
Setelah mendengar ucapan Nita, Fransiska tersenyum dan berbisik, “Tidak masalah. Aku percaya pada Arief.”
Percaya padanya?
Setelah tiga tahun, dia tidak pernah mendengar Arief bisa menilai barang antik.
Nita hanya tahu kalau Arief hanya bisa masak dan mencuci baju, selain itu tidak bisa apa pun. Lalu, keluarganya Fransiska adalah pebisnis barang antik selama beberapa generasi, kenapa mereka bisa mendengar ucapan Arief?
Saat ini, Arief kembali melihat piring porselen dan berkata, “Kamu dapat melihat bahwa bunga glasir di piring porselen ini bulat dan penuh. Tungku rakyat tidak bisa membakar porselen seperti ini, sehingga pasti hasil pembakaran tungku pemerintahan.”
Mendengar penyebutan tungku pemerintahan, semua orang kembali terkejut.
Kalau benar-benar seperti itu, maka porselen ini pasti barang berharga. Beberapa bos barang antik pun merasa menyesal.
Kalau tahu sedari awal, mereka semua akan membelinya. Mereka hanya bisa menghela napas sambil memikirkannya.
“Bos, aku akan membeli piring porselen ini dengan harga 400 juta.” Fransiska segera mengeluarkan ponsel dan mengirimkan uangnya.
Ting!
400 juta telah berhasil ditransfer.
Wah!
Semua orang mulai membicarakannya. Keluarga Salim memang keluarga barang antik yang kaya. Dia bisa membayar 400 juta tanpa pikir panjang.
Orang yang paling bingung adalah penjual itu. Dia terus menatap piring porselen tanpa mengedipkan matanya, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
Apakah barang ini benar-benar barang antik dari Dinasti Songia? Kalau seperti yang dikatakan anak muda ini, dia akan rugi kalau menjualnya dengan harga 400 juta.
Sambil berpikir, penjual itu pun mengambil kembali piring porselennya. “Kamu salah dengar! Bukan 400 juta. Mana mungkin aku menjualnya dengan harga 400 juta?”
Fransiska merasa tidak senang. “Kamu sendiri yang bilang 400 juta. Lalu, aku juga sudah bayar.”
Penjual itu tersenyum, “Nona, 400 juta hanya pembayaran awal. Piring porselen ini berharga 3 miliar. Kamu harus membayar 2,6 miliar lagi.”
Ah?
Apakah ada yang berbisnis seperti ini?
Setelah mendengarnya, Fransiska langsung marah. “Bos, kamu sudah keterlaluan.”
Bahkan Nita yang berada di samping juga berkata, “Betul. Bagaimana kamu bisa berjualan seperti ini? Tidak bisa dipercaya sama sekali.”
Saat ini, semua orang juga ikut mengatainya.
“Betul. Kenapa kamu tidak menepati janjimu.”
“Padahal kamu sendiri yang bilang 400 juta. Kenapa tiba-tiba berubah menjadi 3 miliar?”
Berhadapan dengan tuduhan orang-orang, penjual itu tersenyum dingin. Dia berkata kepada Fransiska, “Pokoknya 3 miliar, kalau mau silakan bayar lagi.”
Orang ini jelas mau malak.
Fransiska menggigit bibir bawahnya. Dia tidak pernah bertemu orang seperti ini selama berada dalam bisnis barang antik.
Industri barang antik memiliki aturan sendiri. Kita harus menepati harga yang sudah disebutkan. Jujur saja, setelah dinilai oleh Arief, harga 3 miliar sebenarnya tidak mahal. Namun, penjual ini sudah keterlaluan. Dia lebih baik tidak membelinya daripada harus kesal.
Fransiska berkata, “Aku tidak mau beli lagi. Kembalikan 400 juta kepadaku.”
__ADS_1
“Betul, kembalikan uangnya!”
“Kembalikan uangnya!”
Semua orang juga ikut berteriak.
“Kembalikan uangnya?” Penjual itu terkekeh dan menggelengkan kepalanya. “Maaf, aku punya aturan sendiri dalam berbisnis. Semua uang yang telah dibayar tidak boleh dikembalikan. Kalau mau, silakan bayar 3 miliar, kalau tidak, pergi dari sini! Aku tidak akan mengembalikan uangnya.”
Ucapannya membuat orang-orang di sekelilingnya marah.
Orang ini benar-benar seperti perampok.
Fransiska juga terlihat sangat kesal. “Kenapa kamu bersikap seperti itu? Aku juga tidak boleh tidak beli?”
Sejak kapan seorang nona besar Keluarga Salim diperlakukan seperti ini? Seluruh tubuhnya terus gemetar.
Arief benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Dia langsung bergegas dan menarik kerah baju penjualnya. “Kembalikan atau tidak?”
“Oh? Kamu ingin menyerangku? Cobalah!” ucap penjual dengan ekspresi dingin. “Kalau kamu berani menyerangku, aku akan membuatmu diangkut keluar dari sini.”
Orang ini begitu percaya diri pasti karena memiliki latar belakang yang kuat.
Pada saat ini, merasakan ada sesuatu yang salah, orang-orang yang mendukung Fransiska pun terdiam.
Namun, tetap ada yang maju dan berkata, “Bocah, apakah kamu tahu siapa yang berdiri di hadapanmu ini? Nona besar dari Keluarga Salim. Apakah kamu sudah memikirkan akibatnya?”
“Keluarga Salim?” Penjual itu mendengus dingin. “Kenapa dengan Keluarga Salim? Kalau ingin membeli barangku, kalian harus mengikuti peraturan.”
“Kamu!” Fransiska menghentakkan kakinya karena marah. Orang seperti ini memang sangat sulit dihadapi.
Seorang yang ikut bersama Fransiska benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Dia langsung berjalan maju dan mendorong penjual itu.
Penjual itu mundur beberapa langkah dan langsung marah. “Kalian tidak ingin bayar untuk membeli barang karena banyak orang, bukan? Tunggu saja, sebaiknya kalian tidak kabur.” Setelah itu, si penjual mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.
Tampaknya, dia ingin semua orang mendengarkannya dengan jelas.
“Halo, Kak Fiesta? Ini aku,” ucap penjual sambil melihat Arief dengan ekspresi sombong.
Kak Fiesta?
Setelah mendengar penjual memanggil orang itu, semua orang langsung tercengang.
Berapa banyak orang yang bernama Kak Fiesta di Kota Malang?
Apakah ….
Semua orang mulai menebaknya.
Saat ini, dari seberang telepon terdengar suara yang dalam, “Kenapa? Adik sepupu.”
“Fiesta?”
“Sialan! Anak muda ini ternyata adik sepupunya Fiesta.”
Namun, Fiesta memiliki aset beberapa triliun. Kenapa dia bisa memiliki seorang adik sepupu suka menipu?
Betul. Orang di seberang telepon adalah direktur Perusahaan Fiesta Property, Fiesta. Dia adalah orang hebat di Kota Malang! Siapa yang berani menyinggungnya?
Semua orang menunjukkan ekspresi ketakutan.
__ADS_1
Terutama beberapa bos barang antik yang langsung terdiam. Mereka langsung mundur dan takut terseret ke dalam masalah ini.
Fransiska menggigit bibirnya dengan erat. Sepertinya dia harus kehilangan 400 juta hari ini.
“Direktur Fransiska, ayo kita pergi,” bisik Nita yang panik.
Fransiska mengangguk dan bersiap pergi dengan sepatu hak tingginya. Dia tidak bisa berada di sini sambil menunggu Fiesta datang.
“Hari ini tidak ada yang bisa pergi!” teriak penjual itu. “Kakak sepupu, aku menjual barang di sini dan ketemu orang yang mencari masalah,” ucap penjual itu dengan sedih.
“Hah? Siapa yang berani mencari masalah denganmu?” teriak Fiesta setelah mendengar ucapan penjual itu.
Fiesta cukup pusing dengan adik sepupunya ini. Dia terus menganggur setiap hari dan tidak mau bekerja. Dia juga sering membuat masalah di luar dan berkelahi. Sehingga Fiesta harus membereskannya setiap kali. Belakangan ini, bocah ini bilang dia berhasil mendapatkan uang dari penjualan barang antik. Jadi, dia meminta uang kepada Fiesta untuk membuka tempat jualan kecil.
Hal ini membuat Fiesta sangat terharu. Bocah ini akhirnya mau bekerja dengan baik. Setelah dia menghasilkan uang dan menghilangkan sifat buruknya. Fiesta akan menyuruhnya datang bekerja di perusahaan.
Ketika mendengar ada yang mencari masalah dengan adik sepupunya, Fiesta tentu saja tidak bisa menahan diri.
Fransiska panik ketika dihalangi penjual itu untuk pergi.
“Di mana kamu?” teriak Fiesta dengan kesal.
“Kakak sepupu, aku .…” Ketika penjual itu ingin melaporkan tempatnya, Arief berjalan ke depan dan merebut ponselnya.
“Fiesta,” ucap Arief dengan nada dingin.
“Siapa?” tanya Fiesta dengan nada tidak senang.
“Menurutmu aku siapa?”
“Kak … Kak Arief?”
Fiesta tertegun di ujung telepon sana, nada bicaranya langsung terpatah-patah dan kebingungan.
Apa?
Fiesta memanggilnya Kak Arief?
Saat ini, semua orang juga ikut tercengang.
Nita terdiam menatap Arief.
Kenapa pria yang begitu familier juga terasa begitu asing? Sebenarnya pria ini sekuat apa? Bahkan Nita sendiri juga tidak tahu ….
Arief mendengus dingin. “Fiesta, kamu hebat juga. Apakah kamu merasa bisa melakukan apa pun setelah berada di atas? Membiarkan adik sepupu untuk berlagak hebat dan merampok di luar sini?”
Saat ini, Fiesta yang berada di ujung telepon sudah hampir menangis. “Kak … Kak Arief … apa yang terjadi?”
Arief juga malas menjelaskannya. Dia berkata, “Tanya sendiri kepada adik sepupumu.”
Sambil berbicara, dia memberikan ponsel kepada penjual itu.
Penjual itu mengambil ponsel dan menatap Arief dengan lurus. Dia lalu berkata, “Kak Fiesta ….”
“Sialan kamu! Jangan memanggilku Kakak, apa yang telah kamu lakukan? Apakah kamu ingin mati? Kenapa kamu berani menyinggung siapa pun? Apakah aku terlalu memanjakanmu?” teriak Fiesta dengan kesal.
Si penjual itu gemetar. Sejak kecil, kakak sepupunya selalu menyayanginya. Selama beberapa tahun ini, dia terus membuat masalah di luar dan kakak sepupunya selalu menyelesaikannya. Dia juga tidak pernah menyalahkan adik sepupu ini. Namun sekarang, kenapa dia bisa marah besar?
Suara penjual itu terdengar gemetar sambil menjelaskan seluruh kejadian.
__ADS_1
“Bocah sialan! Bagaimana aku mengajarimu?” Fiesta hampir saja pingsan karena sangat kesal. “Apakah kamu tahu? Aku juga harus bersikap sopan kepada Kak Arief. Bocah sialan, apakah aku harus mematahkan kakimu sekarang juga? Cepat minta maaf kepada Kak Arief, kembalikan uangnya.”
Saat ini, Nita merasa kedua kakinya lemas dan terus melihat Arief tanpa mengedipkan mata.