Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 48 Perlihatkan Kepada Kami


__ADS_3

“Mobilku? Hmm … aku juga merasa kalau mobil hanyalah alat transportasi. Jadi aku beli mobil yang biasa saja, Audi R8.”


Arief berkata dengan santai di hadapan semua orang.


Arief benar. Mobil Audi R8 termasuk mobil pemula di jajaran mobil sport mewah lainnya. Sehingga dia tidak salah kalau menyebutkan mobil biasa.


Wah!


Semua orang menatap Arief dengan tatapan tercengang. Mereka mengira kalau mereka salah dengar.


Pada saat yang sama, Heny dan Nita juga hampir tersedak oleh teh.


Arief berani sekali mengatakannya. Mobil Audi R8 itu adalah pinjaman dari bosnya, dia justru bilang kalau itu mobilnya.


Dia benar-benar tidak tahu malu.


Halim pun tertegun.


Mobil Audi R8? Mobil sport yang hampir 4 miliar.


Apa bocah ini sedang berbohong?


“Heny, Nita benar-benar sangat baik kepada Arief, dia bahkan memberikan mobil bagus kepadanya.” saat ini, Marisa akhirnya sadar kembali dan berkata kepada Heny sambil tersenyum. Ucapannya terdengar sangat sinis.


Dia tidak percaya kalau Arief sanggup membeli mobil Audi R8, mobil itu pasti pemberiaan Nita.


Pada akhirnya, dia hanyalah sampah yang mengandalkan istri.


Heny terdiam dan tidak menjawab.


Pada saat ini, Arief menjawab dengan tenang, “Bukan Nita yang beli, tapi bosku.”


Haha! Ucapannya membuat semua orang menahan tawa. Beberapa wanita yang tidak bisa menahan diri, sudah mulai tertawa.


Haha! Arief benar-benar sangat lucu.


Setelah semua ini, ternyata itu bukan mobilnya! Haha!


Heny yang merasa malu ingin kabur dari sini.


Namun, Arief menimpali. “Tapi sekarang sudah menjadi milikku. Bos tahu kalau aku bekerja dengan baik, sehingga dia memberikan mobilnya kepadaku.”


Apa?


Bos mana yang begitu dermawan? Memberikan mobil Audi R8 kepada seorang staf biasa?


Semua orang tercengang. Lalu, Halim yang penasaran pun bertanya, “Kak Arief bekerja di perusahaan mana? Kenapa bisa mendapatkan tunjangan sebagus ini?”


Arief hanya meliriknya dan menjawab, “Perusahaan kecil saja.”


Halim tidak percaya, tetapi juga tidak ingin melanjutkan topik ini. Arief benar-benar pintar membual. Halim pun tersenyum dan mengeluarkan sebuah kotak hadiah yang indah. Dia memberikan kotak itu kepada Marisa dan berkata, “Ibu, sebelumnya aku jarang mengunjungimu karena sibuk. Terima kasih sudah memercayai putrimu kepadaku. Ini sedikit hadiah dariku, semoga Ibu suka.”


Marisa menerima kotaknya dan berkata, “Kamu ini, kita akan segera menjadi keluarga, kenapa harus sungkan seperti itu?”


Walaupun berbicara seperti itu, wajahnya tetap terlihat sangat senang.


“Kak Maris, apa itu?”


“Iya, coba perlihatkan kepada kami!”


Pada saat ini, beberapa orang yang penasaran pun berkata dengan tatapan iri.


Marisa dengan senang hati membuka kotak hadiah itu. Dia disambut dengan cahaya yang memesona, ketika dia membuka lipatannya, terlihat sebuah gaun panjang yang bertatahkan permata.


Wah!


Semua orang di dalam ruangan langsung heboh.


“Cantik sekali gaun ini! Apa berlian di atasnya itu asli?”


“Astaga! Ini merek terkenal dari luar negeri, aku pernah melihatnya di TV dua hari lalu. Gaun ini yang dikenakan model terkenal dunia di International Fashion Week.”

__ADS_1


“Ini … ini mahal, ‘kan?”


Maris tersenyum dan bertanya kepada Halim di hadapan orang-orang yang tercengang.


Halim menggelengkan kepalanya. “Tidak terlalu mahal, hanya beberapa ratus juta saja.”


Beberapa ratus juta?


Tidak terlalu mahal?


Pada saat ini, semua tatapan wanita di dalam ruangan terus berbinar.


Merek internasional yang dipakai oleh model terkenal.


Mereka pasti sangat senang kalau bisa memiliki satu gaun ini.


Pada saat ini, Nita juga ikut terharu.


Ekspresi Heny menjadi sangat suram.


Merasakan tatapan iri orang-orang di sekitar, Marisa sangat gembira, tetapi pada saat yang sama dia berkata kepada Halim dengan malu, “Halim, aku tidak bisa menerima hadiah ini. Selain terlalu mahal, dan pakaiannya juga terlalu terbuka.”


Halim tersenyum dan berkata, “Ibu, bagaimana bisa hadiah beberapa ratus juta disebut mahal? Lagi pula, gaun ini paling cocok dengan auramu.”


“Oke.” Marisa mengusap gaun panjangnya dengan tangannya, wajahnya tidak bisa menyembunyikan kegembiraan di hatinya, Dia lalu berkata dengan enggan, “Kalau begitu, aku akan menerimanya!”


Marisa pun menjadi emosional, “Pepatah selalu mengatakan, menantu itu ibarat setengah anak sendiri. Tapi menurut aku, Halim lebih baik dari anak sendiri. Menantuku ini sangat bisa diandalkan, dia tidak seperti seseorang yang suka membual.”


Ketika berbicara, Marisa sengaja menatap ke arah Heny.


Heny sudah merasa tidak senang, ketika mendengar tertawaan Marisa, dia semakin kesal.


Ketika melihat Arief yang tidak peduli dan duduk tenang sambil minum teh, Heny semakin kesal.


Sampah ini masih berani minum teh?


Heny ingin bangkit berdiri dan pergi dari sini.


Namun kalau begitu, Marisa dan yang lain akan semakin menertawakannya.


Namun, Heny sudah memutuskan untuk menyuruh Nita dan sampah ini bercerai ketika pulang nanti.


Mereka harus bercerai besok.


Nita juga merasa kalau Marisa sudah keterlaluan, tetapi Nita juga tidak berdaya ketika melihat Arief.


Suami orang lain bisa menaikkan harga diri ibu mertua, tapi Arief sama sekali tidak bisa.


Pada saat ini, Marisa tersenyum dan berkata, “Arief, bagaimana menurutmu tentang pakaian yang diberikan oleh Halim ini?”


Arief tidak mengangkat kepalanya dan berkata, “Biasa saja.”


Biasa saja?


Konyol sekali.


Apa kamu sanggup membelinya?


Pada saat ini, banyak orang di dalam ruangan diam-diam mencibir, dan ekspresi mereka sangat menghina.


Astaga, apa orang-orang ini tidak urusan lain?


Apa bagusnya saling membandingkan?


Suara tertawa mereka membuat Arief tidak berdaya.


Dia langsung bangkit berdiri dan berjalan keluar ruangan.


Haha! Kenapa? Bocah ini tidak berani duduk di sini lagi?


Mereka mulai merasa bosan karena tidak ada bahan sindiran lagi.

__ADS_1


Marisa dan Halim juga merasa kecewa.


Heny pun menghela napas diam-diam.


Akhirnya sampah itu pergi. Kalau tidak, Heny pasti akan terus ditertawakan oleh Marisa dan yang lain.


Nita ingin pergi mencari Arief, tetapi suasana ruangan membuat dia mengurungkan niatnya.


Siapa pun tidak menyangka Arief akan kembali setelah tiga menit.


Ketika dia mendorong pintu ruangan, Heny langsung marah besar.


“Kenapa kamu kembali lagi?” tanya Heny dengan dengusan dingin. “Apa kamu merasa tidak cukup mempermalukanku?”


Nita pun berdiri sambil mengerutkan keningnya. Dia berbisik kepada Arief, “Kamu tunggu saja di mobil, kenapa harus naik lagi?”


Arief hanya tersenyum dan tidak berbicara. Di tangannya terdapat sebuah kotak hadiah.


Hadiah ini awalnya diberikan oleh Chandra di penghujung pernikahan Yanto di siang hari.


Maksud Chandra, Arief diusir dari keluarga dan menikah masuk ke Keluarga Kimberly. Pada saat pernikahan Arief, tidak ada satu pun Keluarga Burton yang hadir. Chandra terus merasa tidak enak, sehingga memberikan hadiah untuknya.


Arief juga tidak sungkan dan langsung menerimanya.


Omong-omong, Arief bahkan tidak tahu apa yang ada di dalam kotak itu. Namun, barang pemberian Chandra seharusnya tidak buruk, ‘kan?


Setelah meletakkan kotak hadiah di depan Heny, Arief kembali ke tempatnya. “Ibu, aku dan Nita sudah menikah selama tiga tahun. Aku belum pernah memberikan hadiah kepadamu. Hadiah ini sebagai bentuk permintaan maaf.”


Hah?


Bocah ini keluar untuk mengambil hadiah?


Semua orang di dalam ruangan terus menatap kotak itu dengan penasaran. Ukiran di kotak itu terlihat sangat indah dan hidup.


Hanya saja kotaknya sangat mewah, bukankah isi di dalamnya pasti lebih mahal?


Untuk sementara waktu, banyak orang berpikir demikian di dalam hati.


Namun, beberapa orang memiliki pandangan yang berbeda.


Dia adalah seorang pria yang mengandalkan istri, seberapa berharga hadiah yang bisa dia berikan?


Dia mungkin saja ingin berlagak dan menjaga kehormatan.


Semuanya juga memastikan bahwa Heny tidak berani membukanya di depan umum.


Menantu tidak berguna ini hanya ingin pamer. Heny tidak boleh membuka kotak hadiah itu.


“Kak Arief, kamu membawa sebuah hadiah hanya dalam beberapa menit. Apakah kamu membelinya di pinggir jalan?” Pada saat ini, Halim tiba-tiba tertawa dan berkata.


Arief tersenyum dan tidak memedulikannya.


“Heny, cepat perlihatkan kepada kami. Apa yang diberikan oleh menantumu?” ucap Heny kepada Marisa dengan dengusan dingin.


Semua orang pun ikut heboh.


“Iya, cepat perlihatkan kepada kami.”


“Tidak tahu apakah lebih bagus dari punya Halim?”


Di bawah paksaan orang-orang, Heny menggertakkan gigi dan terlihat ragu.


Heny juga tidak percaya kalau Arief bisa memberikan hadiah yang bagus. Bagaimana kalau barang pinggir jalan? Bukankah dia akan ditertawakan oleh teman-temannya?


Namun … kotak ini sangat indah.


Pada akhirnya, Heny membuka kotak itu dibawah tekanan orang-orang.


Pada saat yang sama, benda di dalam kotak itu menarik perhatian semua orang dan membuat mereka menganga.


Heny tertegun.

__ADS_1


Nita juga sangat terkejut.


Senyuman di wajah Marisa dan Halim pun menghilang!


__ADS_2