
Setelah pulang ke rumah, Nita merasa sangat kesal. Ini adalah hal yang tidak mungkin dikerjakan.
Nita merasa kesal, dia memutuskan tidak berpikir lagi. Dia lalu memanggil Shinta dan Wulan kemari untuk curhat.
Ternyata, setelah sahabatnya datang, suasana hatinya menjadi lebih baik.
“Kak Nita, mana sampah di rumahmu itu?” tanya Shinta yang duduk di sofa sambil minum anggur merah.
Nita tentu tahu siapa sampah yang dimaksudnya. Dia tersenyum dan berkata: “Setelah selesai buat sarapan, dia sudah keluar, sampai sekarang masih belum pulang.”
“Kak Nita, kesabaranmu sangat tinggi.” Shinta meletakkan gelas anggur: “Aku lihat Arief si sampah itu benar-benar tidak tahan. Sekarang perusahaanmu membutuhkan uang, kalau punya suami yang hebat, walaupun tidak ada 10 miliar, paling tidak juga ada 4-6 miliar. Arief bahkan tidak sanggup memberikan 40-60 juta.”
Ketika berbicara, terdengar suara orang membuka pintu, lalu Arief berjalan masuk dengan sebuah kantong hitam di tangannya, seluruh tubuhnya terlihat kotor.
Sialan, di perjalanan pulang tiba-tiba hujan, motornya ditabrak rusak oleh Cindy. Arief mendorongnya pulang dan sekarang basah kuyup.
“Ei, sampah ini pulang juga.” Kata Shinta.
Arief juga malas meladeninya, dia meletakkan kantong hitam itu di sofa.
“Arief, kamu masih berani pulang?” Saat ini, Heny berjalan keluar dari kamar tidur, ekspresinya sangat jelek.
Kalau bukan Arief menyinggung David, mana mungkin David menyuruh Nita pergi membahas kerja sama?
Heny melotot ke Arief: “Kamu semakin tidak punya aturan. Melawan David di acara tahunan, kamu masih berani pulang? Lalu kamu tidak buka sepatu masuk ke rumah, sekarang semuanya bekas injakan kamu semua. Lalu kantong jelek itu juga kotor dan kamu malah letakan di sofa? Kamu masih ingin tinggal di sini tidak? Kalau tidak rela, pergi saja!”
Arief menghela nafas. Aku memang mengotori ruangannya, tapi beberapa tahun ini juga aku yang membersihkannya?
Arief juga tidak marah, kalau melawan ucapan Heny, dia mungkin sudah mati muda.
Memperlihatkan sikap yang tidak peduli, dia berjalan ke depan Nita sambil tersenyum dia berkata: “Istriku, perusahaan kamu lagi butuh uang 10 miliar kan? Aku ada…”
“Oi” sambil tersenyum dingin, Shinta memotong ucapan Arief, dia berkata, “Manusia kalau sudah tidak tahu malu, benar-benar tidak bisa diselamatkan. Kak Nita butuh 10 miliar, kamu bahkan tidak bisa membantunya, sekarang masih berani mengungkitnya.”
__ADS_1