Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 89 Dia Juga Berani Melakukan Hal Seperti ini


__ADS_3

Debora sendiri juga tidak tahu kenapa dia bisa memanggil Arief seperti itu. Setelah melontarkan ucapannya, wajahnya langsung memerah. Di bawah cahaya rembulan, dia tampak sangat memesona.


Arief mengerutkan keningnya. Jujur saja, dia juga tidak ingin menyelamatkan Hendry walaupun Debora sudah memohon kepadanya.


Bocah itu benar-benar sangat jahat. Pagi tadi, dia memancing hiu ke sini dan hampir saja membunuh orang-orang. Arief tidak bisa memaafkannya.


“Kakak yang baik, kakak yang baik. Tolong selamatkan dia,” ucap Debora dengan suara kecil sambil menggoyangkan lengan Arief.


Melihat tunangan sendiri memanggil kakak kepada orang lain, Hendry sangat kesal. Namun saat ini, dia juga tidak berani omong kosong.


Arief menghela napas setelah mendengar suara Debora yang menawan itu. Dia mengeluarkan tali dan menarik Hendry ke atas.


Setelah itu, Arief juga malas berbicara dengannya, dia langsung berjalan ke arah pondok jerami.


“Arief, kamu hebat sekali.”


Setelah sampai di sana, Nita sudah berdiri di sana dan menunggunya dengan ekspresi senang.


Semua orang sudah pergi beristirahat di sekitar mereka. Nita baru tahu bahwa Arief yang menyelamatkan orang-orang ini setelah bertanya.


Apakah orang ini masih suaminya yang tidak berguna itu?


Kenapa Arief tiba-tiba menjadi sangat hebat?


Arief tersenyum dan berkata dengan tenang, “Tidak apa-apa. Sudah malam, cepat tidur sana.”


Setelah semua ini, Arief juga kelelahan.


Semua orang langsung tertidur setelah beberapa saat. Ketika Arief sedang tertidur lelap, ponselnya kembali berdering.


Sialan! Siapa yang kirim pesan tengah malam begini?


Arief membuka ponselnya dengan kesal. Pesan dari Cindy lagi?


Namun kali ini bukan foto, melainkan pesan singkat.


“Kak Arief, Bu Sari memintaku untuk mengirimkan foto-foto tadi kepadamu. Dia juga ingin masuk ke Perusahaan Net Media, jadi memintaku untuk merekomendasikannya. Bagaimana menurutmu, Kak Arief?”


Sari juga ingin jadi artis?


Arief diam-diam menelan ludah. Dia kembali teringat dengan masa-masa sekolahnya.


Saat bersekolah, Sari sering memarahi dirinya. Arief paling ingat dengan dua kalimat yang sering diucapkan Sari. Kalimat pertama adalah, “Arief, keluar kalau tidak mau belajar.”


Kalimat kedua adalah, “Jangan tidak tahu diri. Berdirilah di pojok.”


Saat di sekolah, Arief benar-benar sangat takut dengan Sari, karena dia memang sangat tegas.


Namun, tidak bisa dipungkiri setelah beberapa tahun tidak bertemu, Sari semakin memesona. Foto-foto tadi menunjukkan sosok yang sempurna dari berbagai sisi.


Sejujurnya, tipe seperti Sari masih belum ada di dunia hiburan. Siapa tahu setelah tanda tangan kontrak, Sari juga bisa terkenal, bukan?


Sambil berpikir, Arief kemudian membalas Cindy, “Baiklah. Kamu kasih tahu Siska besok, suruh dia atur Sari untuk wawancara.”


Setelah itu, Arief kembali ke pondok jerami. Tiba-tiba, dia teringat sesuatu dan berjalan ke arah lembah.

__ADS_1


Sebelumnya, Niko mengatakan bahwa di wilayah inilah Ester makan Buah Lohan Darah. Buah ini termasuk salah satu bahan penting untuk memurnikan ramuan.


Benar saja, sesampainya di sana, Arief segera menemukan Buah Lohan Darah. Terdapat belasan Buah Lohan Darah di wilayah ini.


Haha! Sepertinya piknik kali ini sangat berarti.


Sambil bergumam, Arief memetik dengan penuh semangat.



Kediaman Keluarga Burton.


Hari ini adalah hari besar. Tuan Besar Burton akan keluar dari pengasingannya.


Tuan Besar Burton adalah kakeknya Arief. Setelah kultivasi pengasingan selama lima tahun, dia akan keluar hari ini.


Keluarga Burton sangat ramai hari ini! Semua anggota keluarga berkumpul di sini. Bukan hanya anggota keluarga sendiri, orang-orang yang terkenal juga datang ke sini.


Di Kota Malang, Tuan Besar Burton adalah orang yang legendaris. Dia yang membangun Keluarga Burton dari nol.


Namun, sepuluh tahun yang lalu, Tuan Besar Burton sudah meninggalkan dunia bisnis.


Setelah menyerahkan bisnis kepada Chandra, Tuan Besar Burton mulai belajar agama Buddha.


Tentu saja, sejak awal, Tuan Besar Burton belajar agama karena ingin bertobat.


Setelah berbisnis puluhan tahun, semua kebusukan di dalam dunia bisnis sulit dibayangkan orang biasa. Tuan Besar Burton tentu saja sering melakukan banyak hal jahat selama puluhan tahun ini. Mungkin untuk mencari ketenangan hati, Tuan Besar Burton memilih untuk belajar agama.


Lima tahun lalu, Tuan Besar Burton bergabung dengan Sekte Shaolin.


Tuan Besar Burton memiliki seorang teman baik yang bernama Dusik Sinaga. Dusik berasal dari Sekte Bulu Ilahi, orang-orang memanggilnya Pendeta Dusik.


Sekte Shaolin dan Sekte Bulu Ilahi memiliki akar yang sama. Teknik Perubahan Tendon adalah teknik yang diciptakan bersama oleh senior kedua sekte. Jadi, murid Shaolin ataupun Bulu Ilahi bisa berlatih. Tentu saja, hanya murid elite yang bisa berlatih teknik ini, murid biasa tidak akan memiliki kesempatan untuk membacanya.


Setelah mendapatkan Teknik Perubahan Tendon, Tuan Besar Burton mulai melakukan pengasingan untuk memahaminya. Waktu pun berlalu dengan cepat dan lima tahun sudah berlalu. Sekarang, Tuan Besar Burton akhirnya sudah memahami teknik itu dan keluar dari kultivasi pengasingannya.


Setelah mendapatkan informasi ini, semua orang penting dari Kota Malang dan kota di sekitarnya datang untuk memberi selamat.


Kediaman Keluarga Burton juga mengadakan acara dengan hidangan yang sangat mewah.


Bahkan pelayan juga merupakan wanita yang sangat cantik.


Setelah menunggu beberapa saat, Tuan Besar Burton akhirnya muncul di depan semua orang.


Dia memakai pakaian tradisional berwarna putih, dengan aura yang terasa agung. Ekspresi tampak damai, tetapi memberikan ketegasan yang tidak dapat dibantah.


“Kakek.” Semua anggota Keluarga Burton berbaris dua baris dan berteriak dengan hormat. Semuanya tampak bersemangat dan juga senang.


Tuan Besar Burton sudah keluar dari pengasingannya. Dengan keberadaannya, Keluarga Burton pasti akan semakin jaya di Kota Malang.


Semua orang-orang penting juga maju ke depan untuk menyapa Tuan Besar Burton.


Tuan Besar Burton tersenyum sambil mengangguk. Dia melihat sekeliling dan berkata dengan pelan, “Selama kultivasi pengasingan lima tahun ini, apakah ada sesuatu yang terjadi di keluarga?”


Di antara para cucu dan anak Keluarga Burton, Tuan Besar Burton paling menyukai Arief. Ketika melihat Arief tidak berada di sini, dia merasa aneh.

__ADS_1


Seharusnya cucunya berada di sini ketika dirinya keluar, kenapa Arief tidak ada?


Setelah ucapan itu terlontarkan, semua anggota Keluarga Burton saling bertatapan dengan ekspresi masam.


Bukan hanya terjadi sesuatu.


Mereka tidak bisa menjelaskan semua yang terjadi dalam waktu singkat.


“Kakek, Arief dan orangtuanya sudah diusir dari keluarga,” ucap Jeslin.


Diusir dari keluarga?


Ekspresi Tuan Besar Burton langsung menjadi serius. Dia menatap Jeslin dan berkata, “Apa yang terjadi?”


Ihsan termasuk orang yang cinta damai, Siti juga seorang ibu rumah tangga yang baik. Cucunya, Arief, juga sangat disayangi orang-orang. Kenapa bisa diusir dari keluarga?


Melihat respons Tuan Besar, Jeslin tersenyum dalam hati. Dia melanjutkan, “Kakek, kamu mungkin tidak tahu. Arief sebenarnya sangat tidak berprikemanusian. Tiga tahun yang lalu, Arief menggunakan uang keluarga untuk membeli saham perusahaan minyak. Kami langsung mengusirnya keluar, dia lalu menjadi menantu keluarga orang lain. Siapa sangka, dia beruntung dengan naiknya saham perusahaan minyak. Setelah itu, dia berpura-pura memberikan 6 triliun untuk membantu Keluarga Burton melewati kesulitan. Tapi, dia justru memanfaatkan kesempatan untuk menodai istrinya Yanto.”


Wah!


Ucapannya membuat semua orang-orang penting dari luar menarik napas dalam-dalam.


Keluarga Burton punya anggota keluarga seperti ini.


Dia bahkan berani menodai adik ipar sendiri.


Namun, tidak ada yang berani bersuara untuk mengkritiknya. Bagaimanapun, ini adalah masalah internal Keluarga Burton. Sebagai orang luar, mereka tidak berhak untuk ikut campur. Terutama ketika Tuan Besar Burton berada di sini, aura yang dipancarkannya sangat kuat. Di antara orang-orang yang berada di sini, kebanyakan dari mereka juga kultivator. Mereka bisa merasakan kalau kemampuan Tuan Besar Burton telah mencapai Tingkat Jenderal tahap ketiga. Kemampuan yang begitu mengerikan.


Sebuah energi yang besar melonjak dari tubuh Tuan Besar Burton.


Hening.


Suasana menjadi sangat hening.


Aula Keluarga Burton benar-benar sangat hening.


Ekspresi Tuan Besar Burton juga sangat suram. “Apakah semua ucapanmu ini benar?”


Arief adalah cucu yang paling dicintai Tuan Besar Burton. Walaupun nakal, Arief tidak jahat. Tuan Besar Burton tidak percaya cucunya sendiri bisa melakukan hal seperti ini.


Melihat ekspresi kakek yang begitu menyeramkan, Jeslin langsung merasa panik. “Kakek, aku tidak berani berbohong kepada Anda. Semua ucapanku benar.”


“Iya, Kakek. Seluruh Kota Malang tahu kalau Arief menjadi menantu Keluarga Kimberly. Semua anggota Keluarga Burton juga bisa menjadi saksi bahwa Arief menodai istri Yanto,” ucap Doni dengan serius.


Pada saat ini, semua anggota Keluarga Burton juga mengangguk.


Tuan Besar Burton menarik napas dalam-dalam, dia sepertinya sedang menahan amarah dalam hati. Dia melirik ke arah Chandra dan bertanya, “Apakah semua ucapan mereka benar?”


Chandra menundukkan kepala dengan ekspresi bersalah. “Ayah, aku mengecewakan kepercayaanmu. Sebagai kepala keluarga, aku tidak berhasil menjaga keluarga adik kedua dengan baik. Aku adalah pamannya Arief, aku juga harus bertanggung jawab dengan perbuatan Arief yang begitu tidak bermoral. Sebagai kepala keluarga, aku tidak mendidiknya dengan baik.”


Huh!


Tuan Besar Burton tidak berbicara. Dia menutup mata, lalu menarik napas dalam-dalam.


Sebagai Tuan Muda Kedua Keluarga Burton, Arief berani membeli saham perusahaan minyak diam-diam. Menjadi menantu keluarga orang lain, mempermalukan harga diri keluarga. Tuan Besar Burton masih bisa bersabar dengan semua ini.

__ADS_1


Namun, dia tidak menyangka Arief bahkan berani menodai adik iparnya sendiri.


Melihat Tuan Besar sangat marah, Jeslin menambahkan, “Kakek, orang tua Arief juga sangat mengesalkan. Mereka juga bukan orang yang baik, sehingga tidak bisa mendidik anak dengan baik.”


__ADS_2