
Di dalam kotak itu, terlihat sebuah kalung berkilauan yang menarik perhatian.
Beberapa permata di kalung itu sebesar telur merpati, dan di bawah pantulan cahaya, permata-permata itu memancarkan kecemerlangan yang memesona.
Gaun panjang yang diterima Marisa, dengan berlian di atasnya, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang satu ini.
Tak satu pun dari orang-orang yang hadir itu bodoh. Hanya dari ukuran perhiasannya, semua orang bisa membedakan mana dari kedua hadiah itu yang lebih mahal.
Namun ….
“Permata yang sangat besar pasti bernilai beberapa ratus juta, ‘kan? Bukankah kalung ini bernilai miliaran?”
“Arief? Bisakah dia memberikan hadiah yang begitu mahal? Bagaimana mungkin?”
"Ya, sepertinya itu palsu."
Ketika semua orang sedang mencurigainya, Halim pun tercengang.
Orang lain tidak bisa menilainya, tapi tidak dengan Halim. Grup Seribu tempat dia berada juga memiliki bisnis perhiasan.
Batu permata pada kalung ini, dari segi kilau permukaan atau kejernihan teksturnya, tampaknya tidak seperti barang palsu. Bahkan kualitasnya tampaknya jauh lebih tinggi daripada permata yang pernah dilihat sebelumnya.
Bukankah dia hanya seoarang menantu tidak berguna?
Bagaimana ... bagaimana dia bisa memberikan hadiah yang begitu berharga?
Pada saat ini, Heny juga sadar kembali dan bertanya kepada Arief, “Berapa harga kalung ini?”
Heny memiliki banyak perhiasaan, tapi tidak ada yang sebesar permata ini. Jadi Heny juga tidak yakin, apakah benda ini asli atau tidak.
“Hadiah dari seorang teman.”
Arief menatap Heny sambil menjawab.
Setelah mendengar jawabannya, ekspresi Heny semakin rumit.
Hadiah dari teman?
Kalau begitu, kalung ini pasti palsu. Seorang sampah seperti dia pasti tidak memiliki teman yang hebat, bukan?
Sambil berpikir, Heny ingin segera membuang kalung ini ke tong sampah.
“Coba aku lihat.”
Pada saat ini, seorang putri dari teman Heny mendekat.
Wanita ini telah mempelajari pengetahuan profesional tentang permata yang selama dua tahun.
Jadi, ketika mereka melihatnya berbicara, semua orang yang hadir menahan napas.
“Ini … asli dan masing-masing pertama memiliki kualitas terbaik.” Wanita itu memegang kalung itu dan melihat ke arah cahaya. Awalnya dia curiga, tapi setelah itu dia pun berseru dengan kaget.
"Selain itu, melihat desain kalung ini, itu adalah gaya keluarga kerajaan Eropa. Aku secara konservatif memperkirakan bahwa kalung ini bernilai sekitar enam puluh miliar. Jika ini benar-benar keluarga kerajaan Eropa, harganya tidak akan diukur.”
Setelah mengatakan ini, wanita itu menatap Arief dalam-dalam dan dipenuhi rasa ingin tahu.
Apa?
Apakah kalung ini berharga enam puluh miliar?
Itupun masih perkiraan yang konservatif.
Semua orang terkejut.
Halim sudah mengetahui bahwa kalung itu asli, tapi dia sengaja tidak mengatakannya. Sekarang dia mendengar hasil identifikasi gadis itu, ekspresinya menjadi lebih rumit.
Marisa membuka mulutnya lebar-lebar dan tidak mampu berbicara.
“Arief, kamu … apa kamu benar-benar memberikan kalung ini?” Heny terkejut dan senang. Dia menatap Arief dan tidak bisa berkata-kata.
Heny tidak peduli dari mana Arief mendapatkan kalung ini. Dia hanya ingin tahu apakah Arief ingin memberikan hadiah ini kepadanya.
Sebuah kalung seharga enam puluh miliar.
__ADS_1
Heny bahkan tidak berani memikirkannya.
Arief tersenyum. “Hadiah ini memang untukmu. Baguslah kalau Ibu suka.”
Chandra benar-benar cukup dermawan.
Namun, dibandingkan dengan enam triliun yang digunakan untuk menyelamatkan Keluarga Burton. Kalung seharga enam puluh miliar tidak ada apa-apanya.
“Suka, suka!” Heny terus mengangguk dengan tubuh gemetar.
Karena terlalu senang, Heny langsung memakai kalungnya.
Dari awal sampai akhir, Nita tidak berbicara dan terus menatap Arief dengan penuh pertanyaan.
Teman dari mana yang bisa memberikan hadiah semahal itu?
Pertama uang senilai sepuluh miliar, sekarang kalung seharga enam puluh miliar.
Sepertinya Nita harus mencari kesempatan untuk bertanya kepadanya.
Heni menjadi pusat perhatian di acara alumni ini. Semua orang yang realistis ingin berbicara dengannya.
Di perjalanan pulang, Nita akhirnya tidak bisa menahan diri dan menginterogasi Arief. “Siapa temanmu itu? Apa namanya?”
“Teman yang mana?” tanya Arief yang berpura-pura.
Nita mulai tidak sabar. “Orang yang memberikan kalung kepadamu.”
Arief baru menjawab, “Oh, dia itu adalah teman yang meminjamkan uang senilai sepuluh miliar kepadaku.”
Nita juga tidak berdaya. “Kamu jangan berpura-pura denganku. Siapa namanya?”
Pada saat ini, mobil sudah sampai di depan. Arief menggaruk kepala dan berpura-pura teringat sesuatu. Dia lalu berkata, “Aduh, aku lupa mengerjakan tugas dari bos. Kamu pulang dulu, aku harus segera kembali.”
Nita juga tidak berdaya dan terpaksa turun dari mobil.
Arief juga tidak berbicara lagi. Dia segera mengemudikan mobil dan melaju pergi dengan cepat.
...
Vila pemandangan laut Keluarta Burton.
Di kamar utama, Yanto baru bangun. Dia membuka kedua mata dan merasa pusing.
Yanto bahkan lupa dia minum berapa banyak.
Namun, Yanto sangat senang.
Setelah dua tahun bersama Dewi, akhirnya mereka bisa menikah. Lalu, Yanto juga sangat senang karena melihat kakak keduanya datang memberikan ucapan selamat.
Memikirkan semua ini, Yanto memperlihatkan senyuman lembut dan berjalan keluar dari kamar tidur.
“Dewi?”
Sesampainya di luar, Yanto berteriak, namun tidak mendapat respon dari Dewi, dan firasatnya buruk.
Kemudian, melihat pintu kamar tamu di seberang terbuka, Yanto bergegas mendekat.
Di pintu, Yanto gemetar seperti disambar petir, melihat pemandangan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
Istri pengantin barunya terbaring telanjang di sana dan tempat tidurnya berantakan!
“Ahh!”
Yanto berteriak dengan kencang dan matanya langsung memerah.
Ini adalah saat yang paling menghancurkan bagi seorang pria.
“Tidak peduli siapa kamu, aku bersumpah akan membunuhmu.”
Yanto mengepalkan tinjunya, kukunya menancap di dagingnya. Dia berusaha mencari bukti seperti orang gila.
Karena vila baru saja dibeli dan digunakan sebagai kamar pernikahannya. Yanto tidak memasang kamera pengawas.
__ADS_1
Yanto mencari-cari dan kembali ke kamar tanpa petunjuk.
Ketika sedang memakaikan bajunya, Dewi akhirnya bangun.
“Sayang.” Dewi memanggil Yanto dengan nada manja dan langsung memeluknya.
“Kamu sudah bangun,” jawab Yanto yang memaksakan senyuman.
Dewi mengiyakan, kemudian merasakan keanehan tubuhnya dan melihat darah di tempat tidur, wajah Dewi memerah, dan dia menyalahkan Yanto. “Kenapa kamu terburu-buru saat aku sedang tidur ….”
Dewi terlalu malu untuk mengucapkan kata-kata selanjutnya.
Saat itu Dewi mengira Yanto yang telah menyentuhnya.
Ketika pacaran, Yanto beberapa kali ingin menyentuh Dewi, tetapi Dewi berhasil menahannya pada titik penting.
Dewi ingin mempertahankan versi terbaik di malam pernikahan. Yanto yang tidak bisa berdebat terpaksa menyetujuinya.
Jadi, setelah memastikan Yanto yang melakukannya. Dewi tidak marah dan justru terlihat lebih senang.
Yanto merasa sangat sedih dan bersalah.
“Yanto, ada apa denganmu?” tanya Dewi sambil mengerutkan kening.
Yanto tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa, mungkin aku terlalu banyak minum.”
Saat berbicara, mata Yanto sedikit cemberut.
Dewi adalah orang yang cermat. Semakin Yanto bersikap seperti itu, dia semakin curiga. Tatapannya tiba-tiba melihat cermin fengsui yang berada di samping, tubuhnya pun gemetar.
Yanto pun tertegun sejenak. Ketika melihat ke arah tatapan istrinya, Yanto pun tercengang.
Di samping tempat tidur, cermin fengsui itu terletak di sana. Jendela di sebelahnya juga terbuka ….
“Apa … apakah kamu tidak menyentuhku?” setelah beberapa detik hening, Dewi berbicara dengan nada yang sulit. Jika suamiku menyentuhku, bagaimana dia bisa membuka jendela? Aku sendiri tidak memakai apa-apa, orang lain akan melihatnya kalau jendela terbuka.
Lagi pula, jika suamiku menyentuhku, apa yang akan dia lakukan dengan cermin fengsui itu? Arief bilang kalau cermin fengsui tidak boleh digantung di vila.
Huh!
Yanto menarik napas dalam-dalam. Dia merasakan hatinya seperti tertusuk pisau.
Tubuh Dewi bergidik, dia menggigit bibirnya, berdiri dan membentur tembok di depannya.
“Dewi, jangan ….” Yanto terkejut. Dia segera meraih Dewi tepat waktu, dan memeluknya dengan erat. Walaupun merasa patah hati, dia tetap berkata dengan yakin, “Tenang saja. Aku pasti akan menemukan pelakunya dan mengembalikan keadilan untukmu.”
Dewi tidak menjawab, tetapi mulai menangis dengan keras.
Sementara Yanto mencoba menghiburnya matanya kembali tertuju pada cermin fengsui di samping tempat tidur.
Pada saat ini, tebakan mengerikan tiba-tiba muncul di benak Yanto.
Apakah kakak kedua?
Tidak … tidak mungkin. Kakak kedua bukan orang seperti itu!
Namun … bagaimana cermin fengsui bisa muncul di ruang tamu?
Padahal dirinya sudah memasukkan cermin fengsui ke dalam gudang.
Kakak kedua menjelaskan ilmu fengsui dengan panjang lebar di pagi hari. Hanya dia seorang yang tertarik dengan cermin fengsui ini.
Kalau bukan dia, siapa lagi?
Novia pingsan karena cermin fengsui di pagi hari. Sekarang istrinya pingsan, pasti juga karena cermin fengsui.
Kakak kedua … kenapa kamu melakukan hal ini?
“Dewi. Tadi … tadi ketika kamu sedang dinodai, apakah kamu tidak memiliki ingatan sama sekali?” tanya Yanto sambil mengepalkan tinjunya.
Menyuruh istrinya membayangkan kembali pria asing, Yanto juga sangat sedih.
Dewi menggigit bibirnya dan menjawab dengan pelan, “Aku hanya ingat, pria itu … terus menciumku. Awalnya aku merasa sedikit sakit, kemudian ….”
__ADS_1